
Hanna tidak tinggal diam. Ikut masuk ke dalam lift yang hampir ditutup oleh Kai. Berdiri di sudut lift, menatap punggung Kai yang dia yakin berusaha tegar.
Hanna tahu, kenyataan yang baru dia dapatkan ini membuatnya merasa hancur, dan Hanna memilih untuk diam, tidak bertanya, menunggu hingga perasaan emosional Kai stabil dulu.
Kai terus berjalan, menerobos orang-orang yang berdesakan ingin masuk ke lift. Hanna bahkan terinjak kakinya saat ikut keluar dari lift.
Pria itu sudah selesai memasang helm di kepalanya, saat Hanna tiba. Tanpa menunggu diberikan padanya, ia bergegas mengambil helm yang tadi dia pakai. Tanpa komando, Hanna juga ikut naik. Dalam diam, keduanya membelah jalanan, hanya deru suara motor.
Terserahlah Kai akan membawanya kemana. Dia akan ikut, karena Hanna tahu saat ini adalah waktu dimana pria itu butuh teman bicara, butuh seseorang untuk mendengar keluhnya. Lagi pula dia juga sudah tidak jadi olahraga.
Mereka tiba di pinggiran kota. Menghadap ke pinggiran danau buatan. Angin sore itu membelai lembut wajah keduanya yang kini duduk dalam diam. Kai terluka. Itu sudah pasti. Tapi dia juga tidak bisa mendiamkan Hanna yang sabar menunggu di sampingnya.
"Dia ayahku. Seorang pengusaha sukses, terkenal dan di diakui banyak orang sebagai pria baik, dan kepala keluarga yang penuh kasih. Sudah beberapa bulan ini aku menyimpan ragu padanya. Selama ini ibu ku menyembunyikan dari ku, tapi hati ini, aku melihat dengan kepala ku sendiri." Ada nada putus asa yang terdengar dari suaranya. Hanna turut bersedih, dia memahami kalut di hati dan pikiran Kai saat ini.
Dia ingin sekali menghibur, tapi dia juga bingung harus berkata apa. Jadi dia memutuskan untuk diam, mendengarkan Kai mengeluarkan segala beban di hatinya.
"Lo pasti malu ya, punya teman yang bapaknya gak bermoral sama sekali?" Kai menoleh ke samping, mendapati Hanna yang juga menatap wajahnya.
"Kai.."
"Please, Han. Jangan kasih tatapan seperti itu. Gue gak mau dikasihani," sambar nya kembali mengalihkan pandangan ke depan. Kembali udah bertiup, sedikit menyejukkan.
"Ingat Kai, masih ada ibumu yang menyayangi mu. Jika saat ini kau dikecewakan oleh ayahmu, setidaknya kau jangan mengecewakan ibumu. Jadi lah perisai bagi ibumu," ucap Hanna, meremas tangannya. Dia jadi bingung harus apa, walau tidak bersuara, dia tahu saat ini Kai yang menundukkan kepalanya tengah menangis.
Hening. Samar hanya tarikan air dalam hidungnya yang terdengar. Bagaimana pun, dia seorang pria pasti menjaga harga dirinya, tidak ingin dikatakan cengeng.
__ADS_1
Setengah jam berlalu, masih dalam keheningan. Kai mengakui apa yang dikatakan Hanna benar, dia harus bangkit dari kesedihannya ini, demi ibunya.
"Kita pulang, yok?" Kai sudah berdiri, mengibaskan celananya, mengusir debu di sana. Tangannya terurai pada Hanna, menawarkan bantuan untuknya berdiri, tapi Hanna hanya tersenyum dan berdiri sendiri. Dia tahu, kalau kini dia memilih di dekat Kai untuk menghiburnya, tapi sebagai teman biasa. Dia harus menjaga batasannya, karena tidak ingin dianggap mengkhianati kepercayaan Davlin.
Ngomong-ngomong soal pria itu, Hanna lupa mengabarinya. Diliriknya jam pada pergelangan tangannya. Satu jam berlalu dari jadwal olahraganya. Davlin pasti sudah menjemputnya tadi.
