
"Kau menunggu ku?" tanya Hanna sesaat setelah mendekati mobil yang parkir di ujung simpang rumahnya, menunduk agar dapat melihat si pemilik mobil mewah itu yang juga kini memiliki hatinya.
Dari kejauhan, Hanna sudah melihat mobil itu di sana. Satu senyumnya tersungging di bibirnya menambah nilai kecantikannya.
"Cepat masuk. Untuk mengantisipasi kau pergi lebih dulu, aku bahkan harus satu jam lebih dulu menunggu mu di sini," ucap Davlin menyipitkan mata. Hanan tertawa, lepas dan itu membuat hati Davlin menghangat. Tidak pernah seperti ini, dekat dengan seorang gadis yang bahkan dirinya akan seperti orang gila bila satu hari saja tidak melihat dan mendengar kabarnya.
"Pakai sabut pengaman mu, ucap nya memasangkan tali berwarna hitam itu. Hanna bahkan harus menahan nafasnya karena gugupnya dengan tindakan Davlin yang mendekatkan wajahnya pada wajah Hanna. Gadis bodohnya itu kembali membuat tindakan yang berhasil membuat Davlin tersenyum geli. Hanna menutup matanya kembali, seolah berharap Davlin akan menciumnya.
Pletak!
"Hilangkan pikiran mesum mu itu, atau aku akan menguasai mu di mobil ini!"
Itu bukan peringatan, lebih seperti pernyataan dan kalau Hanna bisa memilih, dia ingin Davlin mewujudkan peringatannya itu.
"Astaga, apa yang aku pikirkan!" gumamnya dalam hati malu atas buah pikirannya.
Mobil melesat dengan mulus di jalanan, tidak ada macet hari ini hingga mereka bisa sampai tepat waktu. "Aku ga turun di sana?" tanya Hanan menoleh ke belakang, melihat tempat perhentiannya selama ini.
Namun, Davlin tidak menjawab, terus melajukan mobilnya masuk ke area parkiran perusahaan.
Mobil sudah berhenti Davlin bahkan sudah mematikan mesin mobil dan membuka seatbelt nya. "Kenapa masih belum turun?" tanya Davlin dengan ciri khas suaranya yang selama ini dia kenal.
"Kenapa aku turun di sini?" Hanna memandang keluar, satu persatu karyawan berdatangan, bahkan tidak jauh dari mobil Davlin, Aril juga baru tiba dan memarkir motornya. Matanya sempat melirik mobil Davlin, mungkin pria itu heran, alasan apa yang membuat pemiliknya tidak turun juga. Kaca mobil yang hitam, membuat orang dari luar tidak bisa melihat ke dalam mobil.
"Apa mau takut dia melihat mu bersama ku?"
"Hah? siapa? Bang Aril? tentu saja tidak. Kenapa aku harus takut?" Hanna tidak mengerti apa yang ada dipikiran Davlin. Apa dia pikir Hanna dan Aril pacaran hingga perlu menjaga perasaan pria itu? Hanna tidak sedang berselingkuh! Hanna hanya menjaga nama baik Davlin yang pasti akan menjadi bahan pergunjingan jika terlihat datang bersamanya.
"Kalau begitu, ayo kita turun."
"Baiklah. Sebentar." Hanna mengulurkan tangannya ke jok belakang, mengambil tas yang tadi dia bawa. "Hampir saja ketinggalan," ucapnya tersenyum.
__ADS_1
"Kau membuat bekal lagi?"
"Iya, untuk mu juga ada." Gadis itu masih mempertahankan senyumnya.
Pletak! Sekali lagi jidatnya kena sentil oleh Davlin. "Apa lagi salahku kali ini?' tanya Hanna mengusap bekas sentilan bosnya itu. Hobi baru Davlin yang sudah beberapa kali dipraktekkan nya.
"Kau baru saja sembuh dari sakit, dan sudah bangun pagi untuk membuatkan bekal ini?"
"Tapi waktu itu, kau tidak sempat memakannya, jadi aku membuatnya lagi untukmu."
Dalam diam nya Davlin menatap wajah gadis itu. Gadis sederhana yang mampu menggetarkan hatinya. Tidak ada satu pun gadis yang pernah memasakkan makanan untuk nya.
