
Sudah dua hari Davlin merasa bergelut kesepian. Pria itu merasa dilupakan oleh Hanna yang sibuk dengan tugas kuliah dan proses pengajuan beasiswanya.
Tidak hanya karena mengurus itu saja, dia juga harus membantu Cathy registrasi di kampusnya karena adiknya kini juga sudah mulai menjadi mahasiswa.
'Yang, kangen. Masih ingat gak punya pacar? aku dianggurin terus.'
Sebaris pesan yang berhasil membuat Hanna tersenyum. Cathy sedang di dalam Puskom untuk mengurus kartu rencana studi nya, sementara Hanna duduk di luar.
Jarinya bersiap untuk membalas pesan, tapi keburu dipanggil Cathy karena salah mengisi data. Hanna buru-buru masuk dan lupa membalas pesan cinta itu.
Sibuk dengan segala urusan, Hanna benar-benar melupakan Davlin. Hingga tiba di rumah, kelelahan dan dia pun tertidur. Pukul sembilan malam, Hanna terbangun dan mendapati dirinya bahkan belum mandi. Hal pertama yang dia lakukan memeriksa ponselnya dan benar saja, sudah ada berpuluh kali panggilan dan juga pesan dari Davlin.
"Aku tidur apa mati sih tadi, sampai gak dengar apa pun?!" umpatnya kesal memakai dirinya, dan buru-buru masuk kamar mandi.
Setengah jam berlalu, Hanna memutuskan turun mengecek situasi. Cathy sudah bersemedi di kamarnya, begitu pun kedua orang tuanya. Lampu ruang depan juga sudah dimatikan.
Satu senyum terbit di bibirnya. Dengan penuh semangat Hanna naik lagi ke kamar, berjalan lurus hingga ke balkon kamarnya. Debaran jantungnya begitu kencang bertalu, kala dia memberanikan diri untuk melirik ke samping. Balkon tetangganya gelap, dan kamar itu juga tampak sepi dan gelap.
"Apa Davlin udah tidur, ya?" Hanna melirik ke depan rumah melihat jalanan, sudah sepi. Tidak ada seorang pun yang melintas, karena memang di luar sana gerimis sejak sore tadi.
Niat awalnya seperti mendapat dukungan. Tangga yang biasa digunakan Davlin untuk mendatanginya masih ada di sudut tembok, jadi dia memutuskan untuk menyeberang.
Hanna sudah naik, tapi ditengah perjalanannya, dia sedikit bergidik, kalau sampai terpeleset, dia jatuh, pasti langsung tamat hidupnya. Hanna menggelengkan kepalanya membuang pikiran yang mengerikan itu.
Hup!
__ADS_1
Satu lompatan kecil membuatnya mendarat mulus di balkon kamar Davlin.
"Gak papa kali ya, anak perawan menyelinap ke kamar sang kekasih?" cicitnya tersenyum geli melihat kelakuannya sendiri.
"Dav.. Davlin.. " cicitnya mengetuk pintu kaca itu pelan, namun tidak ada jawaban. Hanna bahkan menempelkan wajahnya ke pintu transparan itu untuk memeriksa apakah ada pemiliknya di dalam, tapi seperti tidak ada.
Bobot tubuh Hanna mendorong pintu itu hingga terbuka sedikit. Satu senyum jahil kembali muncul. Hanna menimbang, apa dia masuk saja tanpa izin atau kembali.
Hatinya bilang kembali saja karena apa yang dilakukannya itu tidak pantas untuk dilakukan seorang gadis, tapi kerinduannya ingin bertemu Davlin sangat besar, jadi memutuskan untuk menemui pria itu.
Langkahnya pelan, menghindari suara sekecil apapun. Dia memeriksa ruangan besar itu, tapi Davlin tidak ada. Bahkan Hanna memberanikan diri untuk mengintip ke dalam walk in closet miliknya, tapi tetap si empunya ruangan tidak ada.
Ingin pulang, tapi Hanna tidak rela, jadi dia memutuskan untuk duduk di tepi tempat tidur pria itu. Lama kelamaan aroma wangi tubuh Davlin menyeruak dari selimut yang biasa dia pakai.
Seperti disambar petir, Hanna terkejut mendengar suara dari arah belakangnya. Malu yang sangat besar, dia bak pencuri yang tertangkap basah.
