
"Kau sempurna," ucap Hanna, berdiri tepat dibelakang gadis itu, menatap ke cermin dan terbitlah senyumnya. Julia memohon agar Hanna lah yang merias dirinya di hari pernikahannya ini.
"Boleh kah aku memeluk mu?" tanya Julia yang sudah berbalik menghadap Hanna. Air matanya sudah mengembang dan siap turun.
"Boleh saja asal kau tidak membasahi gaunku," ucap Hanna tersenyum.
"Aku beruntung sekali punya sahabat seperti mu. Terima kasih sudah mendorongku hingga sejauh ini," ucap Julia tersedu-sedu.
"Sudah, hentikan tangis mu kalau kau tidak mau jadi aneh di pernikahanmu ini," ucap Hanna melerai pelukan mereka, dengan jemarinya menghapus titik air mata di pipi Julia.
Setelah menyelesaikan drama antar dua sahabat, Keduanya turun, melalui satu pintu yang langsung tembus ke pintu gedung. Di sana sudah menunggu papanya yang akan mengantar Julia ke altar.
Namun, sebelum acara itu di mulai, insiden kecil terjadi. Semua ini hanya karena kesalahan Andrew, menyampaikan kabar pada Alex yang saat itu baru tiba di Inggris.
"Kau tahu, besok adalah hari pernikahan Malory dan siapa, gadis yang menjadi sahabat nya itu," ucapnya pada malam sebelum pernikahan Julia digelar.
"Kau bilang apa?" tanya Alex yang saat itu baru saja bergabung dengannya di club. Saat itu mereka hanya berdua, karena tanpa alasan jelas Sebastian tidak hadir, walaupun tahu kalau hari ini Alex sudah tiba di Landon.
"Apakah kau jadi tuli? aku bilang, Malory akan menikah dengan gadis yang selalu ada di dekatnya itu,"
Tanpa pikir panjang, Alex pulang, menempuh jarak yang cukup jauh hanya untuk meminta sebuah dekrit pada bibi nya, lady Abigail.
"Kau disini?" sambut Lady Abigail sedikit terkejut melihat kehadiran keponakan kesayangannya malam-malam begini.
"Aku perlu bicara dengan mu, bibi."
__ADS_1
"Dimana letak kesopanan mu? kau datang tanpa mencium bibirmu?" ujar Lady Abigail memicingkan sebelah matanya. Tidak ingin membuang waktu, Alex mencium pipi bibinya yang manja.
"Katakan, ada apa kau datang malam-malam begini," tanya Abigail.
"Aku ingin meminta paman, memberikan dekritnya untuk membatalkan pernikahan Malory dengan Miss Jhonson," ucap Alex mempertahankan pandangannya yang mengunci tatapan Lady Abigail.
"Apa? kau sudah gila? mana mungkin pamanmu mau mengeluarkan surat itu," sahut Abigail geleng-geleng kepala.
"Aku mau surat itu sekarang juga. Ini salah bibi karena sudah merusak rencana ku yang ingin menikahi Hanna. Dengan santainya bibi malah mengumumkan akan menjodohkan ku dengan Ophelia. Aku sudah membantu paman mengurus bisnisnya beberapa Minggu ini di Paris, jadi aku minta kompensasi dengan membuat surat rekomendasi untuk ku dan Hanna. Aku ingin menikahi gadis itu!" tegas Alex.
Dari balik pintu ruang baca, Duke Of Cambridge yang ingin menyambut kedatangan Alex, tetapi menghentikan langkahnya kala mendengar perdebatan keduanya.
"Maafkan aku, Lex. Masalah Ophelia, aku kan sudah mengurus nya. Kau tidak harus menikahi gadis itu. Tapi untuk memberikan surat dukungan untuk menikah dengan Hanna, aku sungguh tidak bisa. Aku harus menyelamatkan harga diriku," ujar Abigail memelankan suara. Dia tahu ini adalah kesalahan nya.
"Aku pasti gila kalau sampai dia menikahi Malory besok, Bibi. Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus menghadap raja?"
"Dan kau, my Lady, aku mohon jangan merusak kesenangan Alex. Biarkan dia mencari kebahagiaannya sendiri," lanjut Thomas mencubit pipi Abigail.
