
Dengan bantuan salah satu resepsionis di klinik itu, yang kebetulan juga terpikat pada Davlin, membantu pria itu untuk memesan ojek online. Ponsel tidak punya, karena pasti tertinggal di mobil, hingga Davlin kesusahan untuk sekedar meminta bantuan Dika untuk datang menjemputnya.
Lupakan tentang kemarahannya pada sahabat sekaligus rekan kerjanya. Nanti saja diurus. Yang terpenting saat ini, dia bisa segera pulang, bertemu dengan Hanna dan menjelaskan semua. Berharap dia masih punya kesempatan. Ya, mudah-mudahan saja.
Satu jam menempuh perjalanan, akhirnya mobil yang membawa Davlin berhenti di depan rumahnya. Awalnya, dia ingin meminta sopir itu berhenti di depan rumah Hanna, namun rumah itu terlihat sepi, jadi dia mutuskan untuk ke rumahnya saja.
Ruang tamu hingga rumah keluarga kosong. Tidak ada tanda-tanda ada manusia di rumahnya. Bergegas dia ke naik ke kamar ibunya, tapi ruangan itu juga tampak kosong.
Davlin keluar, urusan utamanya kembali menyentak kesadarannya. Davlin mengamati rumah Hanna juga tampak sepi. "Kemana semua orang?" gumamnya menendang batu kecil yang ada di ujung sepatunya.
Tok.. tok.. tok..
Kali ketiga mengetuk, tetap tidak ada sambutan. Dia juga coba mengintip, dan dipastikan rumah itu kosong. Dengan kesal, Davlin kembali ke rumahnya. Dia butuh ponsel untuk menghubungi siapa saja demi menjelaskan kemana semua orang-orang itu pergi, terlebih Hanna, istrinya. Istri? mengapa tiba-tiba saja dia sangat ingin mengucapkannya?
Dika juga tampaknya hilang ditelan bumi, berkali dihubungi, tapi asistennya itu tetap tidak mengangkat teleponnya.
Barulah, setelah entah panggilan ke berapa kali, Dika mengangkat teleponnya. "Iya, Bos? bagaimana belah durennya? asyik, dong?" cerocosnya semakin membuat jiwa Davlin terbakar. Sahabat brengseknya itu bahkan tidak tahu kecelakaan yang dialami, dan saat ini sedang ada masalah serius dengan Hanna.
"Tutup mulut lo, segera kemari!" hanya satu kalimat itu, dan panggilan sudah ditutup sepihak oleh Davlin.
Hanya perlu 30 menit, Dika sudah tiba di rumah Davlin. Entahlah, bagaimana cara Dika bisa sampai secepat itu. "Gue di sini bos, ada apa? kenapa dengan kepala Lo?" tanya Pria parlente itu menghadap Davlin yang duduk di sofa, dengan semua pikiran yang berkecamuk.
"Bagus Lo, ya. Bos lo kecelakaan, lo malah gak tahu!" umpat Davlin menurunkan kakinya dari atas meja.
"Kecelakaan? Kapan? bukannya lo harusnya lagi di atas perut?" ucapnya duduk di samping Davlin. Salah Dika sendiri, mau duduk di dekat pria yang sedang murka itu, hingga ucapannya membuahkan satu tendangan di lutut Dika.
"Makanya kalau jadi asisten itu, peka. Bos gak ada kabar, lo nyariin. Urus mobil gue di kantor polisi. Sekalian beliin gue hape. Satu jam lagi gue tunggu di sini. Eh, gak usah deh. Lo urus mobil, hape lo gue pake buat sementara." Davlin sudah menengadahkan tangannya meminta benda berbentuk pipih itu.
Penuh keraguan Dika menatap Davlin. Menyelidik kalau ini hanya gurauan bos nya saja, tapi melihat mimik wajah dan sorot mata tajam Davlin, Dika sadar ini benar. Dengan berat hati dia memberikan ponselnya, meletakkan di atas telapak tangan Davlin.
__ADS_1
"Nomor Hanna di sini ada, kan? siapa lo buat namanya?"
"Juru kunci," sahut Dika malas, tanpa menoleh ke arah Davlin. Namun, setelah sadar akan ucapannya, Dika pun menatap Dika dengan wajah memelas.
Wajah penuh ketakutan yang ditunjukkan Dika sebenarnya membuat Davlin geli. Dia kasihan, sekaligus tergelitik. Sebenarnya tidak ada yang salah, Davlin paham maksud Dika dan itu benar, buatnya Hanna memang juri kunci, juru kunci hatinya.
