My Crazy Lady

My Crazy Lady
Bab 115 ( MCL)


__ADS_3

Siapa gadis yang menyalami suaminya begitu intim itu tidak serta-merta dipertanyakan Hanna. Dia memilih diam, walau hatinya sudah panas. Ini masih acara, dan kegaduhan yang dia lakukan nantinya pasti akan mempermalukan dirinya, Davlin dan keluarga mereka.


Dia tahu, ada banyak gadis dari masa lalu Davlin, dan bukan tidak mungkin setelah menikah pun akan muncul kepermukaan, ingin mengganggu rumah tangga mereka.


Hanna tentu saja tidak akan membiarkan siapapun merusak rumah tangganya. Davlin adalah miliknya, apa pun akan dia lakukan untuk mempertahankan rumah tangganya termasuk melibat wanita jala*ng yang ingin mendekati suaminya.


Kabar tentang pernikahan Davlin tentu saja menjadi kabar yang menyentak banyak orang, terlebih gadis-gadis yang selama ini menaruh hati padanya. "Kau diam saja, apa semua baik-baik saja?" bisik Davlin dengan mimik wajah tampak sengsara. Dia tahu perubahan istrinya itu karena Cindy yang sudah bersikap terlalu berlebihan padanya. Model papan atas itu memang dikenal menjadi pacar Davlin sudah cukup lama.


"Hah? baik? kenapa aku harus tidak baik?" Hanna hanya sekilas melayangkan pandangan pada Davlin, lalu kembali melihat ke arah undangan.


Jawaban Hanna yang sarkas itu tentu saja membuat Davlin semakin salah tingkah, mati kutu tidak tahu harus menjawab apa lagi. Dia memilih diam, dari pada sang ratu semakin marah dan menunjukkan wajah juteknya.


Di tengah ruangan, diantara hiruk pikuk para tamu, Hanna melihat Jimmy yang berdansa dengan Cathy. Tampak pria itu sangat memuja adiknya itu.


Hanna juga sempat mendengar obrolan kecil Cathy dengan mamanya. Jimmy mengatakan pada Cathy bahwa setelah pesta pernikahannya dengan Davlin, Jim akan melamar Cathy.


Tanggapan Ema tentu saja gembira. Jimmy tipe pria sopan dan menjadi calon mantu idaman, sangat berbeda dengan Davlin yang arogan dan dingin.


"Selamat ya, Han," ucap Kai yang tidak diduga Hanna akan datang, terlebih setelah pesan yang dia kirimkan kemarin.


Pesan? Oh, apakah Hanna sudah menghapus pesan itu? jangan sampai Davlin membaca, tapi pasti sudah dihapusnya.


"Terima kasih sudah datang," ucap Hanna tersenyum. Pegangan tangan Kai yang seolah enggan dia lepaskan menjadi sorotan banyak orang yang sudah mengantre untuk menyalami mereka, tida terkecuali dengan Davlin.


"Han, masih belum terlambat. Kapan pun kau butuh bantuan, aku siap," ucapnya lebih kepada bisikan. Hanya Hanna yang bisa mendengar, walau Davlin menajamkan pendengarannya, tetap tidak dapat mendengar semuanya, tapi yang pasti dia merasa kecewa, hatinya banyak tanya, sebenernya sejauh mana hubungan istrinya dengan pria lain itu.


Sebaliknya, Hanna tertegun, memandangi punggung Kai yang melangkah turun dari pelaminan. Sejuta tanya berkumandang dalam hatinya.

__ADS_1


Ah, Kai. Aku tahu ada rasa itu yang kau tujukan, tapi maaf, di hatiku sudah ada satu nama, dan kini dia menjadi suamiku. Aku berharap kau pun akan menemukan tambatan hati mu.


***


Walau acara masih belum selesai, tapi Davlin sudah muak mendengar suara penyanyi yang menghibur para tamu undangan, jadi dia memutuskan untuk membawa istrinya pergi dari sana.


Kalau tadi wajah Hanna yang cemberut, kini berganti, wajah Davlin ditekuk, kusut seperti kertas yang baru saja diremas.


Hanna melayangkan pandangan, ke arah pintu rumah mereka saat melewatinya menuju rumah mertuanya.


Tiba-tiba saja dia rindu rumahnya. Rindu kamar dan menikmati waktunya seorang diri saja.


