
Margaretha melangkah maju dan memeluk Alex dengan pelukan cepat dan keibuan. "Aku sangat senang kita membicarakan masalah ini," ujar Margaretha tersenyum. "Apa aku sudah bisa kembali ke rumah makan? tamu ku pasti bertanya-tanya kemana aku pergi."
Sekarang setelah masalah terselesaikan, sikap tenang dan ramah yang sering dikagumi orang dari Margaretha pun kembali. Perhatikan wanita itu kembali pada anak dan mantunya.
Dia juga teringat Stephen juga sudah tiba di Grand Oak. Margaretha takut Alex akan curiga akan kedatangan Stephen, karena pria itu tahu, adiknya tidak akan suka menghadiri pesta yang diadakan ibu mereka.
Sementara Margaretha kembali merasa cemas, takut Alex curiga, akan kehadiran Stephen yang tidak biasa. Margaretha menebak kedatangan anak angkatnya itu untuk melihat sendiri keberhasilan rencana mereka dan pintarnya Stephen, dia mengajak empat orang teman untuk menutupi maksud itu.
Dia juga datang untuk melakukan apa pun yang bisa dilakukan untuk membuat Alex dan Hanna berbaikan. "Sebaiknya aku pergi," ucap Margaretha bangkit, meraih gagang pintu dan menoleh ke belakang, terlambat menyadari bahwa putra dan menantunya tersenyum lebar padanya, tetapi mereka berdua tidak maju selangkah pun."Bagaimana kalau kita pergi sekarang? kalian ikutlah dengan ku," ucap Margaretha.
"Kurasa kau harus menunggu sampai aku memberitahumu kenapa aku ingin berbicara denganmu," Alex menyarankan dengan ringan.
Margaretha berbalik, tiba-tiba merasa tegang. "Sudah sewajarnya aku mengira kau ingin memarahiku karena tidak berperan aktif untuk membuat Hanna kembali padamu," kata Margaretha, langsung menyingkirkan peran awal sebagai orang tidak berdosa.
"Mungkin aku harus melakukannya," balas Alex sambil terkekeh. "Tapi kurasa lebih penting memberitahumu bahwa kau akan menjadi seorang nenek."
Seulas senyum cerah menyinari wajah Margaretha sementara ia merentangkan lengan dan meraih tangan Hanna dengan tangan kiri dan tangan kanan untuk Alex. "Oh, Sayangku," ujar Margaretha kemudian, seakan tidak bisa mencari kata lain untuk mengekspresikan kebahagiaannya.
***
Alex merasakan ketakutan yang lebih besar dari pada saat Hanna tersandung ujung karpet dan jatuh di tangga malam sebelumnya.
Ia mondar- mandir di pintu Grand Oak, perhatiannya tertuju ke ambang pintu di puncak tangga. Dibalik pintu itu, istrinya sedang melahirkan buah hati mereka yang satu Minggu lebih cepat dari yang ditentukan oleh dokter, dan sang ibu serta anak berada di tangan Hugh Parker, dokter hebat di London.
__ADS_1
Selama 24 jam terakhir, pendapat Alex tentang Hugh semakin buruk seiring waktu berlalu. Ketika Hugh tiba kemarin malam, sang dokter memeriksa keadaan Hanna dan menenangkan keluarga dengan mengatakan ibu dan anak sepertinya dalam keadaan baik.
Pagi ini, Hugh memberikan penghiburan yang lebih besar daripada sebelumnya. "Tidak ada tanda-tanda sang bayi akan lahir lebih awal akibat kecelakaan itu," ujar sang dokter itu pada Alex dan yang lainnya, "Tetapi aku akan tetap di sini sampai malam, kalau-kalau aku keliru."
Saat itu Alex sudah gelisah sampai ke tahap ingin memberi perintah yang disusul dengan ancaman. "Kalau kau pikir ada peluang sekecil apa pun bayi itu akan lahir lebih awal, kau akan tetap di sini selama dua bulan!" perintah Alex.
Seraya menelengkan kepala, Hugh menatap Alex dengan geli sekaligus bersimpati seperti yang dirasakannya terhadap para pria yang akan menjadi ayah untuk pertama kali. "Hanya ingin tahu, apa yang akan kau lakukan untuk menahanku di sini?"
"Aku tidak akan kesulitan mencari cara, percayalah padaku," ucap Alex.
"Aku tidak meragukannya," sahut Hugh sambil terkekeh. "Aku hanya penasaran, ketika ibumu agak demam satu bulan sebelum kau lahir, aku ingat ayahmu mengancam akan memenjarakanku di ruang bawah tanah di Claymore.
