My Crazy Lady

My Crazy Lady
Yang baru


__ADS_3

*** Hai kak, aku mau minta pendapatnya, aku mau buat novel baru, coba di baca, suka atau gak ya kak, kalau gak bagus mau aku kasih ke rumah lain. Makasih**


“Lari, Lin. Cepat!” Seru Juna yang sudah memimpin di depan. Rosalin harus menguras sisa tenaga yang tersimpan untuk mengimbangi langkah Juna.


Sesekali kepalanya menoleh ke belakang, kawanan pria di pasar itu masih mengejar mereka. Rosalin lelah, dia sudah tidak sanggup lagi. Tubuhnya lemas sudah. Tenaganya sudah terkuras hingga menyisakan sakit pada seluruh tubuhnya. Dua hari sudah melipat perut, menahan rasa lapar.


Rosalin atau biasa di sapa Elin, tidak ingin mengambil kue di rak pada bazar makanan itu. Tapi tuntutan perutnya membuat Elin tidak punya pilihan lain.


Merasa langkah Elin semakin menjauh darinya, Juna menoleh ke belakang. Benar saja gadis, itu jauh tertinggal sementara kawanan pria bertubuh tegap itu sudah semakin mendekat. Tidak ingin meninggalkan Elin, Juna mundur kebelakang.


“Naik!” perintahnya setelah jongkok di hadapan Elin. Gadis 14 tahun itu mengikuti perintah Juna yang tiga tahun lebih tua darinya.


Sekuat tenaga Juna berlari, dengan beban berat yang ada di punggungnya. Matanya menatap bangunan tua yang kosong, yang beberapa hari lalu menjadi tempat mereka menghabiskan malam.


Hufffh.. Hufffh..”Sudah aman,” ucap Juna membungkuk, memegangi perutnya dengan nafas tersengal. Elin yang merasa tidak enak hati hanya mengipas angin untuk memberikan sedikit kesegaran pada Juna.


Keduanya duduk bersandar pada tembok bangunan. Menatap jauh langkah yang sudah mereka tinggalkan.


Arjuna mengenal Rosalin di panti asuhan. Kala itu gadis kecil itu dibawa masuk ke dalam panti oleh pengurus panti saat berusia empat tahun.


Layaknya pendatang baru, Elin selalu dijahati oleh anak-anak yang sudah lebih dulu ada di sana.


“Kemarikan!” seorang anak menarik piring Elin yang sejak tadi berusaha dipertahankan oleh gadis itu.


Anak kecil itu kalah kuat, harus merelakan lauk dan sebagian nasinya diambil gadis berusia delapan tahun.


Elin tidak menangis, dia menahannya sembari mencengkeram pinggiran piring. Itu sudah hal biasa dia alami setelah dua Minggu ada di panti asuhan ini. Pada awalnya dia tentu saja menangis, tapi seminggu setelah dia tahu, untuk bertahan hidup di sana, dia hanya harus bertahan dan terlihat tegar.


Prank!


Piring dari kaleng itu jatuh ke lantai. Semua isinya tumpah berserakan hingga beberapa anak yang ada di dekat situ mendekat.

__ADS_1


Juli hanya menatap piringnya yang baru saja dihempaskan Juna hingga jatuh. Tatapan penuh emosi yang mematikan dialihkan gadis itu pada Juna, tapi nyatanya Juna bersikap tenang, melipat tangan di dada dan bersikap menantang.


“Kalau kau tidak ingin di ganggu, maka jangan mengganggu. Mulai sekarang, gadis ini di bawah perlindunganku. Siapa yang coba menyakitinya, berurusan denganku!”


Itu kali pertama pertemuan mereka secara langsung. Juna sudah mengamati Elin sejak kedatangannya, namun Juna yang terkenal badung itu sama sekali cuek.


Sejak saat itu, Elin selalu mengikuti ke mana pun Juna pergi bermain. Kenakalan Juna kadang berimbas pada Elin.


Juna yang liar dan suka berantam dengan teman-temannya acap kali mendapat hukuman dari ibu panti. Mengurung pria itu berhari-hari tanpa makanan hanya diberi minum.


Elin akan datang mengendap-endap memberikan sepotong roti dan menyelipkan lewat jendela. Kadang tindakan Elin tidak ketahuan, namun sering dipergoki hingga berujung hukuman.


