My Crazy Lady

My Crazy Lady
Bab 56 (MCL)


__ADS_3

Sejak hari itu, Davlin seolah tersihir. Ungkapan yang mengatakan perbedaan antara cinta dan benci itu tipis tampaknya benar. Pria itu terus saja berusaha menepis bayangan Hanna, tapi tampaknya bukan hal yang mudah. Bahkan dalam Minggu ini, dia sudah dua kali memimpikan Hanna. Rasain!


Hal justru membuatnya semakin uring-uringan. Dia benci dengan bagian dirinya yang ingin terus mencari tahu keberadaan gadis itu. Banyak tindakan konyol yang dia lakukan hanya untuk bisa melihat Hanna di kantor.


Seperti hari ini, Davlin datang pagi-pagi sekali, hanya untuk bisa bertemu dengan Hanna di ruangannya. Kemarin, secara terselubung, Davlin mencari tahu ruangan mana saja yang dibersihkan gadis itu, dan begitu tahu kalau salah satu tugas utama Hanna adalah membersihkan ruangannya, Davlin buru-buru berangkat ke kantor.


"Astaga, aku kira setan!" ucap Hanna memejamkan mata dan memenangkan detak jantungnya. Kaget begitu membuka pintu ruang kerja Davlin, pria itu justru muncul di depan pintu.


"Gue memang setan, yang akan mencekik leher lo kalau sampai ruangan gue gak bersih!"


"Kamu, eh.. bapak kok udah disini? pagi benar ke kantor. Ini masih jam setengah delapan, kan ya?" tanya Hanna melirik jam dinding di sana.


"Terserah gue dong mau datang jam berapa. Lo lupa ini perusahaan gue?" Davlin berbalik menuju mejanya. Satu senyum terbit di bibirnya. Usahanya untuk datang pagi ini tidak sia-sia. Bayangkan saja, pukul enam pagi dia sudah tiba di sini, hingga satpam saja heran melihat kedatangannya.


Hanna tidak mendebat. Untuk apa? pria itu pasti tetap saja menang. "Pak, saya mau membersihkan bawah meja," ucap Hanna setelah membersihkan kaca dan juga meja tamu.


"Terus?" tanya Davlin dengan wajah konyolnya. Pura-pura sibuk membaca tabletnya, padahal mengawasi setiap gerak-gerik Hanna ke sana kemari. Receh memang, tapi itu cukup menghibur pria itu.


Kesal dengan sikap Davlin yang arogan, Hanna membersihkan bawah meja dengan menyapu acak hingga sepatu mengkilap pria itu juga ikut tersapu.


"Hei, gak sekalian muka gue lo sapu?" hardik Davlin kesal. Hanna tidak perduli, terus menyapu hingga pria yang masih duduk di singgasananya itu harus menarik dirinya mundur. Hanna semakin menjadi-jadi, sekalian ingin membalas pria itu, terus membersihkan lantai, terus menghempas posisi Davlin.


Tidak terima atas sikap Hanna, Davlin menarik lap yang Hanna gunakan membersihkan meja, hingga kaki Hanna tersandung oleh kain pel, dan hilang keseimbangan, alhasil mendarat mulus di pangkuan Davlin.


Layaknya adegan pada film romantis, keduanya saling bertatapan selama beberapa detik. Begitu dekat, hingga harum nafas Davlin terasa menyapu kulit wajah Hanna. Debar jantung keduanya saling bersahutan menunjukkan getar yang ditimbulkan karena kedekatan itu.

__ADS_1


Hanna ingat satu adegan seperti ini, dan apa yang akan terjadi pada keduanya. Refleks Hanna menutup mata, bersiap menerima belaian bibir pria itu. Lama menunggu, namun Hanna masih belum merasakan serbuan pelepas dahaga di bibirnya.


Pletak!


Satu sentilan di keningnya membuat bola mata Hanna terbuka. Wajahnya merah seperti kepiting rebus. "Lo nunggu apa? siap-siap buat gue cium?"


Malunya, membuat Hanna ingin menghilang dari jagad raya ini. Ingin sekali membenamkan wajahnya ke dasar bumi. "Mau sampai kapan kau duduk di situ?" hardik Davlin menatap wajah Hanna yang menunduk hingga tidak melihat senyum pria tipis pria itu yang merasa geli karena kini Hanna jadi salah tingkah.


