My Crazy Lady

My Crazy Lady
Bab 36 (MCL)


__ADS_3

Merah padam wajah Hanna oleh ucapan Alex di hadapan Eduard. Hanna tahu, itu adalah caranya untuk membuat Hanna malu, dan dia ingin mencekik leher pria borjuis itu!


"Benarkah?" tanya Eduard memberi ruang, pura-pura mengamati Hanna lalu memicingkan matanya ke arah Alex. "Aku rasa itu hanya berlaku bagi pria berhati dua, yang suka memberikan tangan kirinya pada wanita ini lalu di saat bersamaan memberikan tangan kanannya pada wanita yang lain."


Hanna mengulum senyum pada Eduard. Hanya dengan satu argumen, Alex kehilangan kata-kata lengkap dengan kesombongannya. Tapi kepercayaan itu runtuh, nyatanya Alex masih punya satu amunisi yang sangat mematikan. "Bisa jadi, tapi aku sarankan kau tidak terlalu mengharapkannya York, karena kau bukan tipe pria yang belum berpengalaman. Miss Jhonson menginginkan pria yang bisa membuatnya melayang!"


Oh, Tuhan. Wajah Hanna sudah seperti kepiting rebus. Demi apapun, dia ingin sekali mencekik leher pria yang sudah mempermalukannya.


"Kami permisi sebentar, ada yang perlu kami bicarakan." Alex sudah menarik tangan Hanna tanpa peduli gadis itu mengerang marah.


Sesampainya di dalam rumah, jauh dari pandangan para undangan, Alex melemparkan tubuh Hanna dengan kasar. Bola mata Hanna begitu tajam menatap pria itu, kalau tatapan bisa membuat orang mati, maka matilah saat itu Alex!


"Apakah kau sangat suka menggoda pria-pria bangsawan? mulai dari Will, lalu aku dan kini si kaku Eduard!"


Kalau mengikuti kata hatinya, saat ini juga Hanna ingin menerjang Alex dan mulai menghajar pria itu yang sudah dengan gampangnya mengatakan kalau dia...dia adalah gadis binal, yang suka pada pria yang bisa memberinya kepuasan. Tapi status dirinya saat ini membuatnya tidak mungkin bersikap kasar pada pria itu.


"Jawab aku, apa aku kurang untuk mu? apa yang kau inginkan?!"


"Baiklah, persetan dengan statusmu seorang Duke! kau tahu aku sangat membencimu. Aku menyesal membiarkan mu masuk dalam hatiku. Apa kau pikir dengan mempermalukan mu di depan Duke of York kau sudah hebat? aku semakin membencimu!"


"Kau pantas mendapatkannya. Siapa suruh kau berdansa dengannya? kau tahu kalau kau adalah milikku!"


"Aku bukan milikmu!" salak Hanna. Persetan kalau setelah ini dia akan diseret masuk penjara. Dia muak, melihat kesombongan Alex tapi dia juga suka pada pria itu, gimana dong?!


"Kalau begitu, katakan kalau kau tidak menyukai ku?!"


"Aku tidak mencintaimu!" jawab Hanna lantang. Hancur rasanya hati Alex mendengar ucapan Hanna.


"Lalu ciuman tadi? kau menikmatinya. Itu sudah cukup dari pernyataan kalau kau mencintaiku!" geram Alex hampir saja tidak bisa menguasai amarahnya.

__ADS_1


"Itu adalah sebuah kesalahan, dan kini aku sudah sadar. Lagi pula, my Lord, aku tidak menerima tangan pria yang diulurkan padaku, sementara pada waktu bersamaan kau juga memberikannya pada wanita lain!"


"Aku kan sudah bilang, kalau aku dan Iris tidak punya hubungan apa pun lagi, jadi berhenti mencari alibi!"


"Dan lady Ophelia? jangan bilang kau tidak tahu kau Lady Abigail menginginkan kau bersama gadis itu," sahut Hanna parau. Iris bukan dari kalangan bangsawan, jadi bisa dibilang mereka punya kedudukan yang sama, tapi kalau bersaing dengan Ophelia? Sebaiknya Hanna melupakan mimpinya!


"Aku akan menolaknya. Kalau kau masih meragukan keseriusan, kita bisa menikah besok!"


"Apa menikah? besok?"


"Kenapa? kita bisa pergi ke Skotlandia, dan menikah di sana," ucap Alex.


"Dasar gila, tidak mungkin kita melakukan hal itu."


