
"Astag, apa yang aku pikirkan, kenapa bisa sampai kebawa mimpi, sih?" cibir Hanna. Adegan dalam mimpinya tadi malam, terus saja menghantuinya. Bagaimana mungkin dia bisa melihat orang yang bersangkutan, sementara melihat dirinya di depan cermin seperti ini saja berhasil membuatnya malu!
"Apa aku gak usah ke kantor aja, ya? tapi kalau gak ke kantor, ntar si mister arogan punya alasan mecat aku! gimana, dong?" ucapnya bermonolog pada cermin besar di hadapannya.
"Hanna, ayo sarapan. Sudah jam 7." Teriakan Ema dari bawah membuyarkan lamunannya. Buru-buru disambarnya tas ransel kecil yang biasa dia pake ke kantor.
"Kenapa? muka sama panci mama, kok lebih enak dilihat panci mama sih?" ucap Ema meletakkan panci besar tempat sop ayam kampung yang baru di masaknya.
Saat ini Stuart dalam masa pemulihan. Sejak tiga hari lalu, pria itu mengalami demam tinggi, hingga Ema rajin menyajikan sop ayam kampung untuk Stuart.
"Dih, Mama apaan, sih. Aku boleh gak masuk kerja gak ma?" tanya Hanna hanya menatap roti isinya tanpa berniat memakannya.
"Gak boleh. Gak enak dong sama Davlin. Kemarin mama udah nitipin kau sama dia."
"Nitipin? kapan mama ketemu sama dia?" ekspresi Hanna sulit dijelaskan. Tidak mungkin pria se arogan itu mau bicara pada ibunya.
"Minggu kemarin. Mama mau ke pasar, terus pas dia lewat, nawarin buat ngantar mama."
Hampir saja gelas yang baru diangkat Hanna terlepas dari tangannya. "Apa kata mama? Davlin si monster nganterin ke pasar? dih, apa rencana black Evil itu!" gumamnya dalam hati, menghabiskan teh manis hangatnya lalu pamit pergi.
Seperti biasa Hanna berjalan ke persimpangan rumahnya, menunggu bapak ojek langganannya menjemput. Sejak diantar oleh si bapak, Hanna tidak lagi memesan ojek online, tapi berlangganan dengan bapak tua itu. Lumayan bisa membantu keuangannya dengan memberi gaji bulanan sebagai pengantar dan penjemput Hanna ke kantor.
Tapi hampir setengah delapan, tukang ojeknya belum juga menampakkan batang hidungnya. Hanna mencoba menghubungi nomor pak tua itu, tapi tidak aktif.
"Apa pak Udin sakit, ya?" gumamnya memandangi layar ponselnya. Hanna mengamati nomor pria itu, yang hampir dia hafal di luar kepala.
Tin... tin..
__ADS_1
Terkejut oleh suara klakson mobil, Hanna hampir saja terjungkal ke belakang. Penuh kesal menoleh mengamati si pemilik mobil mewah. Dia lagi!
"Naik!"
"Gak usah, Pak," ucap Hanna tersenyum palsu. Bagaimanapun dia harus menghormati Davlin sekalipun bos nya itu adalah monster. Bagaimana mungkin Hanna bisa nyaman melalui perjalanan ini, jangan kan untuk berdekatan selama setengah jam, melihat wajah Davlin saja dia tidak sanggup. Bayangan permainan yang mereka lakukan tadi malam dalam mimpinya membuat Hanna tidak sanggup menatap wajah pria itu.
"Naik, atau lo gue pecat!"
Dasar iblis! bisa gak kalau ngomong itu ga usah main ngancam?!
"Udah jam berapa ini? apa lo pikir, perusahaan itu punya nenek moyang Lo?!"
Benarkan. Gak ada gunanya ikut pria sombong ini, yang ada malah buat sakit hati!
"Maaf, Pak. Tadi malam saya gak bisa tidur, jadi pagi ini bangun kesiangan," terang Hanna, entah pria itu mau dengar alasannya atau tidak, Bodo amat!
"Hah?" Hanna kaget. Menjauhkan tubuhnya hingga mentok ke pintu mobil. Sempat laga mata dengan Davlin, lalu segera mungkin buang muka.
"Saya juga gak akan telat ke kantor, Pak. Itu bapak yang biasa ngantar saya gak datang. Mungkin beliau sakit," ucap Hanna, guna mengalihkan topik terlarang itu.
"Ehem.." Tiba-tiba Davlin berdehem mendengar penuturan Hanna. Gadis itu pikir, itu adalah tanda kalau pria itu tidak mau mendengar suaranya lagi.
