
"Akhirnya kau datang juga," sapa seorang gadis cantik, memiliki bola mata berwarna abu-abu. Dari pertemuan pertama saja, Hanna tahu kalau gadis itu tidak menyukainya.
"Terima kasih atas undangan anda, my Lady," sahut Hanna mengangguk hormat.
Entah untuk tujuan mengintimidasi Hanna, dengan menunjukkan statusnya sebagai anggota keluarga kerajaan, Lady Brigitta menjamunya di taman bunga kerajaan. Bahkan gadis itu mengenakan pakaian dan riasan yang berlebihan jika hanya ingin menyambut seorang rakyat biasa seperti dirinya.
"Aku mendengar kau dilamar oleh Alex," ucapnya menghempaskan tubuhnya di kursi berbahan beludru hijau. Duduk dengan anggun sekaligus menampilkan sikap congkaknya.
"Benar, my Lady," sahut Hanna tersenyum sembari mengangkat wajahnya. Brigitta kira sikapnya yang mengintimidasi itu akan membuat Hanna ketakutan. Tidak ada seorang pun yang berani menatapnya seperti cara Hanna.
"Miss Jhonson, aku penasaran dengan pendapat mu. Apakah kau merasa dirimu cukup pantas untuk menjadi duchess of Claymore?"
Suasana di tempat itu berubah mencekam, padahal angin siang itu tampak sejuk di musim semi ini. Catherine bahkan sampai meremas sisi gaunnya karena merasa takut melihat sorot mata Brigitta.
Pertanyaan itu bukan sekedar pertanyaan, terselip nada menghina. Namun, Brigitta salah memilih lawan. "Well, kalau His Grace memilih untuk menikahi ku, artinya dia menganggap aku pantas untuk menjadi istrinya," sahut Hanna penuh percaya diri.
Kalau bisa menghilang, Catherine ingin sekali menguap terbawa angin. Hanna sadar akan ketidaknyamanannya Catherine, jadi memilih ingin segera mengakhiri pertemuan ini.
"Kau penuh percaya diri, ya! Apa kau pikir kau secantik itu? Aku akan mengatakan padamu, bahwa kau tidak pantas bersanding dengan Alex! Sebaiknya kau menolak lamaran itu!" ucap Brigitta mulai menunjukkan kemarahannya.
"Maaf, My Lady, sepertinya aku tidak bisa mengabulkan permintaan anda. Aku dan his Grace sudah sepakat akan menikah," ucap Hanna masih tersenyum. Dia bukan tidak memiliki ketakutan sedikit pun. Dia sudah tahu dari Julia mengenai sosok Brigitta. Gadis manja kesayangan raja yang selalu mendapatkan apa pun yang dia mau. Dia bisa saja membalaskan rasa kesalnya dengan memerintahkan membuang semua anggota keluarganya ke perbatasan.
"Kau lancang menolak perintah ku?!"
"Maaf kan saya my Lady,"
__ADS_1
"Berlutut!" pekik Brigitta dengan wajah dibalut amarah.
Air mata Catherine bahkan sudah mengenang. Dalam hati terus berdoa agar seseorang bisa menyelamatkan mereka dari amarah Brigitta. Dua orang teman Brigitta justru dengan sengaja memanas-manasi gadis itu hingg amarah gadis itu semakin berkobar.
"My lady, maaf kan Kakak ku," ucap Catherine terbata. Dia ingin mengakhiri semua ini, dia ingin pulang, terlebih dia ingin kakaknya baik-baik saja.
"Tutup mulutmu, atau kau juga akan ku hukum!"hardiknya yang membentak Catherine. Gadis itu bahkan sampai menetaskan air mata.
"Kau tidak dengar, aku bilang kau berlutut, dan cium sepatuku!" ulang Brigitta saat mendapati Hanna yang masih berdiri tegak, tanpa gentar menatapnya dengan berani.
Kalau pun Hanna akhirnya berlutut, itu karena dia tidak ingin membuat Catherine ikut dalam masalah. Di depan wanita sombong itu, Hanna menjatuhkan diri berlutut namun tetap dengan wajah tegak menatap Brigitta. Hal itu tentu saja membuat gadis manja itu semakin kesal. Dia pikir, setelah menghukum Hanna seperti itu, gadis itu akan menangis ketakutan, dan meminta maaf sekaligus mau membatalkan pernikahannya dengan Alex.
