My Crazy Lady

My Crazy Lady
Bab 139 (MCL)


__ADS_3

Dengan tubuh ramping mengilat, oleh tetesan air beraroma wangi yang bergulir di tubuhnya, Hanna berdiri dan melangkah keluar dari bak mandi. Ia hendak berbalik dan meraih handuk di belakang, tetapi 'Mery', karena sangat ingin membantu, telah mengeringkan tubuh Hanna dengan lembut.


Alex mengeringkan leher Hanna, kemudian bahu mulus dan punggung ramping wanita itu.


"Terima kasih, Mery. Aku akan menyelesaikannya sendiri. Aku akan makan malam di sini, lalu aku akan berganti pakaian di sini, lalu aku akan berganti pakaian untuk turun dan..." Hanna berbalik untuk meraih handuk. Mendadak wajah Hanna memucat dan terhuyung ketika melihat pria tampan berekspresi muram yang tidak mengucapkan apa pun, tetapi terus mengeringkan tubuh Hanna.


Hanna berdiri kaku, tidak sanggup bergerak atau pun berbicara. Ketika Alex mengeringkan perut dan pahanya, samar-samar Hanna menyadari tangan Alex berada agak lama di sana, tetapi tidak membelai. Alex ada di sini... tidak lagi marah padanya, tetapi tidak bicara padanya. Tidak tersenyum kepada Hanna.


Alex bahkan tidak menyentuh Hanna layaknya suami, tetapi hampir menyerupai.. pelayan!


Bongkahan menyakitkan mulai mencekat tenggorokan Hanna ketika menyadari apa yang sedang dilakukan Alex.


Alex bersikap sebagai pelayan sebagai cara merendahkan dirinya di hadapan Hanna. Bentuk penyesalan atas kesalahan yang telah dilakukannya pada istrinya itu selama beberapa Minggu ini.


Dengan lembut, Alex memaksa Hanna duduk di kursi di samping bak mandi dan tanpa mendongak menatap Hanna, Alex berlutut dengan satu kaki dan dengan sungguh-sungguh mengeringkan betis Hanna. "Alex.." bisik Hanna serak. "Oh, jangan.."


Alex tentu saja mengabaikan perkataan Hanna, pria itu terus melanjutkan pelayanannya yang bertujuan merendahkan dirinya dan berkata dengan suara serak dan terluka, "Kalau kupikir kau berniat meninggalkanku lagi, tidak peduli betapa bagus alasanmu, aku akan mengurung mu di kamar tidur dan memalang pintumu. Aku bersumpah!" Alex mengangkat kaki Hanna dan mengeringkannya.


"Apakah kau akan mengurung diri bersamaku di sana?" tanya Hanna dengan suara bergetar.


Alex mengangkat kaki Hanna ke rahangnya dan dengan lembut menempelkan pipinya di sana, lalu menoleh dan mencium kaki Hanna. "Ya," bisik Alex.


Alex berdiri dan berjalan menuju lemari pakaian, mengeluarkan jubah mandi sutra dan membawanya kepada Hanna. Bak boneka, Hanna berdiri di sana sementara Alex mengulurkan tangan ke belakang Hanna dan menarik tali jubah ke depan, mengikat di pinggang.


Alex menggendong Hanna, membawa wanita itu ke kursi tempat makan malam Hanna telah menunggu di meja rendah. Alex mencondongkan tubuh ke depan, membuka tutup keperakan nampan makanan Hanna. Ketika sadar Alex ingin menyuapinya, ia tidak tahan lagi sang Duke ingin menjatuhkan harga dirinya lebih lagi. "Jangan!" seru Hanna merangkul bahu Alex yang tegap dan membenamkan wajah di leher pria itu. "Ku mohon, jangan lakukan ini. Bicaralah padaku, Please..."


"Aku tidak bisa," bisik Alex di rambut Hanna yang berkilau. Alex menarik napas panjang dan menyakitkan. "Aku tidak bisa menemukan kata-kata."

__ADS_1


Penderitaan yang sangat kentara dalam suara Alex membuat air mata menggenang di mata Hanna ketika mundur dan menatap Alex. "Aku bisa," bisik Hanna serak. "Kau yang mengajarkannya padaku, Aku mencintaimu. Aku mencintaimu, Alex Claymore."


Seraya melilitkan jemarinya di rambut Hanna, Alex menangkup wajah Hanna dengan kedua tangan, dan menatap wanita itu. "Aku mencintaimu," bisik Alex serak. Ya Tuhan! Aku sangat mencintaimu, Hanna White Jhonson."


***


Di bawah cahaya lilin yang menari-nari, jarum jam di seberang ranjang menunjukkan pukul setengah dua pagi. Alex menatap lembut wanita cantik yang meringkuk dalam dekapannya, tertidur dalam pelukannya. Rambut acak-acakan Hanna bersandar mantap di dada Alex yang telan*jang.


Alex menyingkirkan sejumput rambut dari pipi Hanna. "Aku mencintaimu," bisik Alex lembut. Ia tahu Hanna sedang tidur dan tidak bisa mendengarnya, tetapi ia harus mengucapkan kata-kata itu lagi.


