My Crazy Lady

My Crazy Lady
Bab 39 (MCL)


__ADS_3

"Apa kau sudah gila, Hanna? jangan bercanda! Mama mohon jangan membuat malu keluarga ini untuk kesekian kalinya!" salak Ema mereka baju di dadanya. Dia hampir saja pingsan kala mendengar anaknya itu mengatakan niatnya untuk segera membatalkan rencana pernikahannya dengan William.


"Maaf mama, aku tidak bermaksud seperti itu. Tapi coba pikirkan, aku pasti tidak akan bahagia menjalaninya, saat mengetahui kalau sahabat ku juga mencintai suamiku! Lagi pula, aku tidak ingin Lady Kate menerimaku hanya karena Lady Abigail mengundangku pada acaranya kemarin," sahut Hanna melipat tangan di dada. Apa pun alasannya, pernikahan ini harus dibatalkan.


Lagi pula, bukankah dia menjadi gadis munafik, jika menerima pernikahan ini, sementara jelas kini dia sadar hatinya sudah berlabuh pada pria lain.


Memikirkan tentang Alex, Hanna ingin tahu, kapan pria itu akan menikah dengan Ophelia. Hatinya sampai saat ini masih berdebar kala mengingat pria itu, mengingat ciuman panas mereka..


"Ayolah, Hanna. Hilangkan pria itu dari kepalamu. Harusnya yang kau pikirkan saat ini berbicara dengan Will," batinnya.


Membenarkan kata hatinya, Hanna bergegas meninggalkan ruangan itu. Dia harus segera bicara dengan Will, menjelaskan pada pria itu.


"Mau kemana kau? kita belum selesai bicara!" seru Ema frustasi. Kepala mau pecah saja rasanya.


"Sorry, Mama. Aku harus pergi," ucap Hanna menunduk untuk mencium pipi Ema, walau wanita itu setengah hati memberikan pipinya.


Kereta keluarga Jhonson baru saja menepi, dan Will yang kebetulan ada di luar menyambut kedatangan Hanna. Seingatnya mereka tidak ada janji bertemu, tidak ada pelayan keluarga Jhonson datang pagi tadi atau kemarin.

__ADS_1


"Kau di sini? apakah sangat merindukanku?" tanya Will tersenyum. Wajah tampannya sangat berseri-seri setelah mendapat restu untuk menikahi Hanna.


"Kita perlu bicara," ucap Hanna tanpa basa-basi. Dia sudah tidak punya waktu banyak.


"Apa ada masalah?" wajah Will berubah tegang. Melihat raut serius di wajah Hanna.


"Will, aku minta maaf. Aku tidak bisa menikah denganmu," ucap Hanna setelah menarik nafas dalam dan mengeluarkan dengan berat.


Bola mata Will terbuka, darahnya berhenti sejenak. Sulit mencerna ucapan Hanna, karena sedikit pun dia tidak menduganya. Dia pikir kedatangan gadis itu, ingin bertemu dengannya karena rindu.


"Han, kau membuatku hampir mati berdiri. Sayang, aku tidak suka caramu bercanda. Hatiku begitu kecil untuk menerima lelucon seperti itu. Aku bisa mati kalau sampai kehilanganmu," ucap Will yang pada akhirnya bisa bernafas kembali setelah menahan beberapa detik.


"Aku serius, Will. Maafkan aku, tapi aku tidak bisa menikah denganmu."


Kaki Will terasa lemas, tidak sanggup menahan beban berat tubuhnya. "Han, kau tidak bisa melakukan ini. Ada apa? apa aku salah? katakan salahku?" ucap Will hampir menjerit. Pengurus kudanya yang baru saja lewat sempat terkejut mendengar pekikan Will, hingga berani mengangkat wajahnya.


"Kau tidak punya salah, Will. Aku yang salah, harusnya aku lebih cepat jujur padamu. Aku menyadari, kalau perasaanku selama ini padamu, bukan cinta, hanya rasa nyaman, karena kita sudah lama berteman," terang Hanna mencoba jujur akan isi hatinya. Dia tidak ingin nanti setelah menikah, maka hanya akan ada penyesalan yang tersisa.

__ADS_1


"Aku tidak bisa menerima ini, Han. Aku mohon, jangan tinggalkan aku. Pikirkan perasaanku, Han. Pikirkan kehormatan keluargaku dan keluarga mu juga. Ratusan undangan sudah di sebar, dan kau ingin membatalkan pernikahan kita?"


"Aku tahu aku salah, aku minta maaf untuk semua ini. Tapi ini demi kebaikan kita bersama. Apa kau ingin menjalani rumah tangga dengan ku, walau kau tahu aku tidak mencintaimu?"


"Aku tidak peduli, asal bisa menikah dengan mu, aku rela. Aku percaya waktu akan membuat mu mencintaiku," tegas Will.


"Tidak mungkin Will, selama di hatiku ada pria lain. Aku minta maaf, tapi ini lah kenyataannya, aku mencintai pria lain."


Wajah Will merah padam. Emosi dan amarah yang memuncak. Wajah seolah ditampar keras oleh kenyataan yang baru saja diungkapkan Hanna. Benci karena dia harus mengakui bahwa gadis yang dia cintai tidak mencintainya.


"Siapa pria itu?" tanyanya dengan suara dingin.


"Kau tidak perlu tahu. Aku hanya mencoba memperbaiki kesalahan yang sudah aku lakukan, sebelum semuanya terlambat. Maafkan aku Will." Hanna sudah akan melangkah pergi, namun, Will segera menangkap tangannya.


"Aku harus bagaimana agar kau mencintaiku, Han? katakan dan aku akan melakukan apa pun yang kau mau," ucap Will memohon. Dia hampir saja bertekuk lutut di hadapan gadis itu.


"Maaf kan aku, biar kan aku pergi, Will!"

__ADS_1


__ADS_2