My Crazy Lady

My Crazy Lady
Bab 119 ( MCL)


__ADS_3

Dengan musik yang bergema, hingga ke langit-langit dan empat ribu orang duduk menatap takjub dan diam saat Hanna mengambil langkah pertama, Hanna mulai menyusuri koridor panjang itu.


Alex telah membayangkan bagaimana penampilan Hanna saat ini... Banyangkan pengantin cantik berkerudung dan gaun putih berkibar. Tetapi sosok yang dilihat Alex berjalan ke arah nya di bawah cahaya lilin membuat nafasnya tercekat. Rasa bangga membuncah dalam dirinya, meledak di seluruh tubuhnya hingga Alex merasa sakit.


Tidak ada pengantin yang pernah terlihat seperti Hanna. Gadis cantik itu berjalan menghampiri Alex tanpa malu, seperti wanita Inggris pada umumnya, bahkan tanpa kerudung yang menutupinya dari Alex. Sementara Alex mengamati, Hanna memandang mata Alex, lalu terus menatap mata Alex, sengaja membiarkan semua pria, wanita dan anak kecil di sana melihat bahwa Hanna bangga berjalan ke arah Alex.


Rambut indah Hanna tergerai di bahu, rantai emas yang melingkari pinggul ramping Hanna berayun anggun seiring setiap langkah, dan jubah berhias mutiara yang indah terjuntai di belakang. Hanna bagai ratu yang sangat anggun, tenang, tapi tidak angkuh, melainkan sangat cantik, tapi menjaga jarak tidak tersentuh. "Ya Tuhan, kau cantik sekali," bisik Alex dalam hati.


Kerumunan orang mengamati sambil menahan nafas ketika sang duke melangkah maju, tubuh jangkung Alex berbalut beledu indah. Mereka melihat sang duke meraih tangan mempelai wanita dan tersenyum ke mata Hanna, dan mereka tahu sang duke mengatakan sesuatu kepada mempelai wanita. Tetapi, hanya Hanna yang mendengar kata-kata Alex yang diucapkan dengan lirih, "Halo, Cintaku."


Pemandangan sang duke yang menunduk menatap pengantinnya yang cantik dengan kebanggaan lembut, membuat saputangan terangkat ke mata sebelum pasangan itu mulai mengucapkan sumpah di hadapan sang Raja. Kali ini hanya perlu restu dari king, dan mencatat keluarga baru itu adalah termasuk deretan bangsawan yang punya hak istimewa di tanah Inggris.


Alex menuntun Hanna ke hadapan raja, menempatkan Hanna di sampingnya, tempat yang akan menjadi milik Hanna selamanya.


Hanna berdiri dengan tangan dalam genggaman Alex yang kuat dan menenangkan. Ketika sang raja mengulang sumpahnya yang juga dihadiri seorang uskup di sebelah king, Hanna menoleh ke arah Alex, dan menatap mata hangat dan menenangkan pria itu. Suara Hanna terdengar tegas dan penuh yakin, tetapi saat Hanna berjanji akan mematuhi Alex, ekspresi pria itu berubah.


Alex mengangkat sebelah alis dengan skeptis dan kocak hingga Hanna nyaris melupakan sepatah kata karena menahan tawa terkikik.


Akhirnya restu raja diberikan, mereka dinyatakan sebagai suami-istri, musik organ mengalun semakin keras dan Alex menuntut hak untuk mencium mempelai wanita.

__ADS_1


Ciuman itu berupa kecupan singkat yang murni, sangat berbeda dari ciuman yang diberikan kepada Hanna sebelumnya, hingga gadis itu terpana kaget. "Aku harus berlatih," bisik Alex bergurau, sementara mereka berbalik, " Sampai aku melakukannya dengan benar."


Sang mempelai wanita yang sangat cantik mengangguk, pura-pura serius dan berbisik sopan, "Aku akan dengan senang hati membantumu berlatih, My Lord."


Itulah alasannya, seperti yang dilaporkan kemudian, bahu Duke of Claymore berguncang karena tawa saat meninggalkan tempatnya dari hadapan sang raja, seraya menggandeng sang duchess.


Perayaan di kastil raja hanya berlangsung satu jam. Bersulang dan mengikuti acara tradisi setempat, lalu raja pun harus kembali ke kerajaannya bersama para pengawal dan juga beberapa para pejabat lainnya.


