
Susah payah Hanna menyembunyikan senyumnya. Dia tidak ingin semua orang yang ada di kereta ini melihat seri di wajahnya. Jadi Hanna memutuskan untuk menunduk, menyembunyikan wajahnya.
Sebenarnya lady Margaret sudah meminta mereka untuk tinggal sehari lagi, Namun, Ema berulang kali minta maaf, agar di perbolehkan untuk pulang. Hanna tentu saja menyetujui rencana ibunya itu, selain dia memang merindukan kamar dan buku-bukunya, Hanna juga ingin menjaga kesehatannya dengan tidak terlalu dekat dengan Alex. Pria itu virus yang selalu membuat Hanna lemah, dan ingin selalu jatuh dalam pelukannya.
"Tinggal lah semalam lagi, aku belum sempat menjamu kalian secara pribadi. Hanya ada kita sekeluarga," ucap Lagu Margaret mencoba menahan kepulangan mereka.
Beberapa tamu sudah banyak yang pulang. Namun, tidak sedikit juga yang masih ada di rumah keluarga Claymore.
"Terima kasih, My Lady, tapi izin kan kami pulang malam ini, ada yang harus kami kerjakan besok," jawab Ema bersikeras.
Saat pulang pun, Alex yang ikut menghantar mereka hingga ke kereta, tidak hentinya mengulum senyumnya. Begitu Hanna sudah duduk di pinggir jendela, pria itu tanpa tahu malunya mengedipkan sebelah matanya pada Hanna.
Jantung Hanna semaki tidak terkontrol. Ulah pria itu selalu bisa membuat wajahnya memerah.
Kedua orang tua mereka sudah lebih dulu masuk, Hanna yang berjalan paling belakang, tidak melihat Catherine yang berdiri menunggunya di depan pintu masuk hingga tanpa sengaja menubruk pundaknya.
"Sorr..,"
Plak!
Bola mata Hanna melebar, kaget bukan main atas tamparan tiba-tiba yang dilayangkan Catherine padanya.
"Aku kan sudah berkata sorry, apa begitu sakit hingga kau harus menamparku?" pipi Hanna masih terasa panas dan nyeri. Amarah Catherine tersalurkan dengan baik melalui tamparan itu.
"Apa kau pikir aku sekerdil itu? marah hanya karena kau menubruk ku?!"
__ADS_1
"Lalu apa masalah mu? kenapa melampiaskan padaku?" balas Hanna merasa tidak terima. Kelakuan Catherine sama saja dengan Cathy adiknya.
"Alah, gak usah pake berlagak bodoh! Aku melihatmu dengan Alex berciuman! Dasar wanita murahan, apa kau tidak punya malu, menggoda calon suami adikmu sendiri?!"
Tubuh Hanna terhuyung ke belakang. Sakit di wajahnya kini menjalar dengan rasa panas olah ucapan Catherine.
"Kenapa? kau tidak menyangka bukan kalau aku melihat semuanya?" Aku bahkan melihat mu mengikutinya ke balkon! Kau dengan murahannya menggoda Alex untuk menyentuhmu, dasar tidak tahu malu!" frustrasi dengan keadaan yang sudah menampar harga dirinya, Catherine kembali melayangkan tamparan bagi Hanna, tapi sigap gadis itu bisa menghindar.
"Satu tamparan itu bisa diterima, karena saat ini kau sedang marah, tapi jika kau ingin menamparku lagi, maka lupakan saja. Apa yang kau lihat, aku sungguh menyesal. Aku bersalah, tapi kau, harusnya sebagai wanita juga peka, jika dia mendekatiku, dan mengabaikan mu, maka harusnya kau bertanya pada dirimu, benar kah dia menginginkan mu? jangan lupakan kalau kau akhirnya dijodohkan dengannya malam itu, karena aku pingsan tepat dihadapannya. Jadi bukan aku yang merebutnya, tapi kau!" Hanna memberikan tatapan mematikan pada Catherine. Sebagai pengingat kalau dia tidak bisa menindas nya lagi seperti yang selama ini dia lakukan terhadapnya.
"Mau kemana kau, aku belum selesai," pekik Catherine mulai berteriak. Hanna berhenti, bukan karena takut, namun, gadis itu tidak ingin masalah mereka menjadi beban pikiran Ema dan Stuart. Hanna berbalik, menatap Catherine dengan melipat tangan di dada.
