
"Tak bisakah kau tetap di sisiku?" Hati Iris teriris. Itu bukan pertanyaan, tapi lebih permohonan. Dia kalah. Sejak awal dia sebenarnya sudah tahu kalau Davlin baik padanya hanya karena kasihan. Hanya saja dia tidak peduli, membohongi dirinya demi bisa bersama Davlin.
Kini pria itu sudah terang-terangan menyatakan perasaannya pada Hanna. Gelang itu tanpa sengaja dia lihat ada di atas meja kerja Davlin. Ada sepasang dalam kotak beludru berwarna merah beserta secarik kertas kecil, yang menarik perhatian Iris, mengambilnya dan membaca.
Aku tahu ini tidak lebih indah dari pada senyum mu. Tapi aku ingin kau memakainya. Pengikat cinta kita. Aku ingin kau memakainya. Aku letakkan di sini, ambillah yang mana pun kau mau. Aku berharap kau mengambil gelang bertuliskan namaku, yang artinya, kau setuju kalau kita memberitahu tentang hubungan ini pada semua orang. Tapi kalau kau ambil gelang dengan namamu, maka aku akan tetap mengikuti keinginan mu, untuk merahasiakannya dulu.
Iris kalut. Air matanya seketika jatuh dengan rasa ayok dalam hati. Hanna yang dia anggap adalah teman dan tempat cerita, ternyata adalah gadis yang sudah berhasil mendapatkan hati Davlin.
Harga diri Iris terluka. Hatinya hancur, dan tanpa pikir panjang, Iris mengambil gelang bertuliskan nama Hanna dan segera keluar dari sana.
Dia tahu apa yang dia lakukan itu salah. Tapi dia belum mau mengakui kekalahannya, terlebih pada Hanna yang dianggapnya tidak sebanding menjadi lawannya.
Iris pulang, tanpa memperlihatkan rasa sakit hati dan kecewa. Dia bahkan menemui Hanna sebelum pulang. Setidaknya alasannya meminta dibuatkan teh hangat karena pusing bukan suatu kebohongan, namun karena dia sendiri memiliki tujuan lain. Iris sengaja memperlihatkan foto mereka yang ada di wall hapenya. Dia ingin mengusik pikiran Hanna, dan coba menyampaikan tanda kepemilikannya terhadap diri Davlin.
Setelahnya, Iris kembali ke rumah. Pikiran yang kacau dan putus asa membuat gadis itu merasa sesak, dan tidak berapa lama ayahnya menemukannya tergeletak tidak berdaya.
"Maaf, Ris. Kau tahu betul aku tidak bisa." Davlin bukan tidak kasihan hanya saja, hati Hanna lebih penting baginya. Dia tidak ingin gadis yang dia cintai salah paham lebih lama lagi.
"Apa kau tidak kasihan padaku? aku tahu kau tidak mencintaiku, dan kini hanya Hanna yang bertahta dalam hatimu, tapi aku belum sanggup berpisah dengan mu. Demi persahabatan dan hubungan kita, tinggal lah sebentar lagi, hingga aku sanggup melepas mu. Hanya sebentar lagi," mohon Iris dengan terisak. Davlin jadi tidak tega. Lagi pula, saat ini Iris sedang sakit, melangkah pergi dari gadis itu sama saja dengan mencabut selang oksigen kala dia sesak.
"Baik lah, Ris. Aku tidak akan menjauh darimu untuk saat ini, hingga kau sembuh. Tapi yang perlu kau ingat, kau dan aku tidak lebih dari teman. Hanya ada Hanna dalam hatiku."
Terdengar menyayat, tapi Iris bisa apa? bersabar nya Davlin di sisinya walau hanya sementara waktu dan sebagai teman saja sudah harus dia syukuri.
***
Alarm di atas mejanya terus saja berdering. Hanna menggeliat, dan dengan kesal menendang selimutnya. "Aaaaarrrrghhh!"
__ADS_1
Hingga pagi, rasa kesal dan amarah Hanna belum juga reda. Dia ingin sekali menghilang lagi dari dunia ini, tapi alih-alih bangun pagi dan kembali ke Holy Ville, Hanna masih berada di tempat tidurnya.
Dengan malas, Hanna menurunkan kakinya, mencari sendal dan melangkah menuju cermin. Matanya bengkak dengan sempurna hasil dari menangis semalam.
"Hufffh, seandainya aku bisa gak masuk kerja hari ini!" gumamnya mengikat rambut. Saat hari kesal, kegiatan apa pun yang bertujuan mempercantik diri, pasti tidak akan menarik hati untuk dilakukan. Hanna memilih untuk tidak mencuci rambutnya hari ini. Mandi dengan waktu yang singkat, lalu bersiap berangkat ke kantor.
Tangan kanan sudah siap membuka pintu, tapi tiba-tiba saja dia ingat tetangga sampingnya. "Kalau dia muncul tiba-tiba di depan rumah, gimana?"