Kenyataan yang tidak diketahui Hanna adalah, Davlin lah orang yang berada dibalik layar atas tidak adanya penjemputan Hanna pagi ini. Kemarin pagi, sebelum Hanna berangkat kerja, Davlin yang lebih dulu melihat si bapak tukang ojek, segera menghampirinya.
"Bapak kang ojek Hanna, kan?"
"Iya, Pak," sahutnya singkat. Kening Pak Udin berkerut, mencoba mengingat pria itu, tapi sepertinya dia tidak pernah mengantarkan Davlin kemana pun.
__ADS_1
"Mulai besok, bapak gak usah antar jemput Hanna lagi."
"Kenapa begitu? Mbak Hanna gak ada bilang apa-apa ke saya," sahut Pak Udin merasa sedikit kaget. Kecemasan tampak di wajahnya. Bulanan yang diberikan Hanna padanya, sangat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Tidak banyak penumpang yang mau menggunakan jasanya karena dia sudah tua, apalagi kalau penumpang wanita. Mereka akan mencari tukang ojek yang lebih muda, karena pasti lebih cepat bawa motornya.
"Iya. Dia nitip pesan ke saya. Katanya, gak enak hati kalau ngomong sama bapak langsung. Gini aja, bapak nganterin pembantu saya ke pasar, setiap hari. Saya akan kasih dua kali lipat dari yang diberikan Hanna pada bapak," ucap Davlin yang tanpa pikir panjang langsung diangguk setuju oleh pak Udin.
Belakangan ini, tidak ada yang memahami cara berpikir pria itu, bahkan dirinya sekali pun! Setelah menyingkirkan Pak Udin, Davlin jadi malu sendiri dengan tindakannya. Untuk apa sebenarnya dia bertindak seperti itu? ingin mendapatkan kesempatan bersama Hanna, tentu saja, namun dia enggan untuk mengakuinya.
"Sudah sampai," ucap Davlin memecah keheningan.
"Makasih, Pak." Hanna mengangguk dan segera membuka pintu, dia harus bergegas karena masih harus berjalan ke depan sana.
"Tunggu."
Tubuh Hanna seketika berubah kaku. Apa lagi yang diinginkan pria itu darinya.
"Mmm... itu, kemarin Tante Ema nitipin lo ke gue, jadi, mulai sekarang lo bisa pergi dan pulang kerja bareng gue," tukasnya dalam satu kali tarikan nafas.
"Hah?" Otak Hanna yang sedang disegel pikiran mesumnya tidak terlalu menyimak maksud Davlin.
"Hah, hah.., bisa gak sih lo fokus kalau gue lagi ngomong? Lo boleh gak nalar kalau lagi ngomong sama siapa pun, tapi ketika gue lagi ngomong, lo harus kerahkan semua kemampuan lo buat nyimak dan ngerti omongan gue!" Davlin menggigit bibirnya sendiri, merasa mati kamus dihadapan gadis itu. Padahal niat awal ingin membuat Hanna terpesona karena kebaikan hatinya yang menawarkan tumpangan. "Gue ulangi sekali lagi, awal kalau lo masih ga paham! Nyokap lo nitipin lo sama gue, jadi mulai sekarang lo bisa pergi dan pulang kerja bareng gue!"
"Hah? eh, maksudku, itu gak perlu bos. Aku bisa ke kantor sendiri. Gak perlu merepotkan si bos. Lagian kalau pergi ada ojek, pulangnya juga biasanya diantar sama bang Aril," sambar Hanna cepat. Lebih baik dia menjaga jarak sama pria ini kalau mau aman.
Lupakan semua impian bisa meluluhkan hati Davlin. Toh, Davlin bukan Alex. Selamanya dia hanya menjadi istri dan cinta Alex dalam dunia novel. Ini kenyataan, Davlin adalah orang yang berbeda. Hanna sadar dia harus keluar dari mimpi atau pun khayalannya. Biarlah kenangannya bersama Alex tersimpan rapi dalam hatinya sebagai khayalan terindah.
Lagi pula, dirinya bukan tipe pria perfeksionis itu. Lebih baik dia mencari pria yang bisa membuatnya nyaman dan selalu tersenyum. Hanna tidak menyangkal kalau dalam hatinya sempat menorehkan rasa suka pada bos nya itu, tapi demi kenyamanan jantungnya, dia akan membunuh rasa sukanya pada sang bos arogan. Sayonara, Davlin More!
__ADS_1