
Davlin benar-benar terkejut melihat wanita itu ada di tempat tidurnya. Berbaring dengan nyamannya, sembari memandang tubuh liat Davlin. Mata sayu nya membuat wajah gadis itu semakin menggoda. Rambut panjangnya terurai di bantal, menambah kesan eksotisnya.
"Kenapa kau ada di sini?" ulang Davlin, wajah terkejutnya berubah senang, senyum menghiasi wajah tampannya.
"Aku takut sendirian. Gimana kalau tengah malam mati lampu? gimana kalau hujan deras, petir menyambar?" ujarnya memasang wajah cemberut, namun, begitu menggemaskan.
"Seingat ku, kemarin ada yang bilang udah gak mau lagi nginap di sini?" goda Davlin mengingatkan insiden bangun kesiangan kemarin.
"Ini pengecualian! aku terpaksa!" Hanna menarik selimut hingga menutupi kepalanya. Tidak ingin melanjutkan perdebatan, pasalnya semakin lama dia menatap dada bidang itu, pikirannya dipenuhi adegan nakal berujung dosa!
Selimutnya diturunkan setelah mendengar suara pintu kamar dibuka lalu di tutup lagi. Hanna mendongak, menajamkan pendengarannya, tapi sepi. Bahkan di ruang pakaian juga tidak terdengar adanya gerakan.
Apa Davlin pergi? apa dia marah karena aku sudah datang tanpa izin dulu? tapi... aku yakin kalau tadi melihat senyumnya.
Beberapa menit berlalu tapi tidak ada tanda-tanda Davlin akan masuk ke kamar itu lagi. Jadi dia memutuskan untuk turun dari tempat tidur. Ingin mengintip ke luar pintu. Baru saja memutar hendel, daun pintu itu sudah terbuka.
"Dari mana? aku pikir kau meninggalkanku," cicitnya dengan mata berkaca-kaca.
"Maafkan aku, Sayang. Aku hanya ke bawah untuk mengambil air hangat untuk mu."
"Tapi kenapa begitu lama?"
"Aku ke sebelah. Memeriksa apakah pintu dan jendela sudah kau kunci, dan benar saja, pintu depan masih belum di kunci," terang nya menarik tangan Hanna kembali ke ranjang. "Minum," perintahnya setelah Hanna duduk.
Gadis penurut itu menghabiskan air hangat dengan tetesan madu di dalamnya. "Kita tidur," lanjut Davlin melangkah ke sisi ranjang miliknya. Tanpa ragu menarik gadis itu untuk merebahkan dirinya di pelukan Davlin.
Satu hal yang Hanna sadari, sejak dulu dia begitu sulit untuk tidur, biasanya memerlukan waktu hingga satu jam untuk bisa terpejam, tapi aroma tubuh pria disampingnya ini menjadi obat tidur yang sangat ampuh. Persekian menit, Hanna sudah jatuh dalam balutan mimpi indahnya.
__ADS_1
***
"Aku kasihan dengan mama. Dia tampak begitu lelah. Mama pasti stres memikirkan biaya rumah sakit dan pengobatan papa," ucap Hanna yang berjalan beriringan dengan Davlin di lorong rumah sakit sesaat setelah mengantarkan pakaian Ema dan Cathy tadi. Kini keduanya bersiap ke kampus.
Beruntung hari ini Cathy tidak ada mata kuliah, hingga bisa menemani Ema di rumah sakit. "Jangan pikirkan masalah itu. Sekarang kau harus fokus dengan kuliah mu. Biar cepat selesai, dan kita bisa menikah," ucapnya mengulum senyum.
Hanna tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang tersipu malu. Dia menunduk memandang ujung sepatunya. Hari ini memakai sepatunya yang lama, sudah kekecilan dan sempit, tapi dia tidak punya pilihan lain.
Tiba di gerbang kampus, perasaan Hanna menciut. Dia seolah akan melangkah masuk ke dunia serigala yang siap mencabik-cabik tubuhnya.
"Kau gak masuk? atau kita pergi jalan-jalan aja?" suara Davlin menegurnya lembut. Hanna menoleh dan tersadar dari lamunannya.
Hufffh...
Davlin bisa melihat tekanan yang saat ini Hanna alami. Dia semakin ingin menghajar orang yang sudah membuat kekasihnya ini sampai terpuruk seperti ini.
"Jadilah gadisku yang pemberani. Semua masalah pasti ada jalan keluarnya," bisik Davlin membelai pipi Hanna, dan mencium kening gadis itu. Sepertinya ciuman itu ampuh. Dia menjadi lebih berani, lebih bersemangat untuk melangkah.
