
Hanna mempercepat langkahnya, buru-buru menuruni tangga. Niatnya di awal, dia turun dan menitipkan surat pada resepsionis penginapan itu, nyatanya surat itu jatuh entah di mana, yang pasti tida ada di dalam tas tangannya.
"Lady Claymore." Langkah Hanna terhenti di hadapan seorang pria yang dia rasa tidak dia kenal, tapi kenyataannya mengenalnya. Hanna terpaksa mengangkat wajahnya, mengamati pria itu sesaat, karena merasa tidak mengenalnya, Hanna hanya mengangguk lalu keluar dari penginapan itu.
Pria itu masih terpaku menatap punggung Hanna yang melangkah keluar dari pintu penginapan itu. Dia yakin itu adalah duchess of Claymore.
"Anda tidak salah, My Lord. Dia memang duchess of Claymore," ucap pria di balik meja resepsionis itu seolah memahami isi pikiran pria tua yang sudah menjadi langganan tetap di penginapan itu.
"Dan kamu tahu siapa yang dia temui di sini?" ujar Lord Peter Pettigrew mendekat. Pria tua usil yang suka ingin tahu itu, mengeluarkan selembar uang kertas, mengangsurkan ke hadapan resepsionis.
"Sanga mantan kekasih, William Malory."
Setelah berada di dalam kereta, barulah Hanna bisa bernafas lega. Perjuangan panjang bisa keluar dari sana dengan cepat. Dan yang membuat semangatnya menyala, persoalan sahabatnya sudah terselesaikan.
Satu jam sebelum Alex kembali, Hanna sudah di rumah. Mandi, dan berdandan cantik untuk menyambut suaminya.
Malam ini merupakan malam penting bagi Hanna. Dia sudah membuat rencana untuk memberitahukan suaminya mengenai kabar gembira tentang kehamilannya.
"Kau sudah pulang," sambut Hanna setengah berlari menyongsong suaminya di ambang pintu.
"Pelan-pelan, Sayang.." ucap Alex tersenyum. Hanna yang berlari, tapi dia yang merasa sangat ketakutan wanita itu akan tergelincir.
"Aku merindukanmu," bisik Hanna. Alex tersenyum, dan menghadiahinya sebuah ciuman lama, lembut dan panjang. "Aku juga sangat merindukanmu."
***
__ADS_1
Ia menunggu sampai Alex menghabiskan anggur port-nya setelah makan malam dan mereka duduk di ruangan bernuansa putih dan emas. Pura-pura sibuk membaca, Hanna mendesah. "Aku tidak tahu kenapa aku merasa begitu lelah akhir-akhir ini." Ia tidak mendongak, karena itu dia melewatkan tatapan bangga dan penuh tawa yang dilayangkan Alex ke arah Hanna.
"Kau tidak tahu, Manis?" tanya Alex berhati-hati. Alex mengira Hanna tahu kalau wanita itu sedang mengandung, tetapi Alex tidak yakin, dan jika ada kemungkinan Hanna takut hamil. Alex ingin menunda kecemasan Hanna selama mungkin.
"Tidak," jawab Hanna dengan sikap merenung. "Tapi aku ingin membalas surat papaku malam ini, dan aku baru sadar aku meninggalkannya di laci meja tulis ku di atas. Apakah kau keberatan mengambilkannya untukku? Tangga itu tampak seperti gunung yang harus didaki akhir-akhir ini."
Alex bangkit, mendaratkan ciuman ringan di kening Hanna, mengacak-acak rambut Hanna dengan sayang, dan berjalan cepat menaiki tangga marmer yang melengkung.
Ia masuk ke kamar Hanna dan tersenyum lebar ketika memandang sekelilingnya. Aroma samar parfum Hanna tercium di sana. Sisir dan sikat Hanna terletak di meja rias. Keberadaan Hanna memenuhi kamar luas itu dan membuatnya terlihat indah, segar dan hidup. Seperti Hanna sendiri.
Seraya kembali bertanya-tanya, apakah Hanna sedang mengandung, dan bertanya-tanya kenapa, jika Hanna memang tahu, wanita itu tidak memberitahunya.
Alex membuka laci meja tulis dari kayu Rosewood. Ia mengambil kertas biru dari tumpukan tebal yang digunakan Hanna, lalu meraba-raba laci, mencari surat ayah Hanna. Karena tidak bisa menemukannya, Alex menyingkirkan apa yang pria itu kira saputangan putih dan mencari-cari di antara tumpukan kertas yang sudah tidak terpakai. Mendekati bagian bawah tumpukan, akhirnya dia menemukan surat yang terlipat di dalam amplop.
