My Crazy Lady

My Crazy Lady
Bab 67 (MCL)


__ADS_3

Udara di dalam kamar itu terasa panas membakar, padahal pendingin udara itu jelas masih bagus dan full Power. Keduanya terbuai suasana dan menyadari kalau semua sudah terjadi, Davlin memutuskan melanjutkan permainan mereka. ******* bibir gadis itu penuh hasrat dan penuh damba, mencecap rasa manis yang bisa dia rengkuh di bibir gadis itu.


Di dunia nyata, Hanna memang belum pernah berciuman, namun kenangan bersama Alex cukup memberinya materi untuk membalas ciuman Davlin.


Nikmat, memabukkan dan Hanna suka.


Percaya atau tidak, ciuman itu begitu mengingatkannya pada Alex. Gerakan lembut Davlin yang menyentuh pipinya membuat Hanna semakin terbuai. Keduanya saling ingin menunjukkan perasaannya masing-masing.


Debar jantung Hanna begitu kencang, berdebar tiada hentinya. Davlin menyapu lidahnya ke langit-langit mulut Hanna, membuat gadis itu meremas baju pria itu. Tidak bisa menahan laju hasratnya. Dia gila. Menggila karena cumbuan pria itu hingga.


Davlin mengurai ciuman mereka, menatap mata Hanna yang sudah sayu. “Kau cantik,” bisik Davlin kini mulai merambah ke leher gadis itu. Kulit Hanna terasa terbakar, panas di bibir Davlin. Terus turun, hingga menyentuh dada gadis itu, membuatnya menggelinjang penuh kenikmatan. Posisi Davlin yang kini berada di atas tubuh gadis itu membuat Davlin dengan mudah mencecap setiap jengkal kulit mulus Hanna.


Sesuatu di bawah sana yang sudah menegang menyadarkan Davlin, menarik diri dari gadis itu.


“Ada apa?” Hanna mencoba berdiri, namun, tangan Davlin menahan tubuh gadis itu. “Tetap lah di sini.” Bisik Davlin pelan. Memeluk tubuh Hanna. Keduanya diam, hanya berpelukan hingga bagian tubuh Davlin mengecil.


“Kau pasti akan terjangkit flu,” ucap Davlin mencubit pelan pipi Hanan, dan segera bangkit dari tubuh gadis itu.


Wajah Hanna sudah seperti kepiting rebus. Merah dan diserang rasa malu. Mengapa selalu begitu, saat berciuman seolah hilang kendali, namun setelahnya seolah tertampar akan perbuatan mereka yang tersisa hanya rasa malu.


“Flu?” kening Hanna berkerut, menatap Davlin lalu kembali menunduk.


“Karena kau sudah mencium ku,” ujar Davlin mencubit pipi Hanna, lalu berjalan masuk ke kamar mandi.


"Aku tidak mencium mu, kau yang mencium ku," balas Hanna malu. Namun, perkataan gadis itu tidak dihiraukan Davlin yang sudah masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintu. Tidak lama terdengar suara gemercik air lalu berlanjut guyuran air.


Demi membunuh rasa bosannya, Hanna mengamati gelang yang ada ditangannya, lalu mengangkat ke atas wajahnya. Menatap dari bawah mainan setengah hati yang menggantung di lingkaran gelang itu.


Wajahnya kembali menyunggingkan senyum. Tidak menyangka Davlin bisa memikirkan benda yang bisa mereka simpan berdua, yang dibuat memang untuk sepasang kekasih.

__ADS_1


Hanya sepuluh menit Hanna menunggu. Davlin keluar dengan lilitan handuk di pinggulnya. Seperti Dejavu, Hanna sudah pernah melihat pemandangan itu, tapi kenapa kali ini perasannya lebih bergetar, lebih menyisakan rasa malu dua kali lipat lebih besar.


Tersadar melihat senyum di bibirnya Davlin, gadis itu mengalihkan tatapannya. “Duh, bego banget sih, kenapa harus terpesona setiap melihat tubuh atletik Davlin? Padahal tadi sudah menyentuh dia kan?” gumamnya.


“Ehem... Ini kau membelinya sepasang? Kapan kau memasukkannya ke dalam tas ku?” tanya Hanna tersenyum. Saat ini perasaannya berbunga karena pria dingin ini ternyata punya sisi lembut.


“Apa gunanya, toh, kau tidak suka!” serunya mengambil kaos putih oblong dan juga celana Jeans hitam, masuk ke dalam walk in closet tidak lama keluar sudah berpakaian rapi.


