My Crazy Lady

My Crazy Lady
Bab 116 (MCL)


__ADS_3

"Kau bicara apa? Hubungan apa? Aku dan Kai hanya sekedar sahabat. Jangan aneh-aneh," ucap Hanna membela diri. Warna merah di wajah Davlin menunjukkan amarahnya masih menyala.


"Oh, iya? Begitu? lalu apa maksud isi pesannya itu padamu? Hah? apa itu caranya bisa seorang teman?" Suara Davlin menggelegar membuat wajah Hanna memucat. Dia melihat amarah yang belum pernah dia saksikan sebelumya.


Dia ingat, dasar pria itu mengatakan hal itu. Buru-buru Hanna mengambil ponselnya, membaca pesan yang baru masuk dari Kai yang tampak sudah dibaca suaminya. Jelaslah kini alasan suaminya.


Hanna mengutuk dalam hati pesan yang Kai kirimkan. Dia tahu kalau ini baru pernikahannya, dan pria itu masih saja mengirimkan pesan seperti ini.


Entah apa yang ada dalam pikiran Kai, hingga mengirim pesan provokatif seperti itu. Hanna sadar Kai bukan orang jahat, dia juga tidak bermaksud untuk menghancurkan pernikahan mereka. Kalau dipikir, ini salah Hanna juga. Harusnya dia tidak bercerita mengenai keberatannya menikah buru-buru seperti ini. Kai yang memang menyimpan rasa pada Hanna malah semakin merasa masih punya peluang dan akhirnya ingin menawarkan bantuan pada Hanna agar terlepas dari pernikahan ini.


Aku harus menjelaskan semuanya, ini tidak seperti yang Davlin pikirkan. Bila perlu, aku bersedia mempertemukan mereka berdua!


"Itu tidak berarti apa pun. Aku bersumpah, hanya mencintaimu. Percaya padaku, aku mohon jangan permalukan aku seperti ini!" Hanna menghapus air matanya yang menetes begitu saja.


Davlin membuang muka, dia tidak akan kuat melihat air mata Hanna.


Adu pandang mereka yang sangat tajam terpatahkan dengan Davlin yang berlalu, masuk ke kamar mandi dan menyiram kepalanya dengan air dingin. Dia perlu waktu menenangkan amarahnya dan juga memikirkan segala yang terjadi.


Hati Davlin tetap tidak tenang, dia keluar dari kamar mandi, berganti pakaian di walk in closet nya, lalu kembali keluar. Hanna dengan segala kehancuran hatinya menghadang di depan pintu kamar.


Benar dugaannya, pria itu sudah bersiap untuk keluar dari sana. "Kau mau kemana?"

__ADS_1


"Menyingkir dari sana, Han!"


"Aku tidak mau! Ini malam pernikahan kita, harusnya cinta dan kasih sayang yang aku terima, bukan perlakuan seperti ini!" pekik Hanna tidak peduli.


Langit di luar sana sudah mulai bergemuruh. Seorang bisa merasakan kemarahan Hanna. Ini tidak adil baginya! Apa yang dipikirkan Davlin bukan salahnya. Bukankah kalau pria itu memelihara curiga akan menghancurkan hubungan mereka?


"Jadi kau mau aku perlakuan seperti apa? bukan kah kau memang menyesali pernikahan ini? aku yang memaksamu kan untuk menikah? sekarang aku baru sadar, kenapa kau tidak ingin segera menikah dengan ku, karena ada tangan pria lain yang ditawarkan padamu!" Amarah Davlin kembali tersulut. Dia tidak bisa menerima kenyataan pahit seperti yang dia pikirkan.


"Apa maksud mu? aku sudah bilang aku tidak punya hubungan dengan Kai," ucap Hanna memohon pengertian Davlin.


"Kau pikir akan percaya? Kau bahkan menerima pesan sebelum kita menikah, ajakan untukmu meninggalkan ku. Kau jahat Hanna, seharusnya memang pernikahan ini tidak harus terjadi! Aku akan segera mengurus pembatalan pernikahan ini!"


Davlin sudah pergi, melewati tubuh hanna yang menahannya. Pekikan dan tangis Hanna bahkan tidak bisa menghentikannya. Hanna terduduk di lantai. Lemas. Hatinya sakit seperti diremas hingga membuatnya sesak.


