My Crazy Lady

My Crazy Lady
Bab 117 ( MCL)


__ADS_3

Cahaya itu menuntun ke sana, ke tempat semestinya, tempatnya berada, menyelesaikan yang tertunda, atau mungkin memang perjalanan sesaat itu tidak pernah terjadi dan dia sudah terjebak selamanya di dunia yang menjadi rumahnya?


"Hei, bangun." Sentuhan di pipi dan juga bisikan lembut itu berhasil membawa kembali jiwanya yang telah lama berkelana.


Perlahan Hanna membuka matanya. Cahaya temaram dalam kamar itu, menyusahkan nya untuk melihat dengan jelas sekeliling. Namun, hembusan nafas di lehernya menyadarkannya bahwa pria yang ada di dekatnya itu begitu familiar dengannya.


Davlin? Dimana dia? apakah pria ini Davlin? Harusnya iya, karena tadi pria itu sudah meninggalkannya. Mungkin dia menyesal dan kembali ke rumah.


"Hei, Putri tidur, ayo, bangun," ulang pria itu. Suaranya sama dengan Davlin, tapi kali ini lebih berat namun, masih terkesan penuh kelembutan.


Hanna berusaha melebarkan matanya, membuka dengan sempurna untuk memastikan kebingungannya.


"Alex..!" Suara parau Hanna berbanding lurus dengan bola matanya yang membulat. Dia yakin itu Alex, tapi bisa juga itu Davlin.


"Akhirnya kau bangun juga. Aku pikir kau berencana untuk mempermalukan ku," ucap pria itu menatapnya intens.


Benar, itu adalah Alex. Bukan Davlin. Kenapa dia bisa kembali ke novel lagi? Hanna mengurut pelipisnya yang terasa sakit. Potongan ingatan yang sudah dia lalui kembali terekam. Dia ingat, saat pertama kali masuk ke dalam dunia novel ini, saat itu dia begitu frustrasi, dicampakkan dan dipermalukan oleh Nico dan juga Lusi beserta geng mereka. Kini pun sama, dia juga kembali masuk ke dalam dunia novel ini setelah rasa sakit dan kecewa yang sangat besar dia rasakan karena ucapan Davlin padanya yang tidak mempercayai ucapannya.


Apakah cara masuk dalam dunia novel ini ketika perasaan tersakiti dan merasa tidak punya tempat di dunia nyata? Entah lah, yang pasti, Hanna merasa gembira bisa bertemu dengan Alex, pria yang dia cintai. Tapi bagaimana mungkin satu hati bisa mencintai dua orang?


Susah payah Hanna bangkit, ingin duduk agar lebih leluasa memandang wajah tampan Alex. Wajah yang begitu dia rindukan hingga bertemu Davlin. Mereka memang mirip, tapi banyak perbedaan diantara keduanya.


Lagi-lagi Hanna bertanya, apa tujuan takdir membawanya kemari lagi, atau sebenarnya dia memang tidak pernah kembali ke dunia nyata sebelumnya? apa ini semua mimpi?

__ADS_1


"Aku kembali?" desisnya mengamati sekeliling. Dia bahkan masih memakai pakaian pernikahannya.


"Kembali? Oh, ya, mungkin yang kau maksud kembali dari tidur panjang mu. Satu harian kau tertidur, bahkan kita sudah melewatkan malam pertama kita," ucap Alex menyentuh ujung hidung Hanna.


Jadi, dia memang tidak pernah kembali ke dunia nyata? lalu Davlin? apakah dia juga sosok yang hanya ada dalam mimpinya?


Hanna semakin bingung akan semua ini. Sekuat apa pun dia berpikir dan coba menganalisa semua ini, tetap tidak menemukan jawaban.


"Kau bersiap lah, Kita akan mengadakan perayaan, pesta yang sebenarnya untuk merayakan pernikahan kita, bersama Raja," ucap Alex mencium kening Hanna, lalu keluar dari kamar mereka.


Hanna tidak langsung bergerak, dia masih bingung. Kepalanya juga pening, dan tubuhnya terasa lemas, seolah semua energi yang dia punya tersedot karena sudah menjelajahi ruang waktu yang panjang.


Beberapa pelayan masuk, dan pada barisan belakang, terlihat Catherine yang tersenyum lebar padanya. "Alex memberitahu kalau kau sudah bangun. Bersiaplah kak, kau sudah menguji kesabaran seorang Duke!"


