My Crazy Lady

My Crazy Lady
Bab 60 (MCL)


__ADS_3

"Rame amat, ngantri apaan?" tanya Hanna yang baru tiba pada Siska, teman seprofesinya yang juga mengantri paling belakang. Antrian berdesakan diruang personalia tampak menyita perhatiannya. Hari ini tugasnya hanya membersihkan satu lantai, jadi bisa sedikit santai.


"Ngantri daftar yang ikut trip," jawab gadis bertubuh kurus itu pendek. Terlihat dari wajahnya kalau dia juga tidak suka ikut mengantri di sini.


"Kok bisa membludak begini? bukannya kemarin banyak yang gak mau ikut, ya?" tanya Hanna jinjit, ingin melihat lebih ke dalam lagi.


"Memang. Aku juga gak mau ikut, tapi dengar gaji bakal dipotong 70 persen, mendingan aku ikut aja, deh," sahut Siska kesal. Gara-gara perubahan peraturan pagi ini, dia jadi batal pulang kampung. Padahal dia ingin sekali menghadiri pernikahan mantannya.


"70 persen? bukannya lima persen?" tanya Hanna melongo.


"Udah dirubah tadi pagi. 70 persen, plus tidak mendapat bonus tahunan!" serunya semakin kesal. Hanna mundur, tidak ingin membuat Siska lebih marah lagi.


"Dasar brengsek! Ini namanya Tiran! Mana ada orang yang gak mau ikut jalan-jalan, malah diancam!" cicitnya mengepalkan tinju.


"Hei, sedang ikut antri?" tegur Aris sembari mencolek pundak Hanna. Gadis itu memutar tubuhnya, menoleh ke belakang.


"Iya, Pak. Terpaksa. Ide gila siapa sih ini, yang gak ikut malah dipotong gajinya 70 persen? aku sumpahi di wajahnya ada jerawat batunya!"


Tawa Haris seketika menggema kala mendengar kalimat Hanna. Terang saja, dia tahu jelas siapa yang akan menerima sumpah itu.


"Hahahaha..." Hanna justru menyipitkan sebelah mata, menatap aneh pada Haris.


"Bapak kenapa? saya lagi nyumpahi orang loh, ini."


Bukan jadi diam karena telah mendapat hardikan, kini justru tawanya semakin pecah. "Bapak aneh deh!" Hanna mengangguk, lalu pergi dari sana. Dia butuh ruang, butuh udara segar untuk berpikir.


Roof top adalah tempat yang tepat. Di sana dia bisa berpikir langkah yang harus dia ambil. Udah segar di atas sini begitu menenangkan. Duduk sembari menatap dari ketinggian membuat perasaan Hanna lega.


Ting! Satu pesan masuk ke hapenya. Dari grup chat OB di PT HolyWings. Satu persatu isi chat yang masuk itu dia baca. Semua mengumpat kesal karena peraturan yang pagi ini di buat oleh penguasa. Namun, tidak sedikit juga yang senang bisa pergi, pasalnya dari mereka berpendapat ini kesempatan bisa bertemu dengan karyawan pria dari divisi lain. Berharap mendapat jodoh dari perjalanan ini.

__ADS_1


Satu pesan yang menarik perhatian Hanna. Dari seniornya yang mengatakan kalau sebenarnya dalang dibalik kenaikan denda ini adalah Davlin, si big bos arogan. Tari bahkan menambhakan di bawahnya, 'Dasar lord of Dajjal!'


Tentu saja Hanna ikut kesal. Gara-gara Davlin dia tidak bisa menghabiskan waktu bersama keluarganya, parahnya pada hari libur pun, dia harus bertemu pria menyebalkan itu!


Hanna menimbang, menghitung jika dia tidak pergi, berapa lagi sisa gajinya yang akan dia terima. "Gila, tinggal 600 ribu lagi dong gaji ku? dasar Tiran! Jadi pemimpin kenapa jahat banget sih!"


"Ok, aku akan ikut. Mulai sekarang, aku akan mengibarkan Panji perang padamu!" ucap Hanna mengepal tinjunya.


Dia tidak perlu takut dengan apa pun. Kalau pun nanti dia harus ikut pergi, dia akan terus jaga jarak dengan Davlin.


