
Hanna sudah berencana untuk memberitahu Alex dengan caranya sendiri, yang dianggap lebih mengharukan. Dia sudah tidak sabar ingin memberi kabar gembira itu pada Alex.
"Tapi aku mohon, secepatnya kau katakan padanya, My Lady," desak Mery merasa cemas. Menyimpan rahasia dari suami adalah dosa besar, terlebih kalau dia seorang duke!
"Bukan seperti itu tepatnya yang akan kukatakan padanya," Hanna terkikik sambil menepuk pipi Mery gemas. "Sebenarnya, aku tidak ingin memberitahunya... aku akan membiarkan benda ini memberitahunya," ujarnya seraya menunjuk pakaian bayi itu. "Dan ku pikir malam ini sempurna." Sambil tersenyum ceria dan penuh arti. Hanna menyelipkan pakaian bayi itu di laci meja tulis di samping alat tulis dan bersiap turun untuk menyiapkan makan malam nanti. Alex masih belum pulang dari kantornya, jadi dia masih punya waktu untuk menyiapkan makanan kesukaan suaminya.
"My Lady, di bawah Lady Julia sedang menunggu anda," ucap Corazon, salah satu pelayan di kediaman Claymore.
Hanna yang tidak mendapat kabar dari Julia akan kedatangannya, tersentak kaget. Buru-buru melangkah, menuruni anak tangga dan mendapati sahabatnya itu sedang menangis tersedu.
"Ada apa? kenapa kau menangis?" Hanna menarik tubuh Julia, memeluk gadis itu erat dan mengajaknya duduk di sofa.
"Han, Will.. Will.. ingin berpisah dengan ku," ucapnya sesunggukan.
"Apa? kenapa bisa begitu?"
"Aku.. aku juga tidak tahu. Tapi mungkin..." Julia diam seketika. Menimbang apakah pantas dia mengatakan masalah rumah tangganya pada orang lain. Tapi menimbang Hanna sudah dianggapnya saudara sendiri, jadi dia tidak perlu merasa malu.
"Han, aku... aku hamil.."
"Apa? selamat, My dear," ucap Hanna semringah. Ikut bergembira. Ini suatu kebetulan yang membahagiakan, karena Hanna juga sedang hamil, dan dia ingin mengatakan pada Julia juga.
"Terima kasih. Tapi justru karena kehamilan ku ini membawa dampak buruk bagi hubungan kami."
"Maksudmu?"
"Mungkin ini bawaan bayinya, aku tidak bisa berdekatan dengan Will, dan selalu merasa mual setiap kali di dekatnya. Parahnya, aku tidak mau.. disentuh olehnya lagi."
"Apa? kenapa...?" Hanna tidak bisa melanjutkan ucapannya. Benarkah separah itu mengandung seorang bayi? bagaimana dengan dirinya nanti? apakah dia juga akan mual dan tidak mau diajak bercinta oleh Alex lagi? dan Alex yang dia tahu punya gai*rah yang besar akan mencari tempat pelampiasan lain? Tidak! bukankah Alex sudah berjanji tidak akan mencari wanita simpanan?
Pikirannya sedikit banyak menjadi terpengaruh.
"Han... aku harus bagaimana? apa yang harus aku katakan pada Will? dia tersinggung, dia pikir aku tidak lagi mencintainya, jadi memutuskan ingin berpisah.."
"Kau sudah mengatakan perihal kehamilan mu?"
__ADS_1
"Tidak.."
Hanna menghela nafas panjang. Ini sedikit rumit. "Begini saja, aku akan menemuinya, menjelaskan semuanya?" tawar Hanna mencoba meredakan tangis Julia.
"Iya.. aku datang juga ingin meminta kau menyampaikan pada Will." Julia menghapus air matanya, menyeka hidungnya yang berair.
"Baiklah, ayo kita berangkat. Karena aku harus tiba di rumah sebelum Alex kembali nanti," ucap Hanna berdiri, namun tangannya kembali ditarik Julia.
"Ada yang ingin aku katakan padamu. Aku sudah seminggu tinggal sendiri di rumah. Will.. Will.. pergi meninggalkanku," ucapnya meremas tangan.
Hanna kembali terhempas ke sofa. Ini semakin rumit dari yang dia pikirkan. "Lantas di mana Will saat ini tinggal?"
"Di penginapan Oasis."
"Baiklah, kau kembali ke rumah dan tunggu kabar baik dari ku. Aku akan menemuinya."
***
"My dear, aku tidak setuju kau pergi ke sana," ucap Mery protes. Firasatnya bilang, ini akan mendatangkan masalah baru. Hanya wanita yang bermasalah saja yang mau menginjakkan kaki di penginapan Oasis.
"Tapi aku masih takut, perasaanku tidak enak," kejar Mery.
"Tenang lah, Mery. Lagi pula aku yakin tidak ada yang akan mengenaliku dengan penampilan seperti ini." Hanna membenarkan kerudung jubahnya, menutupi wajahnya lalu bergegas naik ke kereta. "Tolong ambilkan Selendang ku yang berwarna gelap," ucapnya mengikat tali kerudungnya di bawah dagu.