"Ada apa ini? Tidak biasanya kau memanggilku, Cathy? biasanya kau memanggilku dengan sebutan seperti itu kalau kau sedang marah padaku," ucap Catherine mencoba melerai pelukan mereka. Hanna masih enggan untuk melepas pelukannya, dia rindu Cathy, dia ingin bertemu orang tuanya.


"Kakak, ayolah. Jangan beginian Raja dan rombongannya sudah tiba. Kau tahu, Mama begitu gembira hingga pingsan, karena begitu bangga bisa bertemu dengan King Jhon, di pesta pernikahan mu," ujar Catherine, dan kali ini berhasil melepas pelukan mereka.


***


Selama berjam-jam, waktu seakan tidak bergerak, kemudian tepat setengah hari, waktu seakan terbang, melesat dalam kecepatan tinggi. Orang-orang keluar-masuk kamar Hanna, sementara Ema duduk di tempat tidur mengamati Mery menyisir rambut tebal Hanna hingga mengilap.


Julia masuk ke kamar dalam balutan gaun indah, dan menyusul di belakang ada Miranda, salah satu teman sekolah mereka. "Halo," sapa Hanna dengan suara lirih dan gembira. Dia akhirnya bisa bertemu lagi dengan sahabat baiknya Julia.

__ADS_1


"Gugup, atau sedang tidak ingin mengobrol?" goda Julia riang.


"Tidak dua-duanya. Hanya bahagia."


"Apakah kau sama sekali tidak gugup?" tanya Miranda yang kini sangat mengagumi Hanna. Berbeda saat mereka masih sekolah dulu, seraya mengedipkan mata penuh arti ke arah Julia dan Ema. "Ku harap Bisa Grace tidak berubah pikiran."


"Tidak, tidak berubah pikiran," Hanna menegaskan dengan sangat tenang. Dia sudah memutuskan, akan mengambil takdir dan kisah ini saja. Jika memang takdir membawanya kembali ke sini, dia akan memilih untuk mempertahankan cintanya dengan Alex.


"Well,!" Margaret tertawa saat memasuki kamar tidur. "Bisa kulihat segalanya tidak terlalu berbeda di sini dari pada di Upper Brook Street siang tadi. Stephen, sepupu Alex hampir membuatnya gila."


"Apakah Alex gugup?" tanya Hanna tidak percaya.


"Tidak bisa dibayangkan!" jawab Her Grace, tersenyum dan duduk di samping Ema di ranjang.


"Kenapa?" tanya Hanna cemas. Dia takut, apa yang tadi dikatakan Miranda menjadi kenyataan, Alex berubah pikiran!


"Kenapa? Paling tidak ada beberapa alasan, dan semuanya secara langsung atau tidak langsung berhubungan dengan Stephen. Pada pukul sepuluh pagi tadi, Stephen yang memang sudah seperti adik kandung Alex,, memberitahu Alex, bahwa saat dia melewati tempat ini, barang-barang sedang dinaikkan ke dalam dua kereta dan dia sangat yakin melihatmu ke salah satu kereta. Alex siap berlari menuruni tangga untuk mengejarmu sebelum Stephen bahwa dia hanya bercanda."


Hanna menahan tawa. Pantas saja pria itu tampak begitu tegang saat membangunkannya tadi. Sang duchess melanjutkan, "Kau mungkin menganggap itu lucu, sayangku, tapi Alex tidak. Setelah itu, Stephen dengan sangat menyakinkan melaporkan bahwa dia mengetahui rencana para pendamping pria untuk menculik Alex dan menunda kedatangan Alex saat upacara pengukuhan di depan King Jhon. Itu lah sebabnya, 12 pendamping pria kini berdiri diam di bawah pengawasan Alex di rumah. Dan itu baru awalnya!"


"Alex yang malang."


"Stephen yang malang," koreksi sang duchess datar. "Aku datang ke sini karena tidak tahan melihat putra sulung ku membunuh putra angkat ku, dan itulah yang akan dilakukan Alex, dengan sungguh-sungguh, kalau boleh ku tambahkan, jika Stephen berani mendekati Alex lagi."

__ADS_1


Dukung novel aku terus ya♥️🙏


__ADS_2