
Walau sungkan, Hanna tetap menerima tawaran dari Kai untuk mengantarnya pulang. "Terima kasih untuk sate dan juga tumpangannya. Oh, paling penting karena sudah menyelamatkanku." Barisan gigi Hanna terlihat rapi kala memberikan senyumnya.
"Sama-sama. Sebaiknya kau tidak usah kembali ke sana."
"Aku juga tidak mau, tapi hanya tempat itu yang bisa menghasilkan uang dengan cepat. Dimana lagi aku cari tempat kerja yang mau menggaji ku 500 ribu satu malam," ucapnya lemah. Padahal dia sudah menghitung uang yang akan dia dapat dalam satu bulan ini. Hanya butuh dua bulan, dan dia akan keluar dari sana. Kini, jangankan gaji sebulan, honor sehari saja sudah hangus ditambah dengan masalah pertikaian.
"Untuk pekerjaan dengan honor se-fantastis itu, aku tidak bisa bantu, tapi kalau kau memang sangat butuh uang, aku bisa pinjamkan tabungan ku," ucapnya menatap wajah Hanna.
Suara jangkrik malam itu terdengar jelas kala keduanya memilih diam. Hanna tidak tahu harus berkata apa. Pandangan mereka bertemu dan gadis itu terkunci pada satu titik.
Siapa pria ini? dia menawarkan pinjaman, sementara mereka baru beberapa jam kenal? Dia juga tidak menanyakan untuk apa uang itu.
"Kenapa kau begitu baik? apa kau punya maksud lain?"
"Maksud lain? misalnya menyukaimu? maaf, tapi untuk saat ini, aku belum tertarik padamu, tidak tahu kalau nanti. Jadi aku tulus ingin membantumu," ucapnya menaikkan sebelah alisnya.
"Oh!" Betapa malunya Hanna. Terang-terangan Kai mengatakan kalau bantuannya itu bukan karena menyukainya. Bagaimana mungkin dia sempat berpikir seperti itu?
"Sekali lagi terima kasih untuk semuanya. Maaf, kau gak bisa ngajak kau masuk." Hanna menunjuk jam tangannya, pertanda sudah larut karena memang sudah pukul 10, waktu yang tidak memungkinkan menerima tamu, apa lagi seorang pria.
"It's oke. Aku pulang."
__ADS_1
"Eh, jaket mu aku pinjam, ya," ucap Hanna kikuk. Malu karena mengingat keadaannya saat ini. Rok itu bahkan memperlihatkan dengan mudahnya pakaian dalamnya jika dia sedikit saja menunduk. Apa yang akan dikatakan ayah dan ibunya jika sampai melihatnya memakai rok ini?
"Tunggu sebentar." Kai mengingat sesuatu, lalu bergegas membuka resleting ranselnya. "Pakai ini." Kai memahami penyebab memerahnya wajah gadis itu.
Sesaat Hanna termangu, mengamati celana basket yang diberikan Kai padanya. Namun, karena dia tidak punya pilihan lain, Hanna mengambilnya.
"Pakailah. Itu tampak besar, tidak akan terlihat walau kau memakai rok di dalam."
Hanna tersenyum malu. Setidaknya celana dan jaket milik Kai yang kini dia pakai, bisa menutupi tubuhnya. "Aku tidak tahu lagi harus berkata apa. Dua kali kau menyelamatkan nyawaku. Pertama dari preman suruhan om Tora, dan sekarang dari kedua orang tuaku. Aku berhutang padamu. Aku pasti membalas kebaikanmu ini," ucap Hanna bersungguh-sungguh.
Kai hanya tergelak mendengar ucapan Hanna. Dugaannya tepat, Hanna adalah hadis lugu yang polos hatinya. "Jangan senyum, aku serius. Aku akan membalas kebaikanmu ini. Kalau kau butuh pertolonganku, kapan saja, kau bisa menghubungiku. Please, jangan sungkan."
"Baik lah. Kalau begitu kau bisa menuliskan nomor ponselmu," ucap Kai menyodorkan ponselnya yang baru saja dia ambil dari saku celananya.
***
"Memangnya dia jago main basket?"
"Hah? Eh, gak juga, Ma. Kan, gak harus jago basket baru boleh koleksi bajunya. Udah ya, Ma. Aku masuk dulu." Buru-buru Hanna masuk ke dalam kamar, melempar tubuhnya ke atas kasur empuknya.
Aneh, sejak bertemu Kai hingga saat ini, sedetik pun dia tidak mengingat Davlin. Baru beberapa hari saja Davlin tidak ada di sampingnya, dia sudah tidak ingat akan pria itu.
__ADS_1
Begitu banyak hal yang harus dia pikirkan hingga tidak sempat mengingat Davlin. Dan kini saat ingatannya membawanya pada pria itu, buru-buru dia meraih ponselnya. Ada beberapa kali panggilan, tanpa pesan. Dan waktunya tepat saat Hanna sedang diamuk oleh anak buah Tora.
"Besok aja deh, aku hubungi, lagi pula, masih ada empat hari lagi dia di sana," ucapnya memilih untuk tidur.
***
Tadi malam, sebelum naik ke kamar sehabis di interview ibunya, Hanna sudah berpesan agar membiarkannya tidur hingga siang. Tampaknya itu dikabulkan, karena hingga pukul 10 pagi, pintu kamar Hanna tidak digedor.
"Baik banget, mama ku. Tidur lagi, Ah.."
Satu hal yang malam itu tidak Hanna ingat setelah mengucapkan permintaannya untuk tidak dibangunkan pagi ini, Ema juga mengatakan akan ke Surabaya.
Hanna sudah bersiap untuk menarik selimut nya lagi, kala melihat secarik kertas di nakas.
'Mama dan Papa ke Surabaya. Kembali besok. Adikmu ke rumah temannya, pulang malam. Mama buru-buru, gak sempat masak. Di dapur ada mie instan dan telur. Tolong jangan bakar dapur mama. Salam sayang. Mama.'
Tidak punya pilihan lain selain menikmati kesedihannya, Hanna merayu kedua matanya untuk kembali terpejam merenda mimpi.
***
Tepat tengah Hari, rasa lapar menyerang perutnya. Cacing dalam perutnya sudah tidak bisa kooperatif lagi dengan keinginannya untuk tidur. Hanna terpaksa memaksa matanya untuk terbuka perlahan.
__ADS_1
Kesadaran belum penuh. Kembali dia mengerjap kan kelopak matanya, berusaha menyingkirkan halusinasi nya. "Ini Fatamorgana! Efek mimpi aku tadi begitu kuat, hingga sosok itu seperti nyata ada di hadapannya saat ini.