My Crazy Lady

My Crazy Lady
Bab 71(MCL)


__ADS_3

Semua tampak lancar. Keduanya tampak semakin dekat, bahkan si nakal Davlin acap kali masuk ke dalam kamar Hanna, setelah memastikan gadis itu sudah ada di kamarnya.


"Davlin!" pekik Hanna saat gadis itu baru kelar Dari kamar mandi, menemukan pria itu tengah duduk di tepi ranjangnya.


"Hai.." sapa nya tersenyum sembari mengedipkan sebelah mata.


"Mau apa kemari? keluar sana. Gimana kalau papa nangkap basah kita?" tanya Hanna panik. Tapi dasar manusi super cuek, mana peduli pria itu.


"Sini," ucapnya tidak menghiraukan pertanyaan Hanna, justru menepuk tempat di sebelahnya.


Hanna mematung. Pria itu tampak selalu menjadi penguasa di mana pun dia berada. Melipat tangan menatap lurus ke arah Davlin yang seperti setiap hari bertambah aneh! Dimana pria yang selama ini susah dia dekati itu? dikantor saja dia tidak segan-segan menarik tangan Hanna yang kebetulan berpapasan dengannya, membawa ke dalam ruangannya.


Sudah ditebak, tentu saja dia menarik gadis itu untuk bisa mencecap manis bibir Hanna, yang seolah sudah menjadi candu baginya.


"Pulang, sana!"


"Sini dulu, kalau gak, aku bakal tidur di sini aja!"


Demi terjadinya ketegangan dalam hati Hanna, gadis itu hanya menurut, dan menyerah dengan suka rela, merengkuh kenikmatan yang hanya Davlin yang bisa memberikannya.


***


"Makasih untuk tumpangan," ucap Hanna bersiap untuk turun dari mobil. Sudah hampir tiap hari mereka pergi ke kantor dan pulang juga bersama.


Tangan Davlin sigap menarik tangan Hanna. Memegang tengkuk gadis itu, lalu mencium sekilas lalu dalam dan menuntut. "Kau belum memberi ku imun tubuh untuk melalui baru ini," ucap Davlin tepat di atas bibir gadis itu. Hanna tersenyum, begitu pun Davlin. Pria itu bahkan begitu gemasnya dengan wajah cantik Hanna, memainkan ujung hidung mereka, lalu mengecup kening Hanna.

__ADS_1


Aturan pertama, Hanna akan turun lebih dulu, lalu setelahnya Davlin. Hanna akan berjalan lebih lambat, agar Davlin bisa berjalan di depannya. Pemandangan mereka datang bersama sudah biasa dilihat para front office , jadi tahu betul harus bagaimana memperlakukan Hanna.


Kalau para staf karyawan lainnya suka menyuruh para OB untuk melakukan ini dan itu, tapi beda dengan Hanna. Dia OB spesial yang tidak berani untuk mengganggunya.


Davlin mengulum senyum saat keluar dari lift. Tanda penuh, sengaja di tekannya agar tidak ada yang masuk. Pria licik itu bahkan mengambil kesempatan untuk mencium Hanna sekali lagi.


Langkah kakinya yang panjang terhenti saat di hadapannya seorang gadis cantik yang tadi berdiri di samping Haris berjalan ke arahnya. Wajah Davlin seketika memucat. Dia bukan takut akan apa yang dilakukan gadis itu, tapi justru takut karena ada Hanna di belakangnya yang pastinya tengah melihat ke arah mereka.


"Davlin..babe..," seru gadis itu berlari memeluk Davlin, dan tanpa canggung mengecup bibir pria itu sekilas. "Aku pulang. Aku merindukan mu, Sayang."


Hari cerah, tapi mengapa telinga Davlin seolah mendengar suara petir. Tubuh Hanna menegang. Dengan bodohnya tetap berdiri di tempatnya menatap lurus ke arah dua orang itu yang sedang menunjukkan keromantisan mereka.


Tubuh Davlin yang menegang pun tidak berani untuk berbalik. Dia tahu, dia sudah menyakiti hati gadis itu.