Hanna diam untuk sesaat. Memikirkan apa yang harus dia lakukan. Tapi setelah menimbang, tidak seharusnya dia takut untuk bertemu Davlin, justru harusnya pria itu yang takut bertemu dengannya.
Apa yang dilakukan pria itu kemarin malam adalah tindakan kekerasan, dia bisa melaporkannya ke pihak berwajib.
Seketika Hanna membayangkan Davlin masuk bui. Seperti yang ada di film yang dia pernah tonton, anak baru di dalam penjara pasti dapat perlakuan buruk dari senior dalam sel.
"Jangan, ah. Nanti dia babak belur lagi. Eh, tinggu dulu, kenapa aku peduli? ah, Hanna bego!" pekiknya bicara sendiri.
Bahkan sampai di kantor, pria itu tidak mencarinya. Bukan, Hanna bukannya berharap, tapi kalau memang ingin menemuinya juga tidak mengapa. Eh, tunggu dulu, itu bukannya sama dengan mengharapkan Davlin mendatanginya?
Hanna bahkan sengaja berlama-lama membersihkan lantai ruangan Davlin, hingga Sari ingin melahapnya hidup-hidup karena bolak-balik melakukan hal yang sama.
"Lo bisa pindah gak bersihinnya? udah tiga kali Lo pel itu lantai!" hardik Sari dengan wajah judesnya.
"Hah? masa iya? oke deh, Mbak," sahut Hanna mengangkat ember nya dan pergi dari sana.
"Lo udah mau berhenti, semangat amat kerja nya. Dari tadi gue lihat, semua lantai lo bersihin," sapa Tari yang duduk di dekat Hanna yang tengah menyeruput teh nya yang sudah tinggal setengah.
"Bait lo gak repot lagi. Kenapa, ya, saat gue udah mau berhenti, malah jadi sedih dan pengen tetap ada di sini. Kemarin aja kurang cepat waktu berlalu, biar kontrak gue kelar," ucap Hanna menghela nafas. Satu tangannya dijadikan penyanggah dagunya di atas meja. "Oh, iya. Gue kok gak lihat Mbah Iris? biasanya jam segini dia udah dua kali malah nyariin gue."
__ADS_1
"Lo gak dapat kabar kalau dia masuk rumah saki," sahut Tari cuek. Satu potong kue bolu rasa moka sudah masuk dalam mulutnya.
"Serius? sakit apa?" tanya Hanna. Dia jadi ingat potongan kejadian saat bersama Davlin tadi malam. Saat Davlin memeluknya, pria itu menadapat telepon dan memintanya untuk pergi ke rumah sakit.
Paham lah kini gadis itu alasan Davlin tidak mengejarnya walau dia sudah memukul Hanna. "Nyatanya aku tidak lebih berharga dari siapa pun," cicitnya sembari menatap kosong ke depan.
"Lo ngomong apa?"
"Oh, gak ada, Tar. Jadi si bos di rumah sakit?" tanya Hanna ingin mengetahui keberadaan Davlin tapi tidak sudi menyebut nama pria itu.
"Ada , tuh di ruangannya. Tadi jam sebelas baru sampai di sini. Tahu dari mana. Tapi wajahnya tampak kusut dan matanya kayak kurang tidur," terang Tari.
***
Pukul empat sore, sebelum semua karyawan bubar, Yuyun selaku kepala OB menyerahkan kenang-kenangan untuk Hanna yang dikumpulkan dari uang karyawan OB di gedung itu. "Semoga kau suka, ya," ucap Yuyun menyerahkan bingkisan itu.
"Makasih banyak, Mbak, semuanya," ucap Hanna terharu. Menyalami satu persatu teman sejawatnya di pantry.
Hanna pun berinisiatif mencari Aril dan karyawan yang dia kenal. "Kau baik-baik kuliah, ya. Aku pasti akan kehilangan mu di sini," ucap Aril mengusap kepala Hanna. Gadis itu pun berjalan menyelami satu persatu karyawan yang dia temui.
Di ujung sana, Davlin dan Haris yang baru keluar dari ruangannya dan berjalan untuk turun, bertemu pandang dengan Hanna.
Sempat terpikir untuk putar balik, namun Hanna merasa itu kurang pantas, lagi pula bagaimana pun masalahnya dengan Davlin, di perusahaan ini pria itu adalah bosnya, dan wajib dia hormati.
"Pak, saya pamit undur diri," ucap Hanna menyalami Haris lebih dulu.
"Oh, iya, ya. Ini hari terakhir kau bekerja di sini. Gak terasa udah empat bulan. Terima kasih karena sudah bergabung dengan HolyWings," ucap Haris menerima uluran tangan Hanna.
__ADS_1
"Saya pamit pak." Hanna mengulurkan tangannya ke hadapan Davlin. Mata pria menatapnya lurus, tanpa ekspresi yang dapat Hanna jelaskan. Hanya menatapnya tanpa mau menerima uluran tangannya.