My Crazy Lady

My Crazy Lady
Bab 21 (MCL)


__ADS_3

Dahulu, apa pun masalah yang dialaminya tidak akan menyisakan rasa takut yang sangat besar seperti ini. Tapi kali ini, Hanna begitu takut, terlebih saat melihat sorot mata tajam Alex.


Mata nya masih terus menatap punggung lebar pria itu, berjalan ke arah istal kuda mereka. Hanna sengaja menjaga jarak, dia tidak ingin penyerahannya membuat pria itu merasa berpuas hati.


Pria itu sudah berdiri di dekat pohon ek tua yang biasa tempat Hanna duduk membaca di bawah ranting rindangnya. Mengumpulkan sedikit keberanian, Hanna mendongak, menatap wajah pria itu, masih sama, masih dipenuhi amarah.


"Kau mau mengatakan sesuatu?" akhirnya Alex yang tidak tahan menunggu inisiatif gadis itu mulai bicara. Melipat tangan di dada, menatap lurus langsung pada pupil mata gadis itu.


"A-aku? mengatakan apa?"


Oke, tampaknya Hanna ingin menguji kesabaran Alex, tapi sial hari ini tampaknya gadis itu tidak akan mendapatkannya.


"Kau merasa tidak bersalah? tidak ada yang terlupakan oleh mu hari ini?" desak Alex dengan nada tinggi. Tapi sejauh apa pun Hanna memaksa untuk mengingat, dia tidak mendapatkan pencerahan.


"Aku merasa tidak ada yang salah. Kenapa tidak kau saja yang mengatakannya kalau kau ingat?" nyali Hanna semakin menciut.


Alex tersenyum kecut mendengar ucapan gadis itu. Sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk senyum mengejek, walau posisi saat ini justru dia lah yang tengah di permainan gadis itu.


"Apa kau tidak menjanjikan sesuatu padaku? dasar sialan! tiga jam aku menunggumu di bukit itu, dan kau- kau malah asik bersama si brengsek Malory itu?!"


Potongan ingatan Hanna kembali. Benar, kemarin malam dia janji untuk bertemu dengan pria itu di telaga. Dia sama sekali tidak mengingat janji itu. Lagi pula kalau mau diusut ke belakang, dia dipaksa untuk datang, artinya boleh saja kalau dia tidak jadi datang.


Hanna menatap wajah legam itu. Membayangkan pria sangat berkuasa seperti Alex menunggunya selama tiga jam benar-benar sulit dipercaya. Dalam novel di gambarkan dia bukan tipe pria yang mau menunggu dan memberi hati pada gadis mana pun, tapi kali ini? Rasa bersalah terselip di hati gadis itu. Dia juga bukan tipe wanita yang suka ingkar janji, hanya saja dia benar-benar lupa.


"Aku minta maaf, aku tidak ingat. Salahmu kenapa menunggu hingga tiga jam," ucap Hanna setulus hatinya.


"Tidak ingat? sebegitu tidak berartinya janji yan sudah kau ucap?"


"Kau kan bisa pulang saat setengah jam aku tidak muncul," Hanna masih mempertahankan egonya.


"Aku ingin sekali... percayalah aku ingin sekali pulang. Tapi hatiku bilang, aku harus menunggu, hati ku ingin bertemu dengan mu. Kau dengar, sialan! Aku sangat ingin bertemu dengan mu, dengan bodohnya membawa buket bunga yang bahkan aku persiapkan dari pagi!"

__ADS_1


Semilir angin malam membelai wajah cantiknya, membuat sedikit rambutnya keluar dari ikatan. Hanna kehilangan lidahnya, dia hanya menatap sendu pada pria itu. Dia juga bingung, bukan mau munafik, dia juga terpengaruh pada pria itu sejak mereka berciuman untuk pertama kalinya, tapi Hanna menepis bayangan Alex, mengingatkan pria itu adalah milik Catherine.


"Maaf..," ucapnya pelan. Hanya kata itu yang muncul diujung lidah nya. Kelembutan suara gadis itu nyatanya mampu menyiram bara apa yang siap membakar mereka.


Lagi-lagi Alex harus mengakui keunggulan gadis itu. Kepedihan, kecewa dan rasa marahnya selama menunggu di telaga itu sirna begitu saja hanya dengan ucapan maaf yang tulus dan suara lembut Hanna.


