
Semalaman, Davlin tidak bisa tidur. Omongan Jimmy tadi sukses membuatnya gelisah setengah mati. Teringat kejadian 15 tahun lalu.
Saat itu hari Thanksgiving, semua keluarga berkumpul di ussex, salah satu rumah di peternakan kuda milik nenek mereka. Jimmy ada di sana, pria itu yang entah bagaimana bisa menggoda gadis yang baru dia pacari dua hari. Keduanya tertangkap matanya sedang berciuman di istal kuda!
"Awas aja kalau dia sampai mendekati Hanna!" geramnya meninju bantal yang ada di dekatnya.
Davlin bukan tidak percaya diri akan kemampuannya, atau pun meragukan Hanna, hanya saja keadaan mereka yang saat ini sedang bertengkar membuatnya takut kalau ada orang ketiga yang mencoba untuk masuk ke dalam hubungan mereka.
Pria itu juga sengaja membiarkan Hanna tenang dulu, makanya dia menjaga jarak dan tidak mencari gadis itu, yang tidak Hanna tahu adalah Davlin menugaskan seseorang dari jauh untuk menjaga Hanna. Dia tidak mau sesuatu hal buruk terjadi pada gadis itu.
Dia juga bukan kembali bersama Iris seperti yang dipikirkan Hanna. Davlin tengah sibuk mengurus perusahaannya yang lain. Seseorang sudah menjadi mata-mata dan menjual rencana produksi mereka ke perusahaan lawan hingga ide produk mereka yang harusnya akan dilaunching bulan depan, dibatalkan.
***
"Dih, sibuk amat. Dari tadi gue lihat terus aja bergelut depan laptop. Gue dianggurin," ucap Ara menopang dagu menunggu Hanna melengkapi datanya.
Kemarin Hanna membaca di Mading jurusannya. Jurusan akan memberikan bea siswa untuk mahasiswa yang bisa membenahi syarat. Banyak jenis beasiswa yang ada di kampusnya, tapi entah mengapa hanya ini yang menarik perhatiannya dan terlebih lagi, syarat yang diajukan sangat gampang. Hanna tahu pasti banyak mahasiswa yang akan mengajukan, tapi dia juga tidak ingin putus asa, mencoba walau belum tentu mendapat.
"Nah, udah!" seru Hanna memutar pinggangnya ke kiri dan ke kanan. Terdengar bunyi tulang-tulang nya yang tadi sempat tegang.
"Jadi kita udah bisa let's go ke kantin?" susul Ara.
"Iya, Bawel. Lo memang gak tertarik mengajukan beasiswa itu?"
"Malas. Gue gak suka ribet ngasih pandangan mengenai kreativitas gen-z saat ini," timpal Ara.
Tidak pernah sedikitpun Hanna akan menyangka kalau Nico akan mendatanginya lagi. Sepertinya pria itu tidak ada lelahnya walau sudah beberapa kali Hanna menolak ajakannya untuk pulang sama atau sekedar pergi nonton.
"Hai, udah pesan?" tanya Nico dengan senyum yang tidak ada menariknya lagi bagi Hanna. Pria itu dengan percaya diri penuh, duduk di hadapan Hanna.
"Udah, kok, Nic," sahut Hanna malas. Selera makannya mendadak hilang karena kedatangan Nico di hadapannya. Padahal dia sudah lapar, pagi tadi juga tidak sempat sarapan.
__ADS_1
"Han, nanti bisa dong kita nonton?"
"Hah? Oh, sorry Nic. Aku gak bisa." Hanna bingung kali ini harus cari alasan apa lagi, tidak mungkin beralasan pergi dengan Ara atau menemani ibunya belanja.
"Aku..."
"Pokonya aku gak mau tahu. Kali ini kamu harus temani aku nonton. Mau ya, Please," ucap Nico mohon. Tatapannya mendesak Hanna, mengunci geraknya bahkan untuk mencari alasan untuk mengatakan tidak.
"Oke deh. Tapi kita hanya nonton, ya? Ra, lo ikut kita, kan?" Hanna menatap Ara. Berharap penuh pada gadis itu untuk tidak membiarkannya pergi hanya berdua dengan Nico.
"Sorry, Han. Gue udah terlanjur janji sama nyokap," jawab Ara berkata jujur. Pagi sebelum berangkat, mama nya sudah meminta Ara menemani ke rumah saudara, dan mereka akan menginap di sana. Terlebih karena besok sudah mulai weekend. Jadi ini bukan alasan Ara saja walau dia memang tidak sudi pergi dengan Nico.
