My Crazy Lady

My Crazy Lady
Bab 121 (MCL)


__ADS_3

Tidak ingin jadi bahan ledekan, Alex pergi menghampiri Hanna. "Maafkan aku karena mengakhiri malam mu, Cantik, tapi jika kita tidak segera pergi, orang-orang akan mulai bergunjing. Ayo, kita ucapkan selamat malam kepada kedua orang tuamu," desak Alex, tetapi dia sendiri juga tidak terlalu ingin pergi, dan kesal karena diusir dari pesta sialan miliknya sendiri di rumah sialannya sendiri oleh tamu sialannya sendiri.. yang ia langsung menyadari, merupakan gagasan konyol yan dipikirkan pengantin pria pada malam pengantin, terutama ketika pengantin pria itu adalah dirinya sendiri.


Seraya tersenyum, Alex menggeleng memikirkan gagasan ironis itu.


Sayangnya, Alex masih tersenyum ketika melihat Hanna mengucapkan selamat malam pada keluarganya, dan ayahnya salah mengartikan senyum Alex sebagai seringai, berasa berhak mengernyit tajam dan melayangkan tatapan mengecam ke arah pengantin pria. Stuart jelas belum ikhlas menyerahkan putri kesayangannya pada pria itu.


Alex menegang karena teguran diam-diam itu dan merasa diperlakukan tidak adil, lalu dia hanya bisa berkata datar, " Kami akan menemui kalian saat sarapan." Walaupun Alex semula bermaksud dengan ramah mengucapkan selamat malam pada mertuanya.


Tanpa berkata apa-apa, Alex menuntun Hanna menyusuri koridor panjang dari sayap barat. Ketegangan menyergap Hanna saat mereka melintasi balkon, dan di anak tangga, langkah Hanna melambat. Tetapi Alex sedang mengalami masalah baru dan tidak menyadarinya. Apakah dia harus membawa Hanna ke kamarnya, ataukah harus membawa wanita itu ke kamarnya sendiri?


Banyak pelayan yang berkeliaran di tempat terkutuk ini, dan Alex tidak ingin kenyataan bahwa tidak ada kemesraan suami-istri pada malam pengantin mereka diketahui pelayan.


Alex baru saja memutuskan untuk membawa Hanna ke kamar wanita itu sendiri ketika dua pelayan pria menaiki tangga dan merasa bersalah seperti pencuri di rumahnya sendiri, Alex cepat-cepat berganti arah, mundur dan membuka pintu kamarnya.


Dia sudah berjalan memasuki kamar tidur sebelum sadar Hanna berhenti di ambang pintu dan menatap panik ke arah tempat tidur besar. "Kemarilah, Sayang," ujarnya, melirik ke koridor dengan cepat secara paksa menarik Hanna untuk masuk. "Tidak ada yang perlu ditakutkan di sini, tidak ada pria gila yang akan menyerangmu."


Hanna menggeleng, seakan sedang menyingkirkan ketakutan yang bahkan belum dia lalui, hanya mendengar dari Julia saja. Lalu ia pun melangkah masuk. Seraya mendesah lega, Alex menutup pintu di belakang mereka dan membawa Hanna ke sofa hijau panjang di sisi kanan perapian, di seberang kursi.


Alex hendak duduk di samping Hanna di sofa, melirik wajah istrinya yang menawan dan berpikir akan lebih baik jika ia duduk di kursi yang ada di hadapan Hanna.


"Hanna tidak mungkin bisa tidur di kamarnya malam ini sama seperti aku tidak bisa tidur di kamarku," putus Alex berpikir sesaat. Karena para pelayan akan merasa aneh jika tempat tidur mereka berdua ditiduri.

__ADS_1


Hanna harus tidur di tempat tidur Alex dan pria itu akan tidur di sofa. Alex menatap Hanna. Kepala Hanna yang gelap menoleh ke arah api menyala di perapian, jauh dari ranjang besar di panggung rendah. Alex baru sadar Hanna pasti bertanya-tanya kenapa dia, jika pria itu memang bermaksud menepati janji, tidak membawa Hanna ke kamar tidur wanita itu, tetapi ke kamar Alex sendiri. "Kau harus di sini, Cantik. Kalau tidak pada pelayan akan bergunjing. Aku akan tidur di sofa."


Hanna mendongak menatap Alex, dan tersenyum, seakan pikiran Hanna telah melayang jauh.


Setelah beberapa saat yang terasa canggung, Alex bertanya, "Apakah kau ingin berbicara?"


"Ya," sahut Hanna seketika.


