
Malam sebelum keberangkatan, Ema sudah sibuk menyiapkan bekal untuk Hanna. Ketika pagi menjelang, Ema sudah lebih dulu bangun, dan menyiapkan dalam satu Tote bag. "Yang ini buatmu, yang ini kasih sama Davlin, ya," ucap Ema menunjukkan bekal yang di masukkan kembali dalam Tote bag berwarna coklat.
Hanna yang tengah memakai sepatu kets nya hanya diam, tidak peduli. Semakin ke sini, Hanna jadi semakin kesal pada mamanya. Wanita itu terang-terangan menitipkannya pada Davlin, si monster tampan.
"Maaf, harus menggangu mu, Dav. Tante mau menitipkan Hanna padamu. Tolong jaga dan awasi dia, ya," ucap Ema saat berkunjung ke rumah pria itu. Bukan apa, pasalnya orang yang tengah mereka bicarakan ada juga ada di sana. Davlin hanya tersenyum menatap geli pada Hanna yang tangannya dipegang erat oleh Ema.
Pria itu tebak, gadis itu pasti dipaksa untuk ikut ke rumahnya untuk menemui dirinya. "Baik, Tante. Saya akan menjaganya seperti anak kucing," sahutnya pendek.
Ema yang merasa aneh akan jawaban Davlin hanya mengangguk lemah. Sebaliknya, Hanna menatap kesal dan mengerucutkan bibirnya. Siapa yang tidak kesal disamakan dengan anak kucing!
Masih pukul tujuh, janji untuk berkumpul di parkiran kantor pukul delapan pagi. Hanna berdiri setelah selesai mengikat tali sepatunya, lalu menyambar tas ransel kecilnya dan segera beranjak ke pintu.
"Eits, kau mau kemana? ini masih pukul tujuh," ujar Ema yang baru datang dari arah dapur.
"Biar gak buru-buru, Ma. Aku mau berangkat sekarang, janjian sama teman kerja. Kita mau foto-foto dulu sebelum berangkat," jawab Hanna asal.
"Oh, padahal Davlin bilang mau berangkat bareng sama mu. Ya, udah. Ini jangan lupa." Ema menyodorkan Tote bag yang terpaksa dibawanya.
Hanna berbohong, tentu saja. Mana ada rencana foto-foto dulu sebelum berangkat. Tapi demi menghindari Davlin, Hanna pergi lebih dulu. "Ternyata lo gesit juga ya!" suara itu menyentak lamunannya. Dia sangat mengenal suara itu.
"Mati aku!" gumamnya dalam hati. Bahkan Hanna tidak berani untuk menoleh. Bukan kah dia sudah pergi diam-diam? bahkan saat mau pergi keluar dari rumah, Hanna mengendap-endap seperti pencuri. Begitu keadaan aman, Hanna segera kabur.
"Kemari!" Hardiknya dengan gaya dan suara ala bosnya yang sangat dibenci Hanna. Tidak punya pilihan, gadis itu bangkit dengan malasnya. Mendekat hingga tangan pria itu bisa menyentuhnya, itu pun kalau pria itu mau!
"Masuk!"
"Dih! nih orang, ya. Bokap gue aja gak pernah se arogan ini!" umpatnya dalam hati, memutar bola matanya sebagai ungkapan kekesalannya.
Tidak ingin ditegur lagi seperti di awal nebeng mobilnya, Hanna langsung membuka pintu mobil depan, masuk dan duduk di sebelah.
__ADS_1
Kunci mulut mu, Han. Jangan biarkan pria ini berhasil mengubah mood mu lebih buruk lagi!
Hanna menunggu, tapi mobil tetap tidak bergerak. Dia masih mengunci rapat mulutnya dengan pandangan kosong ke depan.
"Kenapa kau terus saja lari dari ku?" Suara Davlin tiba-tiba berubah begitu lembut. Hanna sampai menoleh ke samping.
"Aku gak mimpi, kan? dia bisa bicara lembut padaku," gumam Hanna dalam hati. Mengingat selama ini pria itu seperti singa yang siap memangsa setiap berhadapan dengannya.
Hanna diam. Dia bingung harus menjawab apa. Tatapan pria itu begitu teduh, menggetarkan hatinya hingga membuat energinya seolah terhisap. Tatapan Davlin mengingatkannya pada Alex. Keduanya saling menatap dalam, seolah cukup dengan tatapan itu mengungkapkan perasaan yang ada.
