
"Bukan kah kita harusnya bawa sesuatu? masa iya, menjenguk orang sakit gak bawa apa-apa," ucap Hanna mengamati jalanan yang mereka lalui.
"Iris udah sehat. Dia juga udah pulang ke rumah, jadi gak perlu bawa apa pun, Han," sahut Davlin tersenyum. Nyatanya itu hanya bercandaan. Mereka masuk ke swalayan, untuk membeli buah dan beberapa jenis cake.
"Kenapa diamati aja. Mau? ambil lah," ucap Davlin ikut menunduk mengamati stan cake yang memang terlihat lucu-lucu bentuknya.
"Uang aku kurang. Aku cuma bawa 50 ribu, nanti mau beli minum udah 20 ribu. Gak cukup lah," sahut Hanna berdiri tegak. Davlin seakan tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Dia menatap Hanna lalu tergelitik hingga tertawa terbahak. Hanna yang tidak mengerti tentu saja menatap kesal pada kekasihnya itu. Rasanya tidak ada yang lucu, apa wajahnya terlihat jelek? ada yang menempel di sana?
"Kok ketawa? ada apa?" tanyanya lemah.
"Maaf kan, aku sayang. Habis kau lucu, sih. Dengar, aku adalah pacarmu?" Hanna mengangguk.
"Siapa namaku?" kening Hanna berkerut, dia tidak mengerti maksud pria itu, tapi tidak punya pilihan lain selain menjawab.
"Davlin More "
"Dan?" desak Davlin.
"Dan? apa?" Hanna semakin bingung. Davlin tergelitik melihat mimik wajah Hanna yang tampak kebingungan.
"Aku pengusaha sukses dan sorry, aku bahkan bisa membeli semua yang ada di toko ini. Dan kau merisaukan cake seharga 35 ribu? sungguh My Lady, kau sudah melukai hatiku," ucap Davlin memegang dadanya, seolah Hanna memang membuat hatinya sakit.
"Aku tahu kau kaya. Bisa membelikan ku apa pun, tapi aku ingin melakukannya sendiri, bertanggung jawab atas kebutuhanku," sambar Hanna.
"Aku gak setuju. Sayang, kau adalah kekasihku, sudah menjadi tanggung jawabku untuk memenuhi semua keinginan mu."
"Tidak sampai kau menjadi suamiku."
"Kalau begitu, maka kita menikah saja," sambar Davlin yang membuat bola mata Hanna membulat sempurna.
"Gak lucu." Hanna melangkah meninggalkan pria itu menuju parkiran. Berdiri di dekat pintu mobil Davlin. Pria itu pun bergegas membayar semua belanjaan mereka tidak lupa dengan kue yang tadi memicu perdebatan akbar diantara mereka.
__ADS_1
"Jangan cemberut dong, Han." Davlin melirik ke samping, gadis itu itu masih menutup mulutnya rapat.
"Sayang..."
"Aku gak suka kau ngomong kayak gitu. Bercandanya kelewat."
"Siapa yang bercanda? aku serius. Kalau kau mau, aku akan menikahi mu detik ini juga. Aku serius Han, aku ingin kita menikah. Kau mau, kan?"
Penuh makna Hanna menatap wajah itu. Tidak ada niat bercanda di sana. Dia tahu Davlin serius, dan itu berhasil membawa rona merah di pipinya.
Dia diam, tidak menerima tawaran Davlin atau pun menolak. Dalam pikirannya saat ini, dia sudah membayangkan dirinya menjadi istri Davlin, menyiapkan semua keperluan Davlin sebelum berangkat kerja dan malam nya... Hanna menunduk, sungguh pikiran nakalnya membuatnya tersipu.
***
"Aku senang kau mau datang," sapa Iris menyalami Hanna dengan senyum tulus. Hanna tidak melihat adanya benci dalam netra wanita itu.
"Maaf ya, Mbak. Aku baru bisa datang menjenguk sekarang," ucap Hanna sedikit malu. Hingga Iris keluar dari ruang sakit, dia baru datang menjenguk.
"Santai saja, Han." Obrolan mereka diputus kala Davlin datang bersama Purnomo. Mereka tampak damai, tidak ada pertikaian setelah Davlin mengatakan statusnya dengan Iris saat ini yang hanya berteman biasa.
"Ini pasti Hanna," sapa Purnomo menyalami gadis itu.
"Siang, Om. Maaf baru bisa menjenguk mbak Iris sekarang."
