
"Aku lihat kau sangat bergembira malam ini, My Lady," suara bariton itu kini bergema di belakangnya. Tidak perlu menoleh untuk melihat siapa pemilik suara itu.
Hanna ingin sekali tidak mempedulikannya, namun mengingat keluarganya lah yang menjadi sponsor pesta ini, dengan berat hati Hanna berbalik. "Berkat kemurahan hati anda dan Her Lady, hingga aku bisa bersenang-senang malam ini," sahutnya sarkas.
"Aku ingin bicara denganmu," gumam Alex pelan. Pria itu benar-benar tidak peduli pada pemikiran orang-orang. Menjadi salah satu bujangan yang paling diminati di London, membuat Alex menjadi pusat perhatian. Kemana pun dia melangkah, siapa pun yang dia ajak bicara pasti akan menjadi sorotan.
"Pergilah, My Lord, semua orang sedang menatap kita," ucap Hanna tidak tahan melihat tatapan menyelidik dari orang-orang yang ingin tahu apa alasan Alex berdiri di dekatnya.
"Kalau begitu, kau ikut aku,"
"Kita mau kemana?"
"Ke balkon,"
"Aku tidak mau," Hanna sedikit menjauh dari tubuh pria itu. Suara dan ******* nafas Alex saja sudah mampu membuatnya merinding. Tengkuknya meremang, seolah pria itu tengah menatapnya penuh hasrat.
"Baiklah kalau kau tidak mau. Kita bicara di sini saja kalau kau tidak kasihan melihat wajah merana adikmu," cibirnya penuh kemenangan.
Hanna mencari posisi Catherine. Benar saja, adiknya itu bahkan ingin membunuhnya saat ini jika dinilai dari tatapannya.
Menimbang perkataan Alex ada benarnya, Hanna memilih mengalah. "Aku akan keluar lebih dulu, biarkan berjarak lalu kau bisa menyusul ku," gumam Hanna lemah.
Di depan sana Julia masih penuh kegembiraan berdansa bersama Will, saling tertawa tanpa beban. Sekilas, Hanna sempat berpikir, bahwa kedua sahabatnya itu tampak serasi kala bersama. Dia tidak punya waktu lagi untuk mengamati keduanya. Deheman dari Alex membuatnya harus segera menyingkir.
Hanna berdiri di sana, menunggu kedatangan Alex. Dia seperti gadis tidak tahu malu, menyusup dari ruang pesta untuk bertemu dengan tunangan adiknya.
Alex sudah tiba di sana. Dalam tempat itu, Hanna bisa melihat dengan jelas penampilan Alex malam itu. Walau setiap saat Alex terlihat sangat tampan, tapi malam ini pria itu terlihat.. sempurna! Hanna mengutuk pemikirannya itu. Tidak tepat mengagumi calon adik iparnya.
__ADS_1
Kegugupan melanda Hanna. Dia bisa melihat sorot mata pria itu yang tajam bagai elang membingkai wajahnya.
"Kau menungguku?" goda Alex tersenyum manis.
Deg!
Dasar jantung sialan! kenapa harus berdebar-debar sih?!
"Katakan apa yang ingin kau katakan, aku akan mendengarkan. Lalu segera pergi dari sini," ujarnya menahan nafas. Pria itu mendekat, parfum segar dari tubuh Alex sudah sangat menempel di ingatan Hanna. Dan dia menyukai wangi itu!
Ada yang aneh dari tingkah Alex. Dia tidak langsung menjawab, justru seolah ingin mengukur waktu. Dari tempatnya Hanna masih bisa melihat ruang pesta, dia juga masih melihat Will dan Julia yang berjalan bersama keluar dari lantai dansa. Dia harus bergegas, Will pasti mencarinya.
"Well, Miss Jhonson..," ucap Alex menggantung kalimatnya. Hanna menunggu, namun pria itu tidak melanjutkan kalimatnya. Tatapannya saat ini terarah ke ruang pesta. Hanna ikut maju, ingin melihat di mana posisi Will saat ini, tapi tubuh kekar Alex efektif menghalangi pandangan Hanna dari hal lain selain bahu Alex.
"Well, apa?" desak Hanna kesal, otomatis bergerak mundur dan memperjelas jarak diantara mereka. Sebelum menyadari apa yang akan terjadi, Hanna mundur ke dinding batu yang memantul bayangan rumah.