Hanna menggigit bibirnya, memutar tubuh menghadap ke pemilik suara. "Hehehe, hai.."
"Aku teriakin maling nih," goda Davlin.
"Dih!" Hanna cemberut. Belum sempat menyesali perbuatannya, pria itu menunduk hingga wajah mereka sejajar lalu seperti biasa sudah menyapukan bibirnya pada gadis itu.
Jantung gadis itu hampir berhenti. Ini adalah pengalaman pertamanya, berciuman di kamar Davlin malam hari dan masuk lewat balkon kamar. Dulu ciuman pertama mereka memang di dalam kamar ini, tapi karena dia mengunjungi Davlin yang sedang sakit.
Ciuman itu lebih menuntut, Davlin ini merengkuh semua rasa manis dari gadisnya. Menarik tangan Hanna untuk berdiri dan membawa gadis itu ke pangkuannya.
__ADS_1
Bibir Hanna terkunci oleh kenikmatan dari bibir pria itu, hingga tanpa sadar sudah duduk mengangkang di pangkuan Davlin. Gerakan tangan Davlin yang naik turun di punggungnya membuat darahnya berdesir, semakin panas dan terbakar.
Adegan itu harus berhenti sesaat karena Davlin melihat Hanna yang sudah kehabisan nafas. Gadis itu hingga kini masih belum pintar mengambil nafas saat berciuman.
"Sayang, aku merindukan mu. Bahkan hingga gila. Kenapa kau tidak membalas pesan dan mengangkat telepon ku?" ucap Davlin berbisik di atas bibir Hanna yang sudah mulai bengkak karena perbuatannya.
"Maaf, aku sibuk sekali mengurusinya berkas ku dan juga pendaftaran ulang Cathy," balasnya masih terengah, mencoba menenangkan detak jantungnya yang bergetar hebat.
"Han, aku sudah tidak sabar ingin menikahi mu. Kita menikah saja, ya?" ucapnya membelai wajah Hanna yang bersemu merah dan kini semakin merah.
"Aku masih mau kuliah. Masih pengen mengejar cita-cita ku," sahutnya pelan.
Suasana hening. Mereka hanya berpelukan. Dunai Davlin jungkir balik sejak bertemu gadis itu. Dulu dalam prinsipnya, tidak ada kata menikah dalam hidupnya, jangankan menikah, pacaran dengan status yang lama saja tidak pernah. Iris hanya pengecualian karena permintaan Purnomo. Reta bahkan sudah berulang kali memohon untuk segera menikah, tapi tidak pernah dipedulikannya. Kini, dia justru memohon pada Hanna untuk mau menikah dengannya!
"Jangan marah, ya?" bisik Hanna mencium sekilas bibir Davlin. Itu pun dia sudah mengerahkan semua keberaniannya.
"Untung aku cinta, kalau gak, udah aku bawa kawin lari, nih!" ucapnya menarik tengkuk Hanna dan kembali mel*mat bibir nikmat gadis itu.
Malam itu mereka lalui dengan indah. Udara di luar sana begitu dingin, namun di dalam sana, udara panas sudah membakar keduanya. Saat dua orang yang dimabuk asmara bersama di dalam satu ruangan, maka akan ada rayuan dan hasrat yang ingin dipuaskan. Hanna menatap malu dirinya, menyilang kan kedua tangan di dada, menutupi miliknya yang menantang setelah pembungkusnya di lepaskan dan entah kemana dilemparkan Davlin.
"Jangan tutup, aku ingin melihat mereka, menyentuh dan menciumnya," bisik Davlin dengan suara parau. Hasratnya sudah bergelombang dan siap menghempaskan keduanya ke dasar nikmat yang paling dalam.
Kepala Hanna menunduk, saat tangannya di turunkan oleh Davlin. Tidak ada ada jarak, Davlin tahu gadis itu menahan malu, hingga dia tidak akan berlama-lama. Davlin mulai petualangannya dari leher mulus itu, mencecap dan melabeli kulit Hanna dengan tanda cinta darinya. ******* tertahan Hanna semakin membakar jiwa Davlin meneruskan hingga kebawah, hasratnya sudah tidak terbendung.
Davlin sudah tidak berpikir jernih lagi, mulai menciumi dan terus turun, menangkup salah satunya ujungnya hingga Hanna mengerang dan menggigit bibirnya, menahan serangan kenikmatan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
__ADS_1