
Bab 5
Benar saja, Juna segera menarik tangan Elin masuk ke dalam kamarnya. Tanpa berkata apa pun lagi, Juna menyandarkan tubuh Elin ke tembok, dengan kasar mulai menciumi leher Elin, menggigit telinganya sedangkan tangan kekar pria itu sudah mulai meraba, mer* mas salah satu pay*dara Elin gemas.
Elin hanya mampu menggigit bibirnya. Menahan gejolak yang di timbulkan dari perbuatan Juna. Puas dengan aksinya, pria itu mundur, lalu membuka celananya, mempertontonkan miliknya yang sudah mengacung.
Dengan kasar, Juna menarik tangan Elin untuk menyentuh miliknya. Dan lagi-lagi gadis itu menurut pasrah.
Gadis bermata indah itu mengambil tempatnya, berlutut di hadapan Juna, mulai mengurut milik pria itu maju mundur sementara Juna menutup mata menikmati sentuhan tangan Elin.
Hal itu sudah sering terjadi satu tahun terakhir ini, setelah Juna mulai mengonsumsi benda haram itu.
Pria itu hanya meminta Elin membantunya mengeluarkan cairan kentalnya dengan tangan gadis itu. Elin sendiri bingung, kenapa Juna tidak melakukannya saja dengan Elin, lagi pula, gadis itu pasti tidak akan keberatan.
Setiap permintaan Juna selalu dilakukannya dengan senang hati, bukti cintanya pada pria itu. Namun, walau sejauh itu pun kontak fisik mereka, Juna tidak pernah mencium bibir Elin, apalagi sampai menidurinya.
“Aaaaachhh...,” Lolongan panjang keluar dari Juna. Cairan itu keluar, penuh di tangan Elin. Setelah itu pria itu pasti akan roboh ke atas kasur. Tinggallah Elin yang membersihkan tubuh Juna dan juga tangannya.
Penuh kasih sayang Elin menyelimuti tubuh kekar Juna. Di tatapnya wajah pria yang sangat dia cintai itu. Elin ingin sekali menyerahkan dirinya seutuhnya pada Juna, namun pria itu masih tetap saja tidak mengerti keinginan Elin.
Saat menyentuh tubuhnya tadi, Juna sudah menyalakan api gairah dalam tubuh Elin, namun pria itu selalu egois, tidak peduli kalau Elin juga ingin merasakan hal itu.
“Tidur lah, Lin,” ucap Juna parau, tahu kalau saat ini gadis itu tengah menatapnya.
“Kenapa kau tidak menginginkan ku? Aku bersedia memberikannya padamu,” jawabnya membelai rahang tegas Juna.
“Tidurlah, Lin. Aku ngantuk!” Juna berbalik, memunggungi Elin. Pria itu masih mendengar ******* nafas berat gadis itu sebelum terdengar suara daun pintu yang di tutup.
Apa aku begitu tidak menarik untuk mu, Jun? Tahukah kau, kalau aku sangat mencintaimu?
Elin menatap wajahnya di cermin. Dia tidak kalah cantik dibandingkan wanita yang dikencani Juna. Beberapa kali saat mabuk, pria itu membawa wanitanya ke kontrakan mereka. Dari kamarnya, Elin akan mendengar suara rintihan dan juga ******* insan yang sedang memadu cinta. Tanpa sadar, dua bulir bening jatuh di pipinya.
__ADS_1
Juna, aku sangat mencintaimu. Tidak pantaskah aku mendapatkan hatimu?
***
Hari ini tepat ulang tahun Elin ke-17. Gadis cantik itu sudah izin pulang lebih awal dari warung. Dia ingin mengajak Juna untuk makan malam bersamanya di luar. Ya, walau sekedar makan mi goreng atau pun bakso.
Elin sudah memilih gaunnya yang paling bagus dari semua isi raknya. Gaun itu dia beli seharga 50 ribu di pasar, tempat orang menjual pakaian bekas yang berasal dari luar negeri.
Sekali lagi, gadis itu memperhatikan riasan tipisnya, bibirnya sudah berwarna pink lembut, setelah diolesnya dengan lipstik. Rambut panjang indahnya juga dibiarkan tergerai. Kata Juan, walau rambut Elin bukan lurus seperti kebanyakan wanita di luar sana, justru ikalnya itu yang membuat Elin tampak cantik.
Sejam berlalu, namun yang di tunggu tidak kunjung tiba. Diliriknya jam karakter yang ada di meja kayu di sudut ruangan, pukul sembilan malam. Perutnya juga sudah keroncongan.