Perasaan geli Hugh sirna dalam sekejap ketika pelayan Hanna menghambur keluar dari kamar dan mencondongkan tubuh dari pinggir tangga. "Nyonya kesakitan, Dokter."
Pada mulanya, Alex sangat lega, sampai rasa sakit yang hebat menerjang Hanna, membuat wanita itu melengkungkan punggung di tempat tidur. "Kau harus pergi sekarang," kata Hanna sambil menggigit bibir hingga bibirnya berdarah.
Alex melampiaskan amarah gara-gara merasa tidak berdaya pada Hugh. "Sialan, tidak bisakah kau melakukan sesuatu untuknya?"
"Aku akan melakukan sesuatu untuknya," sahut Hugh. "Aku akan mengusirmu ke bawah sekarang sehingga dia tidak perlu mencemaskan mu ketika rasa sakitnya datang."
Satu jam kemudian, Alex berkeras memastikan sendiri Hanna baik-baik saja, dan ketika sang dokter mencoba mencegat Alex di pintu, Hanna berseru meminta Alex dibiarkan masuk.
Hanna terlihat lebih pucat dan kening wanita itu lembab karena keringat. Alex duduk di dekat pinggul Hanna, menyapu rambut tebal, menyapu rambut tebal Hanna dari kening, dan berjanji dengan sungguh-sungguh, "Aku tidak akan pernah membiarkan hal ini terjadi lagi padamu."
__ADS_1
Serangan rasa sakit lain menerjang sebelum Hanna bisa menjawab dan Alex memeluk wanita itu, membuai seperti bayi. "Maafkan aku," bisik Alex parau, matanya buram karena air mata ketakutan. Setelah itu, Alex diusir dan pintu kamar tidur Hanna dikunci untuk mencegah sang suami menyerbu masuk.
Hugh muncul secara berkala setelahnya untuk memberikan laporan kecil yang menghibur keluarga itu, dan prediksi keliru tentang waktu lahiran sang bayi.
Alex tidak yakin dengan apa pun yang dikatakan sang dokter. Ia mengalihkan tatapan dari pintu di puncak tangga, melirik jam di aula, melihat saat itu sudah pukul sembilan malam lebih, lalu berjalan ke ambang pintu ruang duduk tempat Stephen dan ibunya berjaga bersama Stuart, Ema dan Catherine. "Hugh orang bodoh yang tidak kompeten!" seru Alex kepada mereka yang marah.
"Aku akan menyuruh orang memanggil seorang bidan, tidak dua orang bahkan kalau perlu lima," tambah Alex semakin gelisah.
Ema tersenyum lemah. "Aku yakin bayinya akan segera lahir dan semuanya baik-baik saja," ucap Ema pelan. Tidak ada dari barisan orang yang ada di sana berani mengatakan sesuatu pada Alex agar pria itu bisa sedikit tenang.
"Kau benar, Sang bayi akan segera lahir. Tidak ada yang perlu ditakutkan. Ibu dan anak akan baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dicemaskan. Setiap hari ada bayi yang lahir, jadi pasti akan baik-baik saja," ucap Stuart lebih panik dari istrinya. Putri kesayangannya sedang berjuang di dalam sana. Sebagai ayah, Stuart hanya bisa mendoakan Hanna dan juga calon cucu mereka akan baik-baik saja.
Stephen mendongak, menatap Alex yang terdiam tanpa daya. Sebagai adik, dia ikut sedih atas apa yang saat ini dirasakan Alex. Sanga dowager sendiri tidak kalah panik, berdiri badan dan berjalan menghampiri Alex. "Aku sungguh merasa tidak ada yang perlu dicemaskan," ujarnya dengan suara bergetar. "Dalam hatiku, aku merasa Hanna dan bayinya akan baik-baik saja, jadi kau jangan seperti orang yang mau mati, kau membuatku takut," ucap dowager duchess kini menitikkan air mata.
Alex tidak bisa berkata apa untuk menghibur ibunya, wajahnya kini sudah pucat dan memutuskan untuk mengambil sebotol brendi di meja samping. Terakhir kali ibunya memberikan perkiraan seperti itu adalah ketika kuda betina kesukaan ibunya jatuh sakit. Kuda betina itu meninggal keesokan paginya.
Alex tahu semua orang sedang berdoa karena mereka tidak bisa melakukan hal lain. Penantian dan rasa cemasnya menguap saat Hugh keluar dari ruangan itu.
"Your Grace,"
Semua orang di ruangan itu mendongak menatap Hugh yang berdiri di ambang pintu, tiba-tiba terlihat letih.
"Ya?" suara Alex lemah, membeku tidak berdaya.
__ADS_1
"Apakah Anda mau menyapa putra Anda?"