
Semua orang menatap ke arah empat orang yang memiliki perawakan tegas itu. Hanna sendiri hanya menengadah menatap sekilas.
More Corp..apa mungkin itu perusahaan Davlin?
"Maaf, bapak-bapak ini dari mana?" tanya pembantu rektor dua mempersilakan mereka duduk.
"Maaf, kami ingin memeriksa dana yang kami kucurkan untuk beasiswa itu, apakah sudah sesuai dan diterima mahasiswa yang memang memenuhi ketentuan yang kami sebutkan. Karena dalam perjanjian pemberian dana. beasiswa itu, kami menyebutkan kalau dana itu disalah artikan, yang artinya penerimanya tidak tepat sasaran dan tidak dialokasikan dengan baik, maka dengan menyesal, kami menyampaikan akan menarik kembali sumber dana tersebut."
Wajah Zainal, Botol dan juga Edi pucat pasi. Jika sampai pihak donatur memeriksa kelayakan data, maka habislah mereka. Tidak hanya malu, dan dipecat dari kampus, mereka juga bisa masuk bui!
"Baik kalau begitu. Kami sebagai pihak menerima tidak keberatan akan adanya pemeriksaan ini. Kami adakan menunjukkan data base nya pada bapak-bapak sekalian.
Dari data yang telah dianalisis para tim pencari data yang diutus Davlin, ditemukan aliran dana yang awalnya untuk 200 orang, hanya disampaikan 80 orang saja, dan sisanya masuk ke rekening Atas nama saudara Botol Longor, Edi Kamvret, dan Zainal Vangke," terang salah satu dari keempat orang itu.
Ketiganya terdiam. Menunduk malu. "Dari data yang kami dapatkan, data ke 80 puluh orang ini, ada lima orang yang tidak layak mendapatkan karena dilaporkan sudah tidak aktif lagi mengikuti perkuliahan, dan indeks prestasi kumulatif mereka juga tidak memenuhi persyaratan untuk mendapatkan beasiswa ini," imbuh rekannya yang lain.
"Baiklah. Kami selaku pihak kampus meminta maaf karena sudah menyalah gunakan dana yang perusahaan More Corp berikan. Selanjutnya kami akan mengembalikan dana tersebut, namun memohon biarlah masalah ini hanya sampai di sini. Izinkan kami lah yang menyelesaikan masalah internal ini diantara kami saja." Kali ini sang rektor yang angkat bicara. Wajahnya merah, menahan malu yang sudah tidak tertahankan lagi.
"Menurut pimpinan kami, Dana itu tidak perlu dikembalikan, berikan lah pada yang memang pantas mendapatkannya. Kami sudah mendapatkan laporan mengenai adanya peristiwa yang merugikan seorang mahasiswa."
Semua mata kini menatap Hanna. Terlebih ketiga manusia bejat itu saling tatap. Dalam hati bertanya, siapa sebenarnya Hanna Jhonson ini? siapa yang menjadi backingan gadis itu hingga bisa menyelidiki kasus ini dan dengan gampang mendapatkan data yang mereka butuhkan.
__ADS_1
Salah satu dari keempat suruhan Davlin memantulkan video dalam tembakan proyektor. Dalam video itu sosok pria yang wajahnya sangat dikenal Hanna mulai berbicara.
Rektor kampus bahkan semua yang hadir di sana mengenal Davlin. Pria yang begitu tampan itu mulai berbicara dalam siaran langsung ini. Lagi pula, keluarga More selalu menjadi donatur terbesar pada kampus ini sejak masa ayah bahkan kakek Davlin.
"Selamat siang, Bapak ibu sekalian. Saya sudah mendengar yang terjadi di kampus ini. Saya harap ini akan menjadi kejadian terakhir dalam tindak penyalahgunaan dana bantuan. Saya berencana setiap tahunnya kampus ini akan menjadi penerima tetap penerima bantuan dana bagi mahasiswa. Saya berjanji tidak akan membawa masalah ini ke ranah hukum, dengan catatan, ketiga manusia tidak bermoral itu di pecat dengan tidak hormat."
"Baik lah. Saya selaku rektor menjamin kalau semua yang anda katakan akan kami laksanakan," terang sang rektor.
