
Hai semua, maaf aku buat bab ini untuk sekedar informasi.
Baca ya, novel baru aku... please
Blurb :
"Ouh, Mas... geli.. Mas... Aaaah...." suara meracu yang samar terdengar sejak Rayana memasuki rumah, semakin jelas terdengar. Dan itu dari arah kamarnya.
Degub jantung wanita cantik itu, mulai tidak bekerja seperti biasa. Pikiran buruk mulai muncul dalam benaknya, gelengan lemah Rayana mencoba menepis perasaan tidak enak dan pikiran yang tidak-tidak.
Rasa was-was mulai menyapa dirinya. Ini tidak mungkin seperti apa yang dia pikirkan saat ini, kan?
Rasa penasaran menarik langkahnya mendekat ke arah pintu, yang entah karena lupa dikunci hingga memberi celah bagi siapa saja untuk bisa melihat atraksi yang berhasil membuat Rayana mual.
Dunianya runtuh. Dia hancur. Kakinya bahkan seolah tidak lagi menginjak lantai. Lebur hingga dia lupa caranya untuk menarik nafas. Rayana masih berdiri di sana, menyaksikan semua yang mulai detik itu juga dia kutuk.
"Geli, tapi nikmat, kan? kau selalu suka kalau mas raba-raba begini," sahut Dika sembari melepas senyum genitnya. Tangannya tidak hentinya meraba, menggosok lembut permukaan milik Lani yang sudah basah, bahkan kini banjir.
"Suka banget, Mas. Aku su- ka..," jawab Lani terengah-engah, menahan rasa nikmat yang sudah menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia ingin dipuaskan. Dia ingin merasakan senjata milik Dika membelah tubuhnya.
Ray benar-benar tidak percaya atas apa yang dia dengar dan juga disaksikan oleh matanya saat ini. Dia ingin menjerit menyadarkan keduanya, tapi suaranya seolah hilang, terbang bersama rencana indah yang ingin dia rajut bersama sang suami.
__ADS_1
Dia tidak pernah membayangkan kalau Lani, sahabat baiknya selama ini tega bercumbu mesra dengan suaminya di ranjang yang tiap malam menjadi tempatnya dan suaminya tidur dan juga melakukan hubungan suami-istri.
Tanpa malu dan canggung, seolah perbuatan mereka ini, sudah lama dan biasa mereka lakukan, Dika mencium sekaligus melu*mat puncak gundukan kembar milik Lani yang tampak besar dan menantang dengan penuh gairah yang menggebu-gebu.
Suara jilatan dan juga hi*sapan disambut erangan nikmat dari mulut Lani terdengar jelas di telinga Ray yang masih mematung menyaksikan dengan sembunyi perbuatan haram mereka.
Dika puas melihat ekspresi Lani yang tampak tak berdaya dibawah kendalinya. Tangannya mulai menjelajah kembali ke tempat basah dan nikmat milik Lani yang tampaknya sudah siap untuk menerimanya.
"Ayolah, Mas. Aku mulai digen*jot. Udah gak nahan, nih," racuh Lani melengkungkan tubuhnya melihat ke bawah sana, tempat Dika sudah mulai menggantikan tangannya dengan lidah.
"Kau udah gak tahan lagi ya, Dek?" Dika masih belum berniat memberikan puncak kenikmatan yang ditunggu-tunggu Lani. Masih ingin bermain, karena ini lah momen yang sangat disukai Dika.
"Iya, Mas. Udah diujung banget. Pengen banget dimasuki dan godok sama benda pusaka Mas yang besar itu. Lagi pula, tadi malam aku belum puas, si norak itu udah balik aja!" ucap Lani dengan suara pelan dan mendesah.
Ray meremas sisi gaunnya, air matanya berderai membasahi pipinya. Teringat hari di mana suaminya mengucapkan janji sumpah atas dirinya sangat mereka menikah dua tahun lalu. Sebenarnya besok tepat mereka dua tahun menikah. Rayana yang sudah menabung selama ini, meminta izin pada Dika untuk pergi ke luar, dengan alasan ingin berbelanja kebutuhan rumah tangga, Rayana pergi, membelikan Dika kemeja baru lengkap dengan celana dan sepatu. Saat itu, Dika dengan lantang berikrar akan mencintai Rayana dengan sepenuh hati, membahagiakan dan juga setia padanya. Tapi kini, janji itu sudah Dika hempaskan ke dasar kaki Lani agar bisa diinjak wanita itu.
Dia sudah membayangkan reaksi Dika saat besok menerima hadiah darinya. Sepatu yang sudah lama diidamkan suaminya itu, berhasil dia beli dengan uang tabungan dan hasil kerja sebagai penulis novel online.
"Mas, aku sudah gak tahan. Masukin sekarang ya, aku mohon," desah Lani memohon sambil membelai rambut Dika.
Air mata Ray tidak mau berhenti. Hatinya terluka begitu dalam. Kepalanya kembali sakit, dan rasa mual menyerang. Hanna menutup mulutnya, agar keinginannya untuk muntah bisa dia tahan. Tidak hanya kepala yang sakit, tubuhnya pun lemas. Apalagi saat ini dia tengah mengandung buah hatinya dengan Dika yang kini sudah menginjak bulan ketiga.
__ADS_1
Buah hati yang telah lama mereka tunggu dan sangat mereka harapkan kini tengah tumbuh di rahimnya. Harusnya ini menjadi pelengkap kebahagiaan rumah tangga mereka.
Dika yang terus menuntut ingin punya anak, selalu menekan Rayana yang memang susah untuk hamil karena rahimnya yang lemah. Dan setelah penantian lama, setelah Rayana berobat ke sana kemari, akhirnya wanita itu hamil, tapi mengapa kini suaminya yang menghancurkan kebahagiaan rumah tangga mereka yang tampak sempurna?
Selama ini Raya pikir Dika adalah suami panutan, suami setia yang amat sangat mencintainya. Sikap baik dan bijaksana suaminya yang selalu diperlihatkan padanya, membuat Raya masih tidak mempercayai apa yang dia saksikan saat ini. Bahkan Dika melakukan hubungan itu sangat liar dan berbeda ketika berhubungan dengan Rayana.
"Aku masukkan sekarang, ya Dek?" ucapnya parau.
Lina tidak menjawab, hanya erangan penuh kenikmatan yang terdengar kala senjata Dika masuk ke dalam dirinya.
Remuk hati Rayana kala melihat kedua orang yang paling dia sayangi dan sangat dia percaya, tega mengkhianati dirinya dan berbuat maksiat di ranjangnya.
"Enak, Mas?" tanya Lani yang kini sudah berguling dan naik ke atas tubuh Dika, berlagak seperti pemain rodeo menguasai permainan.
"Enak banget, Sayang."
"Enakan mana sama punya Raya?"
Tentu saja punyamu, dek. Masih sangat rapet dan baru dimasuki satu senjata. Bukan kayak punya dia yang sudah dinikmati beberapa pria!"
__ADS_1
Udah tayang, semoga suka... makasih