
Wajah Hanna terangkat, menatap lekat wajah Davlin. Seingatnya dia tidak pernah mengatakan kalau pemberi beasiswa itu adalah PT Excellent, lantas dari mana dia tahu?
Setelah keduanya kembali bersama, Davlin mengutus Haris mendatangi kampus itu dimana Hanna berkuliah.
Seperti kebiasaan More Corp. setiap tahunnya pasti memberikan bantuan pada beberapa kampus berupa beasiswa sebagai bentuk sumbangsih perusahan Mega raksasa untuk negeri ini.
Jadi untuk tahun ini, Davlin meminta kampus Hanna menjadi salah satu penerima beasiswa itu. "Pastikan jurusan Hanna juga mendapatkan beasiswa ini. Aku ingin dia menerima beasiswa dari perusahaan kita. Gadis keras kepala itu bahkan tidak mau menerima uangku untuk membelinya cake seharga 35 ribu!" ucap Davlin menatap layar ponselnya yang tentu saja penuh wajah Hanna semua.
Haris yang sudah tahu kalau sahabat sekaligus bosnya sudah menjalin kasih dengan Hanna hanya bisa mendukung apa pun keputusan Davlin.
Selama ini Davlin menunggu reaksi gadis itu untuk menceritakan kegembiraannya mendapatkan beasiswa, tapi setelah dua hari di tunggu Davlin tidak mendapatkan kabar apapun dari Hanna. Pria itu pikir, memang Hanna lah yang tidak mau membesar-besarkan masalah beasiswa yang dia dapat. Ternyata gadis itu bahkan tidak mendapatkan sama sekali.
Syarat yang ditetapkan Davlin untuk mendapatkan beasiswa itu juga sudah sesuai kemampuan yang dimiliki Hanna, jadi akan sangat aneh, jika ternyata gadis itu tidak mendapatkan apa pun.
"Jawab, Dav. Kenapa kau bisa tahu?" Hanna menuntut jawaban.
"Sayang, dengar. Aku minta maaf, awalnya aku gak ingin kau tahu. Aku ingin semua ini berjalan seperti biasa."
"Maksudnya?" Hanna semakin penasaran. Meremas tangan Davlin agar pria itu segera memuaskan rasa ingin tahunya.
"Dengarkan aku. Please, aku akan jelaskan, tapi janji dengarkan sampai selesai. Perusahaan kami setiap tahunnya pasti memberikan beasiswa untuk beberapa kampus. Tahun ini aku memang memilih kampus mu jadi salah satu penerimanya. Terlebih di jurusan mu. Jujur, aku sengaja memberikan kuota yang lebih banyak di jurusan mu, karena berharap kau mendapatkannya, tapi yang aku heran kenapa justru kau tidak me dapatkan beasiswa itu?"
"Apa? beasiswa itu dari perusahaan mu? tapi yang aku tahu perusahaan mu PT HolyWings?" mimik wajah Hanna begitu serius. Davlin jadi ingin menciumnya agar mengurangi ketegangan pada gadis itu.
cup!
__ADS_1
"Ih, Davlin. Aku serius, nih." Hanna ingin memonyongkan bibirnya tapi tidak jadi, dia tahu kalau setiap dia melakukan hal itu, Davlin pasti nyosor lagi.
"Sayang, pacar mu ini Davlin More, pengusaha sukses. Apa kau pikir perusahaan ku hanya satu?" ucapnya memicingkan mata, berlagak sombong di hadapan gadis itu.
Hanna terbelalak, mulutnya terbuka, tidak percaya atas apa yang dia dengar. Dia tahu Davlin kaya, tapi tidak menyangka kalau dia setajir itu. Hanna jadi minder menjalin hubungan dengan Davlin. Dia hanya anak kolektor biasa. Bahkan saat ini bisnis papanya sedang dalam masalah, hingga keuangan mereka sedang seret.
"Sekarang, yang aku heran kan, kenapa kau tidak terpilih mendapat beasiswa itu? sementara syarat yang aku ajukan semua sesuai kemampuan yang kau miliki."
Mendengar itu Hanna tertunduk lemas. Bagaimana mungkin dia bisa menceritakan masalahnya pada Davlin. Dia tahu bagaimana tempramen kekasihnya itu, pria itu tidak akan tinggal diam.
"Aku juga gak tahu," sahutnya pendek. Menunduk dan mengamati sepatunya yang tampak sudah kusam. Bahkan telapak nya sudah mulai terbuka karena sering hujan beberapa hari ini. Mau minta pada ibunya, dia tahu kalau untuk memasukkan Cathy kuliah saja sudah membuat ayah dan ibunya kelimpungan.