Mery keluar dengan membawa pesanan Hanna dan memakaikannya pada gadis itu. "Kau harus segera kembali, My Lady."
Mery benar, dia buru-buru. Dia harus kembali sebelum didahului Alex. Lalu keduanya keluar dari kamar Hanna, dan buru-buru naik ke dalam kereta.
Tidak sulit untuk menemukan penginapan berkelas itu di London. Salah satu penginapan tempat para bangsawan menghabiskan uangnya untuk membawa pasangan gelapnya menginap. Bukan rahasia lagi, kalau para bangsawan Inggris suka menjalin affair, bahkan dengan istri orang lain.
"Permisi, saya mau bertemu dengan tuan Malory," ucapnya tanpa melepas penutup kepalanya.
Resepsionis itu mendongak, lalu perlahan keterkejutannya ditutupi oleh senyum kaku. " Di kamar nomor 212, My Lady."
Hanna hanya mengangguk dan segera berjalan ke anak tangga, menyusuri koridor menuju kamar yang diucapkan pria tadi.
__ADS_1
Hanna mungkin menganggap kalau dirinya bukan siapa-siapa, tidak ada yang mengenal putri sulung kelurga Jhonson dari desa Holy Ville, tapi itu sebelum dia menikah dengan Duke of Claymore.
Sang resepsionis itu jelas kaget melihat Hanna yang dia tahu sebagai istri Alex datang ke penginapan ini untuk bertemu William Malory! Semua orang bebas berpikir, bukan? termasuk berpikir hal buruk akan hal itu.
***
"Han? kau di sini?" tanya Wili kaget, mendapati Hanna yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya. Dia pikir orang yang mengetuk pintunya itu adalah pelayan, karena dia memang meminta untuk dibawakan steik untuk makan malam.
"Aku ingin bicara dengan mu. Aku tidak bisa lama. Ini mengenai Julia." Ucap Hanna enggan untuk duduk. Dia juga meminta agar pintu kamar tidak usah dikunci.
"Duduk lah, Han." Suara Will tampak memohon. Di hatinya sudah tidak ada lagi perasaan cinta pada Hanna, tapi biar bagaimanapun mereka salah sahabat, dan Will menyayangi Hanna sebagai seorang sahabat.
Tidak punya pilihan lain, dan agar urusan ini segera selesai, Hanna menurut. Dia memilih duduk di dekat jendela.
"Will, pulang lah. Selesaikan malasah rumah tangga kalian dengan baik-baik. Pahamilah, ada masa di mana wanita memang tidak ingin disentuh, karena perasaan dari dalam dirinya. Kau harus mengerti, dan jangan menganggap kalau itu sebagai bukti Julia tidak mencintaimu."
"Dia menceritakan semuanya padamu? harusnya dia malu membuka aibnya padamu!"
"Kenapa harus malu? bukankah sebelum menikah dengan mu, dia adalah sahabat yang sudah aku anggap sebagai saudaraku sendiri? dan kau, apakah kau tidak menganggap ku sebagai teman lagi? tidak mau cerita permasalahan yang ada?"
Will diam. Apa yang dikatakan Hanna menohok sekali. Benar apa yang disampaikan Hanna. Dia juga sudah berpikir selama satu Minggu ini. Pikirannya sudah lebih tenang. Dia memang ingin kembali. Dia rindu pada Julia -nya. Dia akan minta maaf, dan mengajak istrinya itu untuk bicara apa yang terjadi. Dan lalai memang dia punya kekurangan dan kesalahan, maka dia akan bersedia untuk memperbaikinya.
"Will.." tuntut Hanna menyadarkan pria itu dari lamunannya.
"Kau benar, Han. Aku juga sebenarnya sudah memikirkan semuanya dan memutuskan untuk pulang agar bisa bicara padanya."
Hanna tersenyum. Senang mendengar kedua sahabatnya itu akan berbaikan. "Baiklah, aku pulang dulu kalau begitu. Semua masalah sudah terselesaikan. Aku mohon, aku akan menjadi orang paling bahagia melihat kalian bertiga bahagia," ucap Hanna menekankan kata bertiga.
"Bertiga?" Kening Will berkerut.
"Kau akan menjadi ayah. Itulah alasan mengapa Julian enggan berdekatan dengan mu saat ini, karena bawaan bayi dalam kandungannya," ucap Hanna tersenyum gembira, melihat ekspresi Will yang terkejut dan berubah menjadi haru membuat Hanna juga merasa sangat terharu. Bahkan gadis itu meneteskan air mata hingga membuat matanya memerah.
"Kau tidak bercanda kan, Han?"
"Tentu saja tidak. Untuk apa? pulang lah, tanyakan pada Julia," ucap Hanna berdiri. Menyalami Will, dan bergegas keluar dari sana dengan perasaan gembira dan sesak di dada yang telah menguap.
__ADS_1