Dan di sini lah Alex. Menempuh perjalanan panjang saat subuh tadi dari Cambridge menuju Holy Ville. Dia tidak mau terlambat hingga kehilangan gadis yang dia cintai. Kalau bukan karena membantu pamannya, dia pasti sudah menemui Hanna sejak pesta minum teh bibinya.
"My Lord," sapa Julia dan ayahnya berbarengan.Terkejut saat menatap Alex yang muncul dari pintu yang hanya diperuntukkan bagi pengantin dan sang ayah kala bersiap menuju ruangan pernikahan.
"Julia?" kening Alex berkerut menatap Hanna lalu beralih ke Julia. Dia bahkan sudah bersiap untuk berteriak pada Hanna, namun, saat melihat gaun Julia, mulut nya terkatup, lalu terbuka lagi dan hanya bergumam, menyebut nama Julia.
"Ya, my Lord," Julia menekuk memberi hormat, tetap membungkuk menatap seperti indahnya.
__ADS_1
"Kau menikah hari ini?" lanjut Alex tanpa mendebat sikap Hanna yang sampai sejauh itu belum menyapa apa lagi memberi hormat padanya.
"Ya, My Lord," sahut Julia masih mengangguk hormat.
"Dengan..,"
"Dengan Earl of Malory, Your Highness," sambar ayahnya Julia. Wajah Alex yang kaku dan tampak pucat, berubah menjadi rileks, bahkan senyum samar terlihat di bibirnya.
"Aku pikir ini sudah saatnya, sang ayah menghantarkan putrinya," ucap Alex tersenyum. Wajahnya berubah ceria seolah terlepas dari hukuman gantung.
Seiring bunyi dentingan piano, Julia yang digandeng ayahnya melangkah memasuki aula. Semua pasang mata tamu undangan menatap penuh suka cita, ikut bergembira akan pernikahan besar di desa itu.
Diujung sana, Malory sudah berdiri menunggu kehadiran Julia. Saat momen sang ayah menyerahkan tangan Julia pada Will, hampir semua wanita yang duduk di bangku tamu, ikut menitikkan air mata.
Hanna yang mengamati dari tempatnya, ingin melangkah lebih dekat lagi. Dia tersenyum melihat kebahagiaan kedua sahabatnya itu. Namun, langkahnya terhenti kala Alex menarik tangannya dan justru menarik gadis itu menjauh dari aula itu.
Hanna ingin menarik tangannya kembali, tidak ingin mengikuti pria itu, tetapi dorongan hatinya yang ingin mengikuti langkah pria itu lebih besar. Dia tidak ingin membohongi dirinya, kalau dia sangat merindukan Alex. Bahkan dua hari berturut-turut, Hanna memimpikan pria itu, melihatnya tetapi tidak ingin bicara padanya.
"Aku merindukanmu," bisik Alex menyentuh pipi Hanna lembut. Dia hampir gila membayangkan gadis itu kalau sampai menikah dengan pria lain.
"Kau kembali? aku tidak mau kena masalah dengan Lady Ophelia," sahutnya ketus.
"Dasar Hanna bodoh, kenapa membawa nama orang lain saat sedang berdua! kau gadis payah yang suka merusak momen!" umpatnya dalam hati, mengutuk kebodohannya sendiri.
"Lady Abigail hanya bercanda. Aku tidak mungkin menikahi Abigail, karena aku sudah menyukai gadis keras kepala ini," bisik Alex menarik tubuh Hanna masuk dalam pelukannya.
__ADS_1
Gadis itu sama sekali tidak menolak, karena ini lah yang dia inginkan. Dia ingin berani, mencintai pria berkuasa nan arogan ini. Dia tidak akan peduli statusnya, gelar kebangsawanan yang begitu rendah. Yang dia inginkan hanya mencintai pria ini, dan berada di sisinya. Kali ini demi apa pun dia tidak akan mundur lagi. Uluran tangan Alex akan dia sambut dan akan digenggamnya erat, berjalan bersama, mengarungi kisah ini.
"Jangan lagi meninggalkan ku. Jangan lari dari ku lagi, Hanna. Aku bisa gila kalau sampai kehilanganmu. Menikah lah dengan ku." Alex menangkup dagu Hanna dan membawa bibirnya mendekat untuk menyatu dengan gadis itu.