
"Huufffh.." Hanna megap-megap meraih udara. Davlin segera melepas tangannya, dan kini melipat di dada.
"Kau ingin membunuhku?" pekik Hanna duduk. Rambut panjangnya tergerai indah, jatuh hingga ke dadanya. Wajah malas khas orang bangun tidur mampu menggoda pertahanan pria itu.
Tadi saja, saat mendapati Hanna berbaring di ranjang, Davlin yang sempat terkejut hanya menatap terpesona. Gadis itu bak putri tidur yang begitu kelelahan. Pantulan cahaya rembulan yang mencuri pandang padanya membuat wajah gadis itu semakin cantik. Davlin mendekat, mengukir senyum. Tergoda ingin mencium pipi mulus itu, tapi dibatalkannya.
Hanya Hanna yang bisa membuatnya gila, marah semarah nya dan bisa terpaku penuh cinta hanya dengan menatap wajah gadis itu. Keputusan untuk membangunnya menjadi pilihan. Memencet hidung Hanna dengan senyum yang tidak lepas di bibirnya.
"Beruntungnya kau masih hidup," tukasnya santai.
Hening. Terdiam seribu bahasa. Keduanya bak orang asing yang tidak tahu harus berkata apa, tapi memiliki banyak hal yang ingin dikatakan.
"Untuk apa kau kemari? jangan bilang sekarang kau punya penyakit berjalan saat tidur." Goda Davlin, tapi masih tetap dengan nada dingin.
"Kau yang membeli lukisan papa? kenapa?"
"Kau tidak mengerti ucapan mu."
"Kenapa kau membelinya? apa kau sengaja? pasti kau sudah tahu mengenai hutang papa." Hanna menunduk mengamati kaki telanjang mereka.
"Apa kau terluka dengan yang ku lakukan?" Davlin masih tetap pada nadanya.
Pertahanan Hanna jebol sudah. Dia menangis tersedu-sedu menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dia tidak terluka, dia terharu. Davlin tulus, dia tahu itu. Terlebih dia juga sudah mendengar kalau pria itu tidak ingin siapa pun tahu bantuannya.
Bagaimana mungkin Davlin masih berkeras hati setelah melihat hal itu? Direngkuhnya tubuh orang yang sangat dia cintai, yang membuatnya kehilangan akal kala di saat terwaras nya sekalipun.
__ADS_1
"Jangan menangis. Sudah banyak kesalahan yang harus kau pertanggungjawaban kan. Kalau kau menangis bagaimana mungkin aku bisa menghukum mu," bisiknya membelai punggung kekasihnya. Perasaan Hanna melebur, kini bertepi.
"Aku pulang. Di sini lah tempatku," gumamnya dalam hati disela tangisnya. Harusnya dia gembira karena kata putus sialan yang dia ucapkan asal kemarin, tidak ditanggapi Davlin. Bahkan tamparan di pipi Davlin dari tangannya itu, seolah hanya ingin menyeimbangkan posisi mereka. Dulu Hanna lah yang ditampar karena sudah meminta Davlin kembali bersama Iris. Kini gilirannya.
Manusia memang tempat salah dan khilaf. Apalagi saat sedang mencintai seseorang. Tapi anggap saja itu semua pengalaman menjadi guru terbaik di masa depan.
"Sudah, gak capek nangis terus?" Davlin mengurai pelukannya, menghadapkan Hanna tepat diwajahnya. Jari-jari panjangnya menghapus air mata Hanna. Mencubit kembali hidung gadis itu hingga Hanna merengek kesakitan.
Davlin tergelak dengan puas, geli melihat reaksi Hanna yang megap-megap tidak bisa bernafas, tawanya pecah, menggema di kamar itu, lalu kembali merengkuh tubuhnya.
"Aku sengaja memindahkan tangga itu, agar kau tidak bisa menyelinap, tapi kain yang aku lihat menjuntai panjang cukup menjelaskan kau memang bukan gadis biasa. Kala sudah punya keinginan, pasti apapun kau lakukan. Aku curiga, jika aku tetap tidak bisa kau jumpai, rumah ini juga akan kau bakar," ujar Davlin menyentil telinga Hanna. Keduanya duduk ditepi ranjang masih saling berpelukan.
"Dih! Apa aku se bar-bar itu?" Hanna menyembunyikan wajahnya lebih masuk ke dalam dada pria itu, menyesap wangi parfum yang begitu dia rindukan.