Hanna kembali jatuh cinta pada pria itu. Satu senyum mengembang di bibirnya, ingin menjawab dengan segenap hatinya. Hanna sudah siap membuka mulutnya hingga satu kalimat menghantamnya.
"Apa kau pikir kau seistimewa itu? hingga harus dikejar?"
"Hah?" Hanna masih tidak percaya atas apa yang dia dengar.
Sumpah demi Neptunus yang menguasai lautan, Hanna tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Setelah kata terakhir dari pria itu, mobil melaju kencang, tanpa merasa bersalah apa lagi memikirkan perasaannya saat ini.
Air mata Hanna sudah merebak. Benci dan kesal pada pria itu yang sudah berhasil berulang kali mempermainkan perasaannya.
Pikiran Hanna yang sejak tadi membayangkan kalau dia saat ini tengah menghajar Davlin hingga pria itu babak belur, cukup menjadi penghibur hatinya. Tidak terasa sudah hampir tiba di kantor. Hanna bersiap, karena dia tahu sebentar lagi akan diminta turun.
Tempat yang biasa menjadi perhentian Hanna, sudah dilewati mobil Davlin bahkan mereka sudah hampir tiba di parkiran kantor. Hanna melayangkan pandangan sudah banyak karyawan yang bersiap hendak menaiki bus pariwisata yang sudah terparkir di sana sebanyak lima buah.
"Pak, ini gak salah? kenapa saya gak diturunkan di sana? bagaimana kalau orang lain lihat kita datang bersama?"
"Kenapa? lo takut? harusnya gue dong yang khawatir kalau mereka lihat kita bersama!" Sahutan pria itu tetap saja ingin memancing tanduk Hanna keluar dari kepalanya.
Menculik Davlin saat tidur dan memasukkannya ke dalam karung, lalu membuang ke sungai sepertinya ide yang bagus untuk pembalasan pada pria itu! Skip!
__ADS_1
"Justru itu, Bos. Kalau bapak terlihat dengan saya, nama baik bapak akan tercemar," ujar Hanna memilih menjatuhkan dirinya lebih jauh di kaki pria itu agar si sombong berwajah tampan itu puas.
"Nah, itu lo ngerti! Atau jangan-jangan lo takut ya, kalau pria yang selalu mengekori lo kemana pun itu cemburu?"
Untuk sesaat Hanna harus berpikir, siapa yang dimaksud Davlin. "Siapa? Bang Aril maksudnya?"
Davlin tampaknya tidak sudi menjawab pertanyaan Hanna. Memilih diam dan memutar mobilnya masuk ke dalam parkiran. Hanna bisa melihat gerombolan karyawan sudah menanti mereka untuk bergabung.
Kalau tadi Hanna najis untuk masuk ke mobil Davlin, kali ini bolehkah Hanna tetap tinggal di dalam? dia tidak mungkin sanggup menerima tatapan aneh dari semua orang dan juga pasti menimbulkan banyak pertanyaan dari teman-temannya.
"Ayo, turun!" ucap Davlin seraya membuka seatbelt nya. Menatap Hanna yang masih enggan membuka sabuk pengamannya.
"Ada apa?" Davlin ikut memandang ke arah tatapan Hanna. Dia mengerti gurat kekhawatiran di wajah gadis itu. Davlin memilih turun lebih dulu, mengitari mobil, lalu tanpa aba-aba membuka pintu mobil di sisa Hanna.
"Turun!"
Dengan menunduk, Hanna turun, memilih berjalan di belakang Davlin.
"Bos, anda bersama Hanna?" tanya Sari yang sudah mengenal Hanna karena kedekatannya dengan Aril, gebetan Sari sejak lama. Beberapa karyawan yang juga teman gadis itu yang kebetulan ada di dekatnya ikut menantikan jawaban dari Davlin.
"Oh," Davlin menoleh sesaat ke arah Hanna yang berada di belakangnya, menunduk malu, terlebih setelah mendengar bisikan-bisikan dari karyawan yang ada di dekatnya.
"Aku bertemu dengannya di jalan. Ojek yang dia tumpangi mogok, terpaksa aku memberinya tumpangan. Lagi pula, apa urusannya dengan mu? Gak usah banyak tanya, ayo kita berangkat!"
***
Hai, mampir yuk
__ADS_1