
Berat memang, menjalani hari-hari dimana kekasih hati selalu bersama dengan wanita lain dan itu tepat di depan mata. Hanna harus mengeraskan hatinya. Tidak boleh menampilkan wajah cemberut nya apa lagi sikap cemburu.
Harusnya posisinya sebagai OB bisa memberikan jarak untuk Hanna bisa bersembunyi. Tapi sialnya, disengaja atau tidak, Iris selalu mencarinya dan seperti mencari perhatian dengannya.
"Han, bisa buatkan aku teh?" ucap Iris sampai mendatangi pantry. Hanan pikir setelah dibuatkan, Iris akan kembali ke ruangannya, tapi kenyataannya wanita itu justru duduk di pantry menghabiskan tehnya sedikit demi sedikit.
"Maaf, Mbak. Saya harus ke lantai bawah, bersihkan lobi," ujar Hanna. Selain memang karena ingin melanjutkan tugasnya, dia ingin menjaga jarak dengan wanita itu.
Ada satu hal alasan Hanna ingin menjauhi Iris. Semakin dekat dengan gadis itu membuat Hanna merasa menjadi orang yang sangat jahat, karena mendengarkan curhatan gadis itu tentang sikap Davlin yang berubah padanya, memberi saran karena diminta Iris, karena dianggap sepupu Davlin, sementara dibelakang Iris, kedua manusia itu merajut cinta dengan sembunyi-sembunyi.
"Gitu, ya. Kau pasti bosan mendengar curhat ku setiap hari tentang itu-itu saja, ya?" ujar Iris dengan suara lemah. Ada nada sedih di dalamnya hingga membuat Hanna tidak sampai hati.
"Bukan begitu, Mbak. Tapi aku rasa, setengah jam curi waktu masih bisa aku kejar nanti." Hanna tersenyum, dan duduk di dekat Iris.
"Aku dan Davlin sudah pacaran hampir satu tahun. Selama pacaran, Davlin selalu bersikap baik, selalu menuruti apapun kemauanku, itu lah yang membuatku semakin mencintainya." Iris kembali terkenang, masa di awal mereka pacaran. Semua karena gadis itu menemani ayahnya saat menandatangani kerja sama dengan Davlin.
"Namun aku sadar, Davlim memang pria baik, dia akan bersikap baik pada siapa saja. Selama pacaran, aku lah yang selalu mengarahkan hubungan kami. Dia tidak akan melakukan hal romantis atau hal lainnya tanpa ada instruksi dariku. Emang dasar dia pria kaku, sih!" Iris tersenyum kecut, memandang layar ponsel yang ada di tangannya. Ada foto mereka berdua saling berpelukan yang dijadikan wallpaper.
"Awalnya aku merasa tidak peduli, selama Davlin menjadi milikku. Tapi kau tahu, Han ada rasa kosong dan hampa di sini" Iris menunjuk dadanya. Hanna melihat ada bulir air mata di pipi Iris. Hidung gadis itu bahkan sudah memerah.
"Mbak..." ucapan Hanna terhenti dengan Iris mengangkat tangan, yang menyatakan dia baik-baik saja.
Kini hanya isakan Iris yang terdengar, dan Hanna hanya bisa menawarkan pundaknya untuk tempat Iris menangis.
Kau munafik, Han. Ini semua karena mu. Tentu saja Davlin semakin menjauh dari Iris, karena selalu bersamamu!
__ADS_1
Rasa bersalah itu muncul lagi. Selalu begitu setiap dia mendengar curhatan Iris. Dengan ragu, Hanna merangkul pundak Iris, mencoba menenangkan wanita berambut pirang itu yang benar-benar larut dalam kesedihannya.
Hanna tak pernah mengira, dibalik sikap ceria Iris, yang selama ini dia tunjukkan, sikap mesra dengan Davlin yang dia pertontonkan, hanya kamuflase menutupi kekosongan hatinya.
Hanna juga tidak menyangka perjalanan kisah mereka akan sesedih itu. Pasti berat buat Iris, dan juga tidak nyaman untuk Davlin. Pernah suatu hari Hanna mengatakan kalau dirinya merasa kasihan pada Iris, selalu curhat karena sikap dinginnya.