Seperti perjanjiannya dengan ketiga bandot tua itu, Hanna harus memberikan jawaban pada mereka tentang keputusannya. Berat sekali harus menyerah, tapi masalah yang bertubi-tubi seperti ini, membuatnya tidak punya pilihan lain selain mengorbankan harga dirinya, yang penting, Cathy bisa kuliah dengan aman di sini.
***
Selangkah demi selangkah Hanna berjalan menuju jurusannya. Banyak anak-anak yang memandangnya penuh hina dan merasa tertekan. Tapi bukan Hanna namanya jika menjadi pengecut tanpa berperang lebih dulu. Dia jalan dengan mengangkat kepalanya, membalas tatapan sini dari manusia yang memandangnya hina.
"Kau sudah siap? hari ini adalah waktu mu untuk membuat pernyataan. Kau mau bicara jujur dan meminta maaf, atau kau dikeluarkan dari kampus ini!" ucap Lusi menyambut kedatangan Hanna. Gadis yang hari ini rambutnya sudah dicat pirang itu sudah duduk di atas mejanya. Melipat tangan di dada dengan arogannya.
"Apakah kau tidak lebih baik belajar, agar nilai mu yang kebanyakan D itu bisa lebih baik?" sentil Hanna cuek. Tidak ingin meladeni kegilaan Lusi.
__ADS_1
Riuh suasana ruangan, gaduh karena ada yang membela Hanna tapi tidak sedikit juga yang menjatuhkan gadis itu.
"Tenang semua. Harap tenang, ini kelas bukan pasar!" suara dosen yang akan segera mengajar di jam pertama membekap kebisingan di sana.
"Hanna, kau diminta datang ke gedung rektor sekarang juga." Dosen itu masuk dan mulai menyiapkan proyektor.
Diberangkatkan dengan tatapan sinis oleh teman-temannya, Hanna berjalan tegak. Dia sudah siap apa pun keputusan mereka nanti.
"Silakan masuk," ucap seorang pria yang dikenal Hanna sebagai salah satu pembantu rektor di kampusnya.
Banyak orang yang ada dalam ruangan itu. Setidaknya 10 orang. Hanna tidak fokus diawal, entah apa yang mereka bahas di awal, baru lah pada bagian dirinya ditanya Hanna menjawab dengan penuh percaya diri.
"Bagaimana saudara Hanna, apa ada bantahan atas pernyataan bapak sekretaris jurusan?" tanya pembantu rektor dua, menanggapi pernyataan dari Zainal tentang masalah beasiswa. Pria busuk itu bahkan melebih-lebihkan dengan mengatakan kalau Hanna bahkan merayunya agar mau memasukkan namanya di dalam daftar penerima beasiswa.
Keringat dingin mengucur deras di keningnya. ruangan itu memiliki pendingin udara yang berfungsi dengan baik, tapi nyatanya tidak mampu menyejukkan perasaan Hanna.
Pikiran dan hati nurani Hanna berperang. Ingin memegang prinsipnya dan menegakan kebenaran, tapi terbayang wajah Cathy dan juga dirinya yang nanti akan dikeluarkan dari kampus ini, membuat Hanna seperti makan buah simalakama.
Hanna menunduk. Berdoa sejenak, lalu mengangkat kepalanya tinggi. "Terima kasih untuk kesempatan ini. Maaf, tapi saya keberatan dengan statement dari bapak sekretaris jurusan. Saya punya rekaman dan sudah diperdengarkan, jadi saya tetap memegang teguh kebenaran yang terjadi."
"Jadi saudara tetap mengatakan kalau tuduhan yang anda alamat kan pada sekretaris jurusan adalah benar?" kini pembantu rektor satu yang menanggapi.
"Benar, Pak." Jawab Hanna mantap.
"Baik lah kalau begitu, setelah dilakukan penyelidikan, kami temukan saksi yang dihadirkan oleh pak Zainal, yang mengklaim bahwa anda meminta mahasiswa itu untu membuat skenario untuk menjebak pak Zainal, dan rekaman itu palsu, hasil editan yang memasukkan potongan suara pak Zainal dan anda sendiri dalam topik pembicaraan yang berbeda." Kali ini Kepala prodi yang angkat bicara, masih bersikukuh melindungi iparnya yang tidak punya akhlak itu. Bahkan sempat menyeringai ke arah Hanna.
Hanna terpojok. Dia mulai gentar dan takut karena di serang dari berbagai arah. Namun sebelum membuka mulutnya kembali, seseorang datang membawa empat orang pria berpakaian rapi lengkap dengan jas dan koper ditangan.
__ADS_1
"Selamat pagi, kami dari pengacara More Corp."