
Darah Alex mendidih. Itu pasti. Ucapan Peter Pattigrew di hadapan semua pria di klub itu jelas sudah mempermalukannya, menghina istrinya dan memandang sebelah mata nama baiknya.
Dengan cemas dan bimbang, Peter Pattigrew melihat sang duke perlahan menegakkan tubuh menegang di kursi, ekspresi pria itu dingin.
"Oh, iya. Kapan tepatnya kau melihat istriku di Oasis?" tanya Alex tajam ke arah Peter Pattigrew. Dia akan mengampuni Lord Dustwin kali ini, karena ini lebih penting. Lebih serius. Alex mengepal tinjunya, guna mampu meredam amarah.
"Lima hari lalu, dan aku sangat yakin sekali, dia menemui Malory di kamar 212," ucapnya penuh semangat. Berharap Alex yang saat ini terkejut, akan terhantam oleh pertemuan sembunyi-sembunyi dengan kekasih gelapnya, dan itu akan menghancurkan kesombongan Alex.
"Oh, mungkin maksud mu pada saat aku meminta tolong padanya mengirimkan surat pada Malory," ucap Alex dengan suara tenang, namun tegas.
"Kau menyuruh istrimu untuk menemui pria lain?"
"Ya! Urusan kerja sama, karena kami kebetulan lewat dari depan penginapan itu, maka Hanna yang turun. Sebenarnya aku lah yang harus menyampaikan surat itu, tapi karena kepalaku, saat itu sedang pusing, maka aku tinggal di dalam kereta."
Jawaban Alex yang begitu bijak bisa membungkam mulut berbisa Peter Pattigrew. Pria itu tidak lagi berkutik lagi. Dan semua orang yang mendengar terdiam dan hanya manggut-manggut, memuaskan rasa penasaran mereka akan kebenaran yang diucapkan Peter Pattigrew tadi.
"Kau benar Mister Pattigrew, saya juga pernah bertemu dengan sang duchess, dan dia sangat ramah," ucap Sir Ferguson, membenarkan pendapat kebanyakan orang yang memuji kecantikan dan sifat baik Hanna.
Lord Dustwin sendiri sibuk memikirkan penyebab Alex tersinggung, sayangnya Lord Dustwin tiba pada kesimpulan keliru bahwa pujiannya pasti terdengar tidak sopan bagi suami wanita itu yang, menurut rumor, sangat menyayangi istrinya yang masih muda.
Seraya melirik tidak berdaya ke arah pria lain yang duduk di sekeliling meja, Lord Dustwin berkata dengan putus asa, " Memang semua orang menganggap sang duchess tampak sangat menawan dan ramah. Dia mengenakan gaun hijau yang senada dengan matanya. Aku juga berkata seperti itu dengan sang duchess. Bahkan, aku harus mengantre untuk mengatakan itu padanya. Dia dikelilingi pemuda dan orang tua sepertiku. Pengagumnya banyak sekali," terang Lord Dustwin polos.
Dengan sengaja, Alex diam-diam membalikkan kartunya di meja dan memundurkan kursi. Ia berdiri, mengangguk ketus ke arah pria lain yang duduk mengitari meja, dan tanpa berkata apa-apa kepada teman-temannya, berbalik dan berjalan cepat keluar dari ruangan.
__ADS_1
Permainan kartu itu berhenti sementara lima pria yang tersisa di meja mengamati sang duke berjalan ke pintu yang mengarah ke jalan. Dari lima orang itu, empat diantaranya telah menikah. Lord Dustwin, bujangan berusia 45 tahun, belum menikah. Keempat pria yang mengitari meja tersenyum lebar, atau berusaha keras menahan senyum. Hanya ekspresi Lord Dustwin yang terlihat cemas.
"Sialan!" desis Lord Dustwin sambil memandang sekeliling, ke arah pria lain. "Alex menatapku dengan mengerikan, saat aku berkata, aku baru saja melihat duchess nya di rumah Cliffton." Dia berhenti sejenak, diserang gagasan mengerikan. "Kurasa, menurut kalian apakah suami-istri Claymore sudah menikah cukup lama untuk mulai bertengkar? kau juga Sir Perguson, harusnya, kau tidak perlu membahas duchess yang mendatangi Malory, mereka itu sahabat dari kecil. Jadi buang pikiran kotorku mengenai adanya perselingkuhan!" ucap Lord Dustwin kaku, menghempaskan tubuhnya di salah satu kursi.
***
Fajar mulai menyingsing ketika Hanna berjalan perlahan menaiki anak tangga marmer lebar menuju kamar tidur. Ia sangat merindukan Alex malam ini. Merindukan sensasi tangan Alex merangkul ringan pinggangnya, tatapan berani Alex yang terpaku pada tubuhnya dan kebahagiaan karena mengetahui Alex ada di dekatnya.