"Aku juga gak mau bersikap seperti itu padanya, Han. Tapi sejak mengenalmu, aku tidak bisa lagi menyentuh wanita manapun, aku tidak tertarik, meskipun itu adalah Iris!"
Kalau sudah begitu, Hanna hanya bisa diam, tidak memperpanjang lagi dengan Davlin. Dia tahu rasa tidak nyamannya seseorang yang dipaksa bersama orang yang tidak dia cintai.
Hal itu membuat Hanna merasa kasihan pada Iris.
"Han... ada yang ingin aku tanyakan," ujar Iris namun tampak ragu untuk melanjutkannya. Menatap Hanna lalu meremas tangannya. Seolah sedang berperang dalam hati, harus jujur atau tidak. Dia takut kalau dia cerita pada Hanna, gadis itu yang dia tahu sebagai sepupu Davlin akan menyampaikan perkataannya pada pria itu.
"Mbak, kalau Mbak ragu dan berat untuk mengatakannya gak usah aja, Mbak. Senyaman nya mbak aja," ujar Hanna lembut. Iris sudah menegakkan tubuhnya, lalu menyerong pada Hanan agar bisa saling berhadapan.
"Yang paling parah dengan kondisi hubungan kami saat ini, Davlin tidak pernah mau saat aku ingin mencium bibirnya. Dia selalu menolak, dengan mengatakan sedang tidak mood, atau banyak pikiran. Kau tahu, Han mulai dari pacaran hingga saat ini, aku lah yang lebih Agresif padanya. Aku lah yang selalu memulai menciumnya, memancingnya," ucap Iris sedikit malu. Tidak lama, senyumnya muncul, seolah kini sebagian himpitan hatinya sudah lepas dengan bercerita.
Sesaat keduanya diam. Tidak ada yang mau buka suara. "Mbak, sudah lebih baik?"
"Sudah, Han." Iris menghapus air matanya. "Terima kasih, ya." Senyum itu kini lebih santai, tidak dipaksakan seperti tadi.
"Semangat, Mbak." Aku juga mau kerja juga." Hanna mengangguk hormat dan segera pergi.
Semua keluh kesah Iris masih terngiang-ngiang di telinganya. Dia semakin bersalah, dan tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya.
__ADS_1
"Bukan nya itu udah lo pel tadi?" tanya Tari yang baru ini kebetulan satu tim dengan dia.
"Eh, masa iya? aku lupa."
"Udah, ayo makan siang." Tari menarik tangan Hanna menuju ruang tempat penyimpanan. Di koridor, mereka berpapasan dengan Davlin dan Iris yang tampaknya akan pergi makan siang.
"Han, kita makan siang bareng, yuk" ucapnya menyapa Hanna.
"Makasih, Mbak. Saya makan di kantin aja," jawab Hanna dengan suara dingin. Moodnya berubah buruk kala melihat tangan Iris yang menggandeng mesra lengan Davlin, lalu naik ke atas menatap wajah Davlin sekilas.
Tengkuk Davlin meremang, tatapan Hanna begitu tajam menembus ulu hatinya. Dia takut kau gadisnya itu akan marah, karena akan susah membujuknya, dan Davlin tidak akan sanggup berdiam dengan Hanna.
"Ayolah, kita makan siang bersama. Ajak aja itu, siapa nama mu?" ucap Davlin melihat ke arah Tari.
"Saya Tari pak. Udah tiga tahun bekerja di sini, dan bapak masih saja tidak ingat nama saya. Maaf, saya tidak tertarik makan di luar pak," sahut Tari tegas. Hanna saja sampai terperangah, melupakan amarahnya pada Davlin tadi dan menoleh pada temannya yang super berani itu.
"Mmm.. kami sebaiknya pamit dulu. Kami makan di kantin aja, permisi." Hanna buru-buru menyeret Tari dari sana.
Hanya tidak sendok makanan yang bisa Davlin telan, dan itu pun seperti menelan duri. Pesan yang dikirimkan pada Hanna, sama sekali tidak mendapat balasan, dan itu membuatnya semakin terpuruk.
Sepertinya bakal ada badai besar sore ini!
***
Mampir gais 😁😁
__ADS_1