
Buru-buru Hanna ingin mengirimkan satu pesan pada Davlin tanpa membaca isi pesannya lebih dulu. Dia tahu, pria itu pasti marah karena dirinya tidak memberikan kabar. Mereka memang sudah seminggu perang dingin, saling diam karena Iris semakin menempel pada Davlin. Tapi seolah masih berada dilingkaran permasalahan yang sama, Hanna memilih untuk menjaga jarak pada keduanya. Tapi baru akan klik tanda kirim, ponselnya mati. "Sial, habis baterai lagi!" umpatnya kesal.
"Kenapa, Lo?" Ara menoleh ke arah Hanna, tiket sudah di tangan dan 10 menit lagi film akan dimulai.
"Hape gue lowbat!"
"Mau ngabarin ke rumah? pake punya gue, nih." Tawar Ara menyodorkan ponselnya.
Hanna ingin mengambil, tapi dia juga tidak hafal nomor Davlin, jadi memilih untuk menggeleng.
"Gak usah aja deh, Ra. Kita masuk, yuk." Hanna sudah menarik tangan Ara menuju studio dua, tempat film mereka akan diputar.
Serunya alur film koleksi Marvel itu nyatanya mampu menyita perhatian Hanna. Rasa khawatirnya akan Davlin hilang seketika. Ikut tertawa pada adegan lucu dan tegang kala dokter stranger yang berubah seperti mayat hidup memasukkan banyak roh jahat ke tubuhnya.
"Cakep banget si America Chavez, ya?" celetuk Hanna membingkai kekaguman pada aktris muda itu.
"Yang mana?" tanya Ara memasukkan lebih banyak pop corn ke dalam mulutnya.
"Astaga, lo gak nonton?"
"Nonton kok, cuma gak ingat aja nama-nama mereka. Susah-susah. Cukup gue tahu itu Dokter stranger, pemeran utamanya," sahut Ara tanpa dosa sembari menunjuk layar besar di depan sana.
"Woi, bisa diam gak? berisik!" hardik penonton yang duduk baris atas. Ara dan Hanna kompak tertawa tertahan, menutup mulut mereka dengan tangan.
Dua jam lebih menghabiskan waktu di dalam, film pun usai. Kedua keluar dengan tawa mengingat kejadian di dalam tadi.
"Kemana lagi nih kita?" tanya Ara yang masih ingin main.
"Lo masih pengen jalan?"
__ADS_1
"Iya. Gue kesepian di rumah. Nyokap gue lagi ke Bandung. Abang gue pasti belum pulang kerja juga ini. Lagian biasanya kalau dia pulang kerja pasti langsung main futsal. Oh iya, ngomong-ngomong masalah kerjaan, gimana kerjaan, Lo?"
"Akhir bulan ini terakhir. Gue mau fokus kuliah aja." Tanpa sadar mereka sudah sampai di toko aksesoris. "Kita masuk, yuk?" Hanna memang sengaja mengalihkan pembahasan mengenai kerjaan, takut kalau nanti tanpa rem dia malah cerita soal Davlin pada Ara.
***
Pukul delapan malam baru lah Hanna tiba di rumah dengan ojek online. Hanna sengaja tidak turun di depan rumah, selain agar tidak ketahuan oleh Davlin, dia juga ingin singgah di Indomarco simpang rumah untuk membeli tisu basah.
Hanna berjalan dengan menunduk. Sudah sepi seperti biasanya. Komplek perumahan tempatnya tinggal memang kurang suka bersosialisasi, jadi wajar kalau jam delapan saja sudah sepi.
Larut dengan pikirannya, hanna yang sejak tadi berjalan menunduk terkejut saat melihat kaki seseorang menghambat jalannya. Perlahan pandangannya naik ke atas dan sampai di wajah pria itu, Hanna terkejut hingga mundur selangkah ke belakang.
"Dav.. Lin.."
Sorot mata itu bak pembunuh di film-film bergenre thriller. Tanpa bicara Davlin sudah menyeret tangan Hanna menuju rumahnya.
"Eh..., itu rumahku udah lewat," pekiknya menunjuk dengan tangan kirinya.