"Apa kita bisa pulang dulu ke rumah?" tanya Hanna lembut, dia tidak ingin memperkeruh suasana.


"Tidak hari ini!" Ketus dan dingin. Harga diri Davlin seolah tersentil, karena kalimat Kai yang samar-samar dia dengar.


Kamar Davlin dipilihnya untuk menghabiskan malam pertama mereka. Hotel yang sudah dipesan olehnya jauh hari sebelumnya, tampak tidak menarik baginya lagi, hingga memutuskan untuk pulang. Lagi pula, saat ini semua orang sedang ada di ballroom dan nanti akan menginap di hotel itu, jadi pilihan untuk kembali ke rumah jadi pilihan tepat.


Baru lima menit masuk, ponsel Hanna berdering dari dalam tas tangannya. Davlin sama sekali tidak tertarik, hingga tidak mempedulikan. Namun, suara itu masih berlanjut, hingga mau tidak mau, dia menggeledah isi tas Hanna, ingin menyerahkan ponsel itu ke pada pemiliknya.


Kai Calling..


Amarahnya yang belum juga reda sudah dipugar kembali oleh pria itu. Dia pencemburu akut. Tidak akan mau berbagi yang menjadi miliknya, walaupun hanya sekedar berteman.


Baru akan diangkat, telepon terputus, jadi dia memutuskan melemparkan ke atas ranjang, bergerak ke pintu balkon, ingin membuka pintu itu, tapi kembali mendengar bunyi ponsel Hanna.


Kai.

__ADS_1


Aku tahu kau tidak bahagia dan tertekan.


kalau kau tidak menginginkan pernikahan ini,


tinggalkan dia dan ikut denganku.


Aku tunggu kabar darimu.


Hati Davlin jelas terluka. Sakit. Pikiran buruk itu pun bersarang dalam kepalanya. Apa yang disembunyikan Hanna dan sudah sejauh mana hubungan keduanya? Davlin tahu, Hanna begitu dekat dengan pria itu. Setiap Kai mempertanyakan, selalu mengatakan kalau mereka hanya berteman, tapi bukti yang ada di hadapannya ini sudah lebih dari cukup.


Davlin tertarik, membaca semua isi pesan dari Davlin. Sehari sebelum mereka menikah pun, Kai mengiriminya pesan yang mengajak Hanna untuk pergi meninggalkannya.


Sakit dan kecewanya lagi, Hanna sudah membaca pesan itu, namun tidak menghapusnya seolah jadi pertimbangan buat dia. Davlin menebak sesuka hatinya, kalau istrinya itu sudah menceritakan pada Kai bahwa dia tertekan dan terpaksa dengan rencana pernikahan mereka.


Davlin meremas sekuat tenaga benda pipih itu, menyalurkan emosinya. Sesak di dasar hatinya, seolah udara tidak bisa dia raih.


Tega sekali kau, Han... Sebegitu mengerikannya menikah dengan ku hingga harus menceritakannya pada pria lain?


Davlin merasa harga dirinya kini sudah diinjak-injak oleh Kai dan Hanna!


Lupa membawa baju ganti, Hanna memilih untuk keluar dengan menggunakan handuk, melilitkan di tubuhnya, dan bukan untuk mengundang niat Davlin. Dia mendapati suaminya berdiri di luar, menikmati udah malam. Caranya menyesap dan membuang hasil nikotin itu bisa ditebak, moodnya sedang tidak bagus.


Buru-buru Hanna melihat sekeliling, kopernya belum diantar kemari, dan satu koper utama, persiapan untuk malam pengantin mereka tertinggal di kamar hotel yang harusnya jadi tempat mereka menghabiskan malam pertama.


Dinginnya udara dari pendingin suhu menyadarkan Hanna yang memandangi punggung suaminya di luar sana. Tidak ada pilihan lain, dia memutuskan untuk memakai kaos dan celana pendek Davlin.


"Ada apa? kenapa kau di luar sana? masuk lah," ucapnya diambang pintu balkon.

__ADS_1


Davlin berbalik, dan kelebat amarah masih terpancar di matanya. Dengan kasar dilemparnya sisa puntung rokoknya yang sudah terbakar lebih dari setengah.


"Sejauh mana hubungan mu dengan pria br*ngsek bernama Kai?!"


__ADS_2