Lelah menunggu, Elin tertidur di kursi plastik tempatnya sejak tadi duduk. “Elin, bangun. Kenapa kau tertidur di sini?” suara Juna membuka mata Elin. Kesadarannya kembali. Penuh semangat, Elin menatap penuh senyum.
“Aku menunggumu. Kau sudah makan? Kita makan di luar, yuk” Elin sudah duduk tegak, penuh pengharapan.
“Cari makan apa jam segini? Apa kau belum makan?”
“Aku sudah makan. Aku pikir kau belum makan, aku tidak masak,” gumamnya mempertahankan nada suaranya agar tidak bergetar. Namun, dia sadar jika terlalu lama di sana, maka pertahanannya akan runtuh. Dia tidak mau menangis di depan Juna.
“Tunggu, Lin” kalimat Juna menghentikan langkahnya. Elin kembali duduk, meremas jemarinya demi mengurangi rasa sakit di hatinya.
“Mulai besok, berhenti bekerja dari warung.”
“Apa? Tapi kenapa?” akhirnya Elin mendongak menatap wajah Juna.
“Kau akan mendapatkan pekerjaan bagus. Seminggu dari sekarang, yang perlu kau lakukan adalah pergi ke salon, percantik dirimu.” Ucapan itu terdengar dingin dan tanpa perasaan sekali di telinga Elin.
Juna-nya sudah banyak berubah. Namun, kenapa dia masih tetap sangat mencintai pria itu?
“Kerjaan apa?”
__ADS_1
“Kau akan pura-pura jadi wanita lain, menggantikannya menjadi tunangan seorang pria kaya raya”
“Apa kau sudah gila, Jun? Aku tidak mau!” seru Elin. Hantaman batu karang di hatinya sangat menyakitkan. Apa yang dipikirkan pria itu hingga melakukan kejahatan sebesar itu? Apakah dia tidak peduli dengan keselamatan Elin?
Seketika Juna mencengkeram leher Elin. “Kau akan tetap melakukan, suka atau pun tidak!”
“Aku ga mau, Jun. Aku mohon, jangan jual aku pada pria lain,” Elin sudah sujud di kaki Juna, memeluk kaki pria itu, memohon belas kasihnya.
“Lakukan, Lin. Ini juga demi kita”
“Demi kita? Atau demi kau?”
“Dasar, sialan! Kau hanya perlu berpura-pura menjadi Hanna Wijaya, pergi menemui pria kaya itu. Tugasmu hanya membuatnya jatuh cinta padamu, dan setelah itu, kita lah yang akan menguasai semua hartanya, mengendalikan pria lemah itu!”
“Apa kau tidak pernah berpikir, bagaimana kalau dia sampai tahu? Bagaimana kalau dia menyakitiku? Atau bahkan membunuhku?” Elin menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak percaya atas pemikiran Juna. Entah dari mana pria itu mendapat ide gila itu!
“Kau tenang saja, aku akan selalu berada di dekatmu, mengawasi setiap yang kalian lakukan. Besok kita akan pindah dari sini, mendekat ke sarang target!” satu senyum menyeringai muncul di bibirnya.
“Bagaimana kalau dia tidak suka padaku?”
“Itu lah yang menjadi tugasmu. Lakukan apa pun agar dia mau menerimamu. Ini satu-satunya kesempatan bagi kita, kalau sampai kau gagal, maka justru aku yang akan menghukum mu!”
“Aku ga mau, Jun. Aku mohon jangan paksa aku!”
“Lakukan, atau kau lebih memilih melayani tuan Ferol, kau tahu, dia menawar mu dengan harga fantastis,” ucap Juna tanpa perasaan. Uang dan ambisi sudah membutakan hati nuraninya, itu pun kalau memang sejak dulu dia memilikinya!
Elin bangkit, berdiri tegar di hadapan pria itu dengan wajah penuh uraian air mata. “Aku mencintaimu, Juna. Aku tidak ingin bersama pria lain”
Ah, akhirnya isi hatinya sudah diungkapkannya. Dia tidak peduli apa tanggapan pria itu nantinya. Dia ingin pria itu tahu, bahwa hati dan tubuhnya hanya milik Juna seorang. Jika dia harus menjadi tunangan orang lain, maka Elin akan disentuh, dan dia jijik memikirkannya.
Juna hanya menatap dalam diam. Memandang bola mata indah itu yang saat ini sedang tidak bersinar. Wajah cantik Elin cukup membuatnya bergetar, namun segera di tepisnya pikiran kotornya yang ingin menyeret Elin ke kamarnya.
__ADS_1
“Maka lakukan apa yang aku perintahkan!”