Semua terlambat, Hanna sudah tidak bisa mengejarnya. Kini wanita itu berdiri di tengah jalan memandang ke depan, walau mobil itu sudah pergi membawa cinta sekaligus meninggalkan sakit di hatinya. Bulir hujan yang turun menyamarkan tangisnya yang kini menganak sungai.


Dipandanginya jalan sekitar, gelap dan dingin. Lalu memandang rumah Davlin yang menyisakan kegetiran. Dia tidak mungkin kembali ke sana lagi, terlebih setelah Davlin mengatakan niatnya untuk membatalkan pernikahan mereka yang belum ada satu hari.


Setapak demi setapak, Hanna berjalan ke arah rumahnya. "Mama, aku dipulangkan suamiku, bahkan belum genap sehari menjadi istri... Mama, apakah aku masih boleh tinggal di rumahmu? Bolehkah aku menjadi putrimu lagi?" desis nya meratap sedih. Dipeluknya tubuhnya sendiri.


Kini dia berdiri di tengah ruangan. Memandang foto keluarga di dinding. Mereka berempat begitu bahagia. Ingatan Hanna kembali pada acara pesta tadi. Kedua orangtuanya begitu gembira, bahagia dan. merasa terhormat memiliki menantu seperti Davlin.

__ADS_1


Lantas, apa yang akan mereka pikirkan kalau sampai tahu, rasa bangga itu hanya akan bertahan satu hari saja? rasa bangga itu akan berganti dengan rasa malu, dan menjadi aib keluarga karena putri mereka akan dipulangkan dengan tidak hormat?


Pernikahan sehari yang akan membawa jejak hitam pada masa depan Hanna nantinya. Dialihkannya pandangannya pada frame yang berderet di atas nakas. Diambilnya satu. Gambar dirinya dan Stuart. "Papa, aku sangat menyayangimu. Aku bersumpah ingin membuatmu bangga." Hanna meletakkan kembali dan menghapus kembali air matanya.


Suasana sepi di rumah dan dawai suara hujan di luar sana menjadi musik mengiringi kegelisahan hatinya. Kembali satu bingkai foto diambilnya. "Cathy, jaga papa dan mama, ya. Aku menyayangimu." Hanna tidak bisa membendung air matanya lagi, terisak bahkan menjerit yang diredam suara hujan.


Basah tubuhnya tidak mampu mendinginkan kobar api di dalam hatinya. Berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Hanna menggigit bibirnya hingga berdarah, mencoba mengingat rasa sakit ini.


Tangan gemetarnya berhasil membuka pintu kamarnya. Dia memandangi tempat tidurnya, tempat yang mungkin akan menjadi pemakamannya jika dibolehkan.


Matanya menangkap cairan yang ada di ujung kamar. Cairan pembersih lantai kamar mandi yang diletakkan Ema dua hari lalu. "Apakah rasanya akan sakit?" gumamnya lemah. Kepalanya mulai sakit, menyentak hingga Hanna meremas rambutnya sekuat tenaga.


Dia tidak ingin melakukan hal itu, tapi apa gunanya dia tetap ada di keluarga ini? hanya akan membuat orang tuanya malu. Sejak awal kehadirannya memang sudah tidak diharapkan. Dia gadis menyedihkan yang tidak mendapat cinta yang tulus dalam hidupnya. Pandangannya sudah buram. Hidungnya juga sudah tersumbat dengan cairan sejak dia menangis tadi. Kepalanya kembali sakit, hampir seperti pecah rasanya.


Perhatiannya ditarik oleh benda yang ada diatas meja belajarnya, yang kemarin malam sempat dia keluarkan saat mengosongkan isi lemari, guna membawa barang-barangnya ke rumah Davlin.


Barang-barangnya bahkan kini masih ada di sana. Menumpuk di dalam dua koper besar, yang rencananya akan dia angkut besok atau lusa sepulang dari hotel. Dia ingat kalau Davlin menginginkan mereka segera bertolak ke Essex, Inggris, tempat nenek moyangnya yang memiliki Puri indah, di sana lah mereka akan berbulan madu. Kini, semua hilang!


Setengah hati diraihnya benda itu, menghapus sampulnya dan membuka benda itu di bagian akhir. Air matanya menetes di lemar kertas yang menguning itu.


Kepala Hanna berputar seiring tubuhnya roboh ke atas tempat tidur. Biarlah takdir membawanya entah kemana. Dia akan ikut, dia akan ikhlas...

__ADS_1


**Dukung novel aku terus ya🙏😘😘


__ADS_2