My Crazy Lady

My Crazy Lady
Bab 57 (MCL)


__ADS_3

"Kemana sih, gadis aneh itu?!" umpat Davlin kesal, menendang batu yang ada di dekatnya. Sudah satu jam, dengan alasan membantu ibunya ingin menyirami tanaman, Davlin berdiri di halaman rumahnya.


Dia berdiri di sana, mengamati rumah disebelah rumahnya lalu kembali melayangkan pandangan ke arah jalan di depan sana. Tidak ada. Pertanda gadis itu masih berada di luar sana.


Bosan menunggu, Davlin bermaksud masuk, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara motor yang mendekat ke arah nya. Semakin mendekat dan kemudian berhenti di depan rumah Hanna.


Semua Davlin terukir, dia berbalik dan ingin melihat gadis itu. Mungkin saja bisa meminta maaf padanya soal sikapnya beberapa hari lalu. Tapi seketika senyum itu pudar, kala melihat siapa yang tengah bersama Hanna.


"Sore pak Davlin. Sedang menyiram tanaman?" sapa Aril mendekat. Tersenyum dengan ramah pada pimpinannya.


"Ini bukan sore. Sudah hampir magrib. Dan tampaknya kalian sangat bersenang-senang, ya?" ucapnya sinis.


"Oh, iya. Aku dan Hanna baru saja pergi menonton film Dokter stranger, dia sangat menyukainya," terang Aril. Namun tampaknya Davlin menunjukkan sikap tidak peduli.


Mata pria itu bagai singa yang ingin menerjang Mangsanya. Ya, dia menatap tajam pada Hanna dan seolah ingin berkata, 'Oh, jadi begini kelakuan mu. Bersenang-senang dengan pria ini!'.


"Bang Aril, mau masuk dulu?" tanya Hanna mengalihkan pandangannya dari mata Davlin.


"Sebaiknya dia pulang. Mama mencarimu, dia ingin memintamu melakukan sesuatu," sambar Davlin menjawab sebelum Aril.


"Oh, baiklah. Kalau begitu, lebih baik aku pulang," sahut Aril mengangguk pada Davlin. "Sampai jumpa besok," ucapnya sembari tersenyum dan mengedipkan sebelah mata pada Hanna.


Sungguh Davlin yang melihat hal itu ingin muntah, bahkan ingin meninju wajah Aril. "Pergilah, jangan pernah tebar pesona lagi padanya!" umpatnya dalam hati.


Begitu motor Aril tidak tampak lagi, Davlin masuk tanpa mengatakan apapun pada gadis itu yang terbengong menatap sikap Davlin yang dingin.


***

__ADS_1


"Malam Tante, maaf aku lama datang. Tadi mandi dulu, soalnya," ucap Hanna yang sudah masuk ke dalam rumah dan mendapati Reta sedang duduk di depan televisi raksasanya, menikmati sinetron yang katanya diadaptasi dari novel online.


"Hai, Cantik. Siapa bilang? Tante gak ada nyariin kamu hari ini," sahut Reta menepuk bagian sofa yang ada di sebelahnya. Kening Hanna berkerut, namun tetap mengikuti permintaan Reta untuk duduk di sampingnya.


"Tapi kata Davlin, Tante nyariin aku?"


"Davlin?" sesaat Reta berpikir. Namun, ide wanita itu muncul begitu saja untuk mengerjai kedua anak muda itu. "Oh, tolong panggilkan dia di kamarnya, Han."


Walau sedikit ragu, Hanna tidak enak hati untuk menolak permintaan Reta, hingga terpaksa memanggil pria itu ke kamarnya.


Tok.. tok.. tok..


Tidak ada sahutan. Tangan Hanna iseng menekan hendel pintu dan ternyata membuat pintu yang tidak dikunci itu terbuka. Gadis itu memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamar Davlin yang tampak kosong.


"Lex... Eh, Dav.. Dav...," panggilnya berulang-ulang, namun tetap tidak ada sahutan. Matanya tertarik untuk mendekat ke arah gambar yang ditempel iseng begitu saja di meja dekat tempat tidur. Foto seorang anak yang sedang dipangku seorang pria tua di sebuah tempat, tepat di depan kastil bergaya Eropa.


