My Crazy Lady

My Crazy Lady
Bab 27 (MCL)


__ADS_3

"Apa maksud semua berita di luar sana?" Alex memulai interogasinya.


"Berita apa?" tanya Hanna, jujur dia tidak tahu apa yang sudah didengar pria itu hingga menyebabkan amarah yang membingkai wajahnya.


"Jangan pura-pura tidak tahu, kau tahu betul apa yang sedang aku bicarakan!"


"Tapi aku tidak tahu!" Hanna tidak mau kalah, menaikkan satu nada lebih tinggi.


Ema yang menguping di balik pintu sampai mencengkram dadanya. Dari mana putrinya punya keberanian sebesar itu, bicara dengan Duke tanpa takut sedikitpun.


"Mama, apakah kita sopan kalau menguping seperti ini?" bisik Catherine. Ia sendiri pun merasa gentar melihat amarah Alex. Tidak terbayang kalau dia menikah dengan pria MB itu dan melakukan kesalahan. Catherine kini sadar dia tidak punya keberanian seperti kakaknya.


"Tidak mengapa asal jangan ketahuan. Mama takut terjadi hal buruk pada kakak mu."


"Kau memang keras kepala. Sekarang jawab aku, kenapa kau mengembalikan semua hadiah dari ku? dan apa maksud pesan yang kau sampaikan pada Catburry?"


Hanna diam sesaat. Lidahnya terasa keluh. Dia tahu, akan tiba saat nya pria itu menuntut kejelasan darinya.


"Jawab aku!" Sentakan keras itu tidak hanya membuat Hanna terkejut, tapi juga dua wanita di balik pintu. Bola mata Hanna terbuka lebar, melotot tajam pada Alex. Guna meredam rasa gugupnya, Hanna berdiri, berjalan menuju jendela, melirik sekilas suasana di luar sana.


Dari tempatnya, Hanna melihat jelas, kereta Alex terparkir di depan rumahnya. Apa yang harus dia jelaskan pada pria diktator itu? dia yakin, Alex tidak akan membiarkan dirinya lolos kali ini. Lagi pula sampai berapa lama dia bisa menghindar? dia sudah berjanji pada Catherine!


"Aku tidak suka kau memberikanku hadiah, atau pun perhatian. Aku tidak mau orang lain akan berpendapat miring tentangku," katanya menghadap Alex yang masih duduk di sana.


"Kau tidak suka hadiah dariku atau pun perhatian? lantas apa yang kau suka? ciuman yang sudah berulang kali lakukan? kau tidak suka?!"


Ema hampir saja jatuh pingsan, sementara Catherine hampir mendorong daun pintu saking terkejutnya mendengar pengakuan Alex.


"Kecil kan suaramu!" geram Hanna ingin sekali melempar vas bunga yang ada di depannya itu hingga mendarat di kepala Alex, tapi itu hanya sekedar harapan, dia tidak mau sampai berada di tiang gantungan.


"Kenapa? kau takut keluarga mu takut? kenapa kau jadi pengecut? kau selalu tampil berani, di puji banyak orang karena kau gadis berkarakter, tapi nyatanya apa? dengan perasaanmu sendiri saja kau tidak berani mengakui!" seru Alex ikut bangkit dari duduknya, mengikis jarak diantara mereka.

__ADS_1


"Kau bicara apa? mengakui perasaan apa yang mau maksud?" gumam Hanna menciut.


"Perasaanmu, bahwa kenyataannya kau mencintaiku!"


Bola mata Hanna membulat sempurna. Ingin sekali mencekik pria penuh percaya diri itu dengan tangannya sendiri.


"Kau terlalu percaya diri, My Lord. Aku tidak mencintaimu. Bagaimana mungkin aku mencintai calon adik ipar ku!"


Wajah Alex sudah memerah. Kulit putihnya berubah cepat kala amarah sudah sampai ke ubun-ubun. Pria itu semakin dekat, dan dengan satu gerakan mengunci gadis itu dalam kungkungannya. Satu tangannya bahkan sudah mencengkeram leher jenjangnya Hanna.


"Jangan permainkan aku, Hanna Jhonson. Aku memohon padamu. Tarik ucapan mu tadi, atau aku bersumpah akan membuatmu menyesal," ujar Alex dengan suara tertahan. Deru nafas pria itu bahkan bisa membakar tubuh Hanna. Dia juga merasa bersalah akan situasi ini, tapi kalau dia tidak berkorban, Catherine tidak akan punya kesempatan meraih impiannya menjadi istri Alex.


