
Davlin menatap punggung Hanna yang bergerak menjauh menuju kantor. Penuh kesal dia memukul setir karena tidak berhasil membuat gadis itu masuk dalam rencananya.
“Halo,” jawab Hanna mengangkat teleponnya.
Baru tiba di kantor, pak Udin yang melihat panggilan masuk dari Hanna setelah mengaktifkan hape nya, segera menghubungi ulang gadis itu.
“Halo, Mbak. Tadi telepon, ya? Maaf baru aktifkan hape."
"Iya, Pak. Tadi saya nungguin bapak jemput saya. Kenapa ga datang?" Hanna meletakkan sapu yang tadi sempat dia ambil dari tempat penyimpanan. Duduk sembari menunggu jawaban pak Udin.
"Maaf, Mbak. Teman mbak yang kasep, tetangga Mbak minta saya gak usah jemput Mbak Hanna lagi, katanya udah berangkat bareng tuan muda itu. Saya malah dipekerjakan ngantar pembantu rumah nya ke pasar. Alhamdulillah, Mbak. Beliau bayar saya lebih," terang pak Udin. Mengerti lah Hanna sekarang mengapa pak Udin tidak menjemputnya pagi ini
Dasar pria arogan, sok bos banget sih, ngatur-ngatur!
"Mbak?" suara pak Udin membawa Hanna kembali tersadar.
"Eh iya, Pak. Gak papa. Saya tutup dulu ya, Pak."
"Hei, udah kelar belum? itu toilet harus di bersihkan," tegur Tari.
"Iya, ini juga hampir selesai," ucapnya sembari masih terus mengerjakan tugasnya.
"Lo udah tahu kalau kita akan mengadakan trip ke puncak?" tanya Tari penuh semangat, duduk mengamati Hanna yang tengah mengeringkan sisa pelan nya.
"Trip ke puncak?"
"Iya. Semua karyawan bakal pergi ke puncak. Udah biasa sih diadakan di sini, lo anak baru terang aja gak tahu. Cuma udah 1 tahun ini gak pernah diadakan, kenapa tiba-tiba muncul lagi ya program kebersamaan karyawan PT HolyWings ini?," ucap Tari lebih ke dirinya sendiri.
"Kapan?" tanya Hanna asal. Dia sendiri sebenarnya gak tertarik sama sekali.
"Sabtu besok."
"Semua karyawan?"
__ADS_1
"Semua makhluk yang ada di kantor ini!"
"Mmm... bos ikut juga?" tanya Hanna hati-hati. Tidak ingin menimbulkan pertanyaan susulan dari Tari yang merasakan keanehan nantinya.
"Mmmm...kalau pak Haris biasanya ikut, kalau pak Davlin, ga tahu ya, selama aku kerja di sini, beliau belum pernah ikut.
"Boleh gak ikut, kan?"
"Boleh, tapi gaji lo dipotong lima persen," terang Tari yang awal tahun lalu pernah tidak ikut karena harus mengurus pacarnya yang sakit, alhasil gajinya dipotong oleh bagian personalia.
Hanna diam sesaat. Kalau lima persen, ok lah. Dia ikhlas lebih baik tidak usah ikut. Lagi pula, Sabtu ini Hanna dan seluruh keluarganya punya rencana nonton bioskop bersama. Sudah lama mereka tidak pernah menghabiskan waktu bersama.
"Gue gak usah ikut aja deh. Kalau cuma lima persen, gak papa deh."
***
"Hai, Tante..," sapa Hanna saat pulang kerja mendapati Reta di teras rumah bersama Ema. Wanita itu tampak baru mandi, karena rambutnya terlihat masih basah.
"Baru pulang? kenapa gak bareng sama Davlin, Han? anak itu ya, Tante udah bilang harus jagain kamu, malah dibiarin pulang sendiri," ujar Reta kesal.
"Gak papa, Tante. Lagi pula aku kan pulang kerja kadang nge gym juga, Tan."
"Oh, iya. Tante titip jajanan Bogor ya," sambar Reta tersenyum penuh harap.
"Emang Sabtu besok mau kemana, Han?" imbuh Ema yang juga ingin tahu.