Hanna mengerti makna kalimat Davlin, dan paham kemana arah tujuannya. "Aku minta maaf, aku salah. Harusnya aku cerita masalah papa. Maaf, karena ide gila ku yang bekerja di klub, aku hanya ingin membantu papa. Kau tahu aku adalah putri sulung di keluargaku, sudah semestinya aku ikut membantu."
Kembali hening, seolah Davlin tengah mempertimbangkan apa kata selanjutnya. Dia terluka Hanna menyembunyikan masalahnya, dan bekerja di klub itu memancing amarahnya karena dia takut gadis itu diganggu oleh pria brengsek yang bertebaran di sana.
"Kenapa kau diam? tidak ingin mengatakan sesuatu?" Hanna mendongak. Pria itu butuh bercukur, ada bulu-bulu halus dan kasar di dagunya. Dia tidak suka. Nanti dia akan coba katakan pada pria itu, tapi selesaikan dulu masalah ini.
"Kau ingin aku mengatakan apa? aku yakin tanpa aku katakan, kau pasti sudah mengetahui dengan jelas apa yang ada dalam pikiranku."
"Iya, aku salah."
"Lalu?"
__ADS_1
"Kedepannya aku janji akan lebih terbuka padamu. Aku akan menceritakan apa pun." Hanna mengukir bentuk hati di dada pria itu. Hal kecil itu saja sudah berdampak pada Davlin. Otot tubuhnya menegang seiring sentuhan jemari Hanna yang bermain-main dengan lapis kaosnya.
"Jadi gadis penurut. Kau tahu, aku sangat mencintaimu. Aku tidak akan memaafkan diriku jika sesuatu terjadi pada mu. Kau kekuatan sekaligus kelemahan ku. Jangan pernah menyembunyikan apa pun dari ku," bisiknya menangkup wajah Hanna, perlahan mendekatkan wajahnya.
Jantung Hanna mulai tidak berfungsi dengan semestinya. Dia tahu sebentar lagi pria itu akan menciumnya. Dia juga telah lama menginginkan hal itu, jadi Hanna memutuskan untuk menutup matanya, menikmati sensasi yang selalu mampu menjungkirbalikkan semua organ ditubuhnya, bergetar, hingga menggelinjang nikmat.
Ciuman itu begitu nikmat, dan basah. Davlin menuntaskan rasa rindunya. Seminggu tidak mencecap rasa manis Hanna membuatnya tidak bisa menyeimbangkan rasionya.
Sepuasnya menjelajah mulut Hanna, mengirimkan sensasi menggelegar hingga ke perut Hanna. Menyapukan lidahnya pada langit-langit mulut gadisnya. Hanna yang sudah tersesat, memohon peta untuk pulang, namun, Davlin masih ingin memanjakannya. Memutuskan ingin tetap terjebak, Hanna mengeratkan pergelangan tangannya di leher pria itu, mulai menjilati dan menghisap bibir Davlin.
Davlin bukan malaikat, justru saat ini dia pasti berperan sebagai iblis. Tangannya sudah menjalar ke tempat yang dia suka. Meremas lembut salah satu gundukan indah di hadapannya. Hanna menggeliat, suara kecil keluar dari sela bibirnya yang sibuk melayani keramahan kunjungan lidah Davlin.
Frustrasi akan keadaan yang menyiksa, Davlin menarik Hanna untuk duduk di pangkuannya, mendekap lebih erat. "Au.." Hanna refleks menjauh dari pangkuan Davlin, sesuatu menusuk bokongnya.
"Jangan beranjak, tetap lah di sini, Manis. Sebentar lagi, Please," bisiknya membenamkan wajahnya di dada Hanna.
Dialog dan keadaan itu membawa ingatan Hanna saat dia salah satu lereng bukit di Holy Ville.
Alex, kau persis sekali dengan Alex.. Aku pernah jatuh cinta pada pria bernama Alex, tokoh dalam novel yang aku temui. Entah itu benar aku masuk ke dalam atau hanya bermimpi, tapi Alex sudah mengajarkan ku tentang cinta. Dan kini ada Davlin dihadapan ku, dan sepenuhnya aku yakini aku mencintainya. Hanya doa. Alex, seandainya kau nyata, atau benar seperti mimpiku, kau adalah buyut Davlin, maka terima kasih karena sudah membiarkan Davlin ada di duniaku, dekat di hatiku..
Dukung novel aku terus ya♥️♥️
mampir kak
__ADS_1