"Sekarang, setelah aku membawamu ke sini," ujar Alex santai, "Apa yang kau ingin aku lakukan selanjutnya?"
"Aku melihat mu tertawa gembira bersama Malory malam ini. Kau begitu bahagia, wajahmu bersinar seiring tawamu yang lepas," ucap Alex semakin mengikis jarak.
"Apa ada masalah? kenapa kedekatan ku dengan Will menjadi masalah, sementara kau saja yang jelas-jelas sudah memiliki calon istri masih bertemu secara sembunyi-sembunyi dengan kekasihmu," kata Hanna yang sudah terpancing amarah. Namun, di detik terakhir saat melihat senyum geli Alex, dia menyesal telah mempertanyakan hal itu.
"Jangan bilang saat ini kau cemburu pada Iris?" Alex, pria terkutuk itu bahkan masih tertawa puas.
"Bisakah kau kecilkan suaramu? orang-orang akan tahu kalau kita di sini," bisik Hanna melotot kan matanya.
"Maaf, tapi aku tengah bergembira, Mungil," katanya mencoba menahan tawa. Ya, Hanna White Jhonson sedang cemburu pada Iris, dan itu membuktikan kalau gadis itu sudah mulai menyukainya.
__ADS_1
"Sudah lah, aku tidak mau mendengar ucapan mu lagi. Aku ingin kembali ke dalam." Hanna sudah berjalan menyerong, menghindari agar tidak bersentuhan dengan pria itu, tapi yang tidak disangka oleh Hanna adalah, Alex menarik pergelangan tangannya dan menyandarkan tubuh gadis itu di tembok, menutup akses untuknya melihat ke arah rumah pesta.
Tanpa berlama-lama lagi, Alex sudah menyatukan bibir mereka, mendekap erat tubuh Hanna seolah sudah berminggu tidak bertemu dengan gadis itu.
Lum*tan itu membuahkan hasil. Setelah lama memancing, menggoda Hanna, akhirnya gadis itu ambil andil dalam permainan itu.
Malu-malu mulut Hanna terbuka. Dia hilang kesadarannya. Kenapa selalu begitu, setiap Alex menciumnya, Hanna pasti tidak bisa melepaskan diri lagi. Terdorong ingin masuk dalam pusaran gairah yang ditimbulkan Alex padanya.
"Kau tahu betapa aku sangat merindukanmu?" bisik nya mengecup leher Hanna hingga gadis itu memejamkan matanya, menikmati desiran aliran darah yang seolah meledak di bawah kulitnya.
Nafas keduanya masih memburu, Hanna tanpa sadar menyentuh dada Alex. Tubuh pria itu seolah terbakar oleh panasnya sentuhan telapak tangan Hanna di kulitnya.
"Kau bohong," desis Hanna masih tertunduk malu. Tenaganya sudah habis untuk mendebat pria itu.
"Aku berkata serius. Selama tiga hari di London, tidak sedetik pun pikiranku jauh dari mu,"
Hanna tidak menjawab. Tenaga terkuras dan denyut jantungnya masih begitu kencang berdebar. Walau pun dia tahu pria itu berbohong hingga terkesan munafik, tapi dirinya juga termasuk gadis munafik. Menyukai Will, namun menikmati ciuman dengan pria lain.
"Soal Iris, dia memang mantanku. Tapi aku sudah lama tidak berhubungan dengannya lagi. Tidak ada gadis yang menarik buat ku lagi setelah bertemu denganmu. Kau boleh bangga, setelah kita berciuman untuk pertama kali waktu itu, aku bahkan sudah tidak tertarik dengan wanita lain. Kau selalu memenuhi pikiranku. Percayalah, kisah ku dengan Iris sudah berlalu, dan kisah kita akan segera dimulai," terang Alex panjang lebar. Membelai wajah cantik Hanna dengan jemarinya.
"Kau masih ragu?"
Polosnya Hanna yang saat ini sedang larut dalam pesona Alex hanya mengangguk, membenarkan pertanyaan pria itu.
"Dia mengajak ku bertemu. Jujur ku akui, dia ingin kembali bersamaku, tapi tegas aku memberitahukan padanya, ada satu sosok gadis yang mencuri hatiku, yang tidak bisa digantikan oleh gadis mana pun, dan namanya Hanna white Jhonson."
***
__ADS_1
Hai genks, mampir, yuk 😁