"Satu lagi. Kalian semua lihat gadis yang ada di sana?" Semua mata kini menatap Hanna. Hanya dia wanita yang ada di ruangan itu, pastilah Hanna yang dimaksud Davlin.
"Dia adalah kekasih saya. Calon istri saya. Saya harapkan semua memperlakukan dia dengan baik. Dan bagi yang sudah mencelakai, memfitnah dia dengan keji, saya pastikan Anda akan menyesal telah hadir di dunia ini. Maaf, saya bukan seseorang yang pemaaf!" serunya dari pantulan layar itu.
Saat ini, Hanna berharap memiliki teman seperti Doraemon. Ingin sekali punya pintu kemana saja milik kucing itu, agar bisa pergi dari sana.
Acara itu ditutup dengan salaman dan permintaan maaf. Tanpa diduga Hanna, Ketiga bandot tua itu meminta maaf hingga berlutut di hadapan Hanna.
"Maafkan kami, Hanna. Sampaikan pada tuan More untuk memaafkan kami. Kasihanilah anak istri kami," ucap Botol Longor mengiba. Bahkan Zainal sudah menangis layaknya bocah yang ketakutan.
"Maaf, Pak. Kalau saya pasti memaafkan bapak semua. Tapi kalau masalah Davlin, maaf saya tidak bisa ikut campur. Dia memang pemarah," sahut Hanna jumawa. Sesekali dia ingin meminjam nama Davlin yang punya kuasa.
"Apa yang harus aku lakukan, Han? agar pak More mau memaafkan ku?" Zainal menarik tangan Hanna, tapi langsung di tepis oleh pak Rektor.
__ADS_1
"Saudara Hanna, terima kasih untuk waktunya. Anda boleh kembali ke kelas." Hanna mengangguk dan segera pamit dengan perasaan bangga dalam hati.
"Tunggu, Hanna. Sekali lagi bapak minta maaf, bapak mewakili kampus ini meminta maaf atas perlakuan tidak adil yang sudah kau terima, dan berharap kedepannya bisa menebus kesalahan ini," ucap Pak rektor.
***
Berita mengenai keadaan di gedung C itu sudah terdengar hingga ke jurusan, bahkan ke kelas mereka.
Kedatangan Hanna disambut bak pahlawan perang yang sudah berhasil mengalahkan musuh di Medan peperangan.
"Hanna," Ara menghambur memeluk gadis itu. Mengucapkan selamat karena sudah berhasil memenangkan perkara ini. "Nama mu sudah dipulihkan, bahkan kini kau dianggap sebagai wakil mahasiswa," ucap Ara gembira.
Kelas mereka memang telah kosong. Mata kuliah jam pertama telah berakhir dan dosen juga sudah meninggalkan ruangan.
"Kalian sudah tahu? dari mana?" tanya Hanna. Kini mejanya sudah dikerumuni oleh orang-orang yang tadi mendukungnya. Bahkan pihak yang juga menolaknya kini ada didekatnya untuk menjilat.
Kabar mengenai kekasih Hanna yang seorang milyarder cepat tersebar entah bagaimana caranya. Semua kini berlomba-lomba ingin menjadi sahabatnya.
Berbeda dengan Lusi, dia tetap tidak mau menjadi teman gadis itu. "Lo pikir, Lo udah hebat, hah? jadi simpanan tuan More aja belagu. Asal lo tahu, lo cuma dijadikan mainan. Gue juga udah pernah berkencan dengannya selama sebulan!" bual Lusi.
Hanna tidak menanggapi, dia tahu kalau apa yang dikatakan gadis itu hanya pepesan kosong. Menganggap masih memiliki daya untuk menyelamatkan wajahnya.
__ADS_1
"Oh, baik lah. Terima kasih atas infonya," ucapnya menoleh pada Lusi. "Maaf, karena ini sudah jam makan siang, maka kami permisi ke kantin dulu," lanjut Hanna menarik tangan Ara melewati kerumunan itu dan segera keluar dari kelas.
"Aku menunggu ceritamu mengenai si milyarder tampan itu!" Hanna hanya cengar-cengir menanggapi permintaan Ara yang tentu saja sulit untuk dipenuhinya sekarang.