"Tidak apa-apa. Ini juga saya mau berterima kasih karena sudah datang. Iris pasti senang menerima kedatangan kalian," sahutnya tersenyum.
Mereka berempat mengobrol santai, hingga Purnomo mengajak Davlin untuk membahas masalah pekerjaan.
"Ini.." Iris menyerahkan bungkusan yang dia ambil dari laci nakas dekat tempat tidurnya. Benda bulat itu dibungkus selembar sapu tangan satin berwarna putih yang di pinggiran nya bersulang dua angsa.
"Apa ini, Mbak?"
__ADS_1
"Buka lah, Han." Iris mengangguk, meyakinkan Hanna untuk membukanya. Bola matanya menatap lekat pada benda itu. Tentu saja dia mengenal benda berbentuk lingkaran yang terbuat dari titanium pilihan itu. Bagian dalam lingkarannya, terukir namanya. Sangat jelas.
"Aku mengambil yang bukan milikku, dan sekarang sudah saatnya aku mengembalikan pada pemilik yang sebenarnya," ucap Iris penuh haru. Butuh keberanian dan berjiwa besar untuk mengembalikan benda itu, karena saat dia mengembalikan gelang itu, artinya dia sudah menerima kekalahannya dan harus rela melepas Davlin untuk selamanya.
Mungkin kalau wanita lain yang mendapatkan cinta Davlin, Iris sedikit tidak rela, tapi gadis yang dipilih Davlin adalah Hanna. Gadis polos yang baik hati. Mereka pantas untuk bersatu.
"Mbak..." Hanna menatap lekat wajah itu. Sedetik lagi Hanna yakin wanita yang ada dihadapannya ini pasti akan meneteskan air mata yang sudah mengenang di pelupuk mata.
"Pakailah Han. Aku ingin lihat."
Hanna menurut, memakai di pergelangan tangannya.
"Aku minta maaf, karena sudah sempat berpikiran dan bertindak salah dengan mengambil gelang itu yang jelas-jelas ditujukan Davlin untukmu. Jujur saat itu aku tidak siap menerima kenyataan bahwa gadis yang dia sukai hanya gadis sederhana seperti mu." Iris tersenyum, meratapi kebodohannya kala itu.
"Sudahlah, Mbak. Setiap kita pasti pernah khilaf. Aku juga minta maaf, jika sempat menorehkan luka di hati Mbak Iris, sengaja atau pun tidak." Hanna menggenggam tangan Iris.
"Han, aku harap kau dan Davlin bahagia. Berbahagialah untuk ku," ucapnya menarik bahu Hanna untuk berpelukan. Anehnya, keduanya menangis sambil berpelukan.
***
Davlin melirik pergelangan tangan gadis itu, dan sebaris senyum manis menghiasi wajahnya. Dia ingat kalimat yang dibisikkan Iris tadi sebelum pulang. "Jaga dia, barang langka, zaman sekarang masih ada gadis polos yang tahan mengahadapi arogansi mu!"
Ya, sepertinya hanya Hanna yang bisa membuatnya menjadi manusia normal. Bisa merasakan cinta dan kasih sayang. Hari-hari dipenuhi rasa rindu ingin bertemu gadis itu. Hidupnya kini berwarna. Walau dia harus mengakui acap kali gadisnya itu membuatnya naik pitam.
Dia juga yakin saat menjenguk Iris tadi, keduanya akan berdamai, jadi sahabat dan Iris akan mengembalikan gelang itu pada Hanna.
"Kenapa diperhatikan terus? kau suka?" tanya Davlin tanpa melirik ke samping, fokus pada jalanan yang sore itu tampak lenggang.
"Suka, sangat suka. Makasih." Hanna mendekat dan menyapukan bibirnya di pipi Davlin yang berhasil membuat jantung Davlin berdetak kencang.
"Kembali kasih. Tapi itu tidak gratis. Susah loh mendapatkan bahan gelang itu. Jadi bayarannya harus setimpal." ucapnya tersenyum penuh makna.
__ADS_1
"Melihat senyum mu, kenapa bulu kuduk ku merinding, ya? seolah ada sesuatu yang kau rencanakan," desis Hanna bergidik ngeri. Davlin hanya menyumbang tawa yang keras mendengar kalimat gadis itu.
"Bukan hal yang menakutkan, tapi sesuatu yang menyenangkan. Aku pastikan, kau akan menyukainya, Sayang!"