Davlin masih enggang membuka mulutnya namun dari sorot matanya siapa pun tahu kalau pria itu tengah menanti penjelasan dari gadis yang berdiri kikuk.
"Aku harus bilang apa? mampus aku. Bisa gak tatapannya jangan kayak dosen killer di kampus?" gumamnya dalam hati.
Ehem.. Hanna merasa tenggorokan sedikit kering, di liriknya gelas yang ada di atas meja nakas. Tampa pikir panjang, Hanna melangkah dan menyambar gelas itu mengisi dan menghabiskan isinya.
"Lumayan, nih untuk memperpanjang waktu siapa tahu Tante Reta turun. Kemana sih Tante Reta saat seperti ini?" ucapnya yang hanya berani dalam hatinya.
"Kok sepi? Tante Reta mana?" tanyanya kikuk. Mencoba menelan ludahnya, dan itu pun tercekat.
"Aku menunggu!" Singa itu buka suara dan jantung Hanna hampir saja lepas dari tempatnya. Davlin begitu menyeramkan.
__ADS_1
"Menunggu ku? untuk apa?" tanyanya.
Dasar Hanna bego, kenapa tanya begitu? udah langsung aja jelaskan, biar dibolehin pulang.
"Kau tahu betul apa yang aku tunggu," lanjut Davlin dengan kesabaran sudah berada di level terendah. Kekasihnya itu tampaknya ingin menguji kesabarannya hingga batas mana.
"Oh, iya. Aku tadi lihat panggilan masuk dan pesan, cuma pas mau balas ponsel ku mati."
Hanna menunggu reaksi pria itu lebih lanjut. Namun dari mimik wajahnya tampak tidak ada perubahan. Jadi Hanna memutuskan untuk meneruskan.
"Memangnya apa isi pesan mu? apa karena aku tidak masuk kerja? aku sudah izin dengan kepala OB," lanjutnya mengira kemungkinan marahnya pria tampan nan seram di depannya itu karena perihal bolosnya Hanna bekerja.
"Apa menurut mu aku akan semarah ini hanya karena kau tidak masuk kerja? Apa kau memandang aku serendah itu? apa kau tahu betapa gila nya aku saat tidak mendapat kabar dari mu? aku begitu ketakutan terjadi hal buruk padamu di luar sana karena tidak bisa menghubungi nomor mu? terus menerka kau ada dimana, apakah kau baik-baik saja, siapa orang yang sedang bersama mu saat itu!"
Meledak sudah bob waktu yang dipersiapkan Davlin untuk gadis itu. Hanna yang mendengarnya terenyuh, begitu khawatirnya pria itu padanya. Dia gelisah di sini sendirian, sementara dirinya bersenang-senang di luar sana.
"Aku minta maaf, " cicit Hanna hampir menangis.
Wajah Davlin melembut. Sorot mata tajam memerah itu sudah sirna, melembut tersapu air mata yang dia lihat sudah merebak di mata Hanna.
"Kemari.." ucapnya lembut. Hanna justru merasa terpukul hingga bulir bening itu jatuh dua tetes di pipinya.
Jarak mereka sudah begitu dekat. Berdiri berhadapan, dan dengan lembut tangan kekar itu menghapus air mata itu, lalu mengecup kedua bola mata Hanna yang terpejam, lalu bibir Davlin berhenti di kening gadis itu cukup lama, sebelum menariknya ke dalam pelukannya.
"Jangan seperti ini lagi. Aku sudah kehilangan arah, jika jauh dari mu. Aku takut kehilangan mu, aku takut terjadi hal buruk padamu. Berjanjilah kau harus selalu memberitahu ku dimana pun kau berada. Jangan mendiami ku setiap kita punya masalah. Kita bicarakan, semua pasti ada jalan keluarnya." ucap Davlin mengeratkan pelukannya.
"Hanna Jhonson, aku sangat mencintaimu, jangan pernah pergi dariku. Ingatlah, kemana pun kau pergi, aku akan mencarimu, bahkan ke neraka sekalipun."
***
__ADS_1
Mampir yuk