Tidak yakin apakah itu surat yang Hanna inginkan, Alex membukanya dan membaca kata-kata yang ditulis Hanna, tertanggal hari ini.
"Dia sangat terkejut?" gumam Alex mengernyit bingung. Menatap sekali lagi surat yang jelas-jelas di tujukan pada William Malory, karena nama pria itu ada di sudut kertas.
Otak Alex mencerna hal yang tidak bisa dipercaya tersebut. Otaknya muka meneriakkan penyangkalan, walau sesuatu dalam diri Alex perlahan retak dan mulai hancur. Alex merasa seakan remuk dan seluruh bagian dirinya berhamburan.
Ternyata Hanna telah bersandiwara pada malam dia datang untuk melamar gadis itu. Penghakiman atas diri Hanna terus berkelebat di benak Alex. Kata cinta yang dulu diucapkan wanita itu hanya dusta! Kebohongan murahan dan menjijikkan!
Momen menyenangkan saat wanita itu membisikkan 'Aku mencintaimu' hanya sandiwara.
Sekarang bagi Alex, semua adalah palsu. Hanna masih menyimpan rasa pada mantan kekasihnya itu. Bahkan yang paling menjijikkan, wanita itu berhubungan dengan Malory yang sudah menikah dengan sahabatnya sendiri, bahkan hingga hamil, mengandung anak William Malory! Hanna memang wanita terkejam yang pernah Alex temui.
__ADS_1
Dengan bingung dan merana, Alex duduk sementara otaknya berkecamuk mencari jawaban dan tiba pada kesimpulan yang menghancurkan dirinya.
Dia ingat, masa selama berbulan-bulan terakhir, ketika Hanna pergi ke London untuk yang katanya 'berbelanja' dan 'mengunjungi' teman. Tenggorokan Alex terasa getir. Anak yang dikandung Hanna sekarang mungkin saja anak orang lain, bukan, itu pasti akan William Malory!
Wanita ja*lang itu! Wanita pembohong, penipu, Tidak, Alex tidak bisa menyebut Hanna seperti itu lagi, bahkan pada saat sedang menderita seperti ini. Ia terlalu mencintai Hanna, hingga menit lalu, untuk mengutuk Hanna. Tetapi Alex mencintai pemain sandiwara yang lihai dan penipu itu!
Wanita dangkal! Hanya sebuah tubuh. Tidak lebih. Dan tubuh itu bahkan bukan milik Alex seorang.
Dengan naluri bertahan hidup yang dimilikinya, Alex harus memuji Hanna atas hal itu! Alex ingin mempercayai bayi itu mungkin bayinya. Ia bahkan mencoba meyakinkan diri sejenak.
Kenyataannya, hidup mereka hanya sandiwara. Setiap kata yang diucapkan Hanna, setiap tatapan wanita itu, sikap Hanna di tempat tidur, semua itu pertunjukan yang dilakukan Hanna setiap hari. Semua itu sandiwara tidak bermoral yang menjijikkan!
Tangan Alex meremas kertas biru itu, perlahan meremasnya menjadi bola yang liat dan keras. Rasa sakit dalam dirinya mulai menghilang, sementara amarah dingin dan gelap menerjangnya.
Ia menjatuhkan gumpalan kertas tersebut ke laci meja dan menutupnya dengan keras, tetapi laci itu tidak mau menutup. Secarik pakaian putih dengan huruf 'C' kecil yang disulam dengan benang biru di bagian kerah terjepit di antara laci dan meja, setengah masuk dan setengah keluar.
Alex menatapnya, lalu menyentakkannya dengan kasar. Inilah yang harus ku temukan, sadar Alex dengan marah. Menyentuh sekali cara Hanna memberitahunya soal kehamilan itu! Hanna benar-benar menyukai drama!
Dengan jijik, Alex menjatuhkan pakaian kecil itu ke lantai dan menginjaknya ketika ia berbalik untuk berjalan pergi.
"Ku lihat kau sudah menemukannya," bisik Hanna dari ambang pintu, tatapannya terpaku sedih pada pakaian kecil di bawah kaki Alex.
"Kapan?" ujar Alex dingin.
"Sekitar... sekitar tujuh bulan lagi, kukira."
__ADS_1
Alex menatap Hanna, amarah menguat dari tubuh pria itu. Dengan kejam Alex mengucapkan setiap katanya yang menusuk dengan hati-hati. "Aku tidak menginginkannya!"