“Sekali lagi kau membantunya dengan memberikan makanan, maka kau yang akan ibu hukum dengan ikut tidak mendapatkan makanan”


Hardikan atau pun ancaman dari koki atau pun ibu panti, tidak membuat Elin berpangku tangan setiap Juna mendapat masalah. Bagi Elin, Juna adalah hidupnya, nafasnya dan juga kompas dalam langkahnya.


Setelah pengukuhan Elin di bawah pengawasan Juna, kini tidak ada yang menjahatinya lagi. Bahkan setelah berbulan, banyak anak-anak yang mau berteman dengannya.


Dua Minggu sudah Siera menjadi penghuni di panti itu. Kedua gadis seumuran itu langsung bisa akrab dan menjadi sahabat baik.


Waktu berjalan, satu persatu teman Elin diadopsi oleh keluarga yang datang berkunjung, membawa teman-temannya pergi.


Sebenarnya, di panti itu Elin termasuk gadis yang paling cantik dan juga pintar, namun tak sekalipun pengurus panti merekomendasikan dirinya untuk di adopsi setiap ada keluarga atau pasangannya yang ingin mengangkat anak.


Ibu panti tidak benci, hanya saja kelakuan barbar dan tidak terdidik Rosalin dianggap akan mempermalukan panti asuhan itu.


Awalnya dia biasa saja, tidak ada rasa iri atau pun sedih kala harus tinggal di tempat itu lebih lama. Tak jadi soal, selama Juna dan juga Siera ada bersamanya.


“Kau tahu, Lily akan segera dijemput keluarga barunya,” ucap Siera menopang kepalanya dengan tangan. Gadis itu masih ingin mendapatkan perhatian Elin yang sudah memejamkan mata.


Hari ini tubuhnya lelah. Dua kali pipinya kena tampar Bu Santi, hanya karena salah membeli tepung di warung ujung jalan sana.

__ADS_1


Tidak sampai di situ, punggungnya juga kena sabetan sapu dua kali.


“Elin, kau sudah tidur? Bangun, aku masih mau cerita” Siera menggoyangkan tubuh gadis itu, benar-benar menuntut perhatiannya.


“Iya, aku dengar. Biarkan saja dia pergi, aku turut gembira buatnya,” jawab Elin malas.


“Kapan ya, kita juga dapat keluarga baru? Aku juga ingin pergi dari sini” bola mata Elin terbuka sempurna mendengar ucapan sahabatnya itu. Satu hal yang buat Elin tersadar, kalau kebersamaan mereka tidak akan bertahan lama. Ada pertemuan, pasti ada perpisahan.


Selama ini dalam pikirannya, dalam dunianya cukup ada Siera dan Juna, namun ternyata Siera memiliki harapannya sendiri.


“Semoga kau segera mendapatkan keinginanmu, Ra”


***


Pagi itu, selepas sarapan, ibu panti meminta semua anak-anak untuk gotong royong membersihkan ruangan. Tidak hanya yang tampak, tapi sela-sela gudang juga ikut di bersihkan.


Anak-anak laki-laki diminta untuk membersihkan halaman dan juga jalan menuju panti.


“Memangnya ada acara apa besok hingga harus membersihkan tempat ini?” tanya Elin masih dengan kain pel ditangannya.


“Bu Yati bilang, akan ada tamu penting yang akan berkunjung besok,” sambar Siera yang mendapat informasi dari Bu Yati, penanggung jawab konsumsi di panti itu.


“Oh..”


“Hanya itu?”


“Apa?” delik Elin tidak mengerti.


“Tanggapanmu. Apa kau tidak bersemangat untuk menyambut kedatangan mereka? Bisa saja mereka mau mengadopsi salah satu diantara kita. Bayangkan kalau kita memiliki keluarga kaya raya seperti mereka,” ujar Siera antusias.


“Huufh..aku tidak tertarik,” sahut Elin mengambil ember bekas mengepel lantai itu. Dia tidak akan mau meninggalkan Juna di sini sendirian, lagi pula, bagi Elin tidak ada orang baik di dunia ini setelah semua yang dia alami dalam hidupnya.

__ADS_1


“Jangan bilang begitu. Kita kan tidak tahu,kapan kita akan bertemu orang baik. Bisa saja besok adalah waktumu bertemu orang baik”


__ADS_2