"Sabtu? oh, itu ma, kantor punya acara trip jalan-jalan ke Bogor, tapi aku gak ikut kok, Tante," ujar Hanna, bergantian melihat Reta dan Ema.
" Loh, kenapa? kan, bagus bisa jalan bareng teman-teman kantor, refreshing, dan juga gembira sama yang lain. Sayang dong kalau ga ikut," timpal Reta. "Bukannya kalau gak ikut justru gaji kamu dipotong?"
"Iya, Han. Kenapa gak ikut? sayang dong gaji mu dipotong, Han. Bagus kau kasih mama, buat nambah beli bedak," timpal Ema ikut mendukung saran Reta.
"Cuma lima persen, Ma. Lagi pula kita kan mau nonton sekeluarga."
__ADS_1
"Udah, gampang lah itu. Minggu depannya juga kita bisa kok pergi bareng. Pokoknya kau harus pergi acara jalan-jalan kantor."
"Gak, Ma. Aku gak ikut. Malas. Udah ya, aku ke atas dulu. Yuk, Tante."
***
"Nih." Reta menyerahkan list yang sudah dia buat. Semua ada 15 item yang harus dicari Davlin.
"Apaan ini, Ma?" Davlin membaca isi secarik kertas itu, mengerutkan kening lalu menatap Reta yang sudah duduk di sofa tepat di hadapannya.
"List, yang harus kamu cari di Bogor. Tadinya mama mau minta tolong sama Hanna untuk mencarikan, tapi dia gak pergi, terpaksa kamu lah yang mama mintai tolong."
"Dia gak pergi? kenapa? apa dia gak tahu kalau yang gak ikut bakal dipotong gajinya?"
"Tahu, tapi karena cuma lima persen, Hanna milih gak ikut. Malas katanya, karena ada kamu!" jawab Reta melebihkan.
Wanita itu sadar, baik Hanna ataupun putranya sudah menyimpan rasa dalam hati satu sama lain, namun yang satu gengsi dan yang satu sudah mulai menyerah karena melihat arogansi Davlin, jadi Reta memilih untuk mencoba menyatukan keduanya. Memiliki menantu seperti Hanna tentu saja seru menurut Reta.
Davlin mengepalkan tinju. Kesal karena rencana trip karyawan ini justru tidak berhasil membuat Hanna mendekat padanya.
Padahal saat menemukan ide ini tanpa sengaja siang tadi, Davlin bahkan sampai menari saking senangnya. Dia berharap, saat di acara trip ini, bisa membuat Hanna kembali mengejarnya. Jujur, saat ditempeli gadis itu setiap hari, awalnya membuat Davlin merasa terganggu, bahkan mengumpat kesal. Berharap gadis tidak tahu malu itu akan menjauh darinya. Tapi anehnya, seolah semesta mendengar keinginan nya, Hanna menjauh justru Davlin merasa kehilangan.
Dia sendiri tidak tahu apa yang dia rasakan terhadap gadis itu. Yang pasti, dia tidak suka Hanna membagi perhatian pada orang lain, terlebih pada pria.
Rasa kesalnya tanpa sadar membawa Davlin ke luar rumah. Dia ingin bertemu Hanna dan memohon agar gadis itu ikut. Dengan langkah lebar, Davlin keluar dari pagar rumahnya, dan bergerak menuju rumah Hanna. Pintu pagar dan rumah gadis itu sudah terkunci. Lampu ruang tamu juga tampak sudah dimatikan. Davlin bingung, antara ingin masuk, tapi gengsi, lagi pula apa alasan dia datang malam-malam begini? tapi kalau tidak bertanya langsung, dia tidak akan bisa tidur malam ini.
Bodoh banget sih gue gak punya nomor ponselnya!
Ting! Lampu neon dalam otaknya menyala yang artinya dia mendapatkan jalan keluar atas masalah hatinya!
"Halo, Ris, Lo buat pengumuman. Bagi karyawan yang tidak ikut acara trip ke Bogor, potong gajinya 70 persen!"
****
__ADS_1
Hai, mulai hari ini aku akan crazy up 3 bab sehari, jadi support aku ya biar tambah semangat. Makasih. Oh iya, jangan lupa mampir gais 🙏