Hanna menurut, langkahnya mengikuti Aril yang menarik tangannya. Davlin melihat hal itu, dia paham rasa sakit yang sudah dia torehkan pada gadis itu.


Di meja pantry, Hanna meletakkan kepalanya, menutup dengan lengan sebagai alasnya. Menangis sejadi-jadinya, meluapkan rasa sakit di hatinya. "Jangan menangis lagi. Sudah cukup, Han. Ini lah yang ku takutkan, kau jatuh cinta padanya, sementara dia adalah buaya yang selalu mencampakkan gadis ketika sudah bosan!" maki Aril sembari menyodorkan mug berisi teh manis hangat.


Untuk saat ini, siapa pun yang memberi saran padanya, tidak lah berguna. Hanna hanya ingin menangis, agar beban di hatinya berkurang.


Dua jam berlalu, Hanna terus menangis, meminta Tari menggantikannya dan berjanji, esok saat giliran Tari piket, dia yang akan menggantikannya.


"Lo emang pacaran sama si Dajjal?" tanya Tari menyodorkan kotak tisu. Hanna mengambil satu dan menyeka cairan berlendir dari hidung nya. Semua sudah tahu kabar kedatangan Iris, model cantik yang jadi kekasih Davlin selama ini. Itu lah sebabnya ketika rumor kedekatan Hanna dan Davlin mencuat, Tari tahu kalau pria itu hanya menjadikan Hanna ban serep. Tidak mungkin serius.


"Aku.. aku gak tahu Tar. Dia memang gak pernah nembak aku. Jadi dibilang pacaran juga, huaaaaa.... kembali Hanna menangis. Tari membelai rambut Hanna. Miris melihat keadaan temannya ini dan semakin membenci Davlin.

__ADS_1


"Gue juga bilang apa. Itu buaya cuma main-main sama lo!" umpat Tari kesal memukul meja hingga Hanna tersentak kaget dan tambah menangis.


"So- sorry, Han. Gue kebawa suasana," ujarnya. "Lo harus kuat. Jangan tunjukkan sama pria vangke itu kalau lo gak terluka melihat dia sama cewek lain. Lo kuat, dan Lo bisa melanjutkan hidup lo tanpa dia," ujar Tari berapi-api. Hanna yang mendengar seketika terdiam. Hatinya membenarkan perkataan Tari. Untuk apa dia harus bersedih di sini, sementara kedua orang itu sedang bercumbu mesra di sana.


"Kau benar, Tar. Ngapain aku nangis-nangis kayak orang bego sementara mereka tertawa gembira." Gadis itu menghapus jejak air mata, berdiri menuju kamar mandi. Sesaat suara gemercik air terdengar. Hanna membasuh wajahnya, lalu duduk kembali di samping Tari, mengeluarkan pouch alat kosmetiknya.


Bola mata Tari membulat melihat Hanna yang sudah bisa keluar dari kesedihannya secepat kilat. "Gimana? menor, gak?" tanya Hanna memperlihatkan wajahnya. Riasan itu tentu saja tidak menor, justru cantik natural. Tidak ada yang meragukan kemampuan gadis itu dalam hal merias wajah.


"Lipstik lo tumben warna merah, biasanya warna peach atau pink kan?"


"Biarin, biar gak kalah heboh dengan model itu!" sahut Hanna penuh percaya diri.


"Hadeh!" Tari hanya menutup mata sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kalian, itu pak Haris minta dibawain kopi dua dan teh untuk nona Iris. Jangan lupa, gulanya sedikit aja," ucap Ane saat melihat kedua sejawatnya sedang berbincang.


"Lo aja ya, Ne. Gue malas banget ketemu si Dajjal," ucap Tari. Selama ini tidak ada yang berani menyuruh Hanna karena mereka tahu dia kesayangan Davlin, jadi Ane terpaksa mengalah dan bersiap membawakan pesanan para bosnya itu


"Ne, biar aku yang antar."


***


Hai mampir yuk


__ADS_1


__ADS_2