
Alam masih berpihak pada Hanna. Saat kakinya mendarat di lantai kamarnya, saat itu pula pintu kamarnya diketuk.
"Si- siapa?" tanya serak. Tersentak, begitu kaget mendengar ketukan yang tiba-tiba itu. Untung saja dia tidak mengikuti kemauan Davlin yang meminta berpelukan setengah jam lagi.
Mengingat pria itu, rona merah menjalar di pipinya. Bagaimana tidak, tadi malam mereka hampir saja lupa diri, panas dan penuh sensasi yang tapi hebatnya Davlin lagi-lagi bisa mengontrol dirinya.
"Ini, Papa... kenapa belum turun? kau tidak kuliah, Han? mau berangkat bersama?"
"Sorry, Pa." Hanna membuka pintu, membiarkan Stuart masuk. "Mata kuliah ku siang, pagi ini gak ada kelas, jadi bisa santai, papa duluan aja," ucap Hanna tampak grogi terlebih karena Stuart menatapnya tajam, dengan kerutan di dahinya.
"Kau baru bangun?"
"Hah? oh iya, Pa."
"Lalu pintu balkon kok udah kebuka?" Stuart berencana melangkah ke arah luar, memastikan situasi.
"Papa..." jerit Hanna yang mengingat kalau ternyata dia lupa mengembalikan posisi tangga yang masih memanjang ke balkon tetangga.
"Apa?" Stuart berputar, mendekati Hanna yang wajahnya sudah pasi.
"Ada yang ingin aku bicarakan." Hanna menarik tangan Stuart, duduk ditepi ranjang, Stuart baru akan menghempaskan bokongnya, Hanna sudah kembali berdiri, lalu mengajak ayahnya untuk turun.
"Kau kenapa, Han? papa bingung dengan sikapmu," ucap Stuart menatap putrinya. Gelagat aneh bisa dia rasakan saat ini dari Hanna.
"Aku? aku baik saja. Hanya ingin cerita, tapi sekalian aja sarapan.
"Katakan, ada yang ingin kau bahas?" tagih Stuart. Dia takut kalau kini anaknya dalam masalah.
__ADS_1
"Bahas? oh, iya. Papa sudah tahu siapa yang membeli lukisan itu?"
"Belum. Kenapa? Katanya seorang pengusaha. Dia hanya menyuruh asistennya datang ke galeri. Kenapa?"
"Bukan apa-apa. Hanya takut kalau lintah darat itu kembali ganggu keluarga kita."
"Jangan khawatir, papa sudah bayar lunas dengan bunganya. Ini menjadi pelajaran berharga buat papa, tidak akan gegabah mengambil keputusan. Papa ingin sekali berterima kasih pada orang yang sudah membeli lukisan itu, tanpa tawar, bahkan papa belum bilang harganya malah, dia langsung sebut ingin beli satu lukisan 200 juta," ujar Stuart penuh haru.
Hati Hanna menghangat. Cara Davlin menolongnya begitu manis, tidak merendahkan martabat keluarganya sama sekali.
Duh, jadi ingin peluk dia lagi kan!
Senyum malu-malu muncul di wajahnya karena pemikiran kotornya.
"Ada apa? apa ada hal menarik?"
***
"Ke kantin, yuk. Lapar banget," ucap Ara, merebahkan kepalanya di pundak Hanna yang masih merangkum materi mata kuliah yang baru saja berakhir.
"Bentar ya, Bestie."
Seperti biasa, kantin FBS selalu full manusia yang kelaparan. Tidak heran sih, makanan di kantin ini yang paling enak dari semua kantin yang ada di kampus ini. "Udah gak ada bangku lagi, gimana dong?" tanya Hanna mengamati lautan manusia itu. Mereka bukan hanya anak-anak FBS tapi juga dari fakultas lain.
"Ya, gimana lagi, kita ke kantin FT aja, sekalian cuci mata. Banyak cowok cakep di sana," sambut Ara penuh semangat.
Jujur saja, malas bagi Hanna untuk mengikuti permintaan Ara, tapi tidak enak untuk menolak, lagi pula dia juga lapar. Tidak terlalu ramai, rapi tetap saja mereka harus mengantri untuk mengambil makanan. "Hei.." Hanna menoleh ke belakang, melihat tangan siapa yang sudah berani menepuk pundaknya.
__ADS_1
"Lo?" Si pria yang tidak disangka-sangka itu hanya mengedipkan matanya sembari tersenyum.
"Siapa? Lo kenal sama dia? cakep banget, sumpah. Artis ya?" bisik Ara meremas lengan Hanna.
"Lo kok bisa di sini?" susul Hanna yang masih terkejut bertemu Kai di kantin kampusnya, dan tanpa sengaja tidak menjawab pertanyaan Ara.
"Bisa lah, fakultas gue kan ini." Kai melipat tangan di dada, masih tersenyum geli melihat raut wajah Hanna yang tampak kebingungan.
"Apa? fakultas lo? jadi lo kuliah di sini?"
"Yup!"
"Terus kok gak pernah kasih tahu?"
"Kan lo gak ada nanya, nona manis," ucapnya mencubit pipi Hanna pelan.
"Dih. Jadi lo jurusan apa?"
"Ehem.." Hanna tersadar oleh kode yang diberikan Ara.
"Eh, Kai. Kenalin teman gue, Ara."
"Hai, Ra. Gue Kai," sahutnya mengulurkan tangan yang cepat disambut Ara.
mampir kak☺️
__ADS_1