My Crazy Lady

My Crazy Lady
Bab 85 ( MCL)


__ADS_3

Hanna Jhonson, kini memulai hidupnya. Hidup yang sebenar-benarnya. Mulai kuliah dan menjalani rutinitasnya.


Pagi ini, Hanna yang sudah menyelesaikan segala bentuk administrasi kampus pun mulai kuliah. Banyak perubahan di jurusannya selama dia tinggalkan. "Gue gak sabar nungguin lo masuk," sambut Ara yang sudah sejak jam tujuh tadi sampai di kampus, nebeng dengan Aril seperti biasa.


"Hahahhaha, gue juga senang banget bisa kembali. Gue gak bakal izinkan lo wisuda lebih dulu, gue bakal kejar di semester pendek nantinya," sahut Hanna.


Walau masih sedikit belum terbiasa lagi mengikuti kelas, namun Hanna tetap mencoba mengikuti dengan baik. Semua lancar, hanya saat mengambil kelas ke bawah bersama adik Hanna sedikit malu dan canggung. Tap itu hanya kali pertama, setelah beberapa kali pertemuan, Hanna dan adik kelas juga sudah berbaur.


"Kita ke kantin, Beb." Ara muncul dari belakangnya, dan menyampirkan lengannya di bahu gadis itu.


"Aku sudah dengar berita tentang mu, tapi tidak menyangka kalau perubahan mu sangat memukau. Hai, Han. Apa kabar?"


Kalimat Hanna yang ingin menjawab pertanyaan Ara terhenti oleh munculnya sosok yang dulu membuat mentalnya hamil hancur hingga ke dasar.


"Nico? Hai, kabar baik," sahut Hanna tersenyum santai. Tidak ada debar sama sekali, atau pun canggung seperti yang dulu dia rasakan setiap ada di dekat pria itu.


"Bagaimana kau bisa berubah seperti ini?" Nico tampaknya masih belum percaya atas apa yang dia lihat saat ini.


"Berubah? aku masih seperti biasa. Aku hanya mulai rajin olahraga dan menerapkan pola hidup sehat. Hanya itu," sahut Hanna tersenyum malam.


Dia tahu kenapa hatinya tidak bergetar, itu semua karena Hanna sudah bertemu bahkan berpacaran dengan orang yang lebih tampan dan juga kaya raya. Hanya saja berakhir menyedihkan. Ketika akal pikirannya sudah tertarik untuk memikirkan Davin yang sudah dua hari tidak dia lihat, Hanna memutuskan untuk memikirkan hal lain, menghalau pesona pria itu memikatnya kembali.


Toh, Davlin juga sudah tidak mencarinya lagi. Hanna tebak, mungkin pria itu sudah mengikuti sarannya kembali pada Iris.


"Kau keberatan kalau aku duduk di sini?" tanya Nico yang hanya dijawab dengan mengangkat bahunya.


Obrolan yang terjadi disela makan siang tampak tidak menarik buat Hanna. Berbeda dengan Nico yah begitu tertarik untuk mendapatkan perhatian Hanna. Bagi gadis itu semua yang dikatakan Nico sama sekali tidak menarik. Di penghujung makan siang mereka, teman Nico muncul, dan mata Hanna menatap tajam ke arahnya. Benci dan sakit hatinya kembali saat pria itu menyapanya. "Benar lo Hanna si gajah bunting? gila, badan lo yahut juga, ya?" ucap Edo masih dengan sikap buruknya.

__ADS_1


"Sayang, benar sekali. Aku Hanna yang dulu kau hina!" jawab Hanna tersenyum mengejek. Pria seperti Edo tidak pantas dianggap manusia, karena yang ada di otaknya tentang wanita hanya sel*ngkangan saja!


"Nanti aku antar pulang, ya?" tawar Nico di sela jalan menuju jurusan. Ada satu mata kuliah lagi sebelum hari ini berakhir.


"Makasih, Co. Tapi gak usah deh. Aku dan Ara mau jalan." Hanna sengaja mengakhiri niat pria itu yang ingin mendekatinya.


"Baik lah. Tapi jangan harap aku akan menyerah, besok aku akan mendatangi mu lagi," ucap Nico tersebut. Hanna hanya membalas dengan senyuman malas.


"Gue harap lo gak bego lagi mau balikan sama si buluk!" sambar Ara setelah Nico berjalan lebih dulu.


