My Crazy Lady

My Crazy Lady
Perkenalan 4


__ADS_3

Bab 6 La Lumiere


Elin pikir apa yang dikatakan Juna tadi malam adalah gurauan mabuknya. Namun kala dua orang temannya datang ke kontrakan mereka, barulah Elin sadar kalau rencana pria itu bukan pepesan kosong.


“Ini Riris, yang akan membantumu untuk menjelaskan kebiasaan Hanna. Dia adalah pelayan wanita itu,” ujar Juna tanpa basa basi, memperkenalkan seorang gadis yang tampaknya lebih tua tiga tahun darinya.


Tidak lama, Juna pergi dengan pria yang tadi datang bersama pria yang bernama Jhon, yang tadi datang bersama Riris.


“Hai, Lin. Maaf merepotkanmu. Tapi nona besar kami tidak punya pilihan lain selain melakukan ini,” ucap gadis itu berusaha ramah. Elin masih diam. Hanya mengamati dan mendengar wanita itu bicara.


“Aku tahu, mungkin ini tidak adil buatmu, tapi percayalah, ini semua akan mendatangkan kebaikan buatmu dan juga Juna”


Elin mengangkat wajahnya. Kali ini menantang mata Riris. “Kenapa menurutmu ini demi kebaikan buat kami?”


“Juna sudah menerima uang muka atas kerja sama ini. Lagi pula, Juna sudah di tolong, di lepaskan dari penjara seminggu lalu, dengan jaminan bos Surya”


Bola mata Hanna membulat. Seminggu lalu, Juna memang tidak pulang selama lebih dari seminggu. Namun saat ingin bertanya, Juna malah masuk kamar dan tidur.


Tanpa bertanya pun Elin tahu alasan Juna masuk bui untuk ke sekian kaliannya ini.


“Kenapa nona besar itu tidak mau menikahi pria itu? Apa dia seburuk itu?” Elin yang merasa perlu menggali informasi tentang calon mangsanya, meminta keterangan dari Riris.


“Nona besarku jatuh cinta pada seorang pria. Dia juga baru diberitahu tentang perjodohan ini, tentu saja dia tidak menerima, terlebih lagi saat ini nona besar sedang hamil,” terang Riris.


Jadi, aku hanya tumbal untuk menyelesaikan masalah ini?


“Jalani saja, Lin. Kalaupun dia bukan pria tampan, atau punya kelainan, toh, kau hanya berpura-pura jadi tunangannya. Segera pindahkan hartanya atas namamu, dan tinggalkan dia,”


Riris menerangkan semuanya begitu gamblang. Seolah semua hal ini gampang untuk dilakukan.


Apa mereka yang ada di balik layar ini tidak berpikir, bagaimana kalau kebohongan mereka sampai diketahui sang calon mangsa?


Bukankah, itu sama saja mengantarkan nyawanya pada pria itu.

__ADS_1


Sepanjang sisa hari itu, Riris hanya bertugas menjelaskan tentang kebiasaan Hanna. Usia Hanna ternyata memang seumuran dengannya, dan poin paling utama dari rencana ini, pria itu belum pernah bertemu sama sekali dengan Hanna.


***


Setelah hari itu, selama seminggu penuh Riris datang ke rumahnya. Terkadang dia akan membawa penata rias wajah dan rambut. Perubahan dari ujung rambut hingga ujung kaki gadis itu nyatanya tidak hanya Elin yang dibuat pangling, tapi juga Juna.


Riris sudah biasa menata nona muda. Dulu sebelum bekerja pada Hanna dia bekerja di salon, jadi untuk hal ini, tidaklah terlalu berat untuknya.


“Ris, apakah orang tua Hanna tidak akan tahu kalau orang lain yang menggantikan putri mereka?” tanya Elin. Dia yakin rencana bodoh mereka itu akan segera diketahui.


“Nona Hanna anak yatim-piatu. Dia hidup sebatang kara. Sebenarnya aku juga sudah lama tidak bersama dia lagi. Sejak nona besar memilih tinggal dengan kekasihnya itu, aku pun kembali bekerja di salon terdahulu”


“Hah? Yatim piatu? Lantas bagaimana dia membayar gajimu, serta biaya hidup kalian?”


“Hanna memiliki sisa warisan dari orang tuanya. Kalau aku? Aku melayaninya karena dulu dia pernah menolongku, menyelamatkan nyawaku dengan mendonorkan darahnya. Sejak saat itu, aku bersumpah akan melayani nona Hanna segenap hatiku, tanpa di bayar sekalipun”


Lantas keduanya diam. Bergumul dengan pikiran mereka masing-masing. Hanna meninggalkan beban ini pada Elin demi menyelamatkan cinta dan kebahagiaan. Buktinya, Hanna tidak peduli dengan uang dan harta kekayaan calon tunangannya. Hanna justru memilih tangan pria sederhana yang benar-benar mencintainya.