***


Hanna duduk di samping Alex, di dalam kereta milik keluarga Claymore, sementara mereka melaju di jalanan mulus menuju kediaman Claymore.


Kereta milik keluarga Jhonson masih terjebak kemacetan di sekitar Kastil. Oleh karena itu, meski segan, ayah, ibu dan juga Catherine sangat bersyukur, karena menantu kesayangan mereka meminta untuk ikut bersama di kereta pengantin yang membuat, seperti yang disadari mereka berlima, pasangan pengantin baru tidak mendapatkan privasi.


Cincin itu terasa aneh berada di sana, menutupi jemari panjang dan ramping Hanna, nyaris sampai ke buku jari pertama, pernyataan tegas kepada dunia bahwa Hanna sekarang adalah milik suaminya, Alexander Davlin Claymore.


Suami? Hanna melirik Alex dari balik bulu mata. Suamiku.. Ulang Hanna dalam hati, dan getaran menjalari dirinya.


Ya, Tuhan... Alex suamiku, pria maskulin dengan tinggi hampir 190 sentimeter, anggun, dan bertata krama, dan juga berkuasa.

__ADS_1


Hanna bahkan menyandang nama Claymore sekarang. Ia milik Alex. Itu gagasan yang menakutkan, dan agak luar biasa, putus Hanna.


Rombongan pengantin bergerak anggun melewati gerbang utama Claymore, lalu melaju di sepanjang milik pribadi yang berkelok, tempat obor indah menyala di kedua sisi jalan yang menerangi jalan bagi para tamu yang akan segera tiba.


Ketika mereka berhenti di depan rumah utama, Alex membantu Hanna turun dan Hanna takjub melihat semua pelayan, dari kepala pelayan, pengurus rumah, pelayan pria dan pelayan wanita, hingga tukang kebun, penjaga kuda, penjaga hutan, dan pengurus kuda, berbaris di depan tangga dalam seragam rapi, sesuai jabatan masing-masing.


Alex membimbing Hanna, bukan menuju pintu depan seperti yang diharapkan Hanna, tetapi ke kaki tangga untuk berdiri di depan mereka. Hanna tersenyum ragu ke arah seratus lima puluh wajah itu, lalu melirik Alex.


"Kuatkan dirimu," bisik Alex sambil tersenyum lebar. Sedetik kemudian suasana dipecahkan oleh sorak-sorai dan tepuk tangan.


Alex menunggu keramaian mereda. "Ini tradisi yang lain," terang Alex sambil tetap berdiri, mengamati para pelayan dengan tegas, namun, mata pria itu menyiratkan senyum. "Yang berdiri di hadapan kalian ini adalah majikan yang baru kalian, istri." Alex mengucapkan kata-kata kuno dari Duke of Claymore pertama, yang dulu kembali bersama mempelai yang diculik, dengan suara dalam dan keras yang terdengar oleh semua orang.


"Dan ketahuilah saat dia memberi perintah kepada kalian, berarti aku lah yang memberi perintah kepada kalian. Pelayanan apa pun yang kalian berikan kepadanya, pelayanan itu juga yang diberikan kepadaku. Kesetiaan yang kalian berikan kepadanya atau tidak kalian berikan padanya, sama hal nya kalian berikan dan tidak berikan padaku."


Senyum lebar menghiasi wajah para pelayan dan saat Alex berbalik untuk menuntun Hanna pergi, terdengar sorak-sorai yang dua kali lebih keras.


Di ruang duduk bernuansa putih dan emas, Alex menuangkan sampanye untuk Hanna, Stuart dan Ema, serta diri sendiri. Sementara Catherine entah kemana pergi. Seseorang yang menarik perhatiannya, mungkin sedang mencegatnya.


Stephen dan ibunya bergabung dengan mereka dan Alex refleks mengisi dua gelas lagi.

__ADS_1


Seluruh kamar tidur yang berjumlah 126 di bangunan utama dan tujuh puluh kamar di wisma tamu ditempati oleh tamu undangan, yang sebagian besar sudah tiba sehari sebelumnya. Terdengar bunyi kereta yang berhenti di jalan masuk, yang berarti para tamu sudah kembali dari kastil raja.


**Dukung novel aku terus ya, Makasih 🙏


__ADS_2