"Pagi, Bang," sapa Hanna yang keluar dari mobil. Ekspresi Aril sudah bisa ditebak, terkejut melihat Hanna keluar dari dalam mobil itu. Belum usai keterkejutannya pria itu, ditambah lagi setelah Davlin keluar dari dalam mobil, mengusap bibirnya dengan jari seolah ada yang menempel di sana karena mencercap sesuatu.
Itu strategi Davlin. Pria licik itu tersenyum puas. Dengan begitu dia bisa mengalahkan Aril dan menunjukkan siapa pemilik Hanna kini.
"Kau... kau ke kantor bersama pak Davlin?" tanya Aril mendelik pada Hanna. Keduanya berjalan memasuki lobi kantor. Ada untungnya mereka bertemu di parkiran, jadi orang yang melihat mereka jalan bertiga, menganggap dirinya bersama Aril.
"Bapak beruntung bisa bertetangga dengan Hanna. Saya ingin sekali menjadi tetangganya agar bisa selalu menjaga gadis itu kemana pun dia pergi. Bapak tahu, saya sangat menyukai Hanna dan walau bagaimanapun akan terus mendekati gadis itu," ucap Aril saat tinggal berdua dalam lift itu.
Entah apa maksud Aril mewartakan hal itu, yang pasti ekspresi wajah pria itu tampak tidak peduli. Tidak tertarik sama sekali dengan perasaannya. Aril boleh menyukai Hanna tapi satu yang pasti, gadis itu hanya miliknya.
***
Kali ini, Sari tidak berani mengusir Hanna, bahkan menggertak gadis itu dengan nada sombongnya seperti yang biasa dia lakukan tidak lagi terdengar.
"Boleh aku masuk?" tanya Hanna memeluk tas bekal di dadanya.
"Silakan," sahut Sari tetap masih ketus.
Seperti mimpi, melewati pintu mahoni ini, tapi bukan karena ingin bekerja, tapi makan siang bersama dengan pemilik ruangan itu.
__ADS_1
"Hai..," sapa Hanna setelah menutup kembali pintu ruangan itu. Debar jantungnya yang tadi stabil kini mulai berdetak lebih kencang, dan itu karena dia berdekatan dengan Davlin.
Melihat gadis itu sudah datang, berdiri tegak di tengah ruangan sembari tersenyum, Davlin pun membalas senyum itu. Berjalan mendekat dan Davlin menarik tangan Hanna menuju sofa. Menautkan jemari, serta mencium kening gadis itu.
"Kenapa kau lama sekali datang? aku sudah lapar," ucap Davlin Masih juga tidak melepas pegangan tangannya di jemari Hanna.
"Maaf, tadi aku membantu Tari menyelesaikan pekerjaannya," sahut Hanna mengikuti langkah pria itu menuntun ke sofa empuk di sisi ruangan itu.
Davlin membelai pipi Hanna, menangkup dagunya dan perlahan mem*gut lembut bibirnya. Lama Davlin menciumnya, menarik dan mengh*sap lidahnya, hingga akhirnya Hanna yang sudah mulai terbakar, mau membalas ciuman Davlin.
Hanna terengah-engah menggapai nafas ketika Davlin melepaskan bibirnya. "Kau selalu lupa untuk mengambil nafas saat kita berciuman." Davlin tersenyum, suka akan kepolosan Hanna.
"Ayo, kita makan, atau aku akan memakan mu," ucap Davlin mencubit pelan ujung hidung Hanna.
Pria itu memperhatikan tangan Hanna yang dengan telaten menata makanan yang dia bawa dari rumah. "Tampak enak, kau yang memasak semuanya?" tanya Davlin menatap hangat wajah gadis itu. Malu-malu hanya anggukan yang Hanna berikan.
"Enak," ucap Davlin dengan mata berbinar. Hanna hanya tersenyum puas melihat Davlin yang lahap menyantap makanan sederhana yang dia buat hingga ludes tidak bersisa.
"Aku kembali bekerja, ya" ucap Hanna yang sudah membersihkan semua peralatan makan mereka dan memasukkan dalam tas.
"Jangan pergi dulu. Tunggu lah sebentar, aku masih ingin kau berada di sini," ucap Davlin yang sudah duduk di belakang laptopnya kembali.
"Tapi aku mau ngapain di sini?"
"Duduk saja di sana, setiap aku jenuh dengan pekerjaan ini, aku akan melihat mu dari sini, dan itu sangat membantu mengembalikan imun tubuh ku."
***
Hai mampir dong
__ADS_1