Alex baru saja akan menjawab, tapi seorang pelayan sudah memanggilnya atas suruhan lady Abigail. Alex ingin menolak untuk datang, lebih penting menyelesaikan masalahnya dengan Hanna dari pada kembali ke acara yang sebenarnya sangat membosankan itu. Tapi niatnya tidak jadi, kala Hanna sudah melangkah pergi kembali ke acara itu.


"Maafkan aku. Nanti aku jelaskan. Ada apa ini?" bisik Hanna melihat lady Abigail sudah berdiri di depan bersama Ophelia. Belum sempat memberikan jawaban, rasa penasaran Hanna terjawab sudah.


"Nah, ini dia pangeran yang kita tunggu-tunggu," kata Lady Abigail menyambut Alex yang berjalan ke arahnya.


"Perhatian. Saya berterima kasih karena kalian sudah hadir di sini. Saya juga yakin, kalian pasti sudah mengenal keponakan ku, Duke of Claymore. Jadi setelah aku pertimbangan, aku sebagai bibinya, ingin menjodohkan nya dengan Ophelia Edinburgh," ucap Lady Abigail. Wajah Alex memerah, menatap ke arah bibinya dengan penuh tanda tanya. Dia sama sekali tidak menyangka kalau rencana gila bibinya yang tadi sempat dia katakan saat menyambut kedatangan keluarga Edinburgh adalah lelucon belaka.


"Bibi..."


"Kau harus menerimanya, ini demi menyelamatkan harga dirimu di depan Hanna," bisik Abigail mendekat ke arah bagi Alex


"Tapi bibi tahu aku menyukai wanita itu."


"Justru karena itu, lebih baik kau dengan Ophelia. Dia mencintai pria lain. William Malory."

__ADS_1


"Itu tidak benar. Gadis itu tidak mungkin menyukai pria bodoh seperti Malory. Pokoknya hentikan ide gila bibi ini!" Alex sudah menyatakan keputusannya.


"Benarkah? tapi bibi sendiri mendengar langsung darinya kala itu,"


"Itu hanya alasannya untuk menolak ku!" pekiknya.


"Kecilkan suaramu. Kau ingin mempermalukan bibi kesayangan mu ini?" Abigail sudah memasang wajah manyun.


"Itu urusan bibi, kenapa mengambil tindakan tanpa bertanya padamu dulu!" Alex sudah ingin meninggalkan tempat itu, tapi kasihan bibinya akan dipermalukan oleh tindakannya, tapi kalau tetap bertahan di sini, wajah sedih Hanna dengan kesalahpahaman ini akan membuat hubungan mereka semakin sulit untuk dipersatukan.


Dilema dengan keputusannya, Alex memilih bertahan, kalau Hanna memilih pergi dari sana. Hancur sudah harapannya memperbaiki hubungan dengan gadis itu.


Sisa hari itu dihabiskan mereka dengan mengunci mulut, bahkan hingga pulang, Hanna tidak mengatakan apa pun. Hanya pamit pada lady Abigail lalu, kembali ke Holy Ville dengan Julia membawa hancur hati dan perasaannya.


Julia hanya diam menatap Hanna yang terus menangis. Gadis itu sengaja menatap keluar agar Julia tidak melihat air matanya.


Walau tidak mengatakan apapun, tapi kini Julia tahu, kalau sahabatnya itu sudah benar-benar mencintai Alex. Harusnya dia bahagia, karena dengan begitu dia bisa bersama Will, tapi kembali Julia mengingat kalau Will sudah mengatakan padanya untuk melupakan ciuman mereka waktu itu, bahkan meminta Julia untuk merahasiakan dari Hanna.


Hatinya hancur. Sebagai wanita justru merasa harga dirinya diinjak-injak. Kenaifannya, membawanya pada pemikiran kalau ciuman itu berarti bagi Will dan bisa menggetarkan hati pria itu, nyata Julia terlalu berharap lebih.


"Sudah lah, Han. Jangan menangis lagi. Mungkin ini memang yang terbaik. Kau masih punya Will," ucap Julia menggenggam luka di hatinya. Dia bahkan akan merias wajahnya dan mengenakan gaun indah saat pernikahan mereka nanti, asal keduanya bahagia.


"Kau benar. Aku tidak seharusnya menangisi pria lain, di saat aku punya janji dengan Will." Hanna menyeka air matanya dengan telapak tangannya. Menarik nafas dan berjanji dalam hati, melupakan Alex dan menagih janji Will untuk menikahi dirinya.


***


hai, genks mampir yuk 😁


__ADS_1


__ADS_2