My Crazy Lady

My Crazy Lady
Bab 118 (MCL)


__ADS_3

Waktu berlalu sangat cepat, seolah mengepakkan sayap, dan tiba-tiba saja Hanna telah berpakaian lengkap, berjalan ke kamar agar bisa diamati oleh Ema dan calon ibu mertuanya.


"Oh, anakku sayang," sang duchess terkesiap, mata wanita itu berbinar takjub. "Aku belum pernah melihat sesuatu seperti dirimu seumur hidupku!" Ia melangkah mundur, mengamati gaun Hanna yang berwarna gading dan berhias mutiara yang dirancang sebagai gambaran mewah pengantin abad pertengahan.


Bagian depan gaun Hanna yang rendah dan berbentuk persegi memeluk dada Hanna yang penuh, lalu turun ke garis pinggang yang sempit, tempat rantai emas dengan deretan berlian dan mutiara dililitkan di pinggul Hanna. Lengan bagian dalam berupa satin ketat berujung lancip di bagian atas tangan, tetap lengan bagian luar, berhias mutiara, memiliki ujung lebar berbentuk lonceng di bagian siku.


Jubah satin tergerai di belakang Hanna, dengan tepian deretan mutiara, dan disampirkan di bahu dengan kaitan batu permata yang senada dengan baru permata di bagian pinggang. Hanna tidak mengenakan kerudung, karena ini memang bukan pengambilan sumpah dan janji suci pada umumnya di Inggris, tetapi rambut panjangnya ditarik dari kening dan dijepit di puncak kepala dengan jepitan berlian dan mutiara. Rambut itu tergerai bergelombang di bahu, berakhir dalam ikal-ikal lembut dan tebal, di tengah punggung Hanna. Alex pernah mengatakan dia sangat menyukai rambutnya yang seperti itu.


"Kau benar-benar mirip putri abad pertengahan," ibu Alex mendesah takjub, tetapi Ema, dalam kebahagiaan yang disembunyikan, menatap wanita muda cantik yang kini sudah berstatus duchess. Dalam benaknya, ia melihat Hanna yang dulu, mengenakan pakaian pengurus kuda dan berdiri bertelanjang kaki di punggung kuda yang melompat-lompat. Hanya berteman kuda dan Julia, dan Will tentu saja. Dunia yang dia miliki hanya seputar hal itu, selebihnya hanya menjadi gadis rumahan, pendiam, dan begitu banyak ejekan dan hinaan yang disematkan padanya.


Ketika akhirnya sanggup bicara, air mata bahagia dan bangga mencekat suara Ema. "Kita harus segera berangkat ke aula kerajaan. Acaranya akan berlangsung di sana, atas permintaan King Jhon, di detik terakhir. Papamu berkata ada kerumunan penonton yang berkumpul ketika dia melewati jalan itu beberapa jam lalu, dan kata papamu, jalanan benar-benar macet!"


Ternyata istilah macet kurang sesuai. Empat blok dari bangunan megah Puri sang Raja, kereta yang membawa Hanna, kedua orang tuanya dan Catherine, benar-benar terhenti, terperangkap di hambatan jalan. Rasanya seakan seluruh penduduk London datang untuk menyaksikan pernikahan ini.


Di depan Kastil, dua belas pendamping pria mendongak penuh harap ketika Stephen masuk dari pintu samping. Stephen menghampiri Alex yang bersandar di meja, wajahnya yang tegang memancarkan gejolak emosi dalam diri pria itu saat membayangkan bahwa kemungkinan Hanna mencampakkannya di depan King, semakin besar. Tetapi Stephen tetap gembira saat memberitahukan, "Ada kemacetan parah di luar sana. Jalanan dipenuhi pejalan kaki, kuda dan kereta tidak bisa bergerak."

__ADS_1


Alex mendadak menegakkan tubuh dan mengentakkan ke arah pintu. "Cari Cadbury, dia ada di suatu tempat di kastil ini. Kalau Hanna tidak tiba di sini dalam lima menit, aku yang akan pergi mencari gadis itu."


"Alex, kecuali kudamu memiliki sayap, semua itu tidak akan berguna. Bisakah kau berjalan ke pintu ini dan melihat sendiri kenapa Hanna terlambat?"