Memikirkan Gadis itu, Davlin buru-buru menghubungi nomornya, tapi tidak aktif. Rasa panik mulai menjalari hatinya. Dia merenung sesaat, selain nomor Hanna, dia tidak ingat nomor lain, bahkan nomor ibunya.
"Nama Jimmy?"
"Hah? Oh, Jimmy juga."
Lama nada sambung itu terdengar sampai pada akhirnya terhubung. "Lo dimana? nyokap gue mana?"
"Lo kesini aja. Tante lagi di rawat di rumah."
"Pokoknya ke sini aja dulu buruan, pake nanya. Ini semua karena lo juga, kan?!"
Jimmy sudah menutup teleponnya, sebelum Davlin membuka kembali mulutnya.
"Bang*sat!" Makinya melempar ponsel ke atas meja. Lalu bangkit dan berlari menaiki anak tangga menuju kamar.
"Lo ikut gue sekarang!" Perintah Davlin pada Dika yang mengekori bosnya keluar.
Walau Jimmy, si breng*sek itu tidak mengatakan di mana ibunya di rawat, Davlin bisa menebak kalau ibunya saat ini dirawat di rumah sakit mereka, hingga Davlin buru-buru tancap gas ke sana.
Wanita yang masih terlihat sangat cantik walau sudah menginjak usia 55 tahun itu terbaring lemah tidak berdaya, dengan infus di tangannya. Davlin mendekat, menatap lekat wajah pucat ibunya yang masih tidak sadarkan diri.
"Kenapa nyokap gue? kenapa bisa sampai dirawat di rumah sakit?" tanya Davlin menggenggam tangan ibunya.
__ADS_1
"Kenapa jidat Lo?" Bukan menjawab, Jimmy justru balik bertanya, dahinya mengernyit melihat perban yang menempel di pelipis Davlin.
"Gak penting! Sekarang yang gue tanya, kenapa nyokap gue bisa sampai di rawat di rumah sakit?"
"Nyokap lo pingsan. Keluarga Jhonson sudah tahu soal pertengkaran lo sama Hanna, dan rencana gila lo yang ingin pernikahan kalian dibatalkan. Dasar brengsek emang lo, belum juga buka pera*wan udah mau cerai aja. Asal lo tahu, karena ide gila lo itu, gue gak diizinkan sama orang tuanya buat nikahi Cathy. Bang*ke emang lo!"
Wajah Davlin memucat. Kalau persoalan ini sudah diketahui orang tua Hanna, maka akan semakin susah untuk memperbaiki keadaan ini.
"Terus, Hanna kemana?"
"Mana gue tahu. Setelah mereka berdebat, menolak permohonan Tante Reta memberikan lo satu kesempatan lagi, kayaknya orang tuanya bawa Hanna dan juga Cathy ke luar kota."
Pikiran Davlin semakin kalut. Meraba dalam pikirannya kemana mereka membawa Hanna. Posisinya memang saat ini sangat sulit, tapi satu yang menjadi keuntungan dan menjadi senjatanya, Hanna masih berstatus istrinya.
"Dik, lo lacak. Kemana mereka pergi. Kalau sampai Stuart menyembunyikan istri gue, akan gue tuntut dia!"
"Lo baru nyadar kalau Hanna itu istri, lo? dari semalam kemana aja? saat lo mencurigai dia, apa lo gak mikir perasaannya?" umpat Jimmy kesal.
Mengikuti sifat Davlin, dia pasti segera menonjok wajah Jimmy, tapi semua yang dikatakan pria itu benar adanya. Dia memang bajingan!
"Davlin... Anak kurang ajar, akhirnya kau muncul. Mama akan mencekikmu. Kenapa kau melukai hati Hanna?" ucap Reta lirih. Suaranya begitu lemah. Wanita itu terbangun, kala sayup-sayup mendengar suara Davlin yang sedang bicara.
"Mama.. mama kenapa?" Davlin kembali mendekat dan duduk di sisi Reta. Wajah sendu wanita itu membuat perasaan bersalah Davlin semakin besar.
"Kamu kenapa, Dav? Kenapa berbuat begini? bukankah kamu yang ingin menikah dengan Hanna? kenapa kamu justru menyakiti hatinya?" bulir air mata Reta membasahi pipi, jemari Davlin dengan luwes menyapu jejak air mata itu.
"Maafkan aku, Ma. Aku janji akan memperbaiki semua ini. Aku akan membawa Hanna kembali padaku, Ma. Please, jangan nangis lagi."
Davlin menghela napas berat, dia berjanji akan membawa Hanna kembali, memperbaiki kesalahannya. Menghapus setiap luka yang sudah dia torehkan. "Hanna, aku akan mendapatkan hatimu kembali," batinnya.
__ADS_1