Terpancing emosi dengan mimik wajah Hanna, Brigitta mengambil teh dan menyiramkan pada wajah Hanna. Beruntung, air teh itu sudah tidak terlalu panas, namun, begitu pun, wajah Hanna tampak merah disiram air hangat itu.
"Coba saja kau lakukan itu! Aku bersumpah akan mematahkan tanganmu!"
Semua bola mata tertuju ke arah suara itu. Bergegas pria itu mendekati Hanna, menarik tangan gadis itu agar berdiri. Keduanya saling menatap pada atau titik. Lalu inilah saatnya, air mata Hanna mengembang.
Dia bisa bertahan dibawah tekanan Brigitta, karena dalam hatinya mengingat besarnya cintanya pada Alex, dan saat pria yang dicintainya itu ada dihadapannya, melihat semua ini, Hanna menjadi lemah.
"Jangan menangis. Aku minta maaf membuatmu susah seperti ini," bisik Alex menghapus titik air mata yang sempat jatuh.
Brigitta yang tidak menduga Alex akan datang, menjadi panik. Sikap bar-bar dan sok berkuasanya berubah menjadi gadis pengecut penuh ketakutan.
"Kakak..."
__ADS_1
"Tutup mulutmu! Atas dasar apa kau memperlakukan Hanna seperti ini? apa kau tidak tahu dia ini calon istri ku?" salak Alex sontak membuat wajah Brigitta memerah. Tidak hanya dia kedua temannya pun ketakutan setengah mati.
"Ayo, kita pergi dari sini," ucapnya menoleh kembali pada Hanna. "Dan kau, aku pastikan, papa mu akan tahu tentang ini!" ucap Alex sebelum keluar membawa Hanna dari sana.
"Dari mana kau tahu, aku ada di sini?" tanya Hanna setelah mereka berada di kereta. Catherine yang ikut bersama mereka merasa canggung. Sejak tadi, tangan Alex tidak hentinya menggenggam tangan Hanna, Seolah takut kalau gadis itu akan pergi meninggalkannya.
Pasalnya, Catherine sempat menjadi tunangan pria itu, walau hanya keputusan sepihak. Tapi jujur, Catherine sudah tidak menyimpan perasaan apapun pada pria itu.
Bahkan rasanya Catherine bersyukur, akhirnya pertunangan mereka batal. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana hari-harinya menjadi istri pria berkuasa yang begitu arogan dan dingin itu. Hanya kakaknya Hanna lah yang bisa mengendalikan Alex.
"Aku bertemu Sebastian, dan darinya aku tahu kau di sini," terang Alex masih menyimpan rasa kesal pada Brigitta.
Hanna ingat, sebelum berangkat tadi, dia memang singgah ke rumah Julia, gadis itu ada di sana bersama Will Malory, sedang berkunjung, sekaligus ingin mengambil barang-barangnya.
"Maafkan aku, tidak mengabari mu akan hal ini. Aku pikir lady Brigitta memintaku datang menemuinya untuk membantunya membuatkan gaun, seperti kata pelayanan yang datang membawa pesan dari nya.
"Kau begitu naif. Brigitta gadis manja yang suka melakukan apa pun sesukanya,"
"Apakah kau tahu kalau dia menyukai mu?" Hanna menyipitkan sebelah matanya menatap Alex.
"Apa?" kening Alex mengernyit. Kisah apa lagi ini? jangan sampai masalah ini kembali menjadi batu sandungan bagi Alex untuk menikah dengan gadis itu.
"Kau pikir dia membuatku sampai berlutut seperti itu karena apa? karena dia ingin aku membatalkan pernikahan kita, karena dia sangat menyukai mu," terang Hanna mengulum senyum. Raut wajah Alex yang tampak kesal menggelitik hatinya.
"Sebaiknya kita percepat saja pernikahan kita. Aku tidak mau, kau punya alasan untuk meninggalkan ku lagi!"
__ADS_1