***
"Selamat pagi. Lo nyari gue? ada apa lagi? jangan bilang lo lagi ribut sama Hanna?" sapa Haris masuk ke ruangan Davlin.
Haris terdiam, menatap sahabatnya dengan kekesalannya diwajahnya. Dia sudah berubah, dulu Davlin yang dia kenal, tidak akan peduli dengan masalah siapa pun, bahkan jika ada yang bisa dia lakukan untuk membantu, dia hanya akan mengutus orang tanpa peduli bagaimana hasil akhirnya. Kini demi Hanna dia rela membatalkan keberangkatan ke Inggris untuk menyelesaikan proyek kerja sama mereka. Dia hanya mengutus Jim untuk mengurusnya.
"Jadi kita tidak akan berangkat ke Liverpool?"
"Cancel keberangkatan kita. Masalah Hanna ini lebih penting dari apapun. Aku tidak mau ada orang yang menyakiti Hanna."
"Baiklah, akan aku kerjakan." Haris pamit. Davlin berjalan ke arah balkon, menatap ke arah luar. Kemarin, saat menjemput Hanna dari kampus dan mengajaknya makan, Davlin sekaligus ingin mengatakan perihal keberangkatannya ke Liverpool, Inggris. Tapi setelah mendengar masalah gadis itu, mana mungkin dia bisa pergi dengan tenang.
***
__ADS_1
"Kasihan banget, sih Lo. Mau jadi pahlawan malah ketiban sial. Makanya, jangan sok hebat. Munafik Lo!" umpat Lusi yang mendatangi Hanna siang itu. Mereka baru saja selesai mengikuti mata kuliah Listening.
"Maksud lo apa?" Ara yang selama ini biasanya diam, kini angkat bicara. Dia akan berdiri membela sahabatnya, walau mungkin dukungannya tidak terlalu memberi pengaruh pada masalah Hanna.
Tidak ingin melayani perdebatan itu, Hanna menyentuh tangan Ara, memberikan kode untu tidak melayani kegilaan Lusi.
"Kenapa? takut kan, Lo? gara-gara lo, satu stambuk kita bakal terancam ngulang mata kuliah filsafat!" umpatnya memprovokasi anak-anak dikelas. Semua kini menatap kesal ke arah Hanna. Dua hari bergulirnya masalah itu, hanya diawal dia mendapat dukungan, setelah nya semua tampak memojokkan nya. Tidak ada lagi yang berdiri dibelakangnya, semua tampak tenggelam, seolah sudah dibeli.
"Aku tidak akan mundur. Aku tidak mau, kedepannya akan muncul Hanna- Hanna yang lain yang diperlakukan sama sepertiku. Maaf kalau karena masalah ini kalian menjadi tidak nyaman," ucap Hanna mengangguk hormat. Dia semakin yakin, kalau ketiga bandot tua itu sudah membalikkan keadaan, membuat semua posisi Hanna tersudut. Menekan satu angkatan dengan peraturan baru yang tidak masuk akal, dengan tujuan agar teman-temannya menyalahkan dan membencinya.
***
"Aku sudah mendapatkan kabar. Dia sedang ada masalah dengan kaprodi." Haris duduk di depan meja Davlin. Misinya mencari tahu masalah Hanna terjawab sudah. Dia sendiri bahkan kaget mengetahui masalahnya hingga seserius itu.
"Akan aku habisi mereka! Dasar busuk!" maki Davlin mengepal tinjunya. Dia bisa membayangkan betapa hancurnya perasaan Hanna saat ini. "Dia pasti tertekan dan ketakutan."
"Segera kau panggil awak media, liput berita tentang pemberian beasiswa dan data penerimanya. Aku pastikan ketiga orang itu akan membusuk di penjara!"
Berulang kali Davlin menghubungi Hanna, tapi gadis itu tidak mau mengangkat teleponnya. Tidak lama ponsel itu tidak aktif lagi. Dia tidak tahu harus mencari kemana. Pikirannya tidak tenang. Davlin bahkan sudah mendatangi rumah itu, seolah ikut menghilang bersama Hanna, anggota keluarga yang lainnya juga tidak ada di sana.
Pukul delapan malam, ponsel Hanna baru aktif. Dengan tidak sabar, Davlin menghubungi gadis itu kembali. "Halo..." ucapnya dengan suara serak.
"Kau dimana? mengapa aku tidak bisa menghubungi mu sejak tadi?" Hening, tidak ada suara dari seberang sana.
"Kau dimana? aku akan menyusul mu!"
__ADS_1
"Maaf, Aku tutup dulu, ya." Belum sempat protes, Hanna sudah menutup teleponnya.
Davlin akhirnya melacak keberadaan Hanna melalui nomor ponselnya. "Rumah sakit?" gumamnya memandang layar ponselnya.