My Crazy Lady

My Crazy Lady
Bab 64 ( MCL)


__ADS_3

"Dav..." suara Hanna tertahan. Nafasnya terasa sesak hingga butuh nafas buatan. Semua yang dikatakan Davlin tentu saja membuatnya melayang. Pria itu bahkan sudah mendekatkan tubuhnya.


Hanna bersiap, dia tahu ini momennya. Hanna perlahan menutup mata, dan dia tahu Davlin semakin mendekat, gadis itu bisa merasakan wangi mint nafas Davlin yang menyapu wajahnya. Sedikit lagi, hingga suara seseorang membatalkan semua momen indah itu.


"Aku sudah mene- bus obatnya," ucap Haris masuk ke dalam kamar, tepat saat Davlin hampir saja melabeli bibir Hanna. Haris yang kikuk karena tidak sengaja menggagalkan momen romantis bosnya ingin kembali berbalik arah.


"Kemari!"


Haris berhenti, berdiri ditempatnya, menghitung sampai 10 baru berbalik menghadap keduanya dengan menyampirkan satu senyuman kikuk.


"Ini obatnya," Haris menyerahkan bungkusan plastik itu, lalu menyeringai pada Davlin yang seolah ingin berkata, 'Ketangkap basah lo, ya!'


"Apa?" delik Davlin menyipitkan matanya ke arah Haris yang dijawab pria itu dengan mengangkat kedua bahunya, lalu pergi.


***


Sorenya, agenda untuk membeli cendramata sembari mengunjungi beberapa tempat wisata. Semua orang menyambut gembira momen ini, setelah sejak pagi terkurung. Davlin membatalkan agenda pagi hingga siang, karena keadaan Hanna yang tidak memungkinkan mengikuti perjalanan. Namun, Ane yang ditugaskan Davlin menemani Hanna, memberitahukan gadis itu mengenai pembatalan agenda demi menghargai dirinya yang tengah sakit.


Hanna kembali tercekat. Apa yang dipikirkan Davlin mengorbankan kesenangan banyak orang hanya demi dirinya. Hanna kembali merasa tidak enak hati.


"Ane, boleh panggilkan Pak Davlin?" pintanya kala Ane memasuki kamar membawa teh jahe yang diminta Davlin diantar ke kamar Hanna.


"Aku? aku mana berani, Han. Sebelum ngomong aja nanti aku pasti udah mati ketakutan hanya dengan menatap matanya," ucap Ane. Dia tidak bisa disalahkan. Siapa sih orang yang tidak ketakutan melihat Davlin? jangankan bicara, melihat wajah pria itu saja orang bahkan bisa kencing berdiri.


Untunglah haris lewat dari depan kamarnya hingga Hanna memutuskan untuk meminta pertolongan pria itu. "Pak, bisakah aku bicara dengan pak Davlin?"


"Kau merasakan sakit lagi? apa semakin parah?" tanya Haris khawatir. Bukan apa, jika keadaan Hanna semakin buruk, dia jugalah yang akan direpotkan.


"Bukan, Pak. Aku baik-baik saja. Malah kini semakin baik. Aku hanya ingin bicara padanya. Atau apa sebaiknya aku ke luar menemuinya?" ucap Hanna mempertimbangkan pemikirannya.


"Oh, kau di sini saja. Aku yang akan memanggilnya untukmu. Dan kau, nona, sebaiknya kau ikut aku saja, ya," ujar Haris mengedipkan mata pada Ane yang berhasil membuat gadis itu salah tingkah.


"Ada apa? semua baik saja? Haris bilang, kau mencari ku," ujar Davlin begitu tiba diambang pintu. Berjalan mendekati gadis itu dan duduk di dekatnya.

__ADS_1


"Davlin, aku benar-benar tidak apa-apa. Hanya keseleo biasa. Kau sudah memanggil dokter dan Bu Tati. Aku sudah tidak apa-apa. Percayalah." Hanna menatap dalam, berharap bebal hati pria itu bisa luluh jika kali ini dia bujuk.


"Kau tahu, semua orang berharap banyak pada perjalanan ini, akan menciptakan momen indah diantara mereka. Please, jangan karena kecelakaan yang tidak ada artinya ini, kau membatalkan semua agenda yang sudah mereka tunggu-tunggu." Hanna menjaga agar suaranya tetap lembut.


"Lalu apa mau mu? kata tahu kalau mereka pergi, kau akan sendirian, dan menjadi sedih karena tidak bisa ikut bergembira bersama mereka," sahut Davlin.


"Dengan melarang ku ikut pergi, kau sudah membuatku sedih!"


"Kau tidak mungkin berpikir untuk ikut pergi kan? kakimu bisa patah kalau kau paksa jalan."


"Kau berlebihan. Aku mohon, kita pergi jalan-jalan, ya? aku ingin sekali membeli oleh-oleh untuk mama, papa Cathy juga Tante Reta," ucap Hanna sudah menyatukan telapak tangan di depan dadanya.


