My Crazy Lady

My Crazy Lady
Bab 86 (MCL)


__ADS_3

"Itu rumahnya!" Hanna menunjukkan rumah besar yang berada tepat di samping rumahnya, lalu turun dengan oleng. Kepalanya pusing tujuh keliling. Bagaimana mungkin, orang-orang yang ada dalam novel itu, satu persatu muncul di kehidupannya saat ini.


Hanna menyeret langkahnya dengan berat, sembari memukul-mukul kepalanya yang sakit sebelah. Jimmy yang melihat gerakan aneh Hanna hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, menganggap Hanna memiliki keterbelakangan mental.


Eduardo James York, adalah sepupu jauh Davlin. Nenek mereka lah yang memiliki hubungan kakak adik. Namun dari segi warisan, keduanya memiliki hak dan jumlah yang sama.


Setelah papanya meninggal kemarin, Eduardo James York memutuskan mengambil alih bagiannya untuk dia kelola sendiri. Aset yang terbesar yang diwariskan oleh neneknya adalah perusahaan yang sama saat ini dikelola Davlin.


Davlin memiliki beberapa perusahaan yang bergerak di beberapa bidang yang berbeda. Perhotelan, kondominium, mall dan beberapa anak perusahaan lainnya. Satu-satunya perusahaan yang saat ini dia fokus, adalah perusahaan keluarga yang dalam wasiat menugaskannya untuk mengelola, dan kalau sampai pertahunnya tidak mencapai target yang ditentukan, maka perusahaan itu akan diambil alih oleh sepupunya.


"Jim..kamu sudah sampai?" sambut Reta penuh semangat. "Harusnya kau bilang, biar Davlin bisa menjemputmu."


Pria yang disapa Jim itu hanya tersenyum. "Gak papa, Tante. Aku kesini cuma mau ketemu sama Tante. Nanti juga akan ketemu dengan Davlin."


Reta mengajak Jim makan, menikmati masakan Indonesia yang sudah biasa sebenarnya dia makan. Ibunya berasal dari Medan, hanya saja karena ibunya adalah istri kedua, hingga tidak dianggap masuk dalam silsilah keluarga. Tapi nenek buyut mereka bersikap adil, tetap memberikan hak pada Jim.


Selama ini, pria kelahiran York, salah satu daerah di Inggris itu mengenyam pendidikan di Singapura, dan Sesekali pulang ke Indonesia. Hanya sampai usia 10 tahun Jim tinggal di Inggris, keluarga dari ayahnya meminta keluarga York memulangkan ibu. Jim tidak tinggal diam, ikut dengan ibunya pulang ke Indonesia.


"Dav, kau sudah pulang, Nak? Lihat siapa yang datang," ucap Reta penuh semangat. Menyambut kedatangan Davlin hingga ke depan pintu.


"Siapa? Jimmy?" tebaknya datar. Reta hanya bisa memandang penuh kesal. Sudah beberapa hari ini, putranya itu tidak bergairah melakukan apapun, bahkan sekedar untuk mengobrol.


Bahkan saking khawatir akan keadaan anaknya Reta memeriksa leher Davin saat sedang tidur, siapa tahu aja Davlin sudah berubah jadi zombi hingga selalu bermuram durja.


"Dari mana kamu tahu?"


"Mobil bututnya ada di luar. Mau apa dia?" Davlin ngeloyor masuk ke dalam ruang, dan saat di ruang makan, dia melihat pria yang selama hidupnya tidak pernah dia sukai.


Alasannya hanya sederhana, Jim selalu dianggap anak baik, selalu menyenangkan keluarga neneknya, hingga diberi warisan, padahal dia juga sama brengseknya dengan dirinya, hanya saja kalau Davlin terang-terangan, dia pintar menyembunyikan belangnya.

__ADS_1


"My...bro..." sapa Jim mengangkat tangannya ke udara.


Reaksi Davlin sudah bisa diprediksi Reta, cuek, tidak menyahut dan berlalu pergi. "Sebentar ya, Jim," ucap Reta menyusul putranya. Reta ingin sekali memukul ubun-ubun Davlin biar sikap cueknya bisa berkurang.


"Mama, apa-apa sih, aku lagi ganti baju ini!" protes Davlin tidak jadi membuka celananya.