"Jauhi Alex atau aku akan membunuhmu!"
Hanna melangkah. Kali ini terus berjalan. Dia ingin segera berbaring di ranjangnya. Catherine di belakang sana juga tidak lagi memanggilnya. Gadis itu terisak menatap punggung kakaknya
Catherine sadar, apa yang dikatakan Hanna benar. Dia bukan tidak peka atau gadis bodoh hingga tidak tahu kalau Alex memang tidak tertarik padanya sedikitpun.
Bisa dibilang, pertunangan mereka juga belum sah. Malam itu, Hanna yang sudah berdiri di hadapan Alex, mengangsurkan jari manisnya ke hadapan pria itu untuk menerima cincin tanda pengikat diantara mereka. Tiba-tiba saja kepala Hanna pusing, dan gadis itu pun jatuh pingsan tepat di hadapan sang Duke!
Perbuatan jahat memang akan selalu mengikuti karma. Tidak ada yang tahu, kalau sore itu, sebelum acara pertunangan Alex dan Hanna, diam-diam Catherine memasukkan obat tidur ke dalam minuman Hanna, dengan tujuan gadis itu akan terlelap hingga tidak bisa mengikuti acara lamaran itu, dengan tujuan dirinya lah yang menggantikan posisi Hanna.
Sudah sejak lama Catherine menantikan hal itu. Sejak utusan keluarga Claymore mengatakan akan melamar putri keluarga Jhonson, Catherine sudah mengincar posisi duchess. Terlebih dari segi penampilan, Catherine jauh lebih unggul dari kakaknya saat itu.
Kini semua kembali pada posisinya. Harapannya untuk menjadi duchess terancam pupus. Catherine sendiri tidak yakin dengan perasaannya terhadap Alex. Ia hanya tahu kalau menikahi pria tampan berkuasa itu, maka akan menjadikan status nya lebih tinggi dan para sahabatnya akan memandang hormat padanya.
__ADS_1
Isak tangis Catherine masih berlanjut hingga ke kamarnya. "Benarkah ini karma untukku? benarkan harapanku pupus?" gumamnya menjambak rambutnya.
Malam semakin larut, Hanna juga belum bisa memejamkan mata. Dia tahu kesedihan yang dialami Catherine, tapi membiarkan dia menikahi Alex yang tidak mencintai adiknya itu pun tidak benar juga.
Apakah aku sudah mulai jatuh cinta pada Alex? lalu bagaimana dengan Will?
Urusan hati memang tidak bisa dipaksakan, tapi Hanna juga merasa iba pada nasib adiknya. Dia akan mencoba memberi Catherine satu kesempatan lagi, jika memang Alex menginginkannya, maka Hanna janji, akan menjauhi dah melupakan pria itu selamanya, walau mungkin kini benih cinta sudah mulai muncul dalam hatinya.
Ironis sekali, di kehidupan nyatanya, Hanna mengemis cinta pada seorang pria yang ternyata mengkhianatinya, di sini, Hanna menjadi primadona yang tinggal tunjuk ingin memberikan kesempatan pada siapa.
***
"Ibu, aku sudah memutuskan, aku tidak bisa menunda lagi. Aku ingin ibu segera melamar kembali Hanna untuk ku," ucap Alex yang kini tengah duduk berhadapan dengan ibundanya.
Satu persatu tamu sudah meninggalkan kediaman mereka. Kembali sepi, itu lah sebabnya, Margaret lebih memilih tinggal di London, karena di sana dia memiliki banyak teman.
"Lalu, bagaimana dengan adiknya? kau sudah setuju ingin menikah dengan adiknya, kan?" koreksi Margaret agar putranya mempertimbangkan langkahnya. Siapa pun yang akan menjadi menantunya tidak jadi masalah selama putranya bahagia.
"Ralat, Ibu. Aku setuju bertunangan dengan Catherine, karena pada saat itu hanya dia yang bisa menggantikan posisi kakaknya yang sudah pingsan. Aku hanya mengikuti kemauan kalian saat itu. Dan kini, ketika aku sudah menemukan wanita yang sangat aku cintai, maka aku akan menikahinya, tidak perduli seberat apa pun rintangannya!"
***
Hai genks mampir yuk, 😁
__ADS_1