“Siapa bilang aku gak suka?” selidik Hanna. Dia ingin mencari tahu alasan pria itu bisa menyimpulkan seperti itu.


“Aku tidak melihatnya di tanganmu!”


Hanna tersenyum, dia mengerti kini. Dia bangkit, mendekat ke arah pria itu berdiri saling berhadapan dan dengan berani Hanna memakaikannya di pergelangan tangan Davlin.


“Aku pasti akan memakainya, kalau kau juga memakai gelang ini,” ucapnya tersenyum manis.


***


"Bagus gelang mu," sapa Aril yang datang ke pantry untuk membuat kopi.


Gadis itu tersenyum, membenarkan pendapat Aril. Dia jadi teringat pikirannya yang dulu yang menyangka itu adalah gelang pemberian Aril.


"Aku juga berpikiran seperti itu. Bagus kan, Bang? Eh, mau buat kopi? biar aku yang buatkan," ucap Hanna.


Dalam diamnya, Aril menilai sikap Hanna yang tampak seperti gadis yang sedang kasmaran. Menerka-nerka siapa yang sudah memberikan gelang itu, pasalnya mainan gelang itu tampak terbelah dua, yang artinya ada satu bagian dimiliki orang lain.


***


"Kau datang lagi?" hardik Sari kala melihat Hanna mendekat ke pintu kerja Davlin.

__ADS_1


"Aku mau memberikan ini pada, Dav.. pada bos," sahut nya segera melarat ucapannya.


"Bos sedang rapat. Lagi pula, apa isi bungkusan mu itu? untuk apa kau memberikannya pada Pak Davlin?" Sari melipat tangan di dada. Dalam pikiran Sari, Hanna hanya gadis tidak tahu malu, yang mencoba menarik perhatian Davlin hanya karena pria itu sudah berbaik hati mengurusnya saat gadis itu terluka kemarin.


"Ini... Nanti aja deh, Mbak aku datang lagi," sahut Hanna yang tidak jadi menitipkan bekal yang dia buat untuk Davlin. Lagi pula saat ini mereka sedang rapat, pasti akan memesan makan siang.


Dengan langkah lunglai, Hanna kembali ke tempatnya, meletakkan tas bekal itu begitu saja diatas meja makan yang ada di pantry.


***


Aril dua kali menerima teguran dari Haris dan satu kali dari Davlin. Pria itu memegang peran penting dalam rapat kali ini, namun entah mengapa konsentrasi pria itu buyar. Tubuhnya memang ada di sini, tapi pikirannya entah ada di mana saat ini.


Alasan Aril tidak bisa fokus hanya satu. Gelang yang ada di pergelangan tangan Davlin. Sejak melihat gelang itu di tangan pria itu, ingatan tentang pasangan gelang itu mencuat dan dia ingat ada pada Hanna. Ternyata gelang yang mereka pakai itu sepasang. Terlepas siapa yang memberikannya, Aril kecewa.


"Aril, kami ingin mendengar pendapat anda. Saya ingin anda menjelaskan draft yang sudah anda buat," ucap Davlin mengagetkan pria itu Hatinya terluka, harapannya untuk mendekati Hanna nyatanya pupus ditengah jalan, perasaannya pada hanya layu sebelum berkembang.


"Maaf, Pak. Saya sedang tidak enak badan. Saya sudah membuat Draft nya, mungkin Tomi bisa mewakili saya untuk menjelaskannya?" Aril sudah tidak peduli kalau pun akhirnya nanti dia dipecat.


"Baik lah, kita tunda saja rapat ini," ujar Davlin yang membuat semua peserta rapat tercengang. Ini bukan kebiasaan Davlin mentolerir ketidaksiapan karyawan saat persentase dalam meeting.


"Tumben, Pak Davlin bisa menerima keadaan pak Aril," cicit karyawan dari divisi lain saat karyawan sudah mulai bubar.


Hanya Davin yang tahu kalau moodnya hari ini sangat baik karena memikirkan Hanna. Gadis itu selalu saja bermain dalam pikirannya, menggoda dengan senyuman manisnya yang mampu membuat jantungnya berdebar.


Bahkan bak orang gila, Davlin selalu tersenyum dan dia sendiri tidak menyangka kalau saat ini dia bahkan tengah merindukan gadis itu. Dia ingin bertemu Hanna, jadi memutuskan untuk mencari gadis itu.


***


Mampir kak 🙏

__ADS_1



__ADS_2