"Maaf, tapi itu yang sebenarnya. Aku sama sekali tidak punya perasaan pada anda, My Lord. Lupakan saja semua yang sudah terjadi, dan fokuslah dengan hubungan anda bersama Catherine." Suara Hanna bergetar, dia akan menangis. Dia sudah sekuat tenaga menahan gejolak di dada, ingin segera ke kamar dan menangis sejadi-jadinya.


Satu gerakan lagi dari Alex, menghentikan langkahnya dengan menahan tangan Hanna.


"Jadi itu keputusanmu?" ucapnya dingin.


"Baik lah, aku tidak akan memberatkan mu," ucap Alex melepas tangan Hanna. Ada jeda sesaat, hanya ada keheningan diantara mereka. Lama Alex berpikir, dan tiba pada satu keputusan.


Dia pria, punya harga diri. Cukup sudah Hanna mempermainkan perasaannya. Dia tidak ingin bersama gadis yang tidak mencintainya. Mungkin bagi Alex, Hanna Jhonson adalah cinta pertamanya, kalau itu yang disebut cinta. Selama ini tidak pernah mendapat penolakan, jadi ini yang namanya patah hati? sungguh sakit!


Panggil kedua orang tuamu dan juga adikmu!" perintahnya sedingin es. Hanna saja hampir membeku mendengar perkataan Alex. Pria itu sudah berbalik, kembali duduk di kursi yang tadi dia tempati.


Masih berdiri mematung, Hanna justru diam memperhatikan gerakan Alex. Dipandangi wajah sedih pria itu. Matanya menyiratkan luka yang sangat besar.


"Mmm?" Alex menunjukkan ekspresi tidak sabar, menunjuk arah pintu dengan tatapannya. Terhipnotis dengan tatapan dingin dan juga mengintimidasi itu, Hanna berjalan ke arah pintu.


Tentu saja orang di luar sana yang tadi berbaris menguping sudah berlalu, hingga tidak kedapatan oleh Hanna.


"Mama, His Grace meminta mama dan papa serta Catherine menemuinya," ujar Hanna lemah. Hatinya terkoyak, melihat sikap dingin dari Alex. Sinar lembut dan penuh damba yang selalu pria itu tujukan setiap melihatnya kini sudah tidak ada lagi.

__ADS_1


"Untuk apa? Apakah His Grace marah?" tanya Ema ketakutan. Dia menggenggam tangan Hanna seolah ingin meminjam sedikit keberanian putrinya. Nyatanya hanya sama saja dengan mereka saat ini. Keberanian sudah mencair oleh api benci dan amarah yang tengah dirasakan oleh Alex.


"Mungkin dia ingin berpamitan, Ma" tebak Hanna. Untuk apa lagi kalau bukan untuk itu? bukankah sudah tidak ada lagi yang perlu mereka bahas lagi? semua sudah berakhir. Kisah awal yang ingin dibangun Hanna sudah runtuh. Pondasinya ternyata tidak kokoh.


"Mama takut, kalau His Grace marah. Kalau beliau ingin buat pelajaran karena kita sudah berbohong tadi mengatakan kaus sedang sakit, apa yang harus kita lakukan?" Ema semakin khawatir. Dia benar-benar kalut.


"Ada apa? kenapa kalian bertiga berkumpul di sini? apakah His Grace sudah pulang?" tanya Stuart yang muncul tiba-tiba.


"Belum, justru itu. Dia ingin kita menemuinya. Aku takut, apa dia ingin menghukum kita?" Ema berpindah ke samping Stuart, berharap bisa lebih tenang jika di samping suaminya.


"Tenanglah, Mama. Dia hanya ingin berpamitan," sambar Hanna menenangkan mama nya, yang sebenarnya lebih ke dirinya sendiri.


"Aku juga takut, Papa" gumam Catherine pucat.


"Sudah, ayo kita temui," Stuart sudah berjalan paling depan, membawa ketiga anggota keluarganya.


"Selamat malam, My Lord. Anda ingin bertemu kami?"


"Ya, duduk lah. Ada hal yang ingin aku sampaikan sebelum aku pulang," ujar Alex dengan santai, namun tetap tidak bersahabat.


"Kami mendengarkan, My Lord"


Alex melirik sekilas ke arah Hanna sebelum mengeluarkan ultimatum nya.


"Mulai malam ini, aku, Alexander Davlin Claymore, memutuskan untuk membatalkan rencana pernikahan dengan Catherine Jhonson, dan memutuskan hubungan apapun, dengan semua anggota keluarga Jhonson!"


***


Makasih masih setia sama novel ini, mohon dukungannya ya, komen dan like, makasih🙏😁


mampir juga, siapa tau suka 🙏😁

__ADS_1



__ADS_2