"Sudah ku tebak kau ada disini." Hampir saja Hanna pingsan saking terkejutnya. Gadis itu melayangkan pandangan ke arah pemilik suara.


"Ih, apaan sih, Bang." ucap Hanna kembali menopang tangan ke wajahnya.


"Ngapain di sini? udah daftar belum?" Aril mengambil tempat di samping Hanna. Menolehkan tatapannya ke samping menatap wajah gadis manis itu.


"Justru itu. Aku lagi kesal, sama bos perusahaan ini! Kenapa sih, dia buat peraturan menyusahkan karyawannya. Kan hak orang dong mau ikut apa gak!"


Hampir satu jam berbincang, keduanya pun memilih untuk turun. Tepat di lantai dua, keduanya berpapasan dengan Davlin dan Haris yang tampaknya baru saja selesai makan siang.


Wajah Davlin berubah masam, kala melihat arah datangnya kedua orang itu. Pikirannya pun dikuasai amarah yang coba dia tekan.


"Kalian dari mana? semakin kompak, ya," ucap Haris yang menyipitkan matanya menatap Hanna. Sementara Davlin tegak lurus menatap wajah Hanna, seolah dari tatapannya itu bisa membunuh dirinya.


"Maaf, Pak. Kami dari roof top. Cari angin sekaligus makan siang di sana," sahut Aril pasang badan. Saat mencari Hanna untuk makan siang tadi, pria itu tidak menemukannya, hingga terpikir untuk mencari di atas, dan ketemu.


"Memangnya di sana ada kantin?" susul Haris yang terlihat oon.


"Oh, saya bawa bekal dan kebetulan sekalian untuk Hanna."

__ADS_1


Bola mata Davlin semakin melebar. Giginya sudah terdengar saling gemeretak. "Kau, ikut saya!"


Baik Haris dan Aril mengenal betul arti nada tegas dan dingin itu. Hanna dalam masalah pelik kali ini. Tapi apa? Kalau Aril masih bertanya-tanya kenapa Davlin memanggil Hanna untuk ikut dengannya, Haris justru sangat paham.


"Bang.." bisik Hanna mendekat ke arah Aril. Memohon untuk menyelamatkannya, tapi apa yang mampu Aril perbuat. Lagi pula, mungkin Davlin hanya menegur untuk tidak naik ke roof top lagi. Tapi bukannya seharusnya mereka berdua yang dipanggil?


Davlin melihat sorot ketakutan di mata Hanna, tapi pria itu tampak tidak peduli, berjalan lebih dulu ke dalam ruangannya.


"Gak papa. Aku akan menunggu di dekat pintu ruangan bos."


"Kau sebaiknya ikut aku, Ril. Ada yang ingin. aku bahas dengan mu," sambar Haris.


Hanna menutup pintu mahoni yang ada di belakangnya. Pria itu tampak berdiri membelakanginya, menatap ke arah balkon.


"Pak, bapak ada perlu dengan saya?" tanyanya memberanikan diri, sesaat setelah menarik nafas dua kali dan menelan salivanya.


"Lo tahu alasan gue manggil lo kemari?" Davlin berbalik, melangkah memangkas jarak diantara mereka dengan tangan dilipat di dada. Hanna bahkan sempat menangkap dengan ekor matanya, bisep pria itu yang tidak bisa ditampung oleh kemejanya lagi.


Iseng, Hanna menebak, separah apa keadaannya nanti, jika sampai dipukul oleh pria itu.


"Gak tahu, Pak. Bapak belum kasih tahu, lagi pula saya bukan cenayang, maaf mengecewakan bapak." Kebiasaan Hanna kalau sudah gugup dan ketakutan, justru berbicara banyak, keluar begitu saja.


Bola mata Davlin membulat sempurna, ingin melahap gadis itu sudah berhasil mengacak-acak logikanya sejak pertemuan pertama mereka. Davlin terus berjalan, mendekat, hingga jarak yang begitu dekat mampu membuat Hanna mencium wangi maskulin dari tubuh kekar pria itu.


"Sampai kapan lagi aku harus melihatmu bersama pria itu? apa mau mu sebenarnya?!"


***


Hai, aku datang lagi. Jangan lupa dukung aku, like komen dan kasih gift. Berbagi itu indah 🙏😁 btw, kuy mampir, siapa tahu suka 🙏

__ADS_1



__ADS_2