"Kamu itu ya, anak mama bukan, sih?" tanya Reta berang. Kadang wanita itu tidak habis pikir, dia terkenal dengan sikap ramah dan juga baik hatinya, begitu pun suaminya, walau tidak banyak ngomong, suaminya adalah tipe orang yang tidak memandang rendah orang lain. Jadi dari mana anaknya punya sifat buruk seperti itu?


Kali ini Reta semakin yakin, kalau karakter yang membentuk Davlin hingga saat ini menjadi pribadi yang tidak menyenangkan, satu-satu orang yang pantas diminta pertanggung jawaban adalah mertuanya, yang terlalu memanjakan anak itu.


"Mama, ingat nya aku anak mama bukan? mama yang lahiri kok malah tanya aku?!"


Geplak!


Reta sudah menahan tangannya agar tidak jelalatan, tapi ini sudah keterlaluan. Satu geplakan di kepala Davlin mungkin tidak apa-apa. "Mama apaan sih? aku bukan anak kecil lagi, Ma!"


"Biar kamu tahu, seberapa hebatnya pun kamu saat ini, ada di posisi paling tinggi apa pun kamu berada sekarang, satu-satunya orang yang boleh memperlakukan kamu seenaknya hanya mama!"


"Dih, apaan sih, Ma. Udah sekarang mau mama apa? aku lagi capek, Ma."


"Temui Jimmy dulu," sambar Reta.


Setelah selesai mandi, dengan tampang kusut dan terpaksa, Davlin turun. Ogah-ogahan dia duduk di salah satu kursi tunggal, mendengar pembicaraan sepupu dan juga ibunya.


"Lo yakin mau bantu ngurusi perusahaan nenek?"


"Iya, Dav. Perusahaan gue yang di Singapura udah aman kok. Tinggal gue pantau perkembangannya. Gue mau coba cari suasana baru. Lagi pula kata pengacara gue, perusahaan itu belum mencapai target yang disepakati," ujar Jimmy menyeruput kopinya.


"Sue Lo! Perusahaan itu hampir tenggelam ya dibawah pengawasan bokap Lo, untung gue ambil alih!" sanggah Davlin berang. Enak saja kinerja dia yang sudah susah payah selama ini tidak diapresiasi dengan baik olah Jimmy.

__ADS_1


"Iya itu, lagian gak papa ya, kalau aku bantuin Lo. Itung-itung gue belajar bisnis sama lo. Tahu sendiri perusahaan gue yang di Singapura cuma perusahaan kecil," tukas Jimmy menatap lekat wajah Davlin.


"Gak pakek!"


"Davlin, kamu jangan lupa, dia juga punya saham di perusahaan itu!" sambar Reta ingin menegakkan keadilan bagi Jimmy.


"Terserah deh! Asal lo jangan nyusahin gue!"


"Tenang saja Bro," ucap Jimmy cepat.


"Kamu tinggal dimana sekarang?"


"Masih di hotel tante. Ini juga mobil masih punya om dari Tasik aku bawa," terang Jimmy tersenyum.


"Kalau begitu kamu tinggal di sini aja," tawar Reta tanpa melihat ke arah Davlin yang sudah menunjukkan keberatannya lewat tatapan mata yang mematikan.


"Gak pakek! Gak usah dengar apa kata nyokap gue. Kalau lo mau gue ajarin bisnis, Lo ikutin apa kata gue. Lo cari apartemen buat Lo tinggal, dan jangan ganggu hidup gue di rumah ini!"


"Davlin, kamu apa-apaan, sih? gak sopan, tahu!"


"Oh, gak papa Tante. Davlin benar, aku memang berniat cari apartemen aja."


"Gitu, ya. Tante ikut aja deh," sahut Reta lemas. Ini semua karena sikap sombong anaknya hingga Jimmy tidak nyaman.


"Oh iya, Tante. Tadi waktu aku ke sini, aku minta tolong diantari sama cewek. Aneh deh orangnya."


"Cewek? aneh? maksud kamu?"


"Iya. Masa dia tahu nama kakek buyut aku. Lengkap lagi."

__ADS_1


Reta memandang Davlin yang langsung membuang muka tidak peduli. Davlin ingin naik ke atas menyudahi malam keakraban antar keluarga yang tidak penting ini, tapi kalimat Jimmy selanjutnya menarik perhatiannya.


"Dia memang aneh, deh Tan, tapi kalau di lihat-lihat, cantik juga. Dia tinggal di sebelah kayakanya!"


__ADS_2