"Kita berdua aja, Han. Kamu takut aku culik?" tanya Nico tersenyum simpul. Lagi-lagi Hanna tidak tertarik dengan pesona pria itu.
"Ok deh. Mata kuliah ku selesai jam empat, gak papa, kan?"
"Yes! Jam berapa aja akan aku tunggu kok," sambar nya penuh semangat. Akhirnya keinginannya untuk jalan dengan Hanna terkabul.
Dia sudah bisa membayangkan nanti, pamornya sebagai Don Juan kampus pasti akan naik lagi, karena sudah berhasil berkencan dengan wanita paling diminati.
***
"Oke, pelajaran kita sampai di sini. Jangan lupa kerjakan tugas yang saya berikan tadi, kirim ke email saya. Selamat siang," ucap sang dosen keluar dari ruang kelas.
Masih ada satu lagi mata kuliah hari ini sebelum perkuliahan hari ini berakhir. Hanna dan Ara terlibat perbincangan seru saat tiba-tiba Lusi mendatangi mejanya.
"Jadi songong lo, ya. Sementang pamor lo lagi naik, lo bertingkah gue lihat!" hardik Lusi melipat tangan di dada. Kemejanya yang super ketat sedikit tertarik ke atas hingga pusarnya terlihat.
"Kenapa sih, Lus? kali ini salah gue apa lagi?" tanya Hanna menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
"Gak usah berlagak bloon deh, Lo! apa lo pikir gue gak tahu kalau lo menggoda Nico? jangan lo kira karena gue sama dia lagi break, lo bisa masuk. Lupakan mimpi lo buat merebut dia dari gue!"
__ADS_1
"Asal lo tahu, gue gak tertarik sama dia."
"Gak usah bohong lo. Gue tahu lo nanti nonton, kan sama dia?"
"Benar. Dia ngajak gue. Gue udah nolak, tapi dia maksa," ujar Hanna mencoba menjelaskan. Perdebatan itu kini sudah didengar hampir semua orang dalam kelas. Hanna merasa malu, Tatapan teman-temannya seolah menganggapnya memang merebut Nico.
"Alah, sok cantik, Lo! Bilang aja lo memang ngebet pergi sama dia! gatal lo! Lusi menggebrak meja, hingga semua orang dalam kelas itu mendekat, mereka mengantisipasi kalau kedua gadis itu akan saling serang.
"Gini aja, deh. Kalau bisa gue mau minta tolong sama lo, bantu gue batalin ajakan Nico. Gue juga gak minat!"
Perdebatan itu harus berakhir. Dosen yang dinanti akhirnya masuk juga. Mau tidak mau, Lusi harus kembali ke bangkunya.
***
Hanna buru-buru berjalan ke bawah. Sejak tadi Nico sudah berulangkali menghubungi nya dan memberitahu kalau dia sudah menunggu di depan gerbang pintu masuk utama di dekat fakultas mereka.
Gadis itu turun sendiri, karena Ara sudah pulang lebih dulu dijemput ibunya. Hanna sudah memutuskan, dia akan membatalkan rencana pergi dengan Nico. Dia tidak ingin mendapatkan masalah dari Lusi. Dia hanya ingin menyelesaikan kuliahnya dengan tenang.
"Hanna, akhirnya kau datang," sambut Nico. Pria itu sudah duduk di atas motor mahalnya. Hanna menatap sekeliling pria itu, dia tidak sendiri, ada tiga orang pria yang dia kenal sebagai teman Nico, salah satunya adalah Edo.
Ternyata, Nico memang mengundang ketiga temannya untuk menjadi saksi kalau hari ini, dia dan Hanna akan pergi berkencan.
"Han.." Nico turun dari motornya menyongsong kedatangan Hanna dengan senyum.
Sebelum buka mulut, entah sejak kapan datangnya, Lusi sudah ada di sana. Mereka seperti sedang rapat meja bundar di depan gerbang pintu utama. Sorot mata Lusi menyiratkan kebencian. Kalau ada air raksa, mungkin gadis itu sudah menyiramkannya pada wajah Hanna.
"Nico, sorry, gue..."
"Hanna.." panggil suara dari belakangnya. Suara yang sangat dia kenal. Hanna memutar tubuh, dan seketika tubuhnya bergetar dan tanpa sadar berbisik lemah.
"Davlin..."
__ADS_1