"Apa yang ingin kau bicarakan?"


"Oh.. apa saja."


Alex memutar otak mencari sesuatu yang menarik untuk di bahas, tetapi otak dan tubuh Alex terpaku pada keberadaan Hanna yang menyenangkan di kamar tidur itu. "Cuaca hari ini sangat bagus," ujar Alex pada akhirnya. Dia berani bersumpah melihat tawa berkelebat di raut wajah Hanna, atau apakah itu hanya akibat cahaya api?


"Ya, kau benar," sahut Alex pendek dan kemudian masih memikirkan apa lagi yang akan mereka bahas. Biasanya mereka selalu bisa bicara dengan nyaman tanpa canggung, tapi malam ini, keduanya seolah orang luar, yang baru pertama bertemu. Sial!


"Apa kau lapar?" lanjut Alex melirik istrinya.


"Sangat kenyang," sahut Hanna memberikan senyum terindahnya.


Ya, Tuhan! Alex berharap Hanna tidak menatapnya dengan mata hijau berkilat dan tersenyum dengan cara menggoda seperti itu. Tidak malam ini. Terdengar ketukan pelan di pintu kamar Alex dan juga pintu kamar Hanna. "Siapa yang..?"

__ADS_1


"Kurasa itu Mery," kata Hanna sudah berdiri dan memandang ke sekeliling mencari pintu penghubung yang mengarah ke kamar tidur wanita itu. Alex menghampiri pintu yang mengarah ke koridor, membukanya, dan menatap kesal ke arah pelayan pribadinya sendiri, yang berkata datar. "Selamat malam, Your Grace," dan otomatis melangkah masuk ke kamar. Sialan!


Alex melupakan pelayan pribadinya dan pelayan Hanna. Bagi Alex sendiri, ia merasa sarafnya yang penuh hasrat tidak akan terlalu tersiksa jika mereka tidur dengan pakaian lengkap.


Dalam hati, Alex mengutuk semua pelayan, menunjukkan pintu penghubung kepada Hanna, lalu berbalik dan berjalan ke ruang kerja yang menyatu dengan kamar tidurnya, melupakan kehadiran pelayan pribadinya di dalam kamar.


Seraya menatap buku yang berderet di dinding ruang kerja, Alex mencoba memutuskan apa yang harus dibaca.


"Ya, Tuhan, pada malam pengantinku, aku harus memikirkan bahan bacaan ku?" batinnya mengerang kesal dalam hati.


"Setelah delapan Minggu penuh gairah terkendali, kenapa Hanna begitu ketakutan? Dan kegilaan apa yang yang merasuki ku hingga mau membuat janji semacam itu dengannya, yang hanya membuat ku semakin menderita!" teriaknya dalam hati lagi. Semua itu memang hanya berani dia pekik kan dalam hati saja.


Saat Alex mengulurkan tangan untuk meraih sebuah buku, Cadbury berjalan perlahan ke ruang kerja. "Apakah saya bisa membantu Anda, Your Grace?"


Alex menyentakkan tangan dari rak buku dengan malu, berbalik menghadap pelayan pribadi sialan itu. "Aku akan memanggil mu, kalau aku membutuhkanmu!" ujar Alex singkat, mencoba menyembunyikan kejengkelannya.


Para pelayan akan berkata Alex terlihat gugup bak anak kecil saat malam pengantin jika dia membentak dan menggeram. "Itu saja, Cadbury. Selamat malam," tambah Alex lalu menuntun pelayannya yang tampak terkejut ke pintu, mendorong si pelayan ke koridor, dan mengunci pintu kamarnya.


Alex berjalan kembali ke ruang kerja, melepas jaket dan syal dan membuka dua kancing teratas kemeja. Setelah membuka tutup botol minuman di meja kerja, ia menuang segelas besar brendi, lalu mengambil buku dari salah satu rak, duduk dan menjulurkan kakinya yang panjang. Ingin bersantai, ia menyesap brendi dan membaca paragraf yang sama empat kali sebelum akhirnya menyerah dan menutup buku dengan keras.


Alex benar-benar kesal pada dirinya sendiri, dan agak kaget, karena merasa sangat gelisah mengalami satu malam hidup selibat.

__ADS_1


Setelah delapan Minggu dia sanggup menahan diri, lalu kenapa satu malam lagi begitu berarti. Dia pasti bisa menahannya, hingga Hanna menerima dirinya dalam diri wanita itu.


Cih, membayangkan pergulatan mereka saja sudah membuat aliran darah tergolak.


__ADS_2