"Sorry, ya udah menyita waktu lo. Gak jadi fitnes dong, lo, ya?" ujar Hanna berusaha turun dari motor. Mereka baru saja tiba, dan Hanna buru-buru melepas helm di kepalanya dan menyerahkan pada Kai.
"Santai aja, gak papa. Mmm.. Kai, lo balik ya, tenangkan diri lo," ujarnya melirik ke samping dan tepat seseorang keluar dari pintu rumahnya.
Davlin di rumah gue? pantas aku lihat ke arah rumahnya gak ada!
"Dari mana?" tanya Davlin dingin. Kalah kutub Utara. Fix, Davlin keturunan Eskimo!
"Dari kampus.."
Dari tatapan Davlin begitu tajam menatap Kai saja, seolah pria itu ingin mengajaknya duel. namun, segera ditarik oleh Hanna.
"Aku lapar. Temani makan, ya." Hanna menarik tangan lengan Davlin yang masuk ke dalam saku celana, masih menatap tajam wajah Kai, yang membalas dengan tidak kalah dingin juga. "Kai, lo pulang, ya. Istirahat, dan salam sama ibu mu," ucap Hanna meminta Kai pergi, kalau tidak lima menit lagi kedua pria itu pasti sudah laga pedang di sini.
Kai mengangguk, lalu tersenyum pada Hanna. Tanpa mempedulikan rasa tidak suka pria itu.
Deru motor Kai, menghilang bersama sosok pria itu yang sudah tidak tampak lagi. Tinggallah Hanna yang jantungan menerima amarah dari Davlin. Apa yang akan dikatakan pria itu padanya? Hanna pasti sudah menduga.
Tanpa mengatakan apa pun, Davlin berputar, berjalan ke arah rumahnya. Hanna menatap punggung itu, dan menghela nafas. Tebakannya salah, Davlin tidak mengatakan apa pun. Walau terlepas dari amarah, tapi Hanna jadi sedih.
__ADS_1
"Kau masih di situ? lima menit kau tidak sampai di sini, maka kau akan tahu akibatnya," ucap Davlin tanpa menoleh ke arah Hanna. Dia yang melangkah dua kali langsung tersadar kalau gadis itu tidak mengikuti langkahnya.
Tersentak oleh kalimat Davlin, Hanan segera bergegas, mengikuti langkah pria itu. "Biarin deh bakal diomelin, asal habis itu dipeluk," cicitnya pelan.
Davlin sudah menunggunya di ruang tamu, melipat tangan di dada, persis seperti seorang ayah yang ingin menghukum putrinya yang kedapatan pacaran.
"Siapa suruh duduk di sini," salak Davlin kala Hanna dengan santainya menghempaskan tubuhnya di samping pria itu.
"Di sana!" lanjutnya menunjukkan sofa yang ada di hadapannya. Hanna menurut, dia sudah membangkitkan siang tidur dalam diri Davlin, jadi dia akan bijak dengan tidak menambahi amarah pria itu.
"Ada yang ingin kau katakan?" Davlin memulai persidangan. Mata elangnya mengintai, tidak akan membiarkan Hanna mencoba menyelipkan kebohongan.
"Hah? Oh.." ucapnya kala menyadari apa kemana arah kalimat Davlin.
"Mmm?" susul Davlin tidak sabar.
"Aku.. maaf tidak memberitahukan padamu. Ini urgent. Kai butuh teman untuk bicara. Dia dalam keadaan sedih. Papanya ketahuan selingkuh, dan dia benar-benar terpukul akan hal itu," ucap Hanna to the points.
"Sampai sore? bahkan ini sudah hampir magrib!"
"Maaf.."
"Kemari!" Perintah Davlin. Hanna bangkit dan kini telah diperbolehkan duduk di dekatnya, bahkan diminta duduk di atas meja di hadapan Davlin. Walau sedikit aneh, tapi Hanna cari aman, mengikuti mau sang kekasih arogan.
"Katakan, kau ingin diberi hukum seperti apa?!"
__ADS_1
Dukung novel aku terus ya🙏♥️♥️😘