Bagaimana Alex bisa menjadi sangat penting bagi hidup Hanna dalam waktu singkat? Hanna kesepian tanpa Alex, dan tergoda membawa surat itu ke kamar Alex, lalu menjelaskan.
Tetapi apa yang akan terjadi jika pada kesempatan lain Hanna tidak menemukan petunjuk seperti surat itu untuk menjelaskan amarah Alex? Kalau begitu, Alex lagi-lagi akan menghukumnya dengan amarah dan ia tidak akan bisa membela diri dan rasanya akan menyakitkan jika seseorang yang kau cintai marah padamu, tanpa kau tahu alasannya.
Hanna sama sekali tidak menyesal karena menentang perintah pria itu malam ini, karena ia berharap ketika Alex menyadari perlawanannya, hal itu akan menimbulkan konfrontasi yang diinginkan dan dibutuhkan Hanna.
Ya, putus Hanna, sementara ia meraba-raba mencari lampu dalam kegelapan kamar tidur, bagus sekali jika Alex tahu ia pergi ke pesta itu.
Kalau dipikir-pikir lagi, itu sama sekali tidak bagus, sadar Hanna ketakutan ketika kamar tidur itu menjadi terang benderang dan dari sudut mata, Hanna sekilas melihat kaki yang terbungkus sepatu bot mengilap ditopangkan dengan santai di atas lutut, sepasang sarung tangan biru gelap ditepuk-tepuk sambil lalu di paha yang terbalut celana panjang biru.
Di tengah kepanikan yang berlangsung sekejap, inspirasi menerjang Hanna, lalu dia pura-pura tidak melihat Alex. Ia mengulurkan tangan ke belakang punggung dan mulai melepaskan gaun seraya berjalan ke ruangan pakaian.
Jika ia bisa membuat Alex menunggu sampai dirinya berganti pakaian tidur yang menggoda, ia mungkin mendapatkan sedikit keuntungan, kemudian gai*rah mungkin akan mengalahkan amarah, dan..
"Jangan dilepaskan!" suara Alex terdengar. Sampai aku pergi."
__ADS_1
Alex bangkit berdiri, menghampiri Hanna dengan langkah menyerupai macan yang mencari mangsa. Hanna refleks melangkah mundur, lalu menahan diri dan tetap berdiri di tempat. Alex berdiri menjulang di depannya, tatapan pria itu dingin. Dengan lembut tapi menyiratkan ancaman, Alex berkata, "Apakah kau ingat apa yang kubilang akan terjadi jika kau berani menentangku lagi, Hanna?"
Alex pernah mengancam akan mengurung Hanna di kamar tidur sampai sang bayi lahir.
Hanna marah dan takut, dan sangat mencintai Alex sampai suara Hanna menyiratkan perasaan itu. "Ya, aku ingat," jawabnya, berbisik sedih. "Aku juga ingat hal lain. Aku ingat kata-kata yang kau bisikkan kepadaku ketika kau berada di dalam diriku, sampai kau menyentuh hatiku. Aku ingat..."
"Tutup mulutmu!" bentak Alex marah. "Ya Tuhan, aku akan.."
"Aku ingat sekali rasa tanganmu di kulitku ketika kau menyentuhku, dan..."
Alex mencengkeram bahu Hanna dan mengguncangnya. "Sialan kau! Kubilang hentikan!"
"Aku tidak bisa." Hanna menggigil dalam cengkeraman Alex tetapi tetap berkeras. "Aku tidak bisa berhenti, karena aku mencintaimu. Aku mencintai matamu, senyummu, dan..."
Alex menarik Hanna ke dalam pelukan, bibirnya menangkup bibir Hanna dalam ciuman kasar dan menghukum untuk membungkam, menyakiti, dan membalas dendam.
Dia menyerang bibir Hanna, dan mendekap begitu erat hingga tidak bisa bernapas. Tetapi Hanna tidak peduli, ia merasakan bukti gai*rah Alex menekan tubuhnya, dan ketika bibir Alex semakin liar mencumbu bibirnya dengan rasa mendamba dan desakan putus asa, Hanna melingkarkan lengannya di leher Alex dan bergantung padanya.
Kemudian, sama seperti ketika Alex menarik Hanna mendekat, dia tiba-tiba saja mendorong Hanna menjauh. Napas Alex terengah keras, ekspresinya sangat garang, begitu muram sehingga Hanna nyaris kehilangan tekad dan menyinggung surat itu.
Tetapi dengan berani Hanna mengangkat dagu dan berkata dengan lirih tapi menyiratkan pertentangan. "Aku akan dengan sukarela membiarkan diriku dikurung di kamar ini selama yang kau inginkan, kalau kau bersedia dikurung di sini bersamaku. Kalau tidak, tidak ada apa pun, dan tidak ada siapa pun, yang bisa mengurungku di sini. Kalau aku harus membakar rumah ini untuk keluar, maka aku akan melakukannya."
Dukung novel aku terus ya, makasih 🙏😁
__ADS_1