"Kau, sedang apa kau di sini?" bentak Davlin yang keluar dari kamar mandi, dengan selembar handuk yang dililitkan di pinggangnya. Hanna yang kaget, malah terpaku pada pemandangan erotis yang dia lihat. Kerongkongannya tercekat, sulit hanya untuk sekedar menelan salivanya.


Apa yang membuat Hanna terpaku? itu hanya sebuah tubuh dengan bentuk yang sempurna, bahu bidang dengan otot kencang jelas pemiliknya adalah member di salah satu tempat fitness, lalu melintas ke bawah, mata Hanna dipuaskan dengan perut kotak-kotak yang minta digigit, sangat menggoda.


Dan oh, jangan lupakan itu. Bulu-bulu halus disekitar pusat pria itu menuntun nya untuk turun lebih ke bawah, mengikuti lekukan yang membawa fantasi Hanna ke balik handuk itu.


"Kau menikmatinya?" suara bariton itu membawa Hanna kembali ke alam nyata, mengunci pikiran kotornya yang sejak tadi ingin menggerayangi tubuh kekar pria itu.


"Ya, sangat menikmatinya. Hah? apa? Em.. itu, Tante Reta memintaku untuk memanggilmu," ucapnya kaku. Malu sudah menjalari wajahnya. Tidak bisa berpikir karena debar jantung yang berdegup kencang dan aliran darah yang mendidih membuatnya tidak bisa lagi berpikir benar.


"Bisa kau keluar? aku ingin berpakaian. Atau kau boleh tetap di sini jika kau mau."

__ADS_1


Hanna tidak mendengar semuanya. Senyum di bibir Davlin yang tampak mengejeknya jelas membuat kesadaran kembali dan segera pergi.


Dasar Hanna bego. Kenapa mesti terpesona, sih?


"Mana Davlin?" Tanya Reta. Merasa aneh melihat Hanna yang tampak berkeringat. "Kau berkeringat?"


"Dia... Davlin akan segera tiba. Tante, udah malam. Aku pulang dulu," ucapnya mengecup pipi wanita itu dan segera pergi dari rumah itu.


***


Tubuh liat Davlin tampak masih menikmati permainan yang dia ciptakan. Mengeksplor tubuh sexy Hanna yang ada di bawahnya. Mencium, menj*lati sejengkal demi sejengkal tubuh manis gadis itu. Er*ngan nikmat sayup-sayup keluar dari bibir mungil Hanna.


"Kau cantik, dan aku sangat menyukai mu," bisik Davlin tepat di atas bibir Hanna. Menatap sejenak bola mata yang selalu mampu menyihir nya hingga hilang kendali.


Davlin turun, menyentuh milik Hanna yang ranum dengan bibir dan lidahnya. Menikmati sensasi yang ditimbulkan oleh kebersamaan mereka.


"Aaach...," des*h Hanna tertahan. Tangan Davlin meremas jemari gadis itu, membawa ke bibirnya untuk dicium, lalu menuntun tangan gadis itu menyentuh lembut miliknya yang sudah menegak.


"Sentuh dia, Han. Dia ingin belaian mu," bisik Davlin. Hanna yang sudah terbakar, mengikuti instingnya. Membelai b*tang yang sudah mengeras dan haus belaian itu. Terus membelai hingga menguatkan sentuhannya.


"Kau menyukainya?" bisik Davlin mencium bibir mungil itu lagi. Hanna hanya mengangguk sembari tersenyum malu.


"Aku akan masuk. Aku menginginkanmu," bisik Davlin dengan suara berat. Lagi-lagi hanya anggukan yang diberikan Hanna pertanda setuju.


Perlahan, Davlin bergerak, berada di bawah pria itu, lalu mulai membuka paha Hanna lebar, dan bersiap memasuki gadis itu. Bola mata Hanna terbuka sempurna kala Davlin berhasil memasukinya. Teriakkan kecil dari Hanna pun di bungkamnya dengan mulutnya dengan menciumi bibir gadis itu.


Davlin terus memompa, memacu kenikmatan yang ingin dia bagi bersama gadis itu, terus memompa hingga keduanya berteriak bersama kala mencapai puncak kenikmatan tertinggi.

__ADS_1


"Aaaach..." pekik Hanna dan seketika terbangun dari mimpinya yang terlarang.


__ADS_2