Dia telah mengucapkannya kepada Hanna dalam hati malam ini, setiap bibir pria itu menyentuh bibir lembut Hanna dalam gairah ataupun kelembutan menyiksa. "Aku mencintaimu." Itu lah lagu yang disenandungkan hati Alex ketika Hanna menggeliat di bawah tubuh Alex dan melengkungkan tubuh dengan manis untuk menyambut Alex. Melodi yang melengking tajam ketika Alex membawa Hanna ke puncak kenikmatan dan bergabung dengan wanita itu di sana.


Istrinya meringkuk lebih dekat dan berbisik dalam mimpi, "Aku juga mencintaimu."


"Ssst, Sayang. Tidurlah," gumam Alex, tapi gadis itu kini sudah terbangun.


Alex menatap lekat wajah cantik, yang sudah berhari-hari membuatnya gila karena khawatir. Rasa rindu yang masih menggunung pada gadis itu, membuat Alex berlama-lama menikmati Hanna malam ini, senada menunda saat-saat pelepasan terakhir sampai mereka berdua liar karena gairah. Setelah percintaan yang berlangsung lama Alex ingin Hanna beristirahat.


Sambil menunduk agar lebih jelas melihat wajah Hanna, Alex tersenyum lebar. "Aku tidak yakin maksud perkataanmu seperti yang kupikirkan."


Awalnya Hanna terlihat bingung, lalu wanita itu memerah dan memalingkan wajah. Terkejut dan cemas melihat reaksi Hanna, Alex mengangkat dagu gadis itu. "Apa maksudmu?" tanya Alex lembut.


"Itu... itu tidak penting. Sungguh tidak penting." Alex menunduk menatap mata hijau Hanna yang menyiratkan luka, kemudian berkata lirih, "Kurasa apa pun itu, sangat penting bagimu."


Hanna berharap dia tidak berbicara, tidak akan bicara, hanya saja sakit hati menjalari dirinya bagai nyeri yang tidak mau berhenti berdenyut. Tahu bahwa Alex menginginkan jawaban, Hanna memberikannya dalam bisikan yang hampir tak terdengar, "Irish."


"Ada apa dengannya?"

__ADS_1


"Apakah dia yang membuatmu begitu lama untuk datang padaku?"


Alex semakin erat memeluk Hanna, seakan bisa menyerap sebagian rasa sakit yang ditimbulkannya pada wanita itu, lalu tersenyum masam. "Sayang, alasan aku menunggu begitu lama adalah empat puluh penyidik tidak bisa menemukanmu. Dan aku yang seharusnya tahu benar, tidak mengira ibuku menjadi mitra yang masuk akal dalam persekongkolan untuk menjauhkan istriku dariku."


"Tapi kukira, ini akan menjadi tempat pertama yang akan kau pikirkan untuk mencariku, begitu kau mendapatkan waktu memikirkan semuanya."


"Well, tidak begitu," ujar Alex lirih. "Tapi, aku juga tidak memikirkan semuanya dalam jarak delapan kilometer dari Miss Lancaster, yang kurasa itulah yang ingin kau tanyakan padaku."


"Kau tidak melakukannya?"


"Tidak. Aku tidak melakukannya."


Hanna masih menatap kosong ke arah Alex, dia tidak meragukan pria itu, justru begitu terharu.


"Asal kau tahu, aku tidak berselera lagi pada wanita lain, setelah hatiku, tubuhku, dan pikiranku tertawan olehmu," bisik Alex penuh perasaan, dia ingin Hanna mengerti, kalau hanya dia satu-satunya wanita yang dia cintai.


Mata hijau Hanna dipenuhi air mata ketika menatap Alex dan tersenyum gemetar. "Terima kasih," bisik Hanna.


"Terima kasih kembali," jawab Alex sambil tersenyum lembut ke arah wajah Alex yang terdongak. Ia membelai lekukan anggun pipi Hanna. "Sekarang tidurlah, Sayang. Kalau tidak, ranjang ini lagi-lagi akan digunakan untuk hal lain."


Dengan patuh Hanna memejamkan mata dan meringkuk dalam pelukan Alex. Ujung jemarinya meluncur ke atas untuk membelai ringan rambut di pelipis Alex. Beberapa menit kemudian, jemari Hanna meluncur menuruni bahu Alex lalu ke dada pria itu.


Alex merasakan tubuhnya seketika merespons, dan ia mencoba mengendalikan gairah yang dibangkitkan Hanna dengan belaian wanita itu, yang dilakukan dengan mata terpejam.


Ketika tangan Hanna meluncur menuruni perut Alex, pria itu menangkap dan menahannya agar tidak meluncur lebih ke bawah. Alex merasa mendengar tawa samar sementara Hanna berguling dalam tidur dan bibir wanita itu menyentuh telinganya.


Alex menarik diri ke belakang menatap wajah Hanna dengan curiga. Hanna tidak tidur, mata wanita itu berbinar penuh cinta.

__ADS_1


Dengan satu gerakan cepat dan mulus, Alex menggulingkan Hanna hingga telentang dan menekan gadis itu ke bantal. Tubuh Alex setengah menutupi tubuh wanita itu. "Kau tidak bisa bilang kalau aku tidak memperingatkanmu," bisik Alex serak.


"Tidak akan, My Lord."


__ADS_2