Mata Hanna berhasil menghipnotisnya. Gejolak di dadanya muncul. Davlin sendiri tidak tahu mengapa dia ingin sekali membuat gadis itu gembira. Mengabulkan semua keinginannya agar bisa melihat senyum manis Hanna.


"Kau yakin bisa berjalan?" Dengan cepat Hanna mengangguk.


***


"Aku bisa jalan kok, Ne. Gak papa, beneran" ucap Hanna merasa tidak enak pada Ane yang menjadi tidak bebas.


"Tapi nanti Pak Davlin akan marah padaku," bisik Ane melirik ke arah Davlin dan benar saja, pria itu memang sedang melihat ke arah mereka.


"Gini aja, kita pergi ke arah sana, lalu kita berpisah. Aku juga ingin mencari sesuatu. Nanti sebelum kembali ke sini, kita janjian bertemu di belakang kios itu, agar pak Davlin menganggap kita selalu bersama," saran Hanna yang disambut Ane penuh gembira.


Baru kali ini dia merasakan kebebasannya. Sejak memulai perjalanan, Hanna selalu diawasi oleh Davlin dan itu membuatnya tidak nyaman. Hanna tahu, pria itu melakukan semua itu padanya, hanya karena mandat dari Ema untuk menjaganya.


"Lihat aja, besok juga di kantor, sikapnya juga akan berubah kasar lagi padanya," cicitnya menuju toko kue dan berbagai cemilan.


Hanna dan makanan tidak bisa dipisahkan. Dia membeli banyak jenis kue basah dan kue kering. Lalu berjalan menyelusuri toko tempat cendramata. Namun, disela gang kecil itu, Hanna dihadang oleh seorang wanita dengan tampilan unik. Riasan ala gadis gypsy dengan gelang warna-warni di pergelangan tangannya.


"Nona, bersediakah aku ramal?" tawarnya dengan mengulurkan tangannya, meminta tangan Hanna.


Entah apa yang ada dalam pikiran Hanna. Gadis itu mendekat dan duduk di kursi yang telah disediakan tepat dihadapan sang peramal.

__ADS_1


"Kau adalah gadis yang terberkati. Kau akan mendapat banyak kebahagiaan. Namun, untuk menggapainya, banyak rintangan yang harus kau lalui," terang si peramal. Hanna terbius, mendengarkan dengan seksama. Merasa terikat dengan omongan wanita itu.


"Saat ini ada seseorang yang menyukai mu. Dia adalah jodohmu dalam kehidupan ini. Garis takdir mu dengan pria sudah ditetapkan sejak dulu, saat nenek moyang kalian. Kemana pun kau pergi, dia adalah jodohmu. Namun, aku lihat akan muncul satu sosok yang bisa memisahkan kalian selamanya. Semua ini tergantung padamu, kau bisa berjodoh dengannya dalam kehidupan ini, atau sepeda buyut kalian yang terpisahkan oleh takdir!"


Hanna terdiam. Seketika pikirannya menggali kenangan bersama Alex. Benarkah dulu saat dia terlempar ke dunia novel, sebenarnya dia menjelma menjadi buyutnya sendiri?


Banyak pertanyaan yang coba dia pecahkan, tapi tetap tidak menemukan jawaban. "Nona,"


Kembali suara wanita itu membuyarkan lamunannya. "Kau harus berusaha mendapatkannya, agar wanita yang selama ini selalu ada dalam takdir kalian, tidak bisa memisahkan hubungan kalian dalam kehidupan kali ini."


Hingga meninggalkan peramal itu, Hanna masih terbius oleh ucapannya. Semua dia urut kan. Mengapa dia masuk ke dunia novel, mungkin semesta ingin dia tahu ada kisah yang belum selesai, terpisah karena takdir. Dan munculnya Davlin yang dia yakini adalah keturunan Alex, membuat Hanna semakin percaya ucapan peramal itu.


"Kasihan nenek buyut ku, terpisah dengan pria yang sangat dia cintai," gumamnya. Hanna terus berjalan, hingga menuju bus, dia melihat Davlin yang sudah menunggunya.


"Aku sudah bilang, jangan pergi terlalu jauh, sampai kapan kau membuat ku cemas?"


Hanna diam, menatap dalam mata Davlin. Dia ingin sekali berlari menghambur ke dalam pelukan pria itu, tapi beberapa orang sedang berada di sekitar mereka. Lagi pula, Hanna harus memastikan alasan Davlin memperhatikannya, karena memang menyukainya atau ada alasan lain.


"Kenapa kau mengkhawatirkan ku?" tanyanya dengan debaran jantung yang bergemuruh.


"Apa?" Davlin tidak paham maksud pertanyaan Hanna yang tiba-tiba ini. Haris pun saat itu mendekatinya hingga buyar konsentrasinya terhadap Hanna.


"Aku ingin tahu kenapa kau mengkhawatirkan ku? memberikan perhatian padaku?"


Davlin diam sesat menatap Hanna, lalu semakin banyak orang disekitar mereka yang pastinya akan mendengarkan pembicaraan mereka.


"Aku melakukannya karena mama mu menitipkan mu padaku!"


***


Hai, mampir yuk


__ADS_1


__ADS_2