Dengan langkah panjang dan bimbang, Alex mengikuti Stephen ke pintu di sisi kastil, di sebelah sana, King Jhon tengah menikmati minumannya dan berbincang dengan para Duke dan undangan kehormatan yang lain.


Mereka tiba di sisi Kastil yang menghadap alun-alun. Jalanan dipenuhi manusia dan kendaraan yang terperangkap. "Apa sebenarnya yang sedang terjadi di sini?" bentak Alex penuh emosi.


"Seorang Duke akan menikah," jawab Stephen tersenyum lebar. "Menikah dengan gadis cantik yang tidak berasal dari keturunan bangsawan dan tidak memiliki kekayaan luar biasa. Ternyata pernikahan mu menjadi pernikahan terakbar abad ini, dan penduduk kota ingin datang untuk menyaksikan."


"Karen kita bukan pemilik kastil ini, sudah pasti mereka mengira berhak datang ke sini. Walaupun, " Stephen menambahkan dengan masam, "Tidak ada tempat kosong lagi di luar sana. Bahkan balkon-balkon terisi penuh."


"Your Grace," sebuah suara pria yang tenang menyela. Sekelompok wajah pria yang cemas beralih ke arah pria yang mengenakan seragam lengkap. "Pengantin wanitanya sudah datang," ucapnya perlahan.


Lima puluh lilin putih menerangi koridor. Pipa organ mengeluarkan nada, lalu musik pun berkumandang, bergema memenuhi kastil dari lantai marmer hingga langit-langit menjulang tinggi.

__ADS_1


King Jhon tersenyum, dia ikut bahagia. Kedatangan selain menghormat jasa ayah Alex yang sudah banyak berjasa bagi Inggris, Jhon juga ingin bertemu langsung dengan wanita yang sudah berhasil menawan hati seorang Duke of Claymore.


Satu demi satu, Hanna mengamati dua belas pengiring pengantin wanita berjalan menyusuri koridor. Catherine menerima buket bunga dari pelayan merapikan ekor gaunnya, lalu ia menoleh ke arah Hanna seraya tersenyum lembut. "Aku ikut bahagia untuk mu, Kak," ucapnya penuh haru. Matanya mulai berkaca-kaca, namun tetap ditahan agar tidak merusak riasan wajah cantiknya.


Pesan hari dari Cathy nyaris menghancurkan ketenangan diri Hanna. Sejenak air mata memburamkan pandangannya, lalu Hanna memusatkan perhatian pada Julia, yang baru saja melangkah ke koridor dalam balutan gaun sutra dan satin berwarna hijau apel.


Ditinggal berdua saja dengan ayahnya yang hanya sempat bertegur sapa sopan dan standar sejak datang untuk pesta pernikahan dua hari lalu.


Hanna menoleh ke arah pria itu. Ayah Hanna terlihat tegas dan keras. "Apakah kau gugup, Papa?" tanya Hanna lembut seraya mengamati ayahnya.


"Tidak ada yang perlu digugupkan,"jawab ayahnya dengan suara parau yang aneh. "Aku akan berjalan sambil menggandeng wanita yang paling cantik di seluruh Inggris." Ia menatap Hanna, dan dia melihat mata ayahnya berkaca-kaca ketika menambahkan, "Kurasa kau tidak percaya ini, karena kau tahu aku sangat menyayangimu, putri yang paling ku sayang, tapi aku tidak akan menjodohkanmu dengan sang Duke kalau aku tidak menganggapnya pria yang cukup jantan untuk menghadapi... tidak, intinya, dia pria yang tepat untuk mu," koreksi ayahnya dengan kikuk. "Aku berpikir, pada hari pertama, ketika dia datang ke rumah, bahwa kalian berdua mirip, dan saat itu juga aku mengizinkannya mendekatimu. Kami bahkan tidak membahas masalah uang sampai setelah aku menyetujui pernikahan ini."


Mata Hanna berkaca-kaca saat menjinjit dan mencium alis Stuart yang berkerut. "Terima kasih karena menceritakannya kepadaku, Papa. Aku menyayangimu."


***Dukung novel aku terus ya, Terima kasih ♥️🙏

__ADS_1


__ADS_2