My Crazy Lady

My Crazy Lady
Bab 93 (MCL)


__ADS_3

Hari ini terasa sial bagi Hanna, dia terlambat dan tentu saja tidak diizinkan masuk lagi. Dia harus menunggu mata kuliah itu selesai.


"Memangnya Lo dari mana sih? kok bisa telat?" tanya Ara setelah mata kuliah pertama selesai.


"Gak usah dibahas lagi. Aku lagi kesal ini!" ucapnya meremas kertas yang ada di tangannya dan segera melempar ke tempat sampah.


Orang yang pantas disalahkan adalah Davlin karena sudah membujuknya untuk menginap dan mematikan alarm hingga dia bangun ke siangan.


"Lo udah tahu kalau nama yang mendapat beasiswa itu udah keluar?" tanya Ara pelan. Dia tidak ingin memberitahukan Hanna dan berharap sahabatnya itu akan tahu dengan sendirinya.


Pagi tadi, ketika Ara sampai di kampus, dia sempat ke kantor jurusan, dan melihat nama-nama penerima beasiswa yang akan segera di tempel di Mading jurusan. Dari semua beasiswa itu tidak ada nama Hanna yang ikut terpilih sebagai penerima.


"Serius? nama gue ada gak?" tanya Hanna antusias. Setidaknya, kalau dia mendapatkan beasiswa itu, moodnya akan segera membaik. Dia sudah memikirkan untuk apa dana beasiswa itu nantinya. Kalau dia mendapatkan beasiswa itu, orang tuanya akan terbantu, hanya perlu memikirkan biaya kuliah Cathy saja.


"Han, kalau nama lo gak ada di sana, lo jangan sedih, ya," ucap Ara lembut.


Hanna menatap serius wajah Ara. Perasaan sudah tidak enak. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan Ara, kalau tidak, wajah gadis itu tidak mungkin berubah sendu seperti ini.


Untuk memuaskan rasa penasarannya, Hanna bangkit, menuju kantor jurusan. Lagi pula untuk mata kuliah kedua masih ada waktu 15 menit lagi sebelum di mulai.


Sungguh apa yang dilihat Hanna pada pengumuman itu cukup membuatnya naik pitam. Pasalnya, bukan apa-apa, ada dua nama Lusi di dalam daftar penerima beasiswa. Parahnya beasiswa yang dikejar gadis itu memiliki persyaratan memiliki IPK diatas tiga. Dan setahu Hanna gadis itu selalu mendapatkan IPK dibawah dua!


Rumors yang menyebutkan kalau gadis itu ada main dengan sekretaris jurusan tampaknya betul. Awalnya Hanna tidak percaya dan sama sekali tidak peduli, namun kini setelah dia ikut berjuang mati-matian dalam mendapatkan beasiswa itu, dan tersingkir dengan orang yang dianggapnya tidak berkompeten, maka Hanna tidak akan tinggal diam!


Dulu, saat anak-anak sekelasnya protes ke jurusan mengenai nilai Lusi yang mengalami perubahan. Dosen mata kuliah filsafat memberinya nilai E karena tidak pernah masuk dan mengumpulkan tugas. Tapi pada saat semester berikutnya, nilai keluar dan mereka semua tercengang melihat nilai B pada nama Lusi.

__ADS_1


Saat itu, rumors mengenai Lusi yang ada main dengan sekretaris jurusan dan bahkan kepala prodi mencuat. Hanna tidak peduli, tidak mau mengurusi, tapi kali ini dia tidak akan mundur!


Penuh percaya diri, Hanna masuk kedalam kantor jurusan, mendapati sekertaris jurusan yang terkenal dosen genit itu sedang sibuk mengutak-atik ponselnya.


"Permisi, Pak." sapa Hanna.


"Oh, Hanna. Ayo, silakan masuk," ucapnya bersemangat. Senyum genitnya muncul. Entah apa yang sedang ada dipikiran tua bangka itu, namun seringai dan pandangannya ke arah dada Hanna sudah menjelaskan semuanya.


"Maaf, Pak. Saya mau tanya mengenai penerima beasiswa baru itu. Kenapa saya tidak masuk pak? sementara dari 20 orang yang menerimanya, ada lima orang yang nilainya ada di bawah saya," terang Hanna masih mencoba menahan amarahnya. Dia sudah bisa menebak, tidak ada gunanya bicara dengan bandot tua ini, tapi ini lah prosedurnya, harus melewati dirinya dulu.