Dia bisa apa kalau dalam hatinya kini hanya ada gadis itu? mungkin kalau Hanna memintanya untuk melompat ke dalam api yang menyala, Alex pun akan melakukannya, asal bisa membuat gadis itu bahagia.


"Sudah lah, lupakan,"


Hanna memberi senyum tipis ke arah Alex tanda perdamaian mereka akan masalah itu. Mungkin Alex memang tidak seburuk itu. Bisa saja mereka menjadi teman baik. Toh, tidak lama lagi, Alex akan menjadi adik iparnya, mereka harus akur dalam satu keluarga, kan?


"Terima kasih sudah memaafkan ku." Kali ini Hanna tidak perlu menyembunyikan senyumnya yang dibalas Alex dengan senyuman juga.


"Kau pergi dengan Malory hari ini?" Hanna yang tidak menyangka pria itu akan secepat itu mengubah topik pembicaraan hanya mengangguk.


"Kemana?"


"Aku tidak suka kau pergi dengannya, atau dengan pria mana pun!"


Sepertinya ada yang perlu diluruskan di sini. Hanna memang sudah meminta maaf, dia juga sudah mau diajak berdamai, bahkan kalau pria itu menawarkan pertemanan, dia akan terima dengan senang hati, tapi kenapa pertanyaan Alex semakin menyudutkannya? kenapa dia seperti diintrogasi, dan apa hak pria itu melarangnya pergi dengan siapa pun, termasuk Will?


"Kita baru saja berdamai. Bahkan sempat terpikir untuk mengubah nilai kepribadian mu dalam hatiku, meyakinkan diriku, bahwa kau tidak seburuk itu, tapi seperti nya aku salah!" Hanna mundur satu langkah.


"Maksudmu?"


"Atas dasar apa kau melarang ku pergi dengan orang lain? aku akan tetap pergi dengan Will, karena dia adalah kekasihku, calon suamiku," ucap Hanna tegas. Dia tidak akan mau diatur atau diintimidasi oleh kekuasaan Alex, meskipun dia seorang Duke!


"Kekasih? calon suami? apa maksud mu?" amarah yang tadi sudah disiram hingga padam, kini kembali menyala.


"Hari ini, Will sudah mengatakan isi hatinya, dan aku menerimanya. Kami akan segera menikah, bahkan mungkin sebelum kalian. Will bila.."

__ADS_1


Aaaau..


Pekik Hanna kaget. Tangan besar Alex sudah mencengkeram batang lehernya, menyandarkan gadis itu ke batang pohon dan mengunci tubuhnya.


"Kau tidak akan menjadi kekasih siapa pun atau pun menikah dengan pria mana pun, selain aku!" Iblis yang tadi sempat Hanna lihat di awal pertemuan mereka hari ini muncul lagi, bahkan lebih menakutkan. Dasar raja iblis!


"Lepaskan!" Hanna berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan tangan Alex yang mengurungnya.


"Jangan permainkan aku, my Lady!"


"Dasar gila! apa urusanmu aku akan menikah dengan siapa? kau hanya calon adik ipar ku, tidak punya hak untuk menentukan boleh tidak nya aku pergi dengan pria lain!"


"Siapa yang akan jadi adik ipar mu? bersiap lah usai debut mu nanti, aku akan melamar mu!" Alex sudah mengendurkan tekanannya pada tubuh Hanna.


Wajah Hanna berubah pucat. Sejauh ini setiap yang dikatakan pria itu, selalu dibuktikannya. Tiba-tiba Hanna teringat ucapan Ibunya, lalu wajah Catherine yang akan kecewa kalau pernikahannya dengan Alex sampai batal.


"Aku mohon, jangan lakukan itu. Aku tidak bisa menikah denganmu. Catherine akan terluka, dia sangat menyukai mu," ucap Hanna memohon, tanpa sadar menyentuh lengan Alex, tapi pria itu bergeming.


"Aku tidak mencintai Catherine. Aku menginginkanmu, bukan dia!"


"Tapi aku tidak mencintaimu, hatiku sudah ku berikan pada Will!"


Aaach..pekik Hanna kembali kaget. Alex memukul kayu tepat di sisi wajahnya, sama seperti kala itu.


"Jangan pernah katakan kau mencintai pria itu, atau aku akan membunuhnya!"


***


Mampir genks😁


__ADS_1


__ADS_2