Elin ingin memiliki kisah cinta indah seperti yang dialami Hanna. Memperjuangkan cinta pada Juna.


“Kau..kau sangat cantik,” ucapnya gugup. Baru kali ini Juna kehilangan kata-kata saat melihat wajah Elin. Gadis itu hanya bisa menunduk, mendapat pujian dari sang pujaan hati.


“Bersiaplah, Lin. Besok kita akan berangkat. Semua pakaianmu sudah ada di dalam koper itu, ingat semua yang dijelaskan Riris,” lanjut Juna malam itu.


“Aku tahu”


“Tidurlah. Besok pagi kita akan berangkat menemui pria itu.” tanpa berkata apa pun lagi, Juna sudah meninggalnya untuk kembali ke kamar.


“Aku berharap, suatu hari tidak ada kata menyesal dari bibirmu, atas semua akibat dari tindakan kita ini, Jun..”


***


Pusat kota ternyata jauh lebih besar dan juga ramai dari tempat tinggal mereka dulu yang ada di pinggiran kota Jakarta.

__ADS_1


Sesampainya di kota, seseorang sudah menunggu mereka, memberikan kunci kamar hotel, dekat tempat Elin dan pria bernama Auri itu akan bertemu.


“Istirahatlah. Kau masih punya waktu mempersiapkan dirimu. Ingat, Lin, ini kesempatan kita untuk jadi Kaya. Kau harus mampu merayu, membuat pria itu terpesona padamu.” Kembali Juna mengingatkan setelah mereka berdua berada di kamar hotel itu.


“Walau pun untuk itu aku harus menggunakan tubuhku?”


Juna menatap tajam manik indah itu. Ada luka yang terpancar, tapi Juna membuang muka. Dia tidak ingin terpancing, larut dalam permohonan gadis itu untuk membatalkan rencana mereka.


“Jawab aku, Jun!”


“Ya, demi ini, bahkan menyerahkan tubuhnya tidak akan menjadi masalah. Ayolah, Lin. Jangan memulai lagi. Kita sudah ada di pintu gerbang, kunci sudah kita buka, kaki sudah akan melangkah masuk, kau tidak bisa mundur lagi,” ucap Juna dengan wajah malas.


Hati Elin sakit. Harga dirinya kembali terlempar di dasar lantai. Diinjak oleh pria itu tanpa rasa bersalah.


Pukul 15.00, Juna beranggapan ini sudah waktunya. Tepat seperti yang dikatakan Hanna, Auri akan menemuinya setelah pulang kerja, pukul tiga sore.


“Kau siap?” suara Juna justru terdengar tidak yakin. Elin tahu, pria itu juga sedang dalam keadaan tidak percaya diri. Rasa takut kejahatan yang belum mereka mulai terbongkar menjadikan pria itu sejak tadi keringat dingin.


“Aku siap,” gumam Elin pendek. Hanya dia yang tahu, kalau jauh di lubuk hatinya, dia ingin pria itu tidak menyukainya, membatalkan pertunangan mereka, agar Elin bisa pulang dengan Juna kembali ke Bekasi.


Elin berjalan paling depan, berjalan keluar dari kamar menyelusuri koridor kamar hotel menuju lobi tempat dia akan bertemu Auri.


Juna sendiri mengikuti Elin, menjaga gadis itu jangan sampai melakukan kesalahan dan berakibat buruk untuk mereka.


Tiba di lobi, hanya ada beberapa orang yang sedang duduk di sana. Juna memilih kursi di sudut ruangan yang memberinya akses untuk memantau objek lebih jelas.


Melalu arahan mata, Juna menunjuk satu meja di dekat jendela untuk Elin duduk. Sejauh pengamatan Juna, dia yakin pria yang akan mereka tipu belum ada di sana.


Elin menunggu dengan gelisah, perasaan tenang tadi entah kabur ke mana. Kini dia sangat gugup hingga membuat perutnya sakit.


Bosan meremas jemari demi mengurangi rasa gugup dan bosannya, kini Elin menopang dagu dengan tangan, menatap ke luar jendel. Matanya menatap sepasang anak manusia seumurnya, tengah duduk berbincang sembari tertawa riang.


Sesekali pria itu akan mencubit pipi gadisnya pelan hingga membuat keduanya tergelak bahagia.

__ADS_1


Hidup itu sesederhana itu, Juna. Kita bisa bahagia tanpa harus punya banyak uang dan menipu seperti ini..


“Maaf, apakah Anda nona Hanna Wijaya?”


__ADS_2