***


Hari yang melelahkan, tapi Hanna gembira. Dia banyak mendapat teman baru, dari jurusan dan fakultas lain. Mengikuti kegiatan sosial di kampus setidaknya membuat Hanna semakin tidak punya waktu untuk memikirkan Davlin.


Langit sudah mulai gelap saat dia pulang. Berjalan dari simpang jalan raya menuju komplek rumahnya.


"Loh, mobilnya kenapa pak?" tanya Hanna saat melihat pria itu sedang menatap bak mobilnya tanpa berbuat apa pun.


"Terus? kenapa gak diperbaiki? saya carikkan montir di bengkel dekat sini ya, Pak?"


"Gak usah, Neng. Udah di panggil sama yang punya mobil," sahut si bapak tua. Belum mengerti dengan yang terjadi, seorang pria datang dengan motor bebek. Hanna bahkan tidak bisa menyembunyikan senyumnya saat melihat pria itu ada di atas motor. Pasalnya tubuh pria itu terlalu tinggi hingga kakinya terasa menggantung saat membawa motor itu.


Dari belakang pria itu, muncul satu motor dengan dua orang yang berseragam montir bengkel.


Pria itu melirik ke arah Hanna dan melihat senyum geli yang coba gadis itu sembunyikan. "Apa ada yang lucu?"


Hanna terkesiap, tidak menyangka pria yang dia sangka bule itu ternyata tahu bahasa Indonesia. Dan yang paling membuatnya hampir pingsan, wajah pria itu familiar sekali, tapi sekali lagi Hanna mencoba dia tidak menemukan dimana dia bertemu dengan pria itu, dan hal itu membuatnya kesal. Wajah itu mengingatkannya pada seseorang, tapi dia lupa siapa dan dimana!

__ADS_1


"Oh, no, Sir," sahut cepat menghapus senyum di wajahnya.


Pria itu kembali menyerahkan kunci motor dan sejumlah uang merah pada pak tua tadi, yang ternyata hanya orang lewat yang di pinjam motor oleh si pemuda bule.


"Apa ini, den? tidak perlu. Bapak ikhlas bantu," jawab si bapak menolak uang yang diserahkan si bule tadi. Tapi pria itu tetap memaksa hingga bapak tua tidak punya pilihan selain menerima.


Hanna juga bersiap untuk pergi, tapi si bule tampan itu mengehentikan langkahnya. "Maaf, aku boleh tanya alamat? apa kau orang sini?"


"Iya. Jalan apa?" tanya Hanna berhenti. Hitung-hitung permohonan maafnya karena sudah menertawakan pria itu saat naik motor bermerek nama anjing pada sebuah karakter kartun.


Pria itu menyodorkan ponselnya. Hanna membaca alamat itu dan bola matanya membulat. Dialihkan pandangannya pada pria itu lalu kembali ke ponselnya.


Ingin sekali Hanna mengatakan tidak mengetahui alamat itu, tapi dia tidak tega. Sekali lagi dia melihat lebih saksama. Pikirannya gelisah tidak menemukan siapa orang yang dia ingat memiliki wajah yang sama dengan pria tua.


"Maaf, anda dari mana?"


"Malah balik tanya. Kau tahu alamat ini?" sosor si bule kesal malah dikasih pertanyaan.


"Iya, aku tahu. Apa anda dari Inggris?" tanya Hanna asal. Dia hanya menebak, karena di pikirannya hanya ada negara Inggris, tempat yang selamanya menjadi destinasi impiannya.


"Benar, dari mana kau tahu?"


Hanna diam. Terus mengamati wajah pria itu hingga membuatnya tidak nyaman. "Jangan bilang nama anda Eduardo James York?" Hanna siap-siap pingsan kalau sampai itu benar. Pantas saja dia seperti kenal wajah itu, tapi tidak terlalu mengingat, karena dia juga baru beberapa kali bertemu dengannya.


"Hey, apa kau penguntit? siapa kau?!" hardik si pria yang menatap Hanna dengan tatapan penuh selidik.


"Jawabnya saja!" serunya melotot.

__ADS_1


"Oh Tuhan.. aku bisa gila!" cicitnya menggigit kukunya, kebiasaan yang dia lakukan kalau sedang panik.


"Namaku, Eduard Jimmy York. Katakan kau siapa? Jangan bilang, kau adalah simpanan ayahku selama ini?!"


__ADS_2