Segera Hanna bangkit dan setengah berlari menuju ke arah pintu, namun belum sampai di pintu, Hanna berbalik mengingat peralatan tempurnya masih tertinggal di sana.


"Mampus gue. Malu banget. Kok bisa begitu bodoh banget sih lo, Han!" batinnya kesal pada dirinya sendiri.


"Hai cantik," suara Aril membuat Hanna tersentak. Menoleh ke belakang dan begitu melihat wajah Aril Hanna menghela nafas lega.


"Ada apa? kenapa terkejut? wajahmu pucat pasi begitu?"


"Hah, entahlah, Bang." Hanna duduk di bangku stainless yang ada di dekatnya. Menarik nafas dalam lalu menghembuskan kasar. Kening Aril berkerut, melihat gadis itu yang tampak lesu hari ini, sangat berbeda dengan hari-hari sebelumnya.


"Apa ada masalah? cerita padaku," ucap Aril ikut duduk di samping Hanna. Aril masih terus menolehkan kepalanya pada gadis itu hingga gadis itu pun ikut menoleh. "Jangan sedih lagi, ntar cantiknya berkurang." Senyum tulus Aril bisa membuat Hanna kembali bersemangat.


Kruk.. kruk..


Aril mengulum senyum mendengar suara perut Hanna yang saat ini dilanda rasa lapar. "Makan siang, yuk?" ajak Aril.


Hanya makanan yang mampu merubah mood Hanna jadi lebih baik. Tentu saja Hanna mengangguk penuh semangat.

__ADS_1


Keduanya berjalan beriringan, hingga satu sosok yang Hanna lihat sudah ada di kantin membuatnya menghentikan langkah kakinya. "Ada apa?" tanya Aril yang bingung karena tiba-tiba berhenti. Tidak mendapat jawaban dari gadis itu, Aril memilih untuk mengikuti pandangan gadis itu dan mengerti alasannya sekarang.


"Kau enggan untuk masuk?" Hanna hanya diam, sembari mengangguk pelan.


"Kalau begitu, kita makan Coto Makassar yang ada di depan sana, yuk?"


Binar mata Hanna muncul. Tentu saja ini adalah tawaran menarik sekaligus yang bisa menyelamatkannya. "Ayo, Bang.."


***


"Kenapa belum dimakan?" tanya Haris yang sudah melahap setengah makanan di piringnya. Sementara pria yang ada di depannya sejak tadi sibuk melayangkan pandangannya mencari seseorang namun tidak kunjung ditemukan.


Haris heran akan sikap Davlin. Jelas-jelas pria itu tadi memintanya menyiapkan tempat duduk untuk dua orang. Mengatur agar tidak ada karyawan lain yang duduk dengannya, namun kini yang dilakukan bos nya justru hanya diam, duduk tegak dengan kaku dan mata mencari orang lain.


Hanya Davlin yang tahu, bahwa sebuah rencana sudah dia atur dengan baik. Semua terkonsep dengan matang, direncanakan penuh semangat, dan senyum licik di bibirnya.


"Lo lagi nyariin siapa sih? makan bos, keburu dingin," lanjut Haris. Dia harus lebih banyak belajar ilmu Diamkologi , saat Davlin memilih diam dari pertanyaan yang dia layangkan ,Haris harus bisa menerka jawabannya.


Hanna!


Bola mata Haris memutar. Bos sekaligus sahabatnya ini memang tengah dimabuk cinta. Itu lah alasannya kenapa Haris membatalkan niatnya untuk mendekati Hanna. Belum lagi ada si alim Aril.


Satu butir nasi pun tidak ada yang disentuh Davlin hingga meninggalkan kantin. "Beneran lo ga makan?" Ulang Haris kala Davlin bangkit dari duduknya setelah jam istirahat telah usai bahkan setengah jam lalu. Pria itu mengepal tinju dalam diamnya, dan mengumpat tidak jelas, lalu pergi dari sana.


Tidak ada yang bisa Davlin lakukan demi menuntaskan rasa kesalnya pada Hanna. Dia sengaja datang lebih dulu saat jam makan siang, agar bisa mengambil meja kosong, dan dengan begitu bisa duduk berdua dengan gadis itu, tapi nyatanya, niatnya terhempas hingga ke dasar sepatunya, Hanna tidak datang siang itu!

__ADS_1


__ADS_2