"Siapa?" tantangnya. Tampaknya kedatangan Hanna berhubungan dengan hal serius. Dia pikir gadis itu datang, untuk meminta keringanan perpanjangan uang kuliah atau mengganti dosen pembimbing mata kuliah.


"Ada Rita, Sissy, Mila, Agnes, dan yang paling parah ada Lusi!" ucap Hanna tertahan.


"Tapi, Pak. Setahu saya, ada syarat dan ketentuan yang berlaku, dan semua syarat sudah saya penuhi. Sementara Lusi, kita sama-sama tahu kalau syarat kedua yaitu IPK dibawah dua tidak dapat, kenapa dia dapat, Pak?"


"Sudah, kamu jangan buat ribut lagi. Kamu keluar sana!"


"Saya gak mau, sebelum mendapat penjelasan. Dimana letak kekurangan berkas saya, Pak?"


Ketua jurusan yang akrab dipanggil bandot tua oleh mahasiswi jurusan itu, menatap Hanna, berpikir sejenak, dia tidak mau mendapat masalah tapi mau mendapatkan keuntungan.


"Begini saja," ucapnya bangkit dari duduknya, lalu berjalan ke belakang Hanna, menyentuh pundak Hanna dan meremasnya lembut. "Saya bisa memberikan beasiswa itu padamu, asal, kamu mau menemani bapak di hotel Bintang."


Hanna ingin sekali mencekik pria itu, tapi dia masih sabar. Kelakuan asusila yang diperbuat dosen ini pada beberapa kakak stambuknya sudah sering dia dengar, dan kini dia merasakannya.

__ADS_1


Satu gerakan, Hanna menjatuhkan tangan pria itu, menunjukkan jawaban atas permintaan pria itu. "Maaf, Pak. Saya meminta keadilan di sini, bukan menjual tubuh ku."


"Lancang sekali kamu, ya. Oke, kalau kamu tidak mau, tidak masalah. Artinya kamu harus melupakan beasiswa itu!"


Hanna bergeming. Kepalan tinjunya sudah siap untuk dia layangkan. "Kamu tahu, kelima orang yang kamu bilang tidak pantas menerima beasiswa itu, adalah mahasiswi yang penurut, sopan pada saya. Dan apa yang saya perintahkan selalu melakukan dengan senang hati," ucapnya masih memprovokasi Hanna.


"Saya masih tidak mengerti, Pak. Bahkan tiga diantara mereka sudah tidak pernah kelihatan lagi, dan lucunya nama mereka keluar sebagai penerima beasiswa? kemana dananya itu mengalir, Pak?"


"Itu bukan urusanmu. Kalau kau tidak mau mengikuti apa yang saya katakan, silakan kamu keluar sekarang juga!"


Merasa kalah walau tidak terima, Hanna keluar dari ruangan itu. Tapi mungkin dia tidak sepenuhnya kalah, karena dengan cerdiknya, dia sudah merekam pembicaraan mereka tadi.


***


"Bagaimana? apa kata si gatal itu?" sosor Ara setelah keluar dari ruangan terkutuk itu.


"Tentu saja gagal. Si bandot tua itu tidak memberi penjelasan, malah ingin ngajak gue ng*we! b*ngsat emang!" umpat Hanna menendang lantai.


"Gue bilang juga apa. Lima orang itu udah dia pakai, makanya dikasih beasiswa! dasar monyet memang si Zainal itu!" Ara ikutan mengumpat sekretaris jurusan.


"Tapi gue udah rekam pembicaraan kita. Sekarang gue mau lapor ke SEMA dan ke BEM!" ucapnya penuh semangat. Oknum seperti sekretaris dan ketua jurusan yang menyalah gunakan kekuasaan dan jabatan mereka harus segera dibasmi, kalau tidak yang akan susah juga mahasiswa yang jujur dan benar-benar berprestasi.


"Lo yakin? kalau sampai lo gagal menggulingkan dia, justru lo yang didepak dari sini," ucap Ara melihat ke sekeliling, takut kalau membicarakan mereka ada yang dengar.


"Gue gak takut. Tugas kita sebagai mahasiswa justru harus menegakkan keadilan